Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 6. Ujian-ujian ku...


__ADS_3

Pukul enam. Hari yang ku tunggu akhirnya sampai juga. Aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Kurang lebih sepuluh hari terakhir ini aku memperbanyak jam belajar. Mengulas kembali mata pelajaran yang akan diujikan. Sherlly, Ferry dan kadang bang David pasti akan menyertaiku belajar. Berbeda halnya dengan Sherlly dan Ferry yang ikut belajar, bang David lebih pada memberikan soal atau mencarikan sumber bacaan lain yang berkenaan dengan mata pelajaran ku. Sejatinya bang David adalah penolongku.


Ku lajukan scooter ku dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang masih tampak basah setelah diguyur hujan semalaman. Sementara itu hawa dingin yang menerpaku serasa menggigit hingga tulang. Pun demikian tak menyurutkan semangatku di hari ini. Kurang lebih tiga puluh menit, sampailah pada parkiran sekolah yang tampak lengang karena belum banyak yang datang. Kemudian setelah memarkirkan scooter, aku pun melangkahkan kaki menyusuri sepanjang lorong yang tampak mengular menuju ruang kelas. Mata ku menyapu hingga tiap sudut ruang kelas yang masih lengang itu. Mungkin karena waktu ujian masih sekitar empat puluh lima menit lagi. Alih-alih menunggu waktu ujian dimulai, akhirnya aku kembali membuka materi pelajaran ataupun latihan soal-soal. "Hei...."sapa Ferry sambil memelukku sekenanya. "Belajar terus, makan napa?" ucapnya cengengesan. "Yee...sirik..." ucapku sambil memukulnya dengan lembar kertas yang sejak tadi ku pegang. Ia pun makin cengengesan apalagi saat ada Sherlly yang baru datang.


Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Bel panjang pun berbunyi. Aku dan lainnya segera memasuki kelas dengan tertib saat Bu Andini datang membawa soal ujian. Tas dan lainnya pun di letakkan di depan kelas. Duduk kami pun dijarang-jarangkan. Hal tersebut untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. "Ya Allah, mohon lancarkan ujian ku. Aamiin..." ucapku lirih saat diberikan kesempatan untuk berdoa.

__ADS_1


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Soal dibagikan. Ada dua puluh soal pilihan dan sepuluh soal esai. Dan aku pun segera mengerjakannya. Ku mulai dengan soal-soal esai. Hal tersebut ku lakukan lebih karena anggapanku bahwa esai lebih memerlukan energi ekstra dalam pengerjaannya. Lima belas menit aku berkutat pada soal-soal esai. Selebihnya adalah waktu pengerjaan pilihan ganda.


Pukul Delapan lewat tiga puluh menit. Semua soal ujian telah ku selesaikan. Kurang lebih empat puluh lima menit untuk soal pilihan dan esai. "Alhamdulillah..." ucapku sambil tersenyum tipis. Ku periksa sekali lagi sebelum menyerahkannya kepada Bu Andini, pengawas hari ini. Riuh tepuk tangan saat aku mengumpulkan lembar jawaban dan soal matematika kepada Bu Andini. "Sudah di check, Fara?" tanya Bu Andini sambil menatapku. "Sudah, Bu..." ucapku sambil tersenyum. Aku pun mengambil tas dan berlalu. Fiuh...lega rasanya berada di luar kelas. "Fara, kok di luar. Tidak ikut ujian?" tanya pak Edward, guru BP yang super ganteng dan banyak digilai siswi di sekolahku. Sayangnya seminggu yang lalu baru saja melangsungkan pernikahan. Maka seminggu ini disebut sebagai hari patah hati SMA Nusa Bangsa. " #HariPatahHati-SMA NB.." ucapku lirih sambil tersenyum. "Hei...ditanya malah senyum-senyum..." ucap pak Edward sambil mencolek lenganku. "Eh, iya Pak. Maaf. Em, saya sudah selesai Pak. Kalau tidak percaya tanya Bu Andini saja" ucapku sambil tersenyum. "Ya, bapak percaya. Pandai juga kamu" ucapnya tertawa kecil. Aku tersenyum dipuji demikian.


