
Ditengah angin senja yang mendesak, aku merasakan kekuasaan waktu, yang tanpa pandang bulu mengubah segala-galanya. Mengobrak-abrik segala perasaan yang hampir tiga tahun ini mendiami hati dan jiwa.
Aku sadar bahwa angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan melainkan menguji kekuatan akarnya. Seperti sajak yang mengatakan “Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpanya”. Dan itu merupakan hukum alam yang tak bisa dihindari. Cobaan yang saat ini dirasakan bisa jadi merupakan langkah semesta untuk menguatkan pondasi kehidupan ku menjadi semakin kuat. Namun tak bisakah perlahan saja. Agar aku bisa lama menikmati situasi yang ku sukai. Atau angin hilang saja, berhenti saja pada hal yang ku sukai sehingga hidupku akan baik-baik saja. Jangan menjadi badai. Karena hidupku sudah dipenuhi badai. Sehingga badai mana yang harus ku selesaikan dahulu pun aku masih gamang.
***Untuk suamiku, Keanu...
Pagi tadi sebelum hari ini, mentari bersinar begitu hangat. langit begitu bersih. Awan tipis menghiasinya. Dan angin pun berhembus sepoi-sepoi. Perlahan saja. Hingga bunga-bunga menari begitu lembut. Tiada tanda akan ada hujan ataupun badai sekalipun.
Namun seiring waktu, ternyata angin mulai jahil. Angin mulai mengundang awan gelap hingga memenuhi langit. dan mengaburkan sinar mentari. Perlahan namun pasti hujan mulai turun. Awalnya hanya rintik, namun kemudian berubah menjadi tak terkendali.
Ternyata kejahilan angin tak cukup. Ia pun membuat dirinya menjadi gelombang sehingga hujan pun menjadi badai. Badai yang siap menjungkirbalikkan segala yang ada.
Suamiku, akankah kau bertahan ditengah badai ini? Apakah kau akan tegak bersamaku menantang badai dan menaklukkannya? Apakah kau akan tetap mendekapku saat aku jatuh dalam badai? Ataukah kau akan memilih berlalu dari pusara badai. Dan memilih berdamai dengan hati yang lain?
Suamiku, satu tanyaku : "Akankah kisah kita tak kan usai?"
Untuk suamiku, Keanu...
Janganlah seperti angin yang menyapu bersih kenangan kita, meninggalkan keributan dalam relung yang ada. Ini pintaku..
Aku menunggu janjimu***...
Begitu Tulisku pada buku usang berwarna coklat yang memuat segala keluh kesahku dan kisah indah ku. Buku yang sudah lama tutup, sejak sinar mentari mampu mengaburkan awan gelap. Sejak mentari menyinari hidupku dan merubah tangis jadi tawa. Namun kini buku usang berwarna coklat ini kubuka kembali saat kisah hidupku perlu ditulis dalam tiap lembarnya. Hal ini sebagai pengingat hidupku di masa mendatang.
Masih duduk di atas rerumputan nan hijau di bawah pohon kenari nan rindang. Aku menatapi langit yang berwarna kemerahan yang merupakan bias sinar matahari dari peraduannya. Kututup buku usang berwarna coklat sambil menyusut bulir bening yang baru saja menitik jatuh pada pangkuan. Satu dua bulirnya ada yang jatuh ke bumi. Biarlah membisik bumi tentang kesedihan yang sedang terjadi. Pun tentang badai yang tengah melanda dalam hidupku, rumah tangga ku. Badai yang di mulai sejak perempuan pilihan mama hadir di rumah. Yang dengan segala kesempurnaanya berusaha merebut perhatian dan hati kak Keanu.
Aku terdiam, kadang kala menyimpan tangis saat melihat usaha Dania berhasil mendapat perhatian kak Keanu. Perubahan ini semakin nyata adanya pada diri kak Keanu. Ya, Robby...aku harus bagaimana? Haruskah aku mengalah. Lagi...?
Tidak...! Aku tidak boleh menyerah semudah ini. Aku harus mempertahankan apa yang menjadi hak ku. Dia suamiku. Suami sah ku.
