
Setelah sekian lama, akhirnya aku berani pulang ke kota kelahiran ku. Jaraknya dua jam perjalanan dari kota dimana aku tinggal sekarang. Berbeda saat aku pergi dari kota kelahiran ku yang secara diam-diam karena rasa khawatir dan kecewa, kali ini aku pulang dengan senyuman yang penuh keberanian. Dan tentu saja perjalanan kali ini pun akan berbeda. Bagaimana tidak, di Sabtu subuh ini aku berangkat dengan di temani kak Keanu. Laki-laki yang sudah menjadi tambatan hati. Laki-laki yang selalu ada saat aku terluka.
Matahari belum lagi menampakkan wujudnya. Bahkan semburat kemerahannya pun belum lagi menghiasi kaki langit. Karena memang jam pada dinding pun baru menunjukkan pukul lima lewat lima menit. Dan sejak usai sholat shubuh tadi aku sudah bersiap-siap. Bahkan kak Keanu pun sudah berada di rumah ku dengan mobil sport hitamnya. Bukan tiada maksud aku memilih berangkat sepagi ini. Ya, tiada lain tiada bukan aku ingin memberi kejutan kepada ayah dan mami Vira.
Membayang sudah wajah terkejut keduanya saat melihat kedatangan ku nanti. Dan berdasar perhitungan ku, sekitar pukul tujuh lewat lima belas menit nanti aku baru akan sampai di toko kue KUN. Toko yang ku rintis bersama ayah dahulu.
"Sudah siap, sayang..." ucap kak Keanu sambil tersenyum dan menatap ku. Duh, sepagi ini sudah mendapat panggilan sayang. Rasanya ces di hati. Hehe... Aku pun mengangguk mengiyakan, tanda aku sudah siap. "Yes...!" ucap kak Keanu tiba-tiba. Aku menatapnya heran. "Siap menikah...sudah siap kan? Tadi jawabnya begitu" ucap kak Keanu terkekeh. "Ih, tadi kan siap berangkat. Bukan menikah, Kak.." ucapku manyun. "Emang tidak ingin menikah dengan ku?" ucap kak Keanu. What...! tentu saja aku mau kak. Aku malah ingin bersegera. Hehe...
Aku tersenyum. Mataku tak berani menatap wajah tampannya. Tapi dalam hati aku bersorak kegirangan ditanya demikian.
Pukul enam lewat lima belas menit. Separuh perjalanan. Mobil sport hitam kak Keanu melaju dengan cepat. Suara raungan mesinnya begitu gahar memecah sepinya pagi. Kemudian kak Keanu mengajak ku untuk beristirahat sejenak menikmati bekal yang tadi ku siapkan. Aku pun mengangguk pasti. Karena memang perutkulah yang sejak tadi sudah berontak dan mengeluarkan suara.
Mobil pun berhenti pada sebuah rest area. Sejenak kami meregangkan tubuh dan menikmati udara pagi. Kukeluarkan bekal yang sejak tadi ku tenteng. Pada sebuah meja aku menatanya. Namun baru saja hendak menikmati roti lapis yang tertata di meja, seorang laki-laki mendatangi kami. Matanya begitu waspada. "Maaf, tuan. Sepertinya tuan tidak bisa berlama-lama di sini. Tempat ini tidak aman" ucap laki-laki itu dengan takzim. Kak Keanu menatapku sambil tersenyum. Urung dech acara makan paginya.
"Kita makan sambil berkendara saja ya?" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. "Sabar ya cacing-cacing dalam perut. Aku pasti memberimu makan" gumamku sambil merapikan kembali bekal. Fiuh... ada-ada saja. Sambil melangkah mataku mengitari beberapa sudut rest area. Dan memang benar ada beberapa pasang mata yang kerap mencuri pandang kami. "Kira-kira ada kepentingan apa mereka...?" ucapku sambil duduk di sebelah kak Keanu. "Tidak tahu, sayang. Kamu kan artisnya..." ucap kak Keanu terkekeh. Ah, curang nieh cowok melimpahkan urusan kepada ku. Ku cium juga nanti, ups...hehe.
