Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 65. Aku Akui, Aku Menyayangimu


__ADS_3

"Lalu apakah kakak mu itu sudah bahagia?" tanyaku polos. Dan itu membuat Revans mendongakkan wajahnya dan menatapku. "Katakan...!" ucapku setengah teriak. "Dari kabar yang ku terima darinya, kakak ku itu sudah bahagia bersama Mirza" ucap Revans tak enak hati. Aku tertegun dan menatapnya tajam. "Jangan katakan jika kakak mu adalah orang yang aku pikirkan saat ini" ucapku lagi hampir menangis. "Apa dayaku, Fara. Tapi itu semua sebauh kebenaran. Kakak ku itu adalah Amara..." ucap Revans. Mendengar itu mataku memanas. Tanganku mencengkram lengan kak Keanu kuat. Dan jantung ku yang semula berhasil ku damaikam kini kembali bertalu. Aku lunglai. Apa dayaku kini...


Aku bangkit dan melangkah kaki. Tubuh ku sedikit terhuyung. Beruntung kak Keanu berhasil menangkap tubuhku. Dan bak adegan di film-film Korea, kak Keanu langsung membopong tubuhku dan meletakkannya ke dalam mobil sport hitamnya. Sambil lalu ia menghubungi Satria untuk mengambil mobil merahku. "Semua sudah berlalu sayang. Kenapa harus bersedih" ucap kak Keanu sambil menatapku lekat. "Aku hanya kecewa seorang temanku sudah mengkhianatiku. Setelah ini entah siapa lagi.." ucapku pilu. Ia tersenyum sambil menatap dan mengusap pucuk kepalaku. "Bersabarlah. Itu obat paling mujarab untuk mengobati luka sedalam apa pun..." ucap kak Keanu.


Melaju mobil sport hitam kak Keanu dengan kecepatan sedang sesaat setelah Satria datang. Deru mesin mobil pun begitu gahar memecah keheningan malam. Dan alih-alih demi menenangkan kondisiku, kak Keanu kembali membawaku ke rumahnya. Entah mengapa aku tidak menolaknya. Aku hanya tersenyum menatapnya saat ia mengatakannya. Mobil semakin jauh melaju meninggalkan kedai dimana Revans berada. Tangisku pun sudah usai. Hanya kecewa ku saja yang makin membuat nganga luka semakin lebar.


Kemudian mobil pun sudah parkir kembali pada halaman rumah besar yang masih tampak diramaikan celoteh para asisten rumah tangga yang tengah berkumpul di halaman dekat taman. Melihat kedatangan taun mudanya, mereka langsung menyongsongnya. Berdiri dengan takzim. "Bagaimana Nyonya muda, tuan...?" tanya seorang asisten rumah tangga. Dan kak Keanu pun hanya berisyarat dengan tangannya menunjuk ke dalam mobil. kemudian kak Keanu mengitari mobil dan membukakan pintu untukku. Berpegangan tanganku pada lengan kak Keanu karena nyeri yang kurasa akibat beberapa pukulan laki-laki bertubuh kekar tadi mengenai beberapa bagian tubuhku. Dan kak Keanu pun langsung memapah ku. Mendapati langkahku yang sedikit kerepotan, kak Keanu langsung membopong tubuhku. Dan hal tersebut membuat beberapa pasang mata saling bertatapan dan mengumbar senyum.


"Keanu..." ucap mama Wina saat berpapasan. "Malam ini Fara jadi jagoan, Ma.." ucap kak Keanu terkekeh. "Fara..." ucap mama Wina lirih dan mengikuti langkah kak Keanu yang membopongku menuju kamar. Perlahan kak Keanu merebahkan tubuhku pada kasur yang empuk dan lembut itu. Aku sedikit meringis saat mama Wina membantuku mengganti pakaian ku, dimana tanpa sengaja tangannya menyentuh lenganku. "Sayang..." ucap mama Wina sambil menatapku. Dia mama Wina menjadi sangat terkejut saat mendapati beberapa luka lebam pada tubuhku. "Astaga, Nak..." ucap mama Wina. "Mandilah dahulu, Nak. Air hangatnya sepertinya sudah siap" ucap mama sesaat sekembalinya dari kamar mandi. "Maaf,Ma...Merepotkan" ucapku. "Tidak sama sekali, Nak..." ucap mama sambil tersenyum dan memeluk ku sesaat sebelum aku berlalu.

