Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 125. I am Sorry...


__ADS_3

"Apakah cintamu pada Mirza sudah benar-benar hilang?" tanya mama. "Ma...!" ucap kak Mirza. Nada suaranya sedikit keras. "Mama hanya ingin melihat kebahagianmu Mirza..." ucap mama sambil berlalu. Katanya menjadi hilang seiring langkah cepatnya meninggalkan ku yang masih berdiri termangu.


Ini adalah sepenggal ingatan atas peristiwa yang terjadi di penghujung hari ku. Ingatan yang akan segera membentuk kenangan. Entah indah, entah buruk. Aku tidak tahu pasti. Namun yang pasti ingatan itu masih menari-nari hingga membuat tidur ku tak lelap.


Ah, cinta...aku sendiri kini tidak memahaminya. Apa yang ku cintai, siapa yang aku cintai semua telah menjadi cerita yang memilukan. Kenapa? Karena semua yang ku cinta telah terenggut oleh jarak dan waktu juga keegoisan yang berkepanjangan. Karena apa yang ku cinta telah menjadi jalan yang penuh duri dan begitu berliku.


Tangis ku kini hanya berbuah penyesalan. Penyesalan yang begitu mendalam. Seorang sahabat pernah berkata bahwa terlalu menyesali sesuatu hanya akan membuat lupa untuk kita segera bersiap memperbaiki. Dan penyesalan juga tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan.


Berulangkali aku memikirkan perkataan seorang sahabat ku itu hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa aku harus move on. Yeah...move on dari segala kesedihanku, penyesalan, derita dan cinta. Cinta...? Ah, untuk yang satu ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Atau bisa jadi tiada cinta lain yang bisa membuat ku berpaling dari suami tampanku itu. Laki-laki yang sudah mempertaruhkan segalanya untukku. Laki-laki yang sanggup mengambil resiko terburuk sekalipun hanya untuk membahagiakan ku. Laki-laki yang bagian tubuhnya kini menjadi bagian dari tubuh dan hidupku. Laki-laki yang sudah menjadikan ku seorang ibu.


Mengingat itu semua pilu ku timbul. Mengingat itu semua sesal ku makin nyata. Mengingat itu semua derita ku makin terasa. Dan mengingat itu semua cinta ku makin mendunia. Ternyata ketiadaan sosok yang di cinta membangkitkan segala rasa, yaitu sedih, sesal, dan derita yang berkepanjangan.


Aku terisak. Tangisku bukan hanya pada diam ku, namun juga pada senyum dan tawa ku. Saat aku berjalan atau berlari, tangis itu akan selalu membayangi ku. Dan malam ini, tangisku itu hadir kembali. Kali ini sebagai buah kegamanganku atas pernyataan dan pertanyaan mama Mellisa.


Drrt.


Drrt.

__ADS_1


Drrt.


Ponsel ku berpendar. Sebuah pesan singkat menghiasi layar ponsel ku. "Lihat ke luar jendela" begitu pesan dari kak Mirza. Aku tertegun. Apa maksud dari pesannya ini? Kemudian akhirnya aku mencoba mengikuti pesan kak Mirza tersebut. Sambil menyusut air mataku aku pun membuka jendela kamarku. Sesaat aku merasakan dinginnya sang Bayu membasuh wajah dan sebagian tubuh ku.


"MasyaAllah..." ucapku saat menatap pendar lampu warna-warni. Aku takjud. Tapi tunggu...Ternyata pendar cahaya itu membentuk huruf. Mataku tak henti menatap deretan pendaran cahaya. "I am sorry..." ucapku membaca deretan pendar cahaya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Aku meminta maaf atas peristiwa siang tadi. Sungguh bukan permintaan ku" ucap kak Mirza di ujung telefon. Aku menghela nafas panjang. "Kau tahu, kak. Bagi ku itu bukan masalah. Aku bisa mengerti kegamangan seorang ibu saat melihat anaknya belum lepas dari bayang duka" ucapku sendu. Suara ku pun sedikit bergetar.


"Kau baik-baik saja...?" tanya kak Mirza lagi. "Tentu saja, Kak. Oya, kakak dimana?" ucapku. "Kau lihat pendar cahaya ponsel ku? Di sanalah aku berada..." ucap kak Mirza sambil memainkan ponselnya yang berpendar. "Sejak kapan seorang Mirza menjadi pengecut untuk menemui ku?" ucapku sambil tertawa kecil. "Sejak kapan ya..? Em, ya. Sejak cintaku tak berbalas..." ucapnya. Kali ini ia terkekeh.


"Mungkin ia lelah, Kak..." ucap ku lagi sedikit berseloroh. Kak Mirza pun kembali tertawa.

__ADS_1


"Oya, Em...aku meminta maaf juga..." ucapnya terhenti. "Untuk apa...?" tanyaku sedikit penasaran. "Aku tak bisa menghapus air mata mu saat ini. Sesungguhnya aku ingin melakukannya, namun ada benteng yang menghalangi" ucapnya.


"Darimana kakak tahu aku sedang menangis...?" ucapku. "Dari semilir angin yang mengabarkannya kepada ku" ucapnya. "Gombal...dasar perayu" ucapku tertawa kecil. Ada desir aneh yang menelusup di ujung hati ku. Desiran yang terasa menghangat dan sedikit gemulai menarikan tarian aneh.


"Terima kasih ya, Kak. Sudah membuat ku tertawa" ucapku sumringah. "Syukurlah jika Fara sudah dapat tertawa kembali. Aku akan tenang untuk meninggalkan mu" ucap kak Mirza.


Deg.


Apa yang dimaksud kak Mirza dengan meninggalkan? Apakah akhirnya ia akan move on? Jika demikian, aku akan bersyukur sekali. Alih-alih berucap syukur, aku justru terdiam. Ternyata ada sisi jiwa ku yang melakukan pemberontakan. Dan meminta penjelasan lebih.


"Kenapa diam...?" tanya kak Mirza di ujung telefon. "Rasanya aneh saja mendengar kata meninggalkan. Seperti sebuah kata perpisahan" ucap sambil menatap pendar cahaya ponselnya dari kejauhan. "Perpisahan...? Entahlah. Kemungkinan ya. Kemungkinan juga tidak" ucap kak Mirza. Ah, hanya seorang pujangga yang berbicara begitu bertele-tele. Dan tentu saja aku tak memahaminya. Karena sejatinya aku bukanlah orang sepandai itu yang langsung mampu memaknai setiap kata perumpamaan ataupun makna tersirat.


"Aku tidak mengerti, Kak..." ucapku yang justru membuatnya tertawa. "Sayang...maafkan. Aku bercanda. Aku ingin pamit beberapa waktu. Ada pekerjaan yang tak dapat diwakilkan. Mungkin satu atau dua minggu..." ucapnya yang membuatku meng-o singkat. Ada sebuah kelegaan yang tiba-tiba saja menelusup di ujung hati ku. Entah mengapa demikian.


"Apa kau baru saja khawatir ku tinggalkan?" ucap kak Mirza yang langsung ku jawab dengan tawa. "Aku bahagia, Fara jika demikian. Setelah aku kembali, aku akan menagih janjimu kepada ku" ucapnya yang membuatku terdiam.


"Janji...?" ucapku singkat. "Kau lupa..? Ingat-ingatlah...." ucapnya yang kemudian menutup telefon.

__ADS_1


"Astaga..." ucapku kesal saat ia melakukannya.


__ADS_2