Mobil pun kembali melaju meninggalkan rest area. Seiring itu cacing di perutku pun kembali berontak dan menggila. Sempat sekali atau dua kali teriakan si cacing yang membuat merah padam wajah ku. Terlebih saat kulihat kak Keanu memalingkan wajah dan tersenyum. Tepatnya menahan tawa. "Yank, aku lapar nieh. Bisakah ambilkan roti isinya?" ucapnya kemudian. Ish...pinter banget sih. Seakan-akan ia yang sudah kelaparan, padahal aku kan. Perlakuanmu membuat hati ku semakin merah jambu. Kemudian aku pun membuka kotak bekal dan hampir memberikan seiris roti isi kepadanya, namun urung. Bagaimana ia akan menyantapnya, tangannya saja fokus pada kemudi. Ah, akhirnya aku pun menyodorkan sepotong roti lapis tepat di depan mulutnya. Sejenak kak Keanu tersenyum mendapat perlakuanku itu. Sedetik kemudian ia pun mulai melahap roti isi itu. Sedikit demi sedikit hingga ludes. Pun demikian denganku.
Pukul tujuh lewat dua puluh lima menit. Mobil terus melaju seiring degup jantung yang sayup-sayup berirama bertalu. Karena sebuah perlakuan sederhana yang sedang terjadi. Senyum simpul tak lepas dari bibir kami saat ini. Sementara itu langit mulai terang. Cakrawala begitu bersih. Hanya sedikit saja awan putih yang berarak. Tanda hari akan cerah.
Kak Keanu pun menghentikan laju mobil di parkiran sebuah toko yang masih tampak sepi. Kepala ku melongok melaui jendela, melihat sekitar. Aneh, itu perasaanku. Biasanya jam-jam segini adalah jam sibuk persiapan sebelum toko di buka. Rasa penasaran ku menjadi saat melihat daun kering berserakan dimana-mana. Seperti tak berpenghuni saja. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaran, aku keluar mobil diikuti kak Keanu. Lagi-lagi mata ku menyapu sekitar. Menilik toko yang tampak sepi. "Fara..." ucap seorang laki-laki. Aku pun langsung mengalihkan mata ke empunya suara. "Bang Kevin..." ucapku saat melihat seorang laki-laki, tetangga toko ku. Ia berdiri menatap ku.
Gontai aku menghampirinya. "Sudah hampir lima bulan ayah sakit. Ayah sudah tidak pernah ke toko lagi. Dan sejak setahun lalu toko mulai bermasalah" ucap bang Kevin. Aku gusar. Mataku kembali menatap toko. Sebuah sentuhan pada bahu menyadarkan ku. "Lebih baik kita segera ke rumah..." ucap kak Keanu sambil merangkul bahuku. Aku pun mengangguk perlahan.
Ada sesal menyelinap di hati ini. Mengapa ayah tak mengabarkan apa pun. "Ada apa, ayah..?" ucapku lirih yang langsung dihadiahi usapan pada pucuk kepalaku yang sedang rebah di bahu kak Keanu. Ada bulir bening yang menggantung di sudut mata ku. Sepertinya sesaat lagi akan terjun bebas.
__ADS_1
Tepat di sebuah rumah aku langsung menghambur masuk melewati pintu yang terbuka sedikit. "Ayah...!" teriakku sambil mencari keberadaannya. Kemudian telinga ku menangkap suara batuk dari kamar di ujung. Aku langsung melangkah cepat ke sumber suara.
Tercenung aku menatap sosok laki-laki di atas tempat tidur. Tubuhnya begitu kurus. "Fara..." dengan suara bergetar. Aku pun langsung menghambur memeluknya. Tangis pun pecah. Lama aku menangis dan memeluknya. Hingga sebuah desah kesakitan, melonggarkan dekapan ku. Mata ku menatap penuh tanda tanya. Aku khawatir. Tapi ayah justru tersenyum dan kembali memeluk ku.
"Pandu..." panggil ayah. "Terimakasih sudah menjaga, Fara..." ucap ayah lirih. Hilang sudah ketegasannya yang selama ini identik padanya. "Sama-sama, ayah..." ucap kak Keanu sambil lebih mendekat. "Kenapa ayah tidak mengabari, Fara? Dan seminggu lalu kita berbincang lewat telepon kan, tapi ayah tidak berbicara sedikit pun tentang sakit ayah. Padahal sudah sejak lima bulan lalu ayah sakit..." ucapku di sela tangisku. "Ayah mu tidak ingin membuatmu sedih..." ucap mami Vira dari ambang pintu. Wajahnya kuyu. Aku yakin ia kurang tidur. "Mami..." sambutku dengan meraih tangannya dan mengecup lembut punggung tangannya.
