
Pukul sembilan lewat lima menit. Aku menghempaskan kembali tubuh ku pada sofa. Kedua kaki ku belum lagi sekuat dahulu untuk berlama-lama menopang bobot tubuhku yang tak seberapa ini. Mataku kembali menyasar pada kedua sosok laki-laki di hadapanku, kak Keanu dan kak Mirza.
Deg...
Dadaku begitu bergemuruh, bak ada badai yang sedang berkecamuk. Sementara itu degup jantungku semakin kacau. Iramanya jadi tak menentu ku rasa. Ya, Robby...perasaan apakah ini? Tolong aku, ya Robby.
"Akuilah, Fara...Kau mencintaiku" ucap kak Mirza yang sepertinya begitu bersemangat setelah melihat kegamangan ku. "Ya...Aku memang mencintaimu, tuan Mirza..." ucapku sedikit teriak. Dan itu tentu saja membuat kak Keanu kecewa. Matanya menatapku dingin, tak seperti biasa yang begitu hangat dsn menenangkan. Ia pun langsung memutar tubuh dan hampir saja berlalu meninggalkanku. "Tapi itu dahulu..." ucapku yang langsung menghentikan langkah kak Keanu walau tetap memunggungiku. "Aku memang mencintaimu kak Mirza. Aku tidak munafik, tapi sekali lagi aku tegaskan bahwa cintaku itu sudah berlalu. Sudah menjadi masa lalu dan tak pernah ku harap untuk membukanya kembali. Sekarang hati dan jiwaku hanya milik suamiku. Kak Keanu lah yang berhasil memenangkannya. Jadi aku mohon pergilah. Jangan usik kebahagiaanku dengan statement rancu mu. Aku memintamu dengan sangat, tuan Mirza" ucapku.
Mendengar itu kak Keanu tersenyum sumringah. Senyum itu tampak jelas terpantul pada cermin yang ada di hadapannya. Sementara itu, kak Mirza menatapku lekat. Ada kekecewaan di ujung tatapannya. "Tak sedikitpun kah kau mencintaiku" ucap kak Mirza. "Kau sudah membuat luka hati ini, Kak. Aku sudah memaafkan mu. Tapi untuk mencintaimu lagi seperti dahulu, aku tidak bisa" ucapku sambil memberanikan diri menatap kak Mirza. "Kenapa...?" tanyanya lagi yang semestinya tidak dipertanyakan lagi. Semua sudah gamblang. Sedang jelas sebabnya. Tapi tak apalah, sekali lagi aku menjawabnya. Mungkin kak Mirza butuh statement yang lebih meyakinkan.
"Sudah aku katakan. Karena aku mencintai kak Keanu..." ucapku yakin. "Sekali lagi katakan kau tidak mencintaiku sedikitpun. Dan sekali lagi katakan bahwa kau hanya mencintai Keanu..." ucap kak Mirza sambil melangkah mendekati ku yang berjarak hanya beberapa langkah saja. "Katakan, Fara..." ucap kak Mirza sambil memperpendek jarak kami. Bahkan begitu dekat hingga hembusan nafasnya saja terasa menyapu sebagian wajahku. Fikiranku sejenak dilambungkannya, terlebih dengan aroma maskulin di tubuhnya yang selalu menggelitik penciumanku.
"Katakan, Fara..." ucapnya lagi. Ya, Robby...jantung ini tak pernah damai jika kak Mirza memperlakukanku demikian. Aku harus akui semua kenangan itu masihlah membekas dalam fikiranku. Dsn terkadang walau sesaat selalu berhasil melambungkan fikiranku. "Cukup, Mirza..." ucap kak Keanu. "Sebentar, Keanu. Aku harus memastikan, agar tidak salah langkah lagi" ucap kak Mirza. "Apa sebenarnya yang kau cari, Mirza..." ucap kak Keanu dengan suara yang mulai meninggi. Kak Mirza terus menatap kegamangan ku melalui tatapan mataku. Sebelah tangannya berisyarat agar kak Keanu memberi kesempatan padanya. Sementara sebelah tangan lainnya memegang ujung wajahku dan mendongakkannya hingga benar-benar menatap wajahnya.