Pukul sembilan lewat lima belas. Lima belas menit lagi waktu ujian jam pertama berakhir. Para siswa pun mulai ramai di teras. Hanya beberapa orang siswa saja yang masih bertahan untuk menyelesaikan soal-soal ujian atau sekedar mengecek ulang jawaban dan kelengkapan data. Ku lihat Sherlly dan Ferry berlari ke arahku yang berada diujung lorong kelas bersama siswa lainnya. "Ampun guwe soalnya susah banget" ucap Ferry sambil mengacak rambutnya. "Soalnya mudah, jawabannya yang sulit" timpal siswa lainnya membuat kami turut tertawa. "Soalnya mudah, jawabannya juga mudah. Lo nya yang dong dong" ucap Sherlly sambil memukul lengan Ferry. Dan semua jadi tertawa dibuatnya.

__ADS_1


Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit saat aku keluar menuju parkiran. Aku begitu tergesa-gesa karena teringat sebuah janji dengan bag David. Aku akan menemuinya seusai ujian ku hari ini. Ku pacu scooter ku dengan kecepatan sedang pada jalanan yang tampak ramai. Hingga di ujung gang rumah saat aku membelokkan scooter ku, saat itulah sebuah motor berusaha menabrakku. Aku yakin itu sebuah unsur kesengajaan. Beruntung aku masih bisa menghindarinya. Namun alih-alih menghindar aku justru kehilangan keseimbangan. Tak ayal lagi aku menabrak dinding pembatas gang.


Bruk....


Aku terjatuh. Meringis merasai sakit pada kaki ku. Ada darah yang menetes dari luka yang menganga. Kian lama kian banyak. Rupanya kakiku tergores benda tajam di sisi pembatas. "Fara....!" teriak Bu Jiah, Bu RT di lingkungan ku yang baru saja menyandarkan motornya. Pun beberapa warga menyusul langkah Bu RT yang setengah berlari dan membantuku. "Puskesmas..."ucap Bu RT cemas. Seorang warga pun mengeluarkan mobil dan seorang lagi membopong ku. "Kok bisa Fara...?" tanya Bu RT saat sudah dalam mobil. Aku pun bercerita sambil mengusap air mataku yang mulai mengalir. Bukan karena rasa sakitnya, namun terlebih pada keyakinan ku atas unsur kesengajaan perempuan itu menabrak ku. Tapi mengapa? Apa salahku? Terguncang bahuku karena Isak yang mulai berubah jadi sedu sedan. "Sabar, Fara.." ucap Bu RT sambil mendekap lukaku yang terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Mobil yang ku tumpangi berhenti tepat di halaman puskesmas. Sedikit limbung aku berdiri saat keluar dari mobil. Beruntung seseorang berhasil membantuku menyeimbangkan tubuhku. Bang Aditya tepatnya dokter Aditya yang ternyata berhasil membantuku. "Terima kasih, dokter..." ucapku. Ia pun tersenyum sambil membantuku menuju ruang tindakan. "Astaga, Fara..." ucap dokter Aditya saat melihat luka ku. Ia pun segera mengambil tindakan, menjahit dan membalutnya. Sebuah jarum infus pun menancap di tanganku. "Satu infus ini saja, setelah itu Fara boleh pulang" ucap dokter Aditya sambil mengusap bahuku sesaat sebelum ia berlalu. "Terima kasih, dok"ucapku sambil tersenyum.


Pukul dua belas tiga puluh. Saat ku dengar sebuah langkah yang semakin lama semakin cepat mendekatiku. "Fara..." panggilnya yang membuatku membuka mata. "Bang David..." ucapku dengan suara bergetar sambil berusaha tersenyum. Ia pun menarik kursi dan duduk di dekat ku. "Hei... Fara, sabar ya" ucap bang David sambil mengusap pucuk kepalaku. "Tadi di luar Abang bertemu bu Jiah. Dan beliau sudah menceritakannya. Aku pun penasaran siapa perempuan itu" ucapnya sambil membetulkan laju cairan infus ku. Aku hanya tersenyum tipis. Mataku menerawang, menerobos bingkai jendela yang tertutup tirai biru langit. "Abang sudah makan?" ucapku tiba-tiba. "Sudah. Kenapa? Apa Fara belum makan? Em, tenang saja Abang sudah menitipkan makan siang mu di rumah Bu Jiah" ucapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Maaf, dokter ada pasien?" ucap seorang perawat kepada bang David. "Pergilah, bang. Fara sebentar lagi juga pulang" ucapku. Jariku menunjuk botol infus yang tinggal sedikit lagi. "Baiklah. Jam istirahat nanti Abang akan pulang sebentar untuk mengecek mu" ucapnya sesaat sebelum berlalu.


__ADS_2