Tapi... bagaimana dengan kak Keanu sendiri? Karena sekuat apa pun aku mempertahankannya, jika ia ingin pergi maka tetaplah ia pergi. Dan sekeras apa pun aku memperjuangkannya, jika hanya berjuang sendiri, tetap tak akan berhasil. Semua kembali pada kak Keanu. Tidak...! Walau pun keputusan kak Keanu memilih Dania aku tidak akan mudah menyerah kali ini. Yah...aku akan memperjuangkannya.
Ingat Fara...angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan melainkan menguji kekuatan akarnya.
__ADS_1
"Sayang..." ucap kak Keanu mengejutkanku. Dan secapat mungkin aku menyembunyikan buku usang berwarna coklat dibawah dimana aku duduk sambil menyusut sisa bulir bening yang ada. "Sedang apa di sini, sayang...? Aku mencari mu sejak tadi" ucap kak Keanu yang berdiri di belakangku. Tak lama, ia pun mendekapku erat. "Menikmati waktu senja saja, Kak" ucapku sekenanya saja. "Sudah hampir Maghrib, sayang. Kita masuk..." ucap kak Keanu sambil mengajakku ke dalam.
"Kakak kok lama sekali? Apa ada kerjaan lemburan?" tanyaku sambil mengiringi langkahnya. "Em, tadi menemani Dania sebentar membeli keperluannya" ucap kak Keanu datar.
Deg.
Degup jantungku serasa terhenti. Kata-kata ku tercekat. Hanya mataku saja yang menatap lekat mata kak Keanu sesaat setelah aku menghentikan langkahku. Aku menjadi tak mengerti atas apa yang terjadi kini. "Hanya menemani, sayang. Tidak lebih" ucap kak Keanu dengan wajah seakan tak mengerti dengan sikapku. Iiiih....kesel. Bisa-bisanya dia melakukan itu. Gatal rasanya tangan ingin meremas mulutnya itu. Aku manyun sambil melenggang meninggalkan kak Keanu yang tertegun menatapku. Mungkin ia baru tersadar akan apa yang telah ia lakukan. Entahlah...
Baru setengah aku menyusuri anak tangga. Ku dengar suara Dania yang dengan merdunya memanggil kak Keanu. "Mas Keanu..." panggil Dania. Mas? Dania menambahkan embel-embel 'mas' di depan nama kak Keanu, suamiku. Astaga...apa yang sudah terjadi antara keduanya? Aku membatin. Langkah kaki ku terhenti sesaat saat nama suamiku dipanggil perempuan lain. Perempuan yang jelas-jelas ingin merebut kak Keanu dari ku.
Langkahku sedikit berat menyusuri anak tangga saat perbincangan terjadi. Telinga pun ku tajamkan demi memenuhi rasa penasaran ku. "Ini untuk mas" ucap Dania. "Ini semua? untuk saya?" ucap kak Keanu. "Iya loh, mas. Semuanya?" ucap Dania terkekeh. "Trims ya..." ucap kak Keanu. Dari suaranya aku tahu, bagaimana senangnya kak Keanu menerimanya.
Aku pun melanjutkan langkah. Dan langkah kak Keanu terdengar di belakanglangkahku. "Mas mau teh atau kopi?" ucap Dania lagi yang tak dijawab kak Keanu. Namun dari pantulan cermin di depan, aku tahu jika kak Keanu berisyarat tangan.
"Cepat sekali langkahnya. Hampir aku tak dapat mengejar mu" ucap kak Keanu saat di dalam kamar. "Bukan tidak bisa mengejar, tapi kakak asyik dengan Dania..." ucap ku tanpa menatapnya. Aku asyik merapikan segala perlengkapan kak Keanu yang baru saja ia letakkan sembarang. "Hanya berbincang sebentar saja..." ucap kak Keanu sambil melepas jam tangannya. "Belum puas juga ngobrolnya. Bukankah tadi sudah menemaninya berbelanja" ucap ku sambil menyerahkan handuk.
"Oya, besok aku akan ke cafe. Sudah lama rasanya tidak kesana" ucapku. Kak Keanu mengerutkan dahinya kemudian menatapku yang bersikap acuh.
Seperti biasa ku kecup punggung dan telapak tangan kak Keanu seusai sholat. Dan kali ini pun sama seperti hari-hari sebelumnya, kak Keanu memelukku dan mengecup lembut keningku. Namun mengapa rasanya sedikit berbeda ya. Ah, entahlah...
