Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 124. Permintaan Mama Mellisa


__ADS_3

"Fara...Kesedihan itu seperti matahari, ada saatnya terbit dan ada saatnya tenggelam. Namun matahari akan tetap terbit, dengan atau tanpa mendung. Karena itu bersedihlah sepantasnya, tertawalah sewajarnya, karena hidup harus terus berjalan" ucap kak Mirza sambil melonggarkan dekapannya sedikit demi sedikit.


"Mirza...!" teriak seorang perempuan. Sontak kami langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Berdiri seorang perempuan di ambang pintu pagar rumah.


"Mama...!" teriak aku dan kak Mirza hampir bersamaan. "Bocah-bocah nakal..." ucap mama Mellisa sambil melangkah menghampiri kami. Langkahnya menjadi begitu cepat. Astaga...bak dua bocah yang ketahuan mencuri, aku tertunduk. Wajah pun ku simpan pada ujung kakiku. Sementara tanganku mulai memainkan ujung kerudungku.


"Apa yang kau lakukan, bocah nakal?" ucap mama Mellisa. Tangannya menarik Telinga kak Mirza. "Ma, Ma..." ucap kak Mirza sambil memegang tangan mama. Melihat itu aku tertawa sambil bertepuk tangan. "Terus Ma. Kak Mirza memang anak nakal" ucapku sambil bersorak bak anak kecil yang baru saja mendapat hadiah. "Ah, kau pun sama Fara. Anak nakal..." ucap mama. Sebelah tangannya lagi menarik telingaku. Padahal aku memakai kerudung, tapi mama masih saja menemukan letak telingaku. "Mama..." ucap ku sambil manyun. Melihat ku, mama tertawa. Mama langsung memelukku.


"Mama bahagia melihat kalian bersama" ucap mama Mellisa. "Mama..." ucapku sambil bergelayut manja. Entah mengapa aku melakukannya. Yang pasti aku merasa nyaman.


"Ada apa mama datang...?" ucap kak Mirza sambil duduk pada kursi di teras. "Dasar nakal. Mandilah... Ceritanya nanti saja" ucap mama. Tangannya seakan ingin menarik telinga kak Mirza kembali. "Mama...!" ucap kak Mirza sedikit kesal. Pun demikian ia tetap berlalu. Aku pun langsung tertawa kecil melihatnya. Ternyata kak Mirza memang masih sama seperti dahulu. Bak singa di luaran, tapi dihadapan mama, ia masih bak anak kecil.


Pukul empat lewat lima menit. Aku duduk tak jauh dari mama Mellisa. Di hadapan kami tampak kak Mirza duduk dengan tenang. Matanya menatap ku dan mama Mellisa bergantian. Jemarinya bermain pada tepian kursi. Ia mengetuk-ngetuk berulangkali.


"Ada apa mama datang?" ucap kak Mirza kemudian mengakhiri diamnya. Ku lihat mama menghela nafas panjang. Matanya sendu menatap ku. Kemudian mama menyunggingkan senyuman. "Mama hanya ingin bertanya. Kapan anak laki-laki mama ini mengakhiri dukanya? Karena mama tahu, duka itu telah ada sejak perempuan yang ia cintai pergi karena sebuah kesalahpahaman. Yah, kesalahpahaman yang mestinya tak perlu terjadi andai dibicarakan secara baik-baik" ucap mama sendu menatap kak Mirza. "Mohon tidak salah faham, Ma. Saat ini aku sudah bahagia. Duka ku sudah samar bahkan hampir menghilang..." ucap kak Mirza. "Kau berbicara dengan siaap, Mirza? Aku mama mu. Aku yang melahirkan mu. Aku tahu kapan anak ku bahagia, kapan tidak..." ucap mama semakin sendu.


Melihat keduanya berbincang seperti ini, aku beranggapan bahwa aku salah tempat. Tak semestinya aku berada di tengah perbincangan keduanya. Pun demikian, ada rasa penasaran yang menari dalam hatiku. Mengapa mama tiba-tiba saja mendatangi kami? Siapa perempuan yang dicintai kak Mirza yang mama maksud? Amara kah atau...? Ah, entahlah. Aku menjadi takut berspekulasi.

__ADS_1


"Ma, Mirza sudah bahagia. Sungguh..." ucap kak Mirza lagi. "Walau antara ada dan tiada...?" ucap mama. Di tatapannya menyimpan kepiluan. Kak Mirza kembali menghela nafas panjang dan terasa berat bagiku.


"Ma, jika aku tidak mampu mendekapnya kembali dalam cintaku maka cukup bagiku berada dekat dengan nya. Melihatnya bahagia dan tertawa. Itu sudah cukup bagiku..." ucap kak Mirza. Matanya menatap menerobos bingkai jendela dengan gorden yang sesekali terbang tertiup angin.


