
Seorang laki-laki tampan berdiri di hadapanku saat aku membuka pintu. Ada senyum yang menghiasi wajahnya. Seikat kembang pun ia sodorkan kepadaku. Sumringah aku mendapatkannya. "Sudah siap, sayang?" ucapnya sambil meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Em, sebentar lagi..." ucapku singkat sambil mempersilahkannya duduk pada sofa.
"Ayolah, Kak..." Aku merajuk, genggaman tangannya tak kendor sedikitpun saat aku akan berlalu. Aku tahu kau ini tampan tapi jangan seperti ini juga kali. Aku jadi kacau, jantungku berdegup hebat. Apalagi saat tatapan matanya seakan menusuk relung hatiku. "Nikah, yuk..." ajaknya sambil terus menatap ku lekat. Aku pun semakin rikuh. Nieh, orang kalau becanda suka kelewatan ya. Aku tahu kita saling mencintai, namun tidaklah akan secepat ini jalan yang harus ku lalui. Nieh, orang apa tidak tahu ya luka di hati ku ini akibat perceraian? Beruntung dia tampan, jika tidak pasti sudah ku jotos hidung bangirnya itu.
"Kok bengong..? Ditolak ya? Duh...malunya" ucapnya sambil melepaskan genggamannya dan duduk bersandar. Iiih...Nieh orang ngeselin amat, ya. Apa ku jotos saja ya. "Siap-siap lagi lah, jika terlalu siang perjalanan jadi tak nyaman lagi" ucapnya sambil melihatku dengan ekor matanya. Aku pun tersenyum. Dan bermaksud berlalu. Namun sebelumnya aku pun berlaku jahil kepadanya. Ku sentil hidung bangirnya hingga ia terkesiap.
"Hei..." ucapnya sambil menegakkan tubuhnya. Aku cekikikan saja dan segera berlalu ke kamar dengan langkah seribu. Karena kak Keanu mengikuti langkahku dan berusaha meraihku. Kemudian ku tutup pintu rapat-rapat. Berdiri aku merapat pada daun pintu sambil mengatur nafasku yang sedikit memburu. Wajahku pun bak dikerubuti semut. Tahu kan bagaimana rasanya? Ahai...
Duuh...apa yang sudah aku lakukan? rutuk ku penuh sesal. Tak berapa lama aku pun sudah menenteng tas, ponsel pakaian ganti seadanya. Sedikit berdebar aku membuka pintu kamar. Berdiri aku di ambang pintu. Mata ku pun menilik kiri-kanan. "Sudah, Nyonya..." ucap kak Keanu mengejutkan ku. Jiaah...ia berdiri menyandar di satu dinding dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya tiada menatapku. "Sudah..." jawabku kikuk.
"Kena kau..." ucap kak Keanu tiba-tiba. Tanga. kekarnya seketika merengkuh kepalaku dan mengucek-ngucek pucuk kepalaku. Aku pun berontak. Namun apa daya ku. Tenaganya begitulah kuat. Hingga suara laki-laki menghentikan kami dengan celotehnya.
"Sebaiknya kalian cepat menikah..." ucapnya. Sontak kak Keanu menghentikan perilakunya kepadaku. Pegangannya pun lepas begitu saja. Cepat-cepat aku merapikan kerudungku yang hampir berantakan sambil mengedarkan mata kepada si empunya suara. "Kak Noah..." ucapku sedikit membulatkan mata. Namun yang membuatku tak kalah terkejut adalah sikap kak Keanu yang santai saja menatap kehadiran kak Noah.
Ia langsung duduk pada sofa sambil membetulkan kerah bajunya. "Duduklah Noah..." ucap kak Keanu. Tatapanku beralih pada kak Keanu sesaat setelah ia berucap demikian. Ada tanya berseliweran di ujung hati. Bagaimana kak Keanu kenal kak Noah? Ya, Tuhan...sempit ternyata dunia-Mu ini.
