Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 75. Kepergian Kak Noah


__ADS_3

"Apa...?!" ucapku saat mendapat kabar yang disampaikan oleh kak Keanu. Aku tertegun. Tanpa kata. Degup jantungku begitu bertalu. Memanas mata ini, hingga tangis ku pun pecah. Sesegera mungkin kak Keanu merengkuh ku dalam peluknya. Sepertinya tak ingin ia lama-lama melihatku dalam kesedihan. Tumpah sesak di dada ini. Kabar kepergian kak Noah begitu tiba-tiba, sehingga membuatku semakin pilu "Kak Noah..." teriak ku tertahan. Membenamkan kepala di dada kak Keanu dengan segenap kepiluan membuatku tiada sadar hingga memukul-mukul kecil dada ataupun lengannya. Ini adalah kali kedua aku meratap dalam dekapannya karena kehilangan. Pertama saat aku kehilangan ayah. Yang kedua saat ini, saat aku kehilangan kak Noah.


Spekulasi penyebab kematian kak Noah pun tersiar dengan cepat baik pada media online ataupun tayangan televisi. Hal ini semakin membuatku pilu. Dan yang membuat ku semakin miris adalah saat kak Keanu melarang ku untuk mengambil jenazahnya. Hal tersebut seperti yang dipesankan kak Noah. "Jika terjadi sesuatu pada ku apa pun itu, maka Fara atau siapa pun tidak boleh menjenguk atau mengakui hubungan kerabat dengan ku. Hal tersebut bisa menjadikan Fara target berikutnya" ucap kak Keanu mengulangi pesan kak Noah. Sempat aku menampiknya. Aku bersikeras untuk tetap mengakui hubungan kerabat dan mengambil jenazahnya, namun setelah mendengar penjelasan kak Keanu aku pun akhirnya mengerti dan menurutinya.


"Setiap jiwa pasti akan merasakan yang namanya kematian." (Q.S Ali Imran: 185)


Pukul dua belas lewat lima belas menit. Malam semakin jauh. Derai air mata ku tak kunjung usai. Aku rebah. Mataku terpejam, namun tak lelap. Fikiranku masih mengembara. Aku masih mengingat sosok kak Noah. Walau dalam kebersamaan yang singkat namun cukup mendekatkan kami. Dan hal tersebut menjadi sesal terdalam ku. Terlebih lagi cara kepergiannya yang begitu mendadak dan terbilang tragis.


"Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meski kamu berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kukuh." - (Q.S An-Nisa': 78)


"Tidurlah, sayang..." ucap kak Keanu sambil mengeratkan dekapannya. Ditanya demikian, justru tangisku kembali pecah, walau ku tahan sekuat tenaga agar isak ku tak begitu jelas terdengar. Tubuh ku kembali guncang. Dan hal tersebut membuat kak Keanu berusha menenangkan ku. Ia mengusap-usap sebelah bahuku. Sesekali ia mengecup lembut pucuk kepalaku.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponsel kak Keanu berpendar. Pada jam ini? Terbilang cukup aneh. Kemudian kak Keanu meraih ponsel yang berada tak jauh darinya. Menilik sebentar siapa si penelepon. "Sebentar, sayang..." ucapnya padaku sambil bangkit dan melangkah meninggalkanku. Menjauh kak Keanu saat berbincang dengan si penelepon. Raut wajahnya begitu serius. Aku penasaran. Ku susut air mataku dan mulai menajamkan telinga. Namun nihil. Aku tak dapat mendengar percakapan nya karena memanglah jarak kami cukup jauh. Terlebih lagi kak Keanu pun merendahkan suaranya.

__ADS_1


Ku betulkan posisi dudukku dan menyusut air mataku. Masih terasa sesak dada ini, namun aku berusaha segera menyudahinya saat melihat kegundahan kak Keanu yang sempat ku tangkap beberapa waktu lalu.


Tersenyum kak Keanu menatapku sesaat setelah menyudahi perbincangannya di telepon. Langkahnya begitu gontai. Dan raut wajahnya biasa saja. Tak menunjukkan hal seserius tadi saat ia berbincang di telepon. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.


Pukul delapan lewat lima menit. Di hari yang berbeda. Tepatnya tiga hari setelah peristiwa kepergian kak Noah. Saat itu kak Keanu datang tergopoh-gopoh. Setelah satu jam lalu ia berangkat ke kantor, kini ia kembali dan menemuiku. Aku menatapnya. Ada kegundahan di sana. Di raut wajahnya. Aku pun menyambut uluran tangannya dan menggenggamnya erat. "Em, kita ke pemakaman Noah" ucapnya sambil mendekapku dan mengecup lembut pucuk kepalaku. Aku menatap wajahnya penuh tanya. Mengapa tiba-tiba kak Keanu mengajakku, bukankah waktu lalu melarangku?


"Simpan pertanyaanmu, sayang. Dan bersiaplah" ucap kak Keanu sambil menjentikkan jarinya pada hidungku. "Kak Keanu..." ucap ku kesal. Tertawa kecil kak Keanu yang sudah duduk pada sofa.


Pukul delapan lewat lima belas menit. Aku sudah siap. Tak perlu lama aku bersiap. Aku hanya perlu memakai kerudungku dan memberi sedikit polesan pada wajah. Kak Keanu tersenyum menatapku. "Kita berangkat..." ucapnya sambil membantuku melajukan kursi rodaku. "Terima kasih, suami tampanku..." ucapku berusaha seperti biasanya, walau masih menyimpan sedih. "Sama-sama istri cantikku..." ucap kak Keanu.


Tak lama kemudian mobil sport silver kak Keanu pun melaju menyusuri jalanan. Kali ini Satria sebagai pengendalinya. Walau tak sepiawai kak Keanu, namun lajunya sempat membuatku kecut. Sempat aku mencengkram kuat lengan kak Keanu. "Aku tidak akan kemana-mana, sayang. Tidak perlu sekuat ini..." celoteh kak Keanu dekat telingaku. Kesal di beri candaan itu, aku pun menghadiahinya secuah cubitan kecil. "Aduh, sakit sayang..." ucap kak Keanu hingga Satria dan Kevin menatap kami melalui kaca spion. "Lihat apa..." kata kak Keanu kepada keduanya yang tampak tersenyum kecil sambil sedikit membulatkan matanya. "Tidak, Tuan..." ucap Satria sambil menahan senyumnya.


Pukul sembilan lewat lima belas menit. Mobil pun terus melaju. Kepalaku rebah pada bahu kak Keanu. Sementara mata ku menatap tepian jalan yang ditumbuhi pohon dan seakan berlarian berkejaran. Ah, lagi-lagi ada debaran yang menyelimuti hati ku. Seiring degup jantungku yang kian bertalu. Bahkan hingga di sebuah tanah pekuburan, degup jantungku kian menjadi. Melingkar lenganku pada bahu kak Keanu saat menyusuri jalanan tanah pekuburan tersebut. Kak Keanu lebih memilih membopong tubuhku ketimbang melihatku datang dengan kursi roda.


Aku tak sanggup menahan tangisku saat melihat gundukan tanah yang masih basah dengan taburan bunga yang mulai mengering di atasnya. Sebuah nama pun tertulis di nisannya. Pecah tangis ku tak terbendung lagi. Aku duduk pada kursi roda dekat nisannya. Sedih itu kembali menyeruak dan menghadirkan lelehan bulir bening yang begitu mengular. Walau tangisku tidaklah se-histeris tiga hari lalu, namun tetap saja menggambarkan kepiluanku. Kak Keanu mendekapku. Tangannya begitu erat mendekap tubuh ku.

__ADS_1


"Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita semua pasti akan kembali." (Q.S Al-Baqarah: 156)


Lama aku bertafakur. Menguntai doa-doa terbaik untuk kak Keanu kepada sang Khaliq, Allah 'Azza Wajalla.


"Ah, ternyata kematian itu bak 'Alif Lam Mim' ayat pertama surat Al-Baqarah, yang berarti hanya Allah yang tahu, tidak memandang usia, jabatan, paras, dan juga waktu" ucapku lirih sambil terus menatapi gundukan tanah yang masih merah dengan taburan bunga yang hampir kering di atasnya.


"Aku akan selalu merindukanmu, kak..." ucapku sesaat sebelum meninggalkan pusara kak Noah.


Pukul sepuluh lewat lima menit. Aku sudah duduk kembali dalam mobil. Sementara kak Keanu masih berbincang dengan Satria dan Kevin. Entah apa yang mereka bincangkan. Menilik raut wajah ketiganya sepertinya ada hal serius yang sedang di bincangkan. Kak Keanu pun menghubungi seseorang melalui ponselnya dan berbincang sebentar. Raut wajahnya mengisyaratkan hal yang makin serius sepertinya. Ah, mungkin perasaanku saja...


"Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar ke cafe mu? Rasanya sudah lama Fara tidak ke sana?" ucap kak Keanu saat sudah sempurna duduk di sebelahku. Aku termangu. Mataku menatapnya. Seakan tak percaya atas pendengaranku sendiri. Tapi kenapa tiba-tiba?


"Bagaimana...?" tanya kak Keanu lagi membuyarkan lamunanku. Aku pun mengangguk dan tersenyum sumringah. "Kita ke cafe, Satria..." ucap kak Keanu.


"Kenapa...?" tanya kak Keanu saat mendapati tatapanku yang sedang menilik roman wajahnya. "Kok tiba-tiba... Aneh saja" ucapku yang terus menatapnya. "Tidak ada apa-apa..." ucap kak Keanu tanpa melihatku. Pun demikian, tangannya tetap merengkuhku dalam dekapannya. Aku pun tersenyum bahkan tertawa kecil mendapati kekikukannya. "Sungguh..." ucapnya meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2