"Katakan, Fara. Aku tidak mempunyai banyak waktu" ucap kak Mirza penuh perasaan. Jantungku makin berpacu hebat. Dsn mampu membuat gemuruh di dadaku semakin menggila. Ayolah, Fara. Kuatlah. Ingat suami mu lebih mencintaimu. Dan sangat memahami mu lebih dari siapa pun. Bukankah kau pun sangat mencintai suami mu itu. Suami dari masa kecilmu yang sudah menepati janjinya padamu. Tegaskan, Fara. Cepatlah...jangan biarkan keraguan menyelimuti cinta suami mu itu.
"Aku...tidak mencintaimu lagi. Aku hanya mencintai kak...Mirza" ucapku akhirnya terlontar walau terbata-bata, karena di bawah tatapan tajam kak Mirza yang seakan mengintimidasi ku.
__ADS_1
Senyum kak Mirza mengembang. "Dusta. Sungguh kau munafik, Fara" ucap kak Mirza sambil sedikit menolak ku hingga tubuhku tersandar pada kursi. "Cukup, Mirza. Cukup..." ucap kak Keanu dengan lantang menyimpan amarah.
Pukul sembilan lewat lima puluh lima menit. Kak Mirza memilih meninggalkan kami. Langkahnya sedikit terganggu dengan luka pada kakinya. "Seperti keyakinkanku kau masih mencintaiku, Fara. Seperti halnya aku yang akan selalu mencintaimu. Suatu saat cinta kita akan bersatu lagi seperti yang lalu" ucapnya di sela langkahnya.
"Tunggu...Kak Mirza" ucapku setengah teriak. Berhenti langkah kak Mirza karena ucapanku. Namun ia tidak memutar tubuhnya. Ia tetap memunggungi ku. "Aku tidak mencintaimu, tuan Mirza. Tidak mencintaimu. Pergilah...!" ucapku lantang. Tanpa sadar aku meraih cangkir kopi yang tak jauh dari ku dan melemparnya sembarang. Entah sengaja atau tidak yang pasti lemparan ku telak mengenai punggung kak Mirza. Sontak kak Mirza memutar tubuhnya. Ia menatapku lekat yang tengah berdiri dengan geram.
Hei...ada bulir bening yang mengambang di kedua mata kak Mirza dan siap meluncur. "Aku tidak mengerti mengapa kau tega melakukannya. Mungkin marah mu belum lagi usai. Aku tahu tindakanku padamu sudah diluar batas hingga membuatmu luka. Untuk itu aku meminta maaf padamu, Fara. Tapi satu pintaku, aku mohon jangan usir aku sepenuhnya dari hatimu. Karena sakitnya tak terperi, Fara. Karena aku tetaplah Mirza mu sampai kapanpun" ucap panjang kak Mirza.
"Pergilah, kak. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak mencintaimu..." begitu ucapku berulangkali, pun sudah berada dalam dekapan kak Keanu. Kini tangisku pecah. Dan kak Keanu menjadi sasaran amuk ku. Berulangkali aku memukuli dadanya, walau tak cukup kuat. Dan sepertinya kak Keanu pun membiarkanku melakukan itu. Dia faham benar bagaimana segala perasaan ini selama bersama kak Mirza. Suka-duka, tawa-tangis yang sudah ku lalui semua ia mengetahuinya. Saat cinta ku berkembang pada kak Mirza, kak Keanu faham betul. Saat kekhawatiran menggelayuti hati, kak Keanu tahu betul. Dan ia berusaha menenangkan ku. Saat kekecewaan menyelimuti jiwaku, kak Keanu mengobatinya. Saat tangisku pecah, kak Keanu yang jadi penghibur ku. Semua rasa yang kulalui, kak Keanu selalu membersamaiku. Ia sanggup menyimpan cintanya ketika aku bersama orang lain, asal aku bahagia. Dan ia pun sanggup mengambil duka ku, karena keinginan terbesarnya adalah membahagiakanku. Memikirkan semua itu, rasanya tidak adil jika tidak mengindahkan semua perasaannya itu. Rasanya bodoh betul jika aku tidak mencintainya. Sosok laki-laki sepertinyalah yang mestinya disebut pecinta sejati.