"Jangan heran begitu. Kak Keanu juga kakak ku. Jika bukan karena kak Keanu aku tidak bisa seperti saat ini" ucap kak Noah. Aku meng-o pendek. Mataku menatap keduanya bergantian. "Tidak perlu dilebih-lebihkan..." ucap kak Keanu datar. "Ada apa kemari...?" tanya kak Keanu. Mataku sedikit membulat. Hei...ini rumah ku. Aku adiknya kak Noah. Wajar saja jika dia berkunjung. Dasar tuan muda labil. Rutuk ku dalam hati.
__ADS_1
"Aku hanya mampir. Aku ingin melihat keadaan adik ku yang baru saja ku temukan ini..." ucap kak Noah. Aku pun membenarkannya sambil mengangkat jariku berisyarat. "Ow...jadi kalian sudah kompak. Jika begitu aku yang pergi. Aku tidak mau mengganggu acara reuni kalian" jawabnya Sotoy. Walaah...ini cowok gitu amat ya. Ih, kesel. Aku bereaksi kesal sambil mengepalkan tangan. "Tidak suka....?" ucap kak Keanu sambil menatapku yang langsung disambut kekeh kak Noah. Aku nyengir terpaksa. Dan sesaat kemudian reaksi di wajahku pun berubah jadi merengut, antara kesal, gemas dan gamang. Aku hanya bisa tepok jidat mendapati tingkah kak Keanu. Hehe...
"Nomor ponsel mu..." ucap kak Noah sambil menyodorkan ponsel nya padaku. Aku pun menuliskan sederet angka nomor ponsel ku. Waktu lalu memang kami sama-sama lupa bertukar nomor ponsel. "Terima kasih..Hubungi aku jika ada sesuatu apapun yang berkaitan dengan mu" ucap kak Noah. Tangannya mengacak pucuk kepalaku dengan perlahan. Ces...rasanya hati ini mendapat perlakuan demikian dari seorang kakak. Ya...kakak laki-laki ku satu-satunya walau dari ibu yang berbeda.
Melangkah kaki nya menuju sebuah sepeda motor sport yang terparkir. Menemui kak Keanu sejenak setelah itu menghambur bersama suara raungan motornya. "Sudah reuninya?" ucap kak Keanu datar. Aku hanya tersenyum menatapnya sambil bergelayut manja pada lengannya.
Pukul delapan lewat lima belas menit. Mobil sport silver kak Keanu pun melaju dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi suara raungannya terdengar begitu gahar. "Sudah berapa kali bertemu Noa" ucap kak Keanu. Aku terkekeh sambil menutup mulutku. "Cemburu..." godaku. "Ya..." jawabnya singkat. "Tapi kan dia kakak ku, kak" ucapku sambil menghadiahinya satu atau dua cubitan di perutnya. "Sakit, sayang..." keluhnya. Aku manyun. Salahnya sendiri cemburuan.
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Mobil sport silver kak Keanu berhenti tepat di halaman rumahnya. Kami pun memilih mengitari taman demi cepat sampai pada sebuah kolam renang yang berada tepat di belakang rumah. Di sana, pada tepian kolam tampak mama Wina tengah duduk bersantai. Segelas juice pun tersedia di meja. Tak lupa kacamata hitampun bertengger menutupi sebagian wajahnya.
Aku pun mengucap salam. Mencium punggung tangannya dengan takzim. Membalas pelukannya. "Anak perempuan, Mama..." ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Manik matanya menatap ku penuh perasaan. "Terima kasih sudah mengakhiri penantian Keanu. Mama bahagia saat mendengar bahwa Fara menerima anak laki-laki mama yang kadang konyol itu" ucap mama Wina sendu. Aku hanya tersenyum sambil membetulkan kerudungku dan duduk di dekat mama Wina. Mataku beredar mencari sosok laki-laki yang sedang jadi pembicaraan kami. Laki-laki yang menurut mama benar-benar mencintaiku. Cinta yang tidak biasa. Yang rela melihat aku bersama laki-laki lain asal aku bahagia. Laki-laki yang akan selalu meluapkan kekesalan dan amarahnya saat melihat tangisku karena dikecewakan seorang laki-laki. Laki-laki yang turut menangis saat aku berduka dalam segala hal. Laki-laki yang selalu berusaha ada untuk ku.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Kebersamaan kami menjadi makna yang begitu indah. Saat canda dan tawa menghiasi kebersamaan hari ini. Aku bahagia. Perasaan ku terasa dilambungkan dengan perlakuan kak Keanu. Aku begitu di manjakan. Walau perlakuan sederhana, namun bagiku itu bentuk perhatiannya dan itu membuatku tersanjung. "Juice nya, sayang..." ucapnya saat menyodorkan segelas air juice mangga kesukaannya. Ia duduk berjongkok saat memberikannya, karena memang aku sedang berada dalam kolam. Aku pun tersenyum menatapnya. "Terima kasih..." jawabku sambil menyesap juice tersebut.