Hampir menitik air mata mami Vira, namun ia berusaha menahannya. Tersenyum ia menatapku walau bulir bening itu hampir jatuh berguguran. Semakin pilu melihat keduanya.
"Ayah mu kehilangan sebelah ginjalnya..." ucap mami Vira sambil merapikan selimut yang menutup sebagian tubuh ayah.
Deg.
"Vira..." ucap ayah sambil menggeleng perlahan. "Yah, Ma...tolong ceritakan yang sebenarnya" pintaku sambil menatap keduanya bergantian. Semakin gusar ku rasa.
Senja begitu teduh. Namun sepertinya keteduhan itu tak sampai ke rumah kami saat ini. Ku tatap punggung suamiku. Ia tengah beradu mulut dengan seorang perempuan. Amara. Begitu pedas kata-katanya meluncur dari bibirnya. Ia menanyakan keberadaan Fara. Ya,Tuhan...begitu banyak kebencian dalam setiap katanya. Panas rasanya hati ini mendengar kata pedasnya, terlebih saat ia melancarkan hinaan kepada Fara. Hal yang sepatutnya tidak ia katakan, karena kami tahu bagaimana caranya menjadi nyonya Mirza. Aku menatapnya sinis. "Sekali lagi aku tanya, dimana Fara kini tinggal" ucap Amara sedikit membulatkan mata sipitnya. "Walau aku tahu sekali pun, aku tidak akan memberitahu mu, Amara..." ucap Bang Permana tak kalah sengit. Melangkah seorang laki-laki bertubuh kekar. Ia pun mengayunkan sebuah pukulan ke arah bang Permana. Terkesiap ia mendapat serangan tersebut. Beruntung ia dapat menghindarinya.
Penasaran laki-laki bertubuh kekar itu karena jurusnya mentah, sehingga ia pun mengulangi serangannya. Aku terpekik menatap meja kaca yang pecah berantakan.
Sinis Amara menatap ku. Hatinya sudah membatu dipenuhi amarah dan kecemburuan yang membabi buta. "Keluar dari rumah ku...!" teriak bang Permana saat sadar beberapa perabot rumah berantakan. Bukannya keluar, justru seorang lagi laki-laki menyerangnya. Susah payah bang Permana menghadapi kedua laki-laki itu yang handal berolah jurus. Aku histeris saat sebuah tendangan mengenai tubuhnya. Ia tersungkur.
Mendapati bang Permana demikian, aku segera meraih potongan kayu dari meja. Aku langsung melayangkannya pada salah satu laki-laki itu. Tidak sampai sepuluh jurus, aku sudah kewalahan. Dan akhirnya tersungkur akibat pukulan pada wajahku. Tertawa Amara melihat itu semua. "Kau sudah buta, Amara. Tunggu hingga suami mu mengetahui ini semua..." ucapku sinis. "Apa yang bisa ia lakukan? Ia begitu mencintaiku.." ucapnya sinis. "Jika benar ia begitu mencintaimu, lalu mengapa kau begitu khawatir? Tak sepatutnya kau berlaku demikian..." ucapku makin sinis.
"Tutup mulut mu perempuan mandul...!" teriak Amara penuh amarah. Bersamaan dengan itu seorang laki-laki membangunkan tubuh bang Permana dan menjadikannya bulan-bulanan. Bukan hanya satu tapi sepuluh atau lebih bang Permana menerima pukulan. Berulangkali ia tersungkur. "Tuan Pernama, cepat katakan dimana Fara. Jika tidak istri mandulmu ini yang akan membayarnya" ucap Amara dengan sinis sambil menodongkan pisau dekat leherku. Berat bang Permana melangkah mendekatiku. Sesekali ia terhuyung. Kini ia berdiri beberapa langkah saja dari tempat ku berada.