"Maaf, jika Fara ikut serta berbicara. Sesungguhnya Fara sedikit sulit memaknai setiap perbincangan yang ada" ucapku sambil menatap keduanya bergantian. "Jadi Fara tidak mengerti apa yang kami bincangkan sejak tadi? Menerka-nerka pun tidak?" ucap mama sambil mengusap lenganku. Aku pun menggeleng perlahan.


"Lelet...." ucap kak Mirza tanpa menatapku. Bahkan justru memalingkan tatapannya. "Hei...apa maksud kakak?!" teriak ku sambil melempar bantal sofa. Dan itu tentu saja tepat mengenai wajahnya karena ia tak dapat mengelak dengan cepat. "Aduh, sakit sayang..." ucapnya sambil mengusap wajah tampannya yang baru saja ku lempar.


"Mama dengarkan, kak Mirza selalu mengolok ku..." ucapku manja pada mama. "Mama lihat juga kan, baagimana Fara melempar ku? Ini tindakan KDRT, ma.." ucap kak Mirza tak mau kalah.


"Aduh...mama tahu. Mama tahu semua. Karena itu lebih baik kalian menikah saja..." ucap mama.


"Ayolah...Dewasalah. Jangan seperti bocah kemarin sore" ucap mama sambil memijat kepala. "Fara bantu ya..." ucapku sambil mengambil alih memijat mama.


"Ma, jika yang mama maksud dengan perempuan itu adalah Fara maka sungguh Fara baru mengetahuinya. Kak Mirza tak pernah bercerita apa pun. Tapi Fara tahu mengapa ia tidak menceritakannya. Kak Mirza terlalu sibuk mengambil duka Fara dan berusaha membuat Fara bahagia. Maafkan Fara ya, Ma. Karena Fara, mama jadi tak bahagia..." ucapku.


"Tidak demikian, sayang. Sejujurnya mama merasa bersalah. Mengapa mama tidak mencegah kepergian mu saat itu" ucap mama memegang tanganku. "Mama sudah mencegah Fara saat itu. Fara ingat. Tapi rasa kecewa dan pilu saat itu begitu mendalam, maka Fara tidak mengindahkan setiap nasihat yang ada. Terlebih lagi sikap plin plan kak Mirza yang membuat langkah Fara semakin menjauh" ucap ku. "Maafkan aku, Fara. Aku yang bersalah..." ucap kak Mirza.

__ADS_1


"Kau harus tahu, Fara. Sejak kepergian mu, senyum dan tawa Mirza menghilang. Kalau pun tertawa, itu hanya di di bibir tapi hatinya menangis. Ia menyimpan permohonan maaf dan rindunya hanya untukmu" ucap mama.


Deg.


Aku terdiam. Aku berusaha mendamaikan irama degup jantungku yang sejak tadi bertalu.


"Jadi kedatangan mama hanya untuk menceritakan semua ini? Ma...semestinya biarkan kak Mirza yang mengatakannya. Dia laki-laki bukan?" ucapku sedikit ketus.


"Fara...bukan itu maksud mama. Mama hanya ingin melihat kebersamaan kalian saat ini. Memberikan support kepada Fara atas semua yang terjadi. Dan entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja. Terlebih saat melihat kalian berlarian di bawah hujan. Maafkan mama Fara..." ucap mama sendu. Matanya digenangi bulir bening yang berusaha ia tahan.


"Ma...Maafkan Fara juga sudah salah faham. Em, sesungguhnya Farah ingin berterima kasih atas perhatian mama dan juga Kak Mirza. Fara jadi berasa memiliki keluarga" ucapku sambil memeluk lengan mama Mellisa. "Fara memang bagian keluarga mama. Mama tidak pernah mengeluarkan Fara dari keluarga mama" ucap mama yang menatapku sendu. "Terima kasih, Ma" ucapku sambil tersenyum. Sementara kulihat kak Mirza berdiri membelakangi kami. Matanya menatap jauh entah kemana.


"Lalu apa jawabanmu atas permintaan Mama?" tanya mama. Matanya menatapku lekat. Aku pun sesaat menjadi gagu dan gamang. "Apa yang harus aku katakan..?" aku membatin.


"Em, Ma.. Sepertinya untuk saat ini Fara belum memiliki jawaban atas permintaan Mama ataupun pertanyaan dari...kak Mirza" ucapku mengakhiri diamku.


"Cukup, Ma. Kita pulang. Sudah sore. Fara juga butuh istirahat setelah apa yang ia alami hari ini" ucap kak Mirza sambil mengusap dan mencium tangan mama Mellisa.

__ADS_1


"Apakah cintamu pada Mirza sudah benar-benar hilang?" tanya mama. "Ma...!" ucap kak Mirza. Nada suaranya sedikit keras. "Mama hanya ingin melihat kebahagianmu Mirza..." ucap mama sambil berlalu. Katanya menjadi hilang seiring langkah cepatnya meninggalkan ku yang masih berdiri termangu.


"Ma...tunggu!" ucap kak Mirza.


__ADS_2