
"Katakanlah sesuatu, Fara...Jangan seperti ini" ucap bang David sambil mengguncang perlahan tubuhku. Seakan baru tersadar, aku langsung menatap bang David tanpa dihiasi senyuman sedikit pun. "Aku harus apa, Bang...?" ucapku lirih. Tatapanku kosong. Air mata ku sudah mengering. Tubuhku lunglai. Kemudian sandar kepalaku pada bahu bang David. Seperti dahulu yang pernah aku lakukan saat gundah dan tangisku tak kunjung usai. Sesekali bang David mengusap perlahan pucuk kepalaku ataupun punggung tanganku berusaha menenangkan ku. Sementara di ujung kursi ku lihat kak Mirza duduk menatapku dalam. Di sebelahnya duduk kak Amara. Wajahnya sedikit muram. Matanya pun tampak sedikit sembab. "Mama tidak suka berada pada situasi ini. Dan di situasi seperti saat ini, sebaiknya kau jelaskan dengan gamblang, Mirza. Mama tidak ingin semua kebaikan yang sudah di dapat sirna begitu saja" ucap mama sambil menatapku sendu. Aku yakin mama mengerti kegelisahan dan luka hatiku. Mendengar itu kak Mirza pun menegakkan tubuh. Matanya tak lepas menatap kearah ku. "Saat itu, tepatnya setelah satu tahun aku kehilangan Fara. Aku semakin kalut. Kuliahku kacau. Pekerjaan ku berantakan. Dan pagi itu...."
Mirza Flashback On
Udara padi menyapa tubuhku. Hawa dinginnya merasuk hingga tulang, kurasa. Hembusannya mampu meluruhkan dedaunan dan menerbangkannya menjauhi pohonnya. Ku tatap langit, tiada mentari. Hanya awan hitam saja yang menghiasinya. Ini pertanda hujan sebentar lagi akan menyapa bumi. Sekawanan burung pun beterbangan gelisah menuju pulang. Seakan tahu situasi yang akan terjadi. Padahal hari masihlah pagi.
Beberapa saat kemudian, seperti tanda yang ditampakkan akhirnya hujan pun mulai membasahi bumi. Aku duduk termenung pada sebuah kursi taman. Tak peduli lagi hujan telah menguyur seluruh tubuh. Hampir putus asa aku mencari sosok perempuan yang aku cintai. Sosok perempuan yang segalanya bagi ku. "Fara dimanakah kau berada....?!" teriakku dalam gemuruh suara hujan. Aku kalut. "Fara....!" teriakku lagi meluapkan kekalutan jiwaku. Bersimpuh aku pada tanah merah di taman. Wajahku menengadah. Tanganku terkepal hebat. Isak ku tak mampu terbendung lagi.
Seakan tersadar, ketika wajahku tak terbasuh hujan lagi aku membuka mata perlahan. Ku lihat seorang perempuan memayungi ku. "Amara..." ucapku saat mengenalinya. "Rumahku dekat dari sini. Sebaiknya berteduh di rumah ku..." ucap Amara yang menatapku sendu. Entah sihir apa yang ia berikan, aku pun menyertai langkahnya begitu saja.
Pukul sebelas lewat lima puluh menit. Satu setel pakaian dan sebuah handuk Amara sodorkan kepadaku. "Ini punya ayah, pakailah. Pakai kamar mandi yang ada di kamar tamu. Mari aku tunjukkan..." ucap Amara sambil tersenyum. Aku pun kembali mengekori langkah kecilnya.
Hampir tiga puluh menit aku mengguyur tubuh. Isak ku kembali ku tenggelamkan dalam gemericik air. Ini adalah satu-satunya cara agar hanya aku saja mengetahui bagaimana Isak ku itu ada. "Mirza....!" suara Amara membuyarkan lamunanku. Berulangkali pintu kamar mandi diketuknya. "Kita makan ya...di tunggu ayah di meja makan" ucap Amara lagi. "Baik..." ucapku setelah berhasil mendamaikan kekalutan di hati.
