Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 95. Menghadapi Kenyataan


__ADS_3

Allahu Akbar...!" teriakku saat mobil menghantam sisi badan jalan kemudian melenting di udara, berputar, setelah itu berguling di jalanan dan terhempas begitu saja. Mendadak langit berputar dan semakin pekat. Satu-satu titik hujan membasuh wajahku. Kemudian aku tak merasai apa pun lagi. Semua menjadi pekat. Bahkan suara pun mendadak menjadi diam. Semua begitu sunyi...


Itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan kak Keanu.


Setelah itu aku mendapati diriku terbaring pada sebuah ranjang rumah sakit. Begitu pilu rasaku saat itu. Terutama ketika tahu bagaimana kondisi ku. Ya...Robby, ujian apalagi yang harus aku lalui. Begitu aku membatin saat itu.


Dan hari ini tepat satu bulan setelah peristiwa itu. Aku berdiri dekat jendela. Fikiranku kembali mengembara, membawa kepingan-kepingan kenangan bersama kak Keanu. Sesaat aku merasa sang Bayu menyapa ku. Semilir hawanya membasuh wajahku yang tengah berdiri. Sementara tanganku berpegangan erat pada tepian jendela. Rasanya tiada suara yang mampu menggoda pendengaranku selain kicau burung yang aku yakin tengah asyik berloncatan dari satu dahan ke dahan lainnya. Aku pun terus menajamkan telingaku, sambil terus mengingat polah si burung kecil di tiap pagi dan sorenya. Inilah hiburanku satu-satunya setelah kondisi ku saat ini.


"Fara..." ucap seorang laki-laki. Dari suaranya, aku yakin ia berada di belakang. Aku memutar tubuh sambil mengurai senyum. "Dokter Faaz..." sapaku. "Bagaimana kabarmu, pagi ini?" tanyanya sambil melangkah beberapa kali. "Sama seperti kemarin..." candaku sambil berusaha menggapai sisi tempat tidur ku. Di situasi ku saat ini, aku harus lebih menajamkan instingku ketimbang penglihatan ku. Yah, kini tiada lagi warna-warna cerah menghiasi hidupku. Dan hanya satu warna yang akan menemani, yaitu hitam. Hanya hitam. Tiada bintang atau pun bulan yang menemani layaknya langit malam. Hanya hitam.


Ini perjalanan hidup yang harus ku lalui kini. Yah, sejak peristiwa itu aku kehilangan penglihatanku. Dan yang lebih memilukan lagi, aku pun kehilangan kak Keanu untuk selamanya. Sosok laki-laki yang aku cintai dan mencintaiku. Laki-laki yang sudah memperjuangkan cintanya sejak kami berpisah saat kecil dahulu. Sungguh kepiluanku makin menyelimuti jiwaku. Tak terperi ku rasa. Dan dengan demikian, kepekatan warna hidupku kian menjadi. Bagaimana tidak laki-laki yang telah memberiku semua rasa dalam hidup kini telah meninggalkanku untuk selamanya.


Namun ada satu hal yang membuatku sedikit mengurai senyum di tengah kepiluanku, yaitu Allah memberikan janin dalam rahimku. Usianya kini mencapai delapan minggu. Hal inilah yang berhasil menguatkan ku dalam menjalani hari-hari ku walau dengan keadaanku kini.


"Aku membawakan sarapan. Aku letakkan di nakas ya..." ucap dokter Faaz yang sudah biasa ku panggil dengan sebutan kakak. Aku berfikir kak Faaz memang layak diberi predikat kakak, mengingat kebaikannya kebaikannya selama sebulan terakhir ini. Terlebih lagi ia adalah sahabat kak Keanu.


"Terima kasih, kak. Mbok Jum kemana? Biasanya juga mbok Jum yang mengantarkannya" ucapku sambil tersenyum. "Sedang ke pasar..." ucap kak Faaz. Aku pun meng-o pendek sebagai tanggapan ucapan kak Faaz.


"Em, aku berangkat ke rumah sakit dahulu ya. Jangan lupa susu nya di minum. Buat dedek bayi tuh..." ucapnya sambil tertawa kecil. Ku dengar langkahnya menjauh seiring tawa nya yang sudah menghilang.


"Siapa itu..?" tanyaku gusar. Seakan insting memberitahuku ada seorang di sekitar ku. Sekali-dua kali aku bertanya, namun tiada jawaban. Aku pun mengernyitkan dahi atas situasi tersebut. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Begitu batin ku.

__ADS_1


Kemudian aku pun melanjutkan aktifitas, yaitu sarapan tanpa mengindahkan firasatku tadi. Aku segera meraih sajian menu sarapan ku yang sudah diletakkan kak Faaz di nakas. Cukup sulit, namun harus tetap ku jalani. Entah mengapa mendadak letak nakas begitu jauh dari jangkauanku. Dan karenanya aku hampir menjatuhkan menu sarapanku.