"Mengapa kau selalu menggangguku? Mengapa kau selalu mengusik hidupku? Aku benci kau Mirza. Pergi..! Aku tidak mencintaimu..." ucapku lagi kacau. Lama aku terisak dalam dekapan kak Keanu. Dan dengan sabar kak Keanu menenangkan ku. Seperti diwaktu yang sudah-sudah, ia selalu yang menghapus setiap bulir bening buah dari tangisku. Ia juga yang menyelipkan tawa disetiap keluh kesahku. Ia benar-benar tak peduli dengan dukanya. Ia hanya ingin aku selalu bahagia. Terima kasih, Kak...
"Kita pulang ya..." ucapnya. Langkah kami begitu perlahan. Kak Keanu mensejajari langkahku yang masih sedikit terganggu. Sesekali kami berhenti karena keluhan dan pintaku.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Mobil sport silver kak Keanu kembali melaju menyusuri jalanan dengan kecepatan sedang. Sementara itu, langit begitu bersih. Hanya sedikit awan putih yang menghiasinya. Mentari pun dengan berani membagi cahayanya. Bahkan hawa panasnya saja sampai pada kulit ku dan mengalahkan pendingin yang ada di dalam mobil. "Astaghfirullah...panas sekali" keluhku yang ditanggapi dengan senyuman oleh kak Keanu dan Satria.
"Kita mampir ke kedai di ujung jalan itu, Satria..." ucap kak Keanu kemudian yang langsung diamini Satria. "Anggap saja ini second date place" ucap kak Keanu sambil tertawa dan mengacak pucuk kepalaku. "Okay..." ucapku sambil tersenyum.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mobil pun sudah terparkir pada sebuah kedai yang kak Keanu maksud. "Tuan dan Nyonya tunggu di sini saja. Biarkan saya yang membelinya" ucap Satria. "Yakin...?" ucap kak Keanu tertawa sambil menatap luka di lengan Satria yang terbilang cukup serius. "Ya, Tuan...kemudi saja bisa saya kendalikan, apalagi cuma ke kedai" balas Satria sambil tertawa dan berlalu. Aku dan kak Keanu pun turut tertawa atas ucapan Satria tersebut. Melihat situasi ini aku yakin hubungan yang terjalin diantara keduanya vukan hanya antara asisten dan tuannya, tapi lebih dari itu. Sahabat ku rasa. Yaph...kurasa kata itu yang lebih tepat untuk memaknai hubungan keduanya.
Mataku kembali menyusuri setiap sudut areal parkir. Aku menelisik. Entah mengapa aku berlaku demikian. Yang pasti setiap singgah di suatu tempat aku selalu merasa khawatir. Dan benar saja. Baru fikiranku tenang, Satria memberi kabar tentang peristiwa yang terjadi di kedai. "Maaf, Tuan. Di sudut kedai tuan Mirza tengah menghadapi beberapa orang. Sepertinya sedikit kewalahan. Apakah harus dibantu?" ucap Satria sambil membawa es kelapa-jeruk. "Kita bantu..." ucap kak Keanu sambil beranjak dari duduknya. "Kak..." ucapku khawatir. "Tidak apa-apa, sayang..." ucap kak Keanu sambil tersenyum menatapku.
Ku tatap punggung kak Keanu yang berlalu dengan langkah panjangnya. Aku menghela nafas. Kekhawatiran pun menelusup dalam relung hati mengiringi langkah kak Keanu. "Ya, Allah...lindungilah suamiku itu. Aku mohon dengan sangat, Ya... Robby" gumamku. Kak Keanu kau laki-laki. yang baik. Biarpun beberapa saat lalu ia bersitegang dengan kak Mirza, tapi tetap saja ia bersedia membantu saat kak Mirza mengalami kesulitan. Kak Keanu hati mu terbuat dari apa? Sehingga kebaikanmu tak pernah terkikis oleh amarah dan benci. Ah, satu hal lagi yang membuat aku jatuh hati padamu. Kebaikanmu.