Ku buka perlahan pintu kamar mandi setelah aku selesai berpakaian lengkap. Dan seperti yang diucapkan Amara aku pun langsung menuju meja makan. Di sana sudah menunggu Amara, seorang laki-laki bertubuh tegap. Umurnya kuperkirakan lebih dari lima puluh tahun, namun tak sampai enam puluh tahun. "Om..." sapaku sambil mengangguk takzim. "Duduklah nak Mirza. Amara sudah menceritakan semua. Tinggallah beberapa waktu di sini. Semoga bisa membuatmu lebih tenang" ucap Om Reza sambil menatapku. Entah apa yang sudah diceritakan Amara. Aku tidak mengambil pusing. Aku tidak memikirkannya. "Terima kasih, Om..." ucapku sambil melahap menu santap siang di piringku.
Hari berganti. Satu bulan berlalu. Aku telah berhasil menyembunyikan hidupku dari keramaian. Aku menghilang. Dan segala keluh kesah ku bagi bersama Amara dan keluarganya. Sementara itu pencarian ku tidak pernah berhenti. Melalui Pandu dan Satria, aku tetap terus mencari keberadaan Fara. Entah sampai kapan. Aku sendiri tidak tahu.
__ADS_1
Pukul delapan lewat sepuluh menit. Di hari genap satu bulan kami mendapat kabar yang mengkhawatirkan. Om Reza, ayah Amara mengalami kecelakaan. Berlari Amara menuju rumah sakit dimana ayahnya berada. Dengan cepat aku pun mengiringi langkahnya. Histeris Amara dalam ruangan IGD saat mendapati kondisi ayahnya. Dokter mengizinkan kami bertemu, karena om Reza yang memintanya. "Maafkan ayah, Amara..." ucap om Reza terbata dengan nafas yang satu satu. "Nak Mirza berjanjilah kau akan menjaga Amara. Kau anak baik. Setelah om pergi, Amara akan sendirian. Tidak ada yang menjaganya. Menikahlah dengan Amara. Om, minta...dengan...sangat..." ucap om Reza yang membuatku tertegun. Fikiranku melambung jauh entah kemana. "Mirza..." ucap om Reza. Tangannya yang penuh darah itu memegang tanganku dan tentu saja membangunkanku dari lamunan. "Berjanjilah...." ucapnya lagi. "Ya, om..." ucapku risau. "Ayah....!" teriak Amara. Ia begitu histeris.
Pukul sepuluh lewat lima puluh menit. Pada pusara om Reza, Amara masih bersedu sedan. Matanya masih sembab. Ku rengkuh tubuh mungilnya dalam dekapanku sekedar menenangkannya. Aku pun masih menemaninya hingga seluruh pelayat meninggalkan tanah pekuburan. "Jangan dengarkan apa yang sudah ayah katakan. Dia tidaklah faham situasi mu, Mirza. Aku bisa bertahan..." ucapnya yang membuat ku lega.
Hari berganti. Sudah lebih dari dua bulan aku sudah kembali pada kehidupanku. Kembali berbaur dalam hiruk pikuk dunia. Dan Fara...masih dalam pencarian ku.
Drrt...Drrt...Drrt...
Ponsel ku berpendar. "Amara..." ucapku membuka pembicaraan. "Za, tolong aku..." uvapnya dengan suara bergetar. Dan ada sedikit Isak di suaranya. "Ada apa, Amara..?" tanyaku sedikit gusar. Dan Amara hanya diam, tiada jawaban. "Kau dimana?" tanyaku. Kemudian Amara pun menyebutkan sebuah alamat. Segera aku men-stater mobil sport silver dan melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan berdasar alamat yang disebutkan Amara. Kupinta ia tidak memutus sambungan telepon, agar aku mengetahui situasinya.
Terisak Amara duduk di sebelahku. "Maafkan aku, Za..." ucapnya pilu. Aku terdiam. "Ku kira aku bisa hidup mandiri dengan uang seadanya. Ternyata tidak..." ucap Amara pilu. Dari bahasanya aku bisa mengerti bagaimana situasinya saat ini. "Nikahi aku, Za...Aku tak sanggup hidup sendiri. Bukankah kau sudah mengiyakannya di depan ayah..." ucapnya yang membuat aku tertegun. "Aku mohon, Za..."ucapnya lagi sambil berurai air mata.