Pun demikian, ternyata ada orang lain yang begitu terkejut atas kejadian barusan. Dia melangkah cepat dan membantuku menahan nampan berisi menu sarapan ku yang hampir jatuh. Aku begitu terkesiap mendapati sosok tersebut. "Siapa kamu...?" tanyaku sambil mengayunkan tongkat yang berhasil ku raih kesana-kemari. "Siapa kamu...?!' tanyaku sekali lagi. "Fara..." ucapnya Kemudian yang ternyata seorang laki-laki. Tapi tunggu...sepertinya suaranya begitu familier. Tapi siapa?


Aku kembali terkesiap ketika tangannya menggenggam erat jemariku. Sungguh aku ingin secepatnya menarik tanganku. Tapi tidak. Ada kehangatan di tangannya yang ku rasa. "Ini aku Fara..." ucapnya lagi sambil meletakkan tangan ku pada wajahnya yang telah basah dengan air mata.


"Bang David..." ucapku setengah teriak saat berhasil mengenalinya. Bersamaan dengan itu, bang David pun merengkuhku dalam dekapannya. Ada isak yang cukup panjang mewarnai pertemuan kami saat ini. "Maafkan aku, Fara. Aku tidak mampu menjagamu. Ku fikir Keanu dapat menjagamu" ucap bang David lagi. Aku terisak. "Sungguh, bang. Kak Keanu benar-benar dapat menjagaku. Namun, ternyata takdir berkata lain. Aku harus kehilangannya lebih cepat dari yang telah kami rencanakan" ucapku dalam tangis di dekapannya. "Aku bisa berbuat apa, bang. Semua Allah yang atur" ucapku pilu.


"Tapi ada kehidupan lain di rahim mu. Kau harus bersemangat. Sembari menunggu pendonor yang cocok untukmu, aku harap kita akan tetap berbahagia" ucap bang David. "Kita...?" ucap ku gagu penuh tanya.


"Kita. Aku, Fara, janin yang ada di rahim mu, Faaz dan semua yang menyayangimu" ucap bang David penuh perasaan. "Terima kasih, bang. Beruntung Fara memiliki orang-orang yang selalu menyayangi" ucapku.


Dekapan pun melonggar. "Fara sarapan dahulu. Kasihan dedek bayinya. Pasti ia sudah kelaparan" ucap bang David. Tangan hangatnya menghapus air mataku yang masih saja mengalir. Kemudian aku pun berusaha menyusut air mata dan mengurai senyum, walau gerimis di hatiku tak kunjung usai.


"Tidak, Bang. Biarkan mengalir. Ini tangis bahagia..." ucapku saat tangannya menyentuh wajahku dan bermaksud menghapus lelehan air mataku. "Seperti kata bang David. Seperti dahulu. Aku bahagia, Bang. Jadi biarkan.." ucapku lagi.


Dan benar saja. Karena permintaanku itu, bang David membiarkan isak ku berkepanjangan. Sesekali tangannya mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan di sela isaknya yang lirih, hampir tak terdengar.


"Mirza. Apakah Fara tidak ingin bertemu dengan Mirza?" ucap bang David tiba-tiba. Mendengar itu aku memalingkan wajah. Mengapa bang David menyebut namanya di situasiku saat ini? Aku sendiri sudah melupakan semua rasa yang ada dahulu terhadapnya. Semua sudah menjadi kenangan yang terlupakan. Hanya bayang-bayang yang semakin memudar yang ada saat mengingat namanya itu. Ya, Tuhan...


"Fara sudah lupa. Maafkan Fara, Bang" ucapku kemudian. "Well, tidak apa-apa. Hak Fara...Maaf sudah mengingatkan" ucap bang David kemudian. Dan sekali aku berdusta dengan mengurai senyum sebagai tanda aku baik-baik saja, walau sesungguhnya gerimis di hati terus berlangsung dan tak kunjung usai.

__ADS_1


Tiktok jam pada dinding berhitung hingga delapan kali. Bersamaan dengan itu, bang David pamit. Langkahnya masih ku dengar hingga di ambang pintu. Sedikit tersentak tubuhku saat pintu kamar tertutup. Dan langkah bang David pun tak lagi dapat ku dengar. "Terima kasih, Bang. Kau masih seperti dahulu. Kau masih selalu saja menjadi kakak yang aku impikan. Kebaikanmu benar-benar mengambil tempat seorang kakak sebenarnya" gumamku sambil menghapus air mata yang baru saja kembali terjun bebas.


Aku kembali menuruni tempat tidur ku. Dan melangkah menuju jendela. Kutangkap desiran angin dingin yang sempat membuatku gigil. Rupanya langit kembali menurunkan hujan. Tampias rintikannya menyasar melalui jendela yang terbuka dan membasuh wajah juga sebagian tubuhku. Aku memejamkan mata, walau aku tahu tiada beda apakah terbuka atau tertutup. Karena warnanya akan tetap sama, yaitu gelap. Indera peraba ku mulai menyesap dinginnya rintik hujan. Sungguh aku menikmatinya.


