
"Sesekali tak apa melihat ke belakang, bahwa telah berlalu berlusin masalah mendera. Dan aku kini baik-baik saja. Maka yang harus aku lakukan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah. Jangan putus asa. Masalah berat yang tengah aku hadapi sekarang, aku yakin Allah punya solusinya".
Pukul dua lewat lima belas menit. Langit begitu cerah. Warnanya begitu biru. Matahari pun sepertinya senang. Ia begitu bersemangat membagikan sinarnya ke bumi. Terbukti tiada sedikit tanda-tanda bahwa hari akan menjadi gelap atau pun turun hujan.
Aku berdiri sedikit jauh dari toko tepatnya beberapa meter pada sisi toko. Ya, aku berada tepat di teras sekolah KARDUS. Mataku menatap areal parkir depan toko ku. Senyum pun mengembang bak bunga yang mekar sempurna saat mendapati parkiran yang hampir penuh dengan kendaraan pengunjung. Bahkan silih berganti.
"Kak Olivia..."sapa dua jurnalis yang telah lama menjadi relawan di sekolah KARDUS. Dan siang menjelang sore ini akan ada keriuhan yang terjadi di sekolah KARDUS. Kami akan mendapat kunjungan dari kepala pemerintahan provinsi. Dua buah tenda berwarna biru pun terkembang menutupi sebagian halaman. Anak-anak pun sudah berkumpul. Mereka apa adanya. Seperti biasa begitu manis, begitu kuat, begitu ceria dengan gelak tawa walau gurat sedih menggantung dalam hati, walau kekhawatiran menyelimuti jiwa.
Tidak ada persiapan khusus. Semua berjalan seperti biasa dan apa adanya. Yang berbeda hanya penambahan pernak-pernik perlengkapan acara dan adanya rundownd acara yang sedikit mengikat. Selebihnya semua tampil apa adanya.
Berdiri anak-anak pada jalan masuk. Kurang lebih lima puluh anak. Sebuah lagu penyambutan pun dinyanyikan dengan begitu apik. Termanggut-manggut si pemilik kekuasaan sambil tersenyum menatap wajah anak-anak yang begitu sumringah. Sapa dan salam pun menghiasi suasana siang ini.
Ku sambut uluran tangan si pemilik kekuasaan sambil mengumbar senyum dan sedikit anggukan takzim. Ia pun tersenyum menatap ku. "Terima kasih, Mbak Olivia atas kepeduliannya. Anda luar biasa" ucapnya saat menjabat tangan ku. Kemudian ia pun langsung berdiri ke muka ruangan memberikan sambutan dengan sumringah. Ada banyak harapan yang ia sampaikan. Dan sepertinya semua harapan itu berhasil menceriakan sekaligus membius anak-anak dan segenap yang hadir. Tapi bagi ku tidaklah demikian. Bagi ku karya nyata jauh lebih penting ketimbang memberi harapan yang belumlah tentu. Cita-cita boleh, angan-angan terlalu jauh ku rasa tidak.
Berdiri aku di muka ruangan. Ini giliran ku. Aku pun memulai nya dengan sedikit berbasa-basi. Dan memujinya. Ia pun terus mengumbar senyum menatapku. Pada menit kemudian segala pemikiran ku pun tercurah begitu saja. "Anak-anak yang ada sekitar lima puluh anak. Sebuah angka yang terbilang sangat tinggi. Mereka hanya sebagian kecil saja dari anak-anak yang kurang beruntung lainnya. Saya tidak bangga sekolah KARDUS ini banyak pesertanya. Justru saya sedih, artinya banyak anak Indonesia yang tidaklah seberuntung anak lainnya" ucapku sedikit pilu.
__ADS_1
"Suatu ketika ada yang bertanya tentang pendidikan saya. Latar belakang pendidikan saya. Saya katakan bahwa untuk peduli tidak perlu berpendidikan tinggi. Sejatinya kepedulian itu lahir dari hati bukan atas dasar setinggi apa pendidikannya ataupun apa latar pendidikan nya" ucapku sendu sambil tersenyum tipis.