"Menikah, yuk...?" ajaknya lagi. Kali ini ku jawab dengan sembarang. "Ogah..." ucap ku sambil sedikit menjauhunya. Pun demikian dalam hati aku berjingkrak kegirangan. Kak Keanu pun melompat ke dalam kolam membuat cipratan yang mengenai ku. Ah, dasar tuan muda labil. "Sungguh kau menolakku?" ucapnya dengan wajah serius. Matanya menatap ku lekat seakan mencari jawaban di dalamnya. "Aku mencintaimu. Apakah tiada kesempatan bagi ku untuk membahagiakanmu? ucapnya. Aku tercekat, ucapannya serasa sebuah lamaran yang bukan main-main lagi. Ah, apa dia tidak sadar jika ini di tengah kolam? Apa tidak ada tempat yang lebih romantis gitu? Haduuh...
"Hei..." ucapnya yang menyadarkan lamunan liar ku. Aku menatapnya. Dan manik matanya masih saja menatapku lekat. Ya, Robby... tatapan itu selalu saja berhasil membuat jantungku berdegup hebat. Dan tak sanggup berkata. "Fara..." panggilnya sekali lagi. "Hem..."jawabku singkat sambil tersenyum tipis. "Kesempatan itu akan aku berikan, Kak. Kapan kakak akan menikahiku?" ucapku akhirnya. Dan hal itu tentu saja membuatnya sumringah. Matanya berbinar menatapku. "Sungguh..." tanyanya untuk meyakinkannya. Sebuah anggukan pun aku berikan sebagai isyarat untuk meyakinkannya. "Alhamdulillah..." ucapnya dengan sumringah. Kemudian ia pun menggerakkan tubuhnya mengitari kolam. Bukan hanya sekali tapi dua kali bahkan tiga kali. Astaga...aku tertawa terkekeh melihat polahnya itu.
__ADS_1
"Ada apa...?!" ucap mama setengah teriak dari sisi tepian kolam. Tak lama kak Keanu menghampiri mama. Ia berbisik dan mencium pipi perempuan setengah baya yang tampak cantik itu. Ia terlonjak, matanya membulat menatapku dengan berbinar. "Sungguhkah, Fara...?" ucap mama. Sekali lagi aku mengangguk sebagai isyarat mengiyakan apa yang sudah di utarakan kak Keanu. Mama pun memeluk kak Keanu dengan bahagianya.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Aku sudah berada di tepian kolam. Duduk sambil memainkan kaki pada air kolam yang kadang membentuk riak kecil. Lama aku berlaku demikian. Mataku beredar ke setiap sudut area kolam yang begitu tertata apik. Walaupun aku pernah berada di sini sebelumnya, namun barulah sekarang aku leluasa memperhatikannya. Waktu berlalu tak ku rasa. Dan desir angin sempat membuat ku gigil. Aku pun segera menyudahi memainkan air kolam tersebut. Sementara itu kak Keanu masih saja bermain meliukkan tubuhnya dalam air kolam yang seakan berwarna biru karena biasan dasar kolamnya.