"Tidak tilawah, sayang..." ucap kak Keanu saat melihat ku beranjak dari sajadahku. "Maghrib ini kakak saja ya. Kali ini saja" ucapku. "Baiklah..." ucap kak Keanu tersenyum sambil berlalu menuju kamar mandi dan kembali berwudhu.
Tak lama ia pun sudah kembali melanjutkan bacaannya. Begitu syahdu mengalun. Menenangkan hati. Sebentar saja aku menikmati lantunan tilawahnya, karena aku harus mengerjakan hal lain di dapur.
Kuturuni anak tangga dengan hati-hati. Kali ini langkahku sedikit ringan. Mungkin kesembuhan ku bertambah. Ini mukjizat terbesar yang ku terima jika benar demikian. Hingga di ujung anak tangga, tepatnya di lantai dasar dekat meja makan aku menatap Dania yang tengah sibuk menyiapkan sajian santap malam. Apa di rumah ini ada asisten rumah tangga baru? Nyonya rumah baru?
Rasa sesak menghinggapi relung sukma. Tapi aku berusaha positif thinking melihat semangat Dania. Hitung-hitung meringankan pekerjaanku. Hehe...
"Masak apa,mbak...?" tanyaku iseng-iseng berhadiah. "Eeeh...mau apa? Kau duduk saja, nanti kaki mu sakit lagi. Atau pergi kemana gitu. Biar aku yang melakukan, ini tantangan mas Keanu" ucap Dania masih memegangi lenganku. Dia menjadi khawatir aku akan turut campur atas persiapan santap malam kali ini. "Tidak butuh satu minggu, suami mu itu sudah bisa menerima kehadiranku. Dan dua hari lagi, aku yakin ia akan lari kedalam pelukanku. Apalagi kondisimu tidak sempurna" ucap Dania sedikit sinis. Tangannya mencengkram lengan ku. Aku pun meringis menahan sakit. "Perempuan tak berperasaan" ucapku lirih. Dan Dania membualatkan matanya dan sedikit mendorong tubuhku hingga surut beberapa langkah. " Nyonya..." ucap mbak Min saat melihat ku berusaha menyeimbangkan tubuh karena hampir terjatuh. Buru-buru ia pun menopang tubuhku.
"Terima kasih, mbak" ucapku hampir menangis. "Kenapa non Dania seperti ini terhadap Nyonya Fara? Apa salah Nyonya?" ucap mbak Min. "Non Dania benar-benar keterlaluan. Nyonya Fara diam, bukan berarti kalah..." ucap mbak Min lagi. Walau suaranya tak terik, tapi cukup membuat Dania terkejut. Bagaimana tidak seorang asisten rumah tangga berani menegurnya langsung.
"Kau..." ucap Dania terhenti saat terdengar langkah menuruni anak tangga. "Wah, aromanya sampai ke atas. Masak apa nieh, sayang. .?" ucap kak Keanu menatapku. "Em, Aku mas yang masak. Tantanganmu langsung ku jawab. Malas berlama-lama kalau hanya memasak, itu ada diujung jariku" ucap Dania tersenyum menatap kak Keanu. Dasar..tak berperasaan.
__ADS_1
"Oya..." ucap kak Keanu sambil duduk dan menatapi hidangan yang tersaji. "Kemari sayang. Kau harus memberi penilaian juga" ucap kak Keanu memberi isyarat kepadaku agar segera duduk di sebelahnya.
Penilaian? Penilaian sesuai apa tidak untuk menjadi istri mu? Apa perlu aku memberi penilaian, bukankah kau sudah memberinya penilaian luar biasa atas masakan yang tersaji? Dasar labil...umpatku dalam hati.
"Em, bagaimana rasanya sayang?" tanya kak Keanu sambil menatapku saat aku menyuap satu suapan. Entahlah...semua menjadi hambar. Terlebih atas semua perilakunya terhadap suamiku. Ada sedih yang menyelinap dan menyergap sukma. "Fara..." panggil kak Keanu yang langsung membuyarkan lamunanku. "Em, Ya. Enak..." ucap ku gagu yang membuat kak Keanu tersenyum menatapku dsn menggelengkan kepala.
"Fara saja setuju jika ini enak. Artinya aku lulus ujian, kan?" ucap Dania bangga. Dan kak Keanu mengangguk sambil tersenyum. Ya, Robby...apa ini? Aku gagal faham dengan semua ini. Mengapa kak Keanu begitu menerima Dania? Apakah kak Keanu benar-benar sudah jatuh hati kepada Dania?
Aku menjadi lesu mengingat yang sudah terjadi. Dan tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi di hari esok. Bahkan beebrapa menit kedepan pun aku tak sanggup. Karena segala sesuatu dapat berubah sewaktu-waktu semudah bak membalikkan telapak tangan.
Setengah ku seret langkahku menuju ruang tengah dimana keduanya tengah menyimak sebuah tayangan komedi dari salah satu stasiun televisi swasta. Gelak keduanya begitu menyayat hati. Tak mengertilah kalian bagaimana perasaan ku. Terutama kau kak. Kau suami ku. Bagaimana kau menjadi tidak mengerti akan perasaan ku? Apa hatimu mulai silau dengan kecantikan dan segala hal yang ada pada Dania?
Aku menghela nafas berat. Dengan tersenyum aku duduk bersebelahan dengan kak Keanu. "Hei..." ucap kak Keanu sambil merengkuh dan mengusap bahuku. Entah mengapa ia melakukan itu. Aku menyimpan tanya yang jumlahnya tak sedikit. Mungkin di suatu hari nanti aku akan menanyakannya. Atau mungkin cukup tinggal dalam hatiku saja tanpa ada konfirmasi.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Masih di ruang tengah. "Dania..tidurlah. Sepertinya kau sudah mengantuk" ucap kak Keanu di tengah kegamangan ku. "Em, ya. Aku memang sudah mengantuk. Aku tidur duluan ya, mas. Selamat malam..." ucap Dania sambil merapikan rambut hitamnya yang sedikit menutupi wajahnya. "Ya. Selamat malam..." ucap kak Keanu tersenyum.
"Oya, esok jadikan?" ucap Dania tiba-tiba sambil memutar tubuhnya. "Oya..jadi" ucap kak Keanu gagu.
Deg.
Janji apa lagi ini. Atau permainan apa lagi ini. Ah, tidak bisa dibiarkan. Rasa penasaranku semakin membuncah. "Good..." ucap Dania sumringah sambil berlalu.
"Ada apaan? Kok aku tidak diberitahu? Mulai berahasia dengan istri?" ucapku saat kaki mulai melangkah menyusuri anak tangga. Kak Keanu tergelak. Tanpa kata ia hanya melingkarkan sebelah lengannya pada pinggangku. Sementara gelaknya terus mengiringi langkah hingga kamar.
"Aku sungguh-sungguh ingin tahu, Kak. Aku penasaran" ucapku kesal sambil memukul lengannya. "Menjemput mama?" ucap kak Keanu datar. "Hal sepenting ini, kakak tidak memberitahuku? Apakah kakak benar-benar ingin menggantiku dengan Dania?" ucap ku sekenanya sedikit kasar. "Jaga bicaramu, sayang. Jangan bersikap berlebihan" ucap kak Keanu sedikit berbisik namun bernada tegas.
"Aku sadar, kak. Aku sendiri tidak tahu kapan keajaiban itu menyata dalam hidupku sehingga fisikku kembali sempurna. Jika kau memang menginginkan Dania, aku ikhlas kak. Aku akan mengalah. Aku akan segera pergi darimu" ucapku kacau. Bulir bening pun mengalir tak terbendung lagi. Dadaku semakin sesak setelah mengutarakan isi fikiranku dan semakin kacau. Kenapa? Karena separuh jiwaku menolaknya.
"Sayang..." ucap kak Keanu sambil mendekatiku. Matanya sendu menatapku. "Jangan mendekat, Kak. Aku mohon...Aku ingin sendiri" ucapku ditengah kegamangan ku. Berdiri kak Keanu menatapku. Langkahnya sudah berhasil ku cegah. Dan katanya pun menjadi bisu.
"Jangan kasihani aku, Kak... Aku tak butuh rasa kasihanmu" ucapku lirih ditengah isak ku yang semakin pilu ku rasa. "Sayang....dengarkan aku" ucap kak Keanu lagi dari tempatnya berdiri. Langkahnya kembali urung saat melihat isyarat tanganku.
"Jangan kasihani aku, Kak. Aku tidak membutuhkannya" ucapku lirih berulangkali ditengah isak ku.
__ADS_1