Pukul dua lewat lima belas menit. Langit mendadak diselimuti awan hitam tipis. Mentari pun ternyata sudah tidak menampakkan kekuatannya. Rupanya ia legowo memberi kesempatan pada hujan dan angin untuk membagi keberkahan ke bumi. Sementara itu, mataku masih menilik situasi seputar kedai yang masih tampak tenang. Mungkin keributannya dapat diredam.
"Astaghfirullah..." pekikku. Aku terkejut bukan kepalang, saat sebuah tubuh terhempas di sisi kanan mobil dimana aku berada di dalamnya. "Kak Mirza..." gumamku. Wajahnya kacau. Ada beberapa lebam di wajahnya. Satu atau dua diantaranya menitikkan darah. Sungguh miris melihat keadaannya saat ini. Ya, Allah...aku ingin membantunya. Tapi apa dayaku. Dengan kondisiku saat ini, rasanya tak terbayangkan jika aku harus beradu jurus dengan laki-laki bertubuh kekar itu. Tak butuh waktu lama, tubuh kak Mirza pun tumbang. Kondisinya yang tidak maksimal membuatnya tak mampu bertahan. Banyak jurusnya yang mandul dan sia-sia. Sementara laki-laki kekar itu begitu menguasai keadaan. Terkekeh laki-laki itu melihat kondisi kak Mirza. Namun tak berlangsung lama, karena Satria sudah langsung mengambil alih situasi. Jurus-jurus pun segera ia lancarkan.
Di sisi lain aku melihat kak Keanu tengah beradu jurus dengan dua orang lelaki, satu bertubuh kekar dan seorang lagi biasa saja. Kepiawaian kak Keanu berolah jurus benar-benar membuatku tenang. Hilang sudah khawatirku saat melihat kepiawaiannya itu. Terlebih saat situasi mampu ia kendalikan. Bergantian tumbang kedua lawan kak Keanu tersebut. Setelah yakin benar keadaan kedua lawannya, barulah kak Keanu bergeser menuju kak Mirza yang terduduk lesu.
Tak lama keduanya terlibat percakapan. Entah apa yang keduanya bincangkan. Aku mendengarnya sedikitpun, walau sudah Kutajamkan telingaku. Kemudian kak Keanu memapah kak Mirza menuju mobil dimana aku berada. Hei, apa yang dilakukan kak Keanu? Mengapa kak Keanu justru membawa kak Mirza ke mobil. Astaga...cukuplah membantunya. Tak perlu hingga mengantarkannya ke rumah sakit. Gerutuku kesal.
"Kita antarkan sebentar ya, sayang. Tidak apa-apa kan?" ucap kak Keanu sesaat sebelum menutup pintu. Kak Keanu pun mengitari mobil, berhenti sejenak berbincang dengan Satria barulah kemudian kembali pada sisi mobil. Namun sebelum kak Keanu sampai, kak Mirza menatapku lekat dari spion mobil. "Jodoh masih menautkan kita, Fara. Terbukti dimana ada aku, disitu pula ada dirimu. Apakah masih mengingkarinya?" ucap kak Mirza. "Itu menurutmu. Bagiku semua suatu kebetulan. Dan bagiku tifsk ada arti apa pun" ucapku ketus. "Ini bukan sekedar satu kebetulan, Fara. Aku yakin..." ucap kak Mirza lagi.
Aku mendengus kasar saat ucapannya meluncur mengusik telingaku. Sungguh menjadi tidak berperasaan kak Mirza ini. Mungkin instingnya telah mati. "Kak, ayolah..." ucapku pada kak Keanu saat jendela mobil terbuka. Ia pun tersenyum menatap ku. "Ya, sayang..." ucap kak Keanu yang mempercepat langkahnya. Mobil sport silver pun telah berada di bawah kendalinya. Sesekali kak Keanu menatapku dari spion mobil. Aku hanya tersenyum tipis saat ditatapi demikian.
__ADS_1
Pukul tiga lewat lima menit. Mobil telah parkir tepat di depan gedung IGD. Aku diam seribu bahasa saat kak Keanu membawa kak Mirza ke ruangan tersebut. Berjalan di belakangnya Satria yang juga memapah bodyguard kak Mirza. Ah, sungguh pemandangan yang ganjil menurutku. Tapi ya sudahlah. Ini membuktikan betapa baiknya kak Keanu...