"Suatu ketika ada yang menuding bahwa saya melakukannya demi uang. Hei..maka saya berkata jika saya melakukannya demi uang, tentu sudah banyak proposal yang saya keluarkan. Tapi nyatanya hingga saat ini tiada satu proposal pun yang saya keluarkan" ucap ku sedikit berapi. Dan setiap point tersebut mendapat sambutan meriah terutama dari si pemilik kekuasaan.
Pukul empat lewat lima belas. Acara berakhir. Bantuan untuk sekolah KARDUS pun di sampaikan. Kemudian berlalu lah si pemilik kekuasaan sambil tersenyum bangga. Ku tatap rombongan yang baru saja berlalu dengan mobil dengan pengawalan ketat kepolisian. Masih terdengar raungan sirine saat aku memutar tubuh mengikuti sorak Sorai anak-anak yang kegirangan mendapat tambahan lima unit laptop. Namun belum sempurna aku memutar tubuh, sekilas aku mendapati seorang laki-laki tampan berseragam menatapku sendu. Dan itu membuatku urung melangkah. Aku pun tersenyum menatapnya. Anehnya hati ku Berdesir saat melihatnya. Bak melihat bayangan ku sendiri rasanya. Begitu fikirku. Usianya pun ku taksir tidaklah jauh dari ku.
Mendapati tatapanku ia pun mendekatiku. Jantungku berdegup saat langkahnya semakin mendekatiku. "Olivia Faradilla Permana..." ucapnya dengan senyum tipis. Aku pun semakin penasaran. Ku lirik nama yang tertera pada baju seragamnya. "Noah..." gumamku.
"Bisakah aku berbincang denganmu sejenak?" ucapnya penuh kharisma. "Ya..." ucapku singkat. Ada beberapa pertanyaan yang mulai mengusik ku. "Tapi tidak di sini. Bisakah kau mengikuti ku? Sebentar saja..." ucapnya lagi. Aku diam. Ada kekhawatiran. Ia tersenyum menatapku. "Jangan khawatir aku tidak akan berbuat yang tidak baik terhadap mu. Dan lagi aku polisi..." ucapnya berusaha meyakinkanku. Aku pun tersenyum dan mengangguk. Ia sumringah. Kemudian ia memintaku untuk menunggu sejenak di tepi jalan depan toko ku sesaat sebelum ia berlalu.
Aku berdiri santai. Mataku menatap ujung kaki yang sejak tadi bermain dengan tanah dan bebatuan yang ada di sekitaran kaki. Sebuah mobil sport silver pun menghampiri. Dan pintunya terbuka tepat di hadapan ku. "Masuklah..." ucap laki-laki bernama Noah itu. Aku pun langsung duduk di sebelahnya tanpa menatap wajahnya. Pun demikian ada senyum tipis yang sengaja ku sunggingkan.
"Tanah pekuburan...?" ucapku lirih dengan sempurna membulatkan mata. Desiran aneh itu kembali menyeruak dalam dada. Terutama ketika laki-laki yang bernama Noah menghentikan mobil. Aku tertegun menatap luas tanah pekuburan itu. Sementara ia tampak mengitari mobil lalu membukalan pintu untukku. Nice...
"Ayo..." ajaknya sambil tersenyum. Aku menatapnya sesaat. Aku yakin ia menangkap isyarat gamang di wajah maupun gerak-gerik ku. Kemudian langkah kami pun beriringan menapaki jalan setapak di tengah tanah pekuburan. Sedikit jauh ke dalam areal pekuburan, ia pun berhenti pada sebuah gundukan tanah. Di atasnya tertulis sebuah nama. Aku tertegun hampir terlonjak.
__ADS_1
"Kau terkejut...? Ia ayah kita..." ucapnya sambil menatap makam tersebut. "Ayah...? Kita...?" ucapku gamang. Terlebih saat melihat torehan nama dan tahun kematiannya. Permana, 2011. Artinya ayah sudah meninggal enam tahun lalu. Jika benar, lalu siapa laki-laki yang selama ini bersama ku dan mengaku sebagai Permana, ayahku. Aku tercekat. Tiada kata yang mampu ku ucap. Mata ku berkaca-kaca menatap gamang gundukan tanah itu.