__ADS_1


Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Aku duduk pada sofa dimana mama Wina duduk bersama kak Keanu. Keduanya tersenyum menatapku. "Kemarilah, sayang..." ucap mama Wina sendu. Tangannya berisyarat agar aku segera duduk di sebelahnya. Dan aku pun segera mengikuti arahannya. "Mama baru tahu, jika anak perempuan mama ini jago silat..." ucap mama sambil mengusap lembut pucuk kepalaku. "Tapi kalau Fara janda tahu kan?" ucap ku tersenyum sambil bergelayut manja. Mama pun tergelak mendengar ucapanku itu. "Jangankan mama, seluruh kota juga tahu itu..." ucap mama yang kembali tergelak.


Sesaat ku tatap kak Keanu yang sudah berganti pakaian. Matanya pun tak lepas menatapku. Dan tatapan itu seratus persen selalu berhasil membuatku rikuh. Tak lama kemudian, mama pun pamit kembali ke kamarnya. "Jangan berbuat macam-macam ya di kamar ini.." ucap mama sesaat sebelum berlalu. "Kalau di kamar lain boleh donk, Ma.." seloroh kak Keanu yang langsung disambut cubitan pada lengannya. Kak Keanu pun mengaduh sambil mengusap lengannya itu. "Kenapa perempuan senang sekali menganiaya? Dari tiga orang perempuan yang ku kenal, ketiganya suka sekali mencubitiku" omelnya. Mendengar itu mama hanya berisyarat mengibaskan kedua tangannya ke udara. Melihat itu aku pun tertawa tertahan dengan sebelah tangan ku yang menutup mulut. Apalagi saat kak Keanu kembali menatapku lekat.


"Istirahatlah... Atau kau ingin berbincang dengan ku sampai esok hari?" ucap kak Keanu sambil menatapku. "Aku tak kan mampu menyimpan kantukku hingga esok hari, Kak. Sebentar saja pasti aku sudah terlelap" ucapku sambil menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi. "Jika demikian, istirahatlah..." ucapnya sambil menunjuk tempat tidur yang langsung ku tolak. "Aku di sofa saja. Aku tak kan bisa memejamkan mata di atas kasur selain kasurku sendiri" ucap ku sambil membetulkan posisi dudukku. "Jika demikian tidurlah di sofa ini. Aku akan menjaga mu hingga kau tertidur" ucap kak Keanu. Mendengar itu aku pun langsung merebahkan tubuh. Dan selembar selimut berwarna abu-abu pun ia lebarkan pada tubuhku. Selimut yang begitu wangi seakan menyimpan sejuta wewangian yang menggelitik indra penciumanku. Dan kehalusannya begitu membuatku terbuai seakan ingin mengajakku ke alam mimpi. Buaian yang selama ini ku rindukan karena begitu menenangkan. Namun ternyata wangi dan halus tak cukup untuk membuatku berlalu kepada sebuah kelenaan yang panjang. Karena fikiranku masih saja mengembara dan melambungkan ingatanku tentang berbagai macam peristiwa yang ku alami. Timbul-tenggelam rasa yang ada saat ingatan itu menguasai sukma ku.


"Kenapa...?" tanya kak Keanu sambil menyeka peluh yang mengembun di kening dan sebagian wajahku. "Kantuk ku tiba-tiba saja menghilang, Kak..." ucapku lirih sambil menatap wajah kak Keanu yang begitu dekat. "Kakak tidak tidur? tanyaku sambil meregangkan tubuh. "Sudah ku katakan aku akan menjagamu. Hingga kau terlelap betul, barulah aku akan tidur" ucapnya sambil mengusap-usap pucuk kepalaku dengan perlahan. Tenang rasanya diperlakukan demikian. Terbukti aku diam saja, menikmati perlakuan tersebut. "Kapan kita menikah..." ucap kak Keanu membuka pembicaraan. Aku terdiam. Hanya mataku saja yang menatap sekaligus menilik setiap gurat ketampanan di wajahnya. Sungguh sempurna Tuhan menciptakan. "Aku menjadi tidak sabar ingin segera menghalalkan mu" ucap kak Keanu sambil merebahkan kepalanya pada sofa tak jauh dari wajahku. Sementara sebelah tangannya masih saja mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Berhenti sejenak pada pipi halusku. Ia pun memainkan jemarinya pada pipiku. Dan matanya menatapku penuh perasaan. "I love you..." ucapnya berbisik. Aku tersenyum mendengar ucapannya itu. Jantungku pun mulai berlarian. Entah irama apa yang sedang ia mainkan saat ini. Kemudian ku raih tangannya, mengecup sebentar telapak tangannya dan meletakkannya tepat di bawah wajahku sebagai bantal tidurku. Hati ku kini sedang merah jambu, sehingga aku mampu melakukan semua itu. Dan mendapati perlakuan ku itu, kak Keanu pun tersenyum menatapku. Ada bahagia yang ku rasa di ujung tatapannya. "Terima kasih untuk semuanya..." ucapku berbisik. "Hei...sesama pecinta tidak mengenal kata terima kasih. Karena semua menjadi lumrah dan sah untuk dilakukan." ucap kak Keanu dengan senyum khasnya.


Kemudian sekelebat bayangan kak Mirza menjelma. Semua yang ada padanya menyata dalam ingatanku. Bak hantu ia kini sering hadir menghantui tidurku. Bukan hanya rasa bahagianya namun kecewa dan tangisku seperti tak berkesudahan menghantui hari-hari ku. Luka ku ternyata belumlah sembuh benar. Terbukti kak Mirza masih sering hadir bahkan dalam tidur ku sekali pun. Tak ingin berlama-lama ia bermain dalam ingatan, aku segera membuka mata dengan segera. Ternyata aku berhasil tertidur tadi. Ku lihat kak Keanu masih duduk di bawah sofa dengan tangan yang juga masih menjadi alas kepalaku. Ku tatap wajahnya yang sedang lelap itu. Duh...ternyata kak Keanu jauh lebih tampan dari kak Mirza. Walau suami masa kecilku ini tak memiliki dua lubang pada kedua pipinya, namun tetap saja ia tampan. Aku tersenyum menatap wajahnya itu. Kembali degup jantungku bak bertalu saat menatapnya dan mengingat semua yang sudah ia utarakan. Walaupun aku belum mengiyakan atas pernyataan cintanya atau membalas ucapan cintanya, namun apa yang sudah aku lakukan sesaat lalu ku harap sudah mewakili bagaimana perasan yang ada di hati ini.

__ADS_1


"Sudah puas belum menatap wajahku...?" ucap kak Keanu dengan suara parau khas orang bangun tidur. Aku terkesiap dan buru-buru memalingkan wajah. "Tak usah bersembunyi dibalik keacuhanmu, sayang. Kau harus jujur" ucap kak Keanu sambil mengacak gemas pucuk kepalaku. Dan aku pun segera membalikkan tubuh memunggunginya. Ada rona merah di wajahku. "Jiiaaah..ketahuan nieh. Duuh...malunya" ucapku dalam hati sambil menutup wajahku. "Oo...diam-diam istri cantikku ini mengagumi ketampanan ku, ya. Atau kau sedang membandingkannya dengan mantan-mantan mu dahulu? Ah, aku sih yakin aku jauh lebih tampan. Benar tidak..?" ucap kak Keanu sambil meregangkan tubuhnya. Aku mengetahuinya dari suara yang ia keluarkan. Em pasti terlihat jelas juga otot-otot pada lengannya itu saat ia melakukan peregangan tersebut. Aku yakin ketampanan dan kegagahannya auto meningkat seratus persen.


Setelah berhasil mendamaikan irama jantung, aku pun langsung membetulkan posisi tubuhku. Aku duduk tak jauh darinya yang masih menatapku sambil mengumbar senyuman. Aku terdiam. Tanpa berkata jika sudah demikian. "Sebegitu cintanya pada Mirza hingga waktu tidur pun harus menyebut namanya" ucap kak Keanu.


Deg.


Aku menatapnya. Kali ini sedikit membulatkan mataku. Lama aku berlaku demikian. Dalam hati aku bertanya apa mungkin saat tidur tadi aku menyebut nama kak Mirza? Ah, mustahil. "Sungguhlah? Serius...?" tanyaku kemudian. Dan kak Keanu pun mengangguk yakin. "Astaga..." ucapku dalam hati. "Aku menyebutnya bukan karena cinta di hati yang masih menggunung. Tapi karena ada hal lainnya..." ucapku kemudian. "Oya..." ucap kak Keanu singkat tapi cukup menohok. "Luka dan kecewa yang ia tinggalkan membuat aku terluka. Hingga kini luka ku itu belumlah sembuh benar. Terkadang aku masih menangis jika teringat itu semua" ucapku sambil menatap menerawang jauh. "Itu artinya kau masih mencintainya..." ucapnya lagi dengan datar. "Tidak... Aku tidak mencintainya lagi" ucapku bersikeras. "Kau masih cinta. Aku yakin itu" ucapnya sambil berdiri. "Tidak...!" ucap ku setengah teriak. "Cinta...!" ucap Keanu lagi. Begitu berulangkali hingga tak berjeda. Aku kesal dan hampir menangis dalam diamku. "Hei...lalu siapa yang kau cintai sekarang?" tanya kak Keanu sambil duduk berjongkok di hadapanku. Aku diam dan menyimpan wajahku. Kemudian satu-satu bulir bening itu mulai berjatuhan di pangkuanku. Kak Keanu menatapku dan mengusap pucuk kepalaku baru kemudian berlalu. "Aku mencintaimu kak Keanu..." ucapku di sela tangisku


Wal hasil langkah kak Keanu menjadi terhenti saat mendengar ucapanku itu. Ku lihat sepintas pada cermin yang memantulkan bayangnya, ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Itu nyata sekali. Pun demikian ia tak langsung memutar tubuhnya seperti pada adegan di film ataupun sinetron. Ia justru tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi tanpa kata. Aku termangu. Mataku semakin memanas oleh lelehan air mata.

__ADS_1


Pukul empat tiga puluh lima menit. Kumandang adzan sudah terdengar di kejauhan. Begitu syahdu merayu. Panggilan suci untuk jiwa-jiwa yang merindu. Ku lihat kak Keanu sudah bersiap menunaikan ibadah sholat. Begitu khusyuk tiada berbanding. "Fara..." ucap mama sambil membuka pintu. "Ya, Ma..." ucapku sambil melangkah ke pintu. "Kak Keanu mu sudah bangun?" tanya mama Wina. Sudah, Ma. Kak Keanu sedang sholat" ucap ku sambil membuka lebar pintu besar berukir itu. Mama pun tersenyum saat mendapati anak laki-laki satu-satunya itu tengah khusyuk dalam ibadahnya. "Fara ingin sarapan apa nanti?" ucap mama Wina kemudian. "Terima kasih, Ma. Tapi sepertinya Fara tidak sampai waktu sarapan. Setelah sholat Fara harus ke cafe. Ada event, Ma..." ucapku sambil bergelayut manja dan mengajak mama duduk pada sofa. " Berapa lama sih, sarapan. Pokoknya harus sarapan. Mama tidak mau tahu. Kan ada pegawai mu yang melakukan persiapan. Harus sarapan titik" ucap mama Wina sambil berlalu. "Perkataan seorang ibu itu bak perintah. Itu kan ucapan mu, Fara.." ucap kak Keanu yang ikutan duduk pada sofa tak jauh dari ku. Aku terdiam. Dan tersenyum bimbang. "Nanti saja berfikirnya. Sholat subuh saja dulu.." ucap kak Keanu lagi. Dan kemudian aku pun membenarkan ucapan kak Keanu, lalu langsung menghambur ke kamar mandi.


To Be Continued....


__ADS_2