"Siapa walimu?" ucapku kemudian yang ia sambut dengan gelengan kepala. "Ayahku anak tunggal, dan garis keturunan dari kakek juga tidak ada, karena kakek juga anak tunggal" ucap Amara dengan suara bergetar. "Warga sekitar rumahmu tahu?" ucapku lagi yang kontan ia balas dengan anggukan.
Kulajukan mobil sport silver ku menuju rumah Amara. Kepada seorang ustadz kami menceritakan situasi kami saat ini. Dan beliau mengerti situasinya. Dan kebetulan ia teman masa kecil ayah dari Amara, jadi beliau tahu betul situasi dan kondisi keluarga Amara. Dan beliau bersedia untuk membantu menikahkan kami. Persiapan pun dilakukan kurang lebih dua jam. "Maafkan aku Fara..." ucapku dalam hati berulangkali. Kemudian pada Amara aku menjelaskan situasi ku padaku saat itu. Bahwa cintaku hanya untuk Fara. Tidak lain dan tidak bukan. Dan Amara sanggup menerima itu semua.
Pukul empat lewat lima belas menit. Di sebuah masjid. Tanpa dukungan dan kehadiaran keluargaku satu pun. Aku menyatakan kesiapan sebagai suami dan memberikan perlindungan kepada Amara. Sedikit bergetar jiwaku saat dua orang saksi menyatakan sah atas kalimat akad ku. Ini berkenaan dengan rasa bersalahku pada Fara. Cintaku yang masih menghilang bak ditelan bumi. "Maafkan aku, Fara..." Begitu ucapku dalam hati berulang kali. Entah apakah kau akan menerima keadaan ini atau tidak nantinya. Aku tidak tahu.
__ADS_1
Di jam yang sama hari yang sama, namun bulan yang berbeda. Di sebuah mini market. Aku membeli kebutuhan sehari-hari untuk Amara. Ku masuki mini market tanpa perasaan apa pun. Atau pun praduga apa pun. Namun ketika berada di dalam, jantungku berdegup hebat. Dan ada desiran aneh di jiwaku seakan memanggil-manggil ku. Mataku mengitari seisi ruangan. Entah apa yang ku cari. Namun hati ku berkata untuk segera mengitari mini market, terlebih pada suatu tempat dekat aksesoris. Makin bergetar jiwaku saat melihat sesosok perempuan yang berdiri di dekat pernak-pernik aksesoris. "Fara..." ucapku lirih. Langkah ku semakin dekat dengan nya. Ku tangkap dari gesturnya, sepertinya ia pun sedang menghindari sesuatu. "Ah, sial..." umpatku saat aku kehilangan sosoknya. Aku yakin tadi melihat Fara di sini. Ku hubungi Pandu dan Satria. Bertanya segala kemungkinan yang ada. Aku terdiam. Kemungkinan besar yang ku lihat tadi benarlah Fara. Karena menurut Pandu dan Satria keduanya memang pernah hampir menemukan Fara, namun kehilangan jejak saat mobil yang membawa Fara menghilang begitu saja. "Fara...Dimana kau berada?" ucapku lirih.
Setelah beberapa kebutuhan ku dapatkan aku pun langsung menuju mobil. Dalam perjalanan menuju parkiran yang jaraknya hanya beberapa meter saja sepintas aku melihat kembali sosok yang selama ini ku rindu, yaitu Fara. Namun hanya sayang hanya sepintas saja, karena setelah itu kembali ia menghilang bak ditelan bumi. "Fara..." gumamku sambil meninggalkan parkiran dan sekilas melayangkan pandangan kembali menilik mini market.