"Ma..." sapaku saat ku dapati mama yang duduk pada sebuah kursi dekat kamar ganti. Melihat kehadiran ku, tangannya berisyarat agar aku duduk di sebelahnya. Tentu saja aku langsung menurutinya. Bergelayut aku pada lengannya. Sementara sebelah tangannya yang lain mengusap pucuk kepalaku. "Mama bahagia sekali. Semoga kalian langgeng dan bahagia selalu" ucap mama Wina. Matanya menatap kak Keanu yang baru saja beranjak keluar kolam. Astaga...aku terkesiap menatapnya. Dia begitu masculine. Dengan tubuh tegap yang basah itu, auto meningkatlah ketampanannya. Aku terpekik saat ia membuka baju atasannya. Sontak aku menutup mata saat otot-ototnya tampak. Aduh...
Mama terkekeh melihat polah ku itu. "Apain sih...?" Tanya kak Keanu sambil duduk pada kursi tak jauh dari kami. Tangannya meraih handuk yang sejak tadi sandar pada kursi. "Seperti tidak pernah melihat laki-laki bertelanjang dada saja" ucapnya sambil mengeringkan tubuhnya.
Deg.
Aku berdiri di hadapannya. Mataku menatap nya. "Apa...?" tanyanya sambil mengangkat wajahnya dan menatapku. "Aku memang pernah melihat laki-laki bertelanjang dada. Sekali dalam seumur hidupku selain ayah, yaitu amntan suamiku itu. Dan hari ini adalah yang kali keduanya" ucapku sedikit meradang. Dirikiranya aku perempuan apaan? Dasar tuan muda labil...!
"Hei...jangan disikapi berlebihan begitu menanggapinya. Sungguh aku tak bermaksud lain, sayang" ucapnya sesaat setelah berhasil menarik tanganku. "Maaf jika menyinggung mu. Tapi sungguh itu hanya celoteh biasa saja" ucapnya lagi. "Aku memang sudah tidak gadis lagi. Aku janda. Tapi jangan berfikir jika aku terbiasa melihat laki-laki seperti itu" ucapku hampir menangis. "Ma66af...aku tidak tahu jika kata-kata ku bisa jadi sesensitif itu" ucapnya sambil menatapku. Ada sesal di ujung tatapannya. Maafkan aku, Kak. Aku memang masih sesensitif itu. Mungkin berkenaan dengan statusku saat ini.
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Di meja makan. Belum ada makanan yang tersaji pada piring kami. Kami masih asyik berbincang banyak hal. Aku duduk bersebelahan dengan kak Keanu dibuat tersenyum dengan polah konyolnya. Benar-benar tuan muda labil.
"Mama hampirlah putus asa..." ucap mama menggantung membuat kami mengalihkan tatapan serius kepada mama. "Ya, putus asa saat mendengar keputusan Keanu untuk tidak menikah saat itu" ucap mam Wina lanjut. Aku mengernyitkan dahi sambil menatap ka Keanu. "Sudahlah, Ma. Jangan dibahas..." ucap kak Keanu datar sambil menyendok nasi lengkap sayur dan lauk yang baru saja di sajikan. Mama tersenyum. "Tapi sekarang mama bahagia. Kapan rencana kalian menikah?" tanya mama Wina. Wow, bahkan mama Wina saja menginginkannya seakan menjadi tidak sabar mendengar kabar kepastian dari kami. "Secepatnya..." ucap kak Keanu singkat. Matanya menatapku sambil tersenyum. "Em...Ya, Ma. Doakan saja secepatnya terlaksana" ucapku sedikit kikuk. "Good..." ucap lirih kak Keanu. Tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku. Ada binar di matanya yang selalu berhasil ku tangkap. Fiuh...rasanya baru saja menyaksikan gunung es yang baru mencair. Lelehannya berhasil mengobang-ambingkan perasaanku sesaat kemudian menghanyutkannya pada sebuah keyakinan yang mendalam. Aku tersenyum membalas tatapannya.
__ADS_1
Mama menyeka bulir bening yang hampir jatuh itu. Aku yakin aku melihatnya tadi. Mungkin mama terharu melihat kebersamaan kami saat ini. Doakan kami, Ma. Agar kami selalu saling menjaga dan saling menguatkan dalam suka dan duka. Doakan kami juga, Ma. Agar kami mampu melewati setiap rasa suka dengan kesederhanaan dan rasa duka dengan kearifan. Doakan kami, Ma...