Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 8. Penyebab kekacauan


__ADS_3

Pukul enam. Aku telah siap. Sambil menunggu Sherlly yang sedang bersiap dan mobil jemputan, aku duduk di teras rumah. Mataku tengah asyik menatap kuntum bunga yang berayun tertiup angin saat bang David datang dengan motor sport nya. Sumringah wajahku menyambut kedatangannya. "Hei...cantik" ucapnya dengan senyum khasnya sambil melangkah mendekatiku. Ia pun memintaku untuk duduk di kursi saja. Aku manut. Berjongkok bang David di hadapanku. Ia melepas sebelah sepatuku yang tadi kupakai dengan susah payah. Perlahan Bang David membuka perban lukaku. Terpejam mataku menahan perih saat bang David menyemprot lukaku. Mungkin ini yang ia maksud dengan obat ampuh semalam. "Sabar ya. Tahan sebentar lagi" ucapnya sambil membalut kembali luka ku. Setelah selesai ia pun kembali memakaikan kaos kaki dan sepatu ku. "Selesai..." ucapnya dengan senyum khasnya sambil merapikan perlengkapan yang sudah terpakai.


Pukul enam lewat lima belas menit. Bang David pamit untuk kembali ke puskesmas. "Semoga ujiannya lancar..." ucapnya. Tangannya kembali mengacak pucuk kepalaku. Entah mengapa setiap ia melakukannya, hati ini serasa tenang dan berharap bahwa ia tak kan pernah berubah. "Aamiin...Terima kasih, Bang David" ucapku sambil melambaikan tangan saat motor sport nya mulai melaju dan menghilang di ujung gang.


Aku terkejut saat menyadari Sherlly tengah berdiri di ambang pintu dan menatapku penuh selidik. "Kau berhutang penjelasan kepadaku" ucapnya sambil melangkah menuju mobil yang baru saja datang. "Kau tidak mau membantuku?" ucapku sambil berusaha berdiri. Sherlly pun menepuk dahinya. Ia pun memutar tubuhnya dan kembali untuk membantuku melangkah menuju mobil. "Terima kasih..." ucapku sambil menghempaskan tubuhku. Tak lama kemudian mobil pun melaju menyusuri jalanan yang mulai ramai. Sepanjang perjalanan tiada perbincangan yang terjadi. Hanya diam dalam fikiran masing-masing.


Pukul tujuh tepat. Langit biru. Matahari bersinar terang dengan awan putih tipis yang menghiasinya. Sementara kicau burung pun seakan menyambut kami saat memasuki halaman sekolah. Ada banyak pasang mata yang memperhatikan kami apalagi dengan kondisi ku saat ini. "Fara....!" teriak Bu Ratna di ambang pintu ruang guru. Hal tersebut membuat hampir seisi ruang guru berlari ke luar dan melihatku. "Kenapa, Fara...?" ucap Bu Ratna. Kemudian di depan ruang guru, akhirnya kembali aku bercerita hal ihwal aku mendapatkan luka-luka pada tubuhku ini. Hampir menitik bulir bening Bu Ratna dan beberapa guru lainnya saat aku bercerita.

__ADS_1


Pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku kembali melangkah menuju ruang kelas dengan langkah tertatih-tatih. Ada banyak tanggapan yang ku dapat atas kondisiku ini Mulai dari ungkapan kepedulian hingga ketidaksukaan ataupun hinaan atas hidupku. Lengkap sudah rasa yang ada dalam dada ini. "Nano nano...." ucapku pada Sherlly yang meletakkan sebelah tangannya di dadanya, sebuah isyarat agar aku bersabar. Aku pun tersenyum melihatnya. Dalam hati aku memanglah menyadari bahwa ini lah hidup yang sedang kujalani. Semua ketentuan sudah Tuhan tetapkan berpasangan yang terkadang berasa bertentangan. kanan-kiri, panjang-pendek, siang-malam, positif-negatif, Manis-pahit, suka-duka lelaki-perempuan, disukai-dibenci, dan lainnya. Pun demikian, perihal tersebut yang membuat hidup berasa lebih hidup.