Mirza Flashback Off
Kami terdiam menyimak setiap penuturan kak Mirza. Ya...Robb, aku harus apa? Ku kira hanya aku saja, ternyata ada perempuan lain di hidup kak Mirza. Apa pun dan bagaimanapun alasannya aku tentulah belum dapat menerimanya. "Maafkan aku, Fara. Aku kalut dengan hidup yang sebatang kara. Aku tidak tahu harus bagaimana..." ucap kak Amara. "Kalian naif sekali. Yaa, kalian berdua. Kak Mirza dan kak Amara. Bukankah kalian tahu bagaimana kehidupanku dahulu? Kita sama kak Amara. Bedanya kau menyerah, aku tidak..." ucap ku dengan mengumbar senyum dan tatapan tajam.Tubuhku serasa mendapat suntikan energi entah darimana sehingga aku mampu berdiri tegak. "Fara...maafkan kakak" ucap kak Mirza dengan suara bergetar dan berusaha meraih tanganku. Aku menepisnya walau perlahan, namun cukup memberikan isyarat bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. "Hanya kau yang mendiami hatiku, Fara. Aku mohon percayalah..." ucapnya lagi sambil berusaha merengkuh tubuhku. "Cukup...!" ucapku keras. "Maaf...untuk saat ini, Fara belum dapat menerima alasan apapun dari kak Mirza. Jadi untuk sementara biarkan Fara sendiri" ucapku sesaat sebelum berlalu. "Fara...tunggu" ucap kak Mirza dan bang David hampir bersamaan. Keduanya mengejar langkahku hingga ke halaman. "Bukan ini yang ku harapkan..." ucapnya sambil terus berusaha mensejajari langkahku.
"Fara, berhenti...!" teriak kak Mirza. Bak tersihir aku pun langsung menghentikan langkahku. "Bukan ini yang ku harapkan. Dengarkan aku..." ucapnya lagi sambil mendekap tubuhku. Dada bidangnya menyentuh punggung mungilku dan sejenak menerbangkan lamunanku. Kemudian aku terisak. Guncang tubuhku menahan isak. "Lalu apa yang kakak harapkan?" tanyaku dengan suara bergetar. "Kau...Hanya kau yang ku harapkan. Aku akan segera menceraikannya" ucap kak Mirza memberi harapan. "Kau tidak bisa menceraikan ku, Mirza. Aku mengandung anak mu..." ucap kak Amara sesampainya di dekat kami.
Deg.
Aku tertegun. Bak mendengar guruh di tengah hari, aku terdiam. Tiada kata lagi yang sanggup ku ucapkan. Mata ku semakin memanas dan air mata pun sudah siap terjun bebas. Aku berontak sesaat aku tersadar. Raga ku menolak sentuhannya. Jiwaku pun menjerit menolak penuturan kak Amara. Aku berlari menuju pintu gerbang. Tak ku hiraukan lagi segala cegahan baik dari bang David atau mama sekalipun. "Fara, tunggu...!" ucap bang David berusaha mensejajari ku. Begitu pun dengan mama yang dengan berurai air mata berusaha mencegah kepergian ku. Sepintas di balik pintu aku melihat sosok yang sejak tadi memperhatikan situasi yang terjadi. Matanya tak lepas dariku. Tangannya mengepal hebat. Dia adalah kak Roy, kakak laki-laki kak Mirza berbeda ibu atau yang dulu ku kenal sebagai tuan Darius.
"Kau sudah berlaku tidak adil, Mirza..." ucap kak Roy yang lamat-lamat masih dapat ku dengar. Sebuah taksi sekonyong-konyong berhasil ku dapati dengan segera. Ku minta pada sopir untuk segera melaju dengan cepat meninggalkan rumah megah nan indah itu. Kepala ku rebah pada sandaran kursi. Mataku menatap menerobos kaca jendela yang basah karena baru saja di guyur hujan. "Mau kemana, Nyonya..." tanya sopir yang berhasil membuyarkan lamunanku. Namun aku justru terkejut saat mendengar suara sopir taksi tersebut. Aku pun memperhatikan wajahnya dari kaca spion. "Bang Pandu....?!' ucapku setengah teriak.
To Be Continued...
__ADS_1