"Baiklah aku akan mengatakannya..." ucap bang Permana sambil menyeka darah yang baru saja ia muntahkan. Kemudian ia menyebutkan sebuah alamat yang ku ingat itu adalah alamat Fara. Matanya sendu penuh rasa bersalah. "Maafakn ayah, Fara..." ucapnyairih kemudian. "Bagus...."ucap Amara. Aku mengira ia akan langsung beranjak meninggalkan kami, namun ternyata tidak. Matanya mengkerling pada seorang bodyguard nya.
__ADS_1
Semua begitu cepat. Tubuh bang Permana limbung. Aku histeris. Darah mengalir deras dari luka di perutnya. Sebilah pisau pun masih menancap. "Bodoh...aku tidak memintamu menusuknya. Aku hanya ingin kau menghajarnya sekali lagi" ucap Amara kesal. Dan ia pun segera berlalu meninggalkan rumah kami.
Air mataku tak terbendung lagi saat tubuh tegap bang Permana tumbang. "Tolong...!" teriakku meminta pertolongan kepad siapa saja yang mendengarnya. Rupanya warga sekitar berhasil menangkap kedua bodyguard itu. Namun sayangnya Amara berhasil kabur dan tak terendus keberadaannya saat itu.
Amara menjadi tak penting bagiku saat ini. Bagi ku hanya bang Permana. Kondisinya sangat membutuhkan pertolongan medis.
Mami Vira Flashback Off
Menangis mami Vira menceritakan kejadian lima bulan lalu itu. Air matanya tetap mengular walau berulangkali ia menyekanya. "Maafkan Fara, Mi, Ayah. Fara tidak saat kalian membutuhkan bantuan..." ucap ku pilu memeluk mami Vira.
Gemetar tangan ayah mengusap bahu mami Vira. Matanya pun telah basah dengan air mata. Aku semakin terenyuh. Rasa bersalahku berubah menjadi kilatan dendam di mataku.
"Sayang..." ucap kak Keanu sambil mengusap bahuku. Ada sepasang mata yang tiba-tiba saja menatapku sesaat setelah kak Keanu memanggilku sayang. Sedikit kikuk, aku tersenyum dan berusaha setenang mungkin.
"Sejak sebulan lalu, saya berhasil menaklukan hatinya, Yah" ucap kak Keanu dengan sedikit senyum khas nya. "Pandu..." ucap ayah sambil berisyarat dengan jari telunjuknya. "Nakal ya..." ucap ayah kemudian. "Keanu yah. Nama ku sebenarnya Keanu..." ucap kak Keanu di sela kekehnya. "Ya...Keanu. Suami masa kecil Fara" ucap ayah sambil mengusap pucuk kepalaku. "Kok ayah tahu...?" tanyaku penasaran. "Apa yang ayah tidak tahu, Nak" ucap ayah sambil tersenyum. "Ayah..." ucapku manja. "Sebelum kau tahu ayah sudah mengetahuinya. Saat di bis ketika ayah hendak menikah, ayah menitipkan mu pada Keanu" ucap ayah lagi. "Ya, karena ayah mu ini begitu khawatir dengan mu, sayang..." ucap mami Vira. "Mami juga tahu...?" ucapku. "Tentu saja..." ucap mami Vira.
Aku manyun. Kesal tidak ada yang memberitahuku. "Bahagia mu lebih penting, sayang" ucap kak Keanu. Aku terlanjur kesal Tanpa sengaja aku menyikut perutnya. Ia mengaduh. Namun kemudian ia tertawa di ikuti ayah dan mami Vira.
Ayah terbatuk menahan sakit. Kami panik. "Ke rumah sakit..." ucap ku. Apalagi saat ayah makin merasa kesakitan. Ya Tuhan...sehatkan ayah. Aku gusar. Mata ku menatap sendu saat tubuh tegapnya di papah kak Keanu menuju mobil.
Mobil pun segera melaju menuju Rumah sakit. Ada noda darah pada pakaian yang ayah pakai. Aku semakin panik. Aku langsung memeluknya
Berhenti mobil sport hitam kak Keanu tepat di depan ruang IGD salah satu rumah sakit ternama di kota kelahiran ku ini. Rumah sakit yang berhasil di dirikan bang David. Sigap para dokter dan perawat menyambut kedatangan kami. Entah bagaimana rupaku saat itu. Yang pasti sempat membuat bang David tertegun menatapku. Kemudian mengusap pucuk kepalaku dan berlalu mengiringi ayah...
To Be Continued....
__ADS_1