*Gembok tidak pernah dibuat tanpa kunci. Pun demikian, Tuhan tidak pernah menjadikan masalah tanpa solusi. Karena itu Tetap yakin, berusaha, berdoa dan bertawakal. Jalan keluar itu pasti ada.


Tuhan sudah menyiapkan cerita indah di balik kesusahan*...


Dua puluh lima menit ku lahap soal esai yang ada. "Alhamdulillah..." ucapku sambil tersenyum. Sesaat kemudian aku terdiam. Aku menunduk dengan mata terpejam. Nyeri pada luka ku membuat buyar konsentrasiku. Ferry yang berada tak jauh dari ku sepertinya mengetahui situasi ku saat ini. Ia langsung berdiri dan menggeser kursinya dekat padaku. Hal yang tentu saja tidak boleh dilakukan.

__ADS_1


Dengan perlahan ia mengangkat kakiku dan meletakkannya pada kursinya tersebut. Sebuah tindakan konyol namun cukup manis bagi sebagian gadis remaja seperti ku. Aku tersanjung. "Ada apa, Ferry?" ucap Bu Ayu sambil tersenyum saat melihat perlakuan Ferry terhadap ku. Bukan hanya Bu Ayu tapi seisi ruangan menyaksikannya. "Baik sekali kamu Ferry" puji Bu Ayu. "Ambil kursi ibu saja untuk kamu duduk" ucap Bu Ayu sambil membawa kursi pada Ferry. Tampak ragu Ferry menerimanya. Namun Bu Ayu berhasil meyakinkannya. Nyengir kuda, jurus yang selalu Ferry perlihatkan jika ia sedang canggung. "Terima kasih..." bisik ku pada Ferry yang langsung ia balas dengan senyuman. Tak berapa lama aku mengistirahatkan kaki, aku pun kembali berkonsentrasi pada dua puluh soal pilihan yang belum ku selesaikan.


Satu persatu akhirnya kedua puluh soal pilihan dapat ku selesaikan dengan baik. Aku tersenyum sumringah. Ku cek ulang semua jawaban pada lembaran kertas di mejaku. Setelah yakin barulah aku pun menyerahkannya kepada Bu Ayu. Ku sambar tas ku dan berlalu ke luar ruangan dengan tertatih. Kali ini seorang temanku Diana yang membantuku hingga aku duduk pada kursi panjang di ujung teras kelas. "Terima kasih..." ucapku yang dibalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil.


Masih tersisa waktu satu jam lagi dari dua jam waktu yang disediakan. "Masih cukup lama" gumamku lirih. Ku teguk air mineral yang selalu ku bawa sambil mengistirahatkan kembali kaki yang mulai terasa nyeri lagi. Dengan hati-hati ku angkat kaki ke atas kursi. Aku terdiam. Mataku terpejam. "Hei...pembuat sensasi..." ucap Ratu setengah berbisik yang berhasil membuat mataku kembali terbuka. "Bagaimana rasanya di tabrak? Enak? Kemarin kaki mu, besok bisa jadi kepalamu. Makanya jangan belagu jadi perempuan..." ucapnya sambil sedikit mendorong tubuhku. Aku terkesiap mendengar ucapannya. "Apa maksudmu?" ucapku mencoba tenang. "Kau merebut kekasih kakakku. Bang David, ia kekasih kakakku..." ucapnya setengah berbisik. "Jadi kakak mu yang sudah berusaha menabrak ku? Hanya karena kesalahpahaman, kakakmu tega melakukan hal seperti itu?" ucapku dengan nada penekanan. "Semua demi cinta. Dan itu aku yang mengusulkannya" ucapnya lagi sambil tersenyum puas dan berlalu.


Aku terdiam. Mata rantai yang hilang kini satu persatu muncul kembali. Jelas sudah penyebab kekacauan hariku kemarin. "Ya Allah...." ucapku lirih.

__ADS_1


__ADS_2