"Kuburan ini tiada berpenghuni. Tapi bagi kami, ayah sudah mati bersamaan dengan kepergiannya di tahun itu. Aku sudah mencarinya. Namun nihil. Dan saat itu aku teringat bahwa selain aku, ayah masih memiliki anak dari istri yang lain. Istri yang tidak pernah direstui orang tua ayah" ucap laki-laki bernama Noah itu sekali lagi.
Sibuk tangan laki-laki yang bernama Noah tersebut keluar-masuk kantongnya. Seakan ia mencari sesuatu. Tak lama tangannya berhenti sejenak pada sebuah kantong baju. Ia pun mengeluarkan selembar kertas berwarna dan menyodorkannya. Di dalamnya terdapat gambar seorang anak laki-laki, seorang perempuan dan ayah ku. Aku tertegun. Bergantian mataku menatapnya dan gambar di foto tersebut.
"Ya...anak laki-laki itu adalah aku. Usia kita terpaut tiga tahun. Dan aku adalah kakak mu" ucapnya. Kedua manik matanya menatapku sendu. Aku gamang. Tidak tahu harus berbuat apa. Lama aku hanya diam. Menimbang segala ucapan yang sudah terlontar sekaligus memaknai setiap katanya.
"Aku hanya ingin tahu. Apakah kau tahu dimana ayah kita?" ucapnya kemudian sambil menatapku. Aku pun mengangguk kecil. Tanpa menunggu aba-aba lagi aku pun langsung menarik kunci mobil sport silver nya dan berlalu meninggalkannya. Sempat on terkejut atas perlakuan ku tersebut. Namun demikian ia pun tersenyum dan mengiringi langkahku.
Ku starter mobil sport silver miliknya dengan hati-hati. Raungannya cukup membahana. Ah, ujung bibirku menyimpan senyum. Walau ia ditinggalkan ayah, tapi paling tidak hartanya masih bisa ia dan ibu nya nikmati. Sedangkan aku dan amah? Kami hanya mendapat nestapa saja.
Pukul lima lewat lima belas menit. Di tanah pekuburan lain dari kota kelahiran ku. Aku pun turun dan sedikit membanting pintu mobil. Kaki ku terus saja melangkah di antara makam-makam yang ada. Hingga di sebuah gundukan tanah yang masih tampak baru, karena baru dua bulan yang lalu ayah pergi aku berhenti. "Ini ayah..." ucapku singkat hampir menangis. Ku lihat gurat kecewa dan kesedihan itu menyata di wajahnya. Ia duduk dan menyentuh batu nisan bertuliskan nama ayah. Bibirnya komat-kamit mengurai doa-doa.
"Aku bertemu dengannya saat aku sedang tidak baik-baik saja. Aku di culik dan diperlakukan tidak senonoh oleh seorang yang bernama tuan Darius. Aku hampir kehilangan kegadisanku, tapi untungnya ayah menolongku. Ia membawaku pergi. Kami pun sempat tinggal bersama dan membuka usaha bersama. Kurang lebih dua tahun. Setelah itu ada banyak kejadian yang kami alami. Terakhir aku yang meninggalkannya. Untuk itu aku menyesal" ucapku sambil menangis tak mampu menahan kesedihanku.
__ADS_1
Laki-laki yang kini ku panggil kak Noah itu pun menatapku. Dan di luar ruangan ekspektasi, ia menghampiri ku dan mengusap bahu ku. "Jangan khawatir, aku bersamamu. Aku kakak mu dan aku yang akan menjaga mu kini" ucapnya yang membuat hatiku luluh. "Terima kasih....Kak" ucapku sambil.terus menatap pusara ayah. "Sudah lama aku menginginkan panggilan itu dari mu, Fara..." ucapnya penuh perasaan.
"Kakak...." ucapku lagi. Dan kali ini bersamaan dengan perasaan yang membuncah aku menyandarkan kepala di bahunya. Dan bulir bening itu pun masihlah membasahi sebagian wajahku.