"Kau bahagia, Fara...?" ucap seorang laki-laki yang ku kenal sebagai Ainan, asisten pribadi dokter Faaz. Aku tersenyum dan menyembunyikan rasa terkejut ku. "Ikutlah dengan ku..."ucap Aiman sambil menggenggam kan ujung tongkat pada tanganku. Sementara ujung lainnya berada pada genggamannya. Ia pun mengarahkan langkahku. "Kemana...?" tanyaku ketika langkah terasa melewati pintu.


Gemuruh hujan begitu terasa di telinga. Bahkan titiknya mulai mewarnai tubuhku. Aroma khas hujan semakin menggodaku. Menari, ayo menarikan Fara. Berjingkat rianglah. Nikmatilah...kau pun berhak menikmati dan bahagia walau dalam gelapmu sekalipun.


"Kak..." panggilku beberapakali saat aku merasa ditinggalkan sendiri di bawah guyuran hujan. Ku ayunkan tongkatku kesana-kemari mencari sosok Aiman. "Kau harus menikmatinya, Fara..." teriak Aiman kemudian. Suaranya samar ditengah gemuruh hujan.


"Jangan takut, Fara. Aku bersama mu..." teriak Aiman lagi. Dan aku masih saja mencari keberadaannya. Mengayunkan tongkat kesana-kemari. Hingga tongkat ku mengenai sosoknya. Aku yakin itu. "Kau harus berani, Fara..." ucapnya lagi.


"Ya....! Aku berani...! Aku bukan pengecut...!" jawab ku dengan lantang sambil merentangkan tangan. Jiwaku yang berontak mulai merasa teduh. Hatiku yang gerimis mulai menepi. Dan fikiranku yang gamang mulai nyaman. Ternyata hujan begitu dahsyat merayu ku. Dan rayuannya telah berhasil membawaku pada sebuah tarian. Tarian keberanian. Berputar-putar aku di tengah guyuran hujan. Menari-nari aku mengikuti alunan rintik hujan yang berpadu dengan hembusan sang Bayu. Terbuai aku dalam rayuan sehingga tawaku mulai terasa menyata kembali. Begitulah caraku menikmati hujan hari ini.


Lelah aku dengan semua polah sendiri, aku terduduk pada rerumputan yang masih ku ingat bagaimana warna dan ketebalannya. Bagaimana aromanya saat aku menduduki dan mengusapnya perlahan dahulu. Saat pagi ataupun senja. Saat mentari bersinar ataupun hujan menyerang. Aku masih menyimpannya dalam kepingan yang disebut kenangan.


Aku pun menghela nafas panjang. Tanganku mulai mengusap-usap perutku. Aku mencoba merasakan calon baby dalam rahim ku. Kuasa-Mu ya, Allah...yang menjadikan janin ini kuat dalam peristiwa yang kualami. Ini diluar nalar. Ada banyak peristiwa yang mengharuskan orangtua kehilangan anak yang belum dilahirkan saat mengalami peristiwa seperti yang kualami. Tapi aku, justru kebalikannya. Anakku selamat. Anakku mampu bertahan. Aku yakin ini adalah campur tangan Allah. Semua kuasa-Nya. Dan aku yakin, pasti Allah pun memiliki rencana hebat untuk kami. Untuk ku dan untuk anak ku.


Hujan masih merayuku. Namun rintiknya sudah sedikit jarang. Hanya satu-satu saja yang kurasa menerpa tubuhku. "Ku rasa sudah cukup untuk hari ini..." ucap seorang laki-laki sambil menyelimutkan handuk pada tubuhku yang sudah gigil. "Terima kasih, kak...Hujan sudah membuatku tertawa" ucapku sambil merapatkan handuk. "Kau berhak menikmatinya. Yakinlah..." ucap Aiman.


Langkahku sedikit cepat saat melangkah karena Aiman yang mengarahkanku melalui pegangannya pada bahuku. "Kak Faaz..." ucapku saat melewati seseorang yang berdiri tak jauh dari ambang pintu. "Hah...ku kira aku akan diam-diam saja melihatmu bermain hujan atau pun melihat tawa riang mu. Namun ternyata insting mu telah membuatku mudah dikenali" ucap dokter Faaz. "Aku jadi hafal dengan aroma maskulin mu, Kak. Bahkan tarikan nafasmu pun aku makin mengenali. Mungkin benar ini kekuatan insting ku" ucapku terkekeh.

__ADS_1


"Aku bahagia melihat semua tawamu itu" ucap dokter Faaz. "Oya, bagaimana pendampingan Aiman? Apakah membuat mu nyaman? Atau justru sebaliknya?" tanya dokter Faaz lagi. Aku tersenyum. "Sejauh ini baik dan Fara merasa terbantu" ucap ku. "Syukurlah jika demikian..." ucap dokter Faaz lagi sambil melangkah. Namun kali ini dibarengi dengan menepuk bahu Aiman. Aku yakin itu. Entah apa maksud dari tepukan tersebut. Tapi sungguh aku menghargai apa yang sudah Aiman lakukan beberapa waktu ini untukku. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu, kak...


__ADS_2