
Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Ku buka mataku perlahan saat ada hawa dingin yang menyapu wajahku. Mataku mengitari ruangan mencari sumber hawa dingin tersebut. Ow...ternyata pintu balkon terbuka sehingga angin pun bebas menerobos sambil menerbangkan gorden putih yang menutupinya. "Oaam..." aku bergumam sambil menggeliat dan meregangkan tubuh. Em, rupanya aku tertidur setelah sholat subuh tadi. "Kak..." panggilku. Namun tiada jawaban. Bukan sekali tapi dua hingga tiga kali aku memanggilnya, tapi tetap tiada jawaban.
Kemudian mataku menangkap bayangan kak Keanu di balkon. "Sepertinya itu kak Keanu..." ucapku lirih Kulangkahkan kaki sedikit demi sedikit hingga mencapai ambang balkon.
Brrrr...
Hawa dingin langsung menyapaku saat berdiri tepat di ambang pintu. Mungkin sisa hujan yang mengguyur bumi semalaman. "Kak Keanu..." ucapku saat melihatnya tengah berdiri memunggungiku. Matanya menatap jauh, entah kemana. Apakah yang membuat kak Keanu demikian, hingga tak menyadari kehadiranku?
"Kak..." ucapku sambil memeluknya dan membenamkan wajahku pada punggungnya. Aroma maskulin pun langsung menyeruak menggodaku. "Hei...sudah bangun, sayang?" ucapnya sedikit terkejut sambil mengusap tanganku yang masih melingkari tubuhnya. "Aku ketiduran. Kok tidak dibangunkan, kak..." ucapku dengan manja.
"Hei...kemari" ucap kak Keanu lembut sambil menarikku ke hadapannya. Kemudian ia pun memelukku erat. "Bagaimana aku tega. Kau tidur begitu lelap..." ucap kak Keanu sambil menghadiahi kecupan lembut pada keningku. Kecupan yang selalu melambungkan fikiranku dan juga membuat hatiku menari-nari.
"Em, kakak sedang apa di sini? Di cuaca sedingin ini? Melamun? Apa yang kakak fikirkan?" tanyaku sambil mengalungkan lengan pads lehernya. "Panjangnya..." ucap kak Keanu sambil mencubit ujung hidungku. "Ish...kakak ini loh" ucapku makin manja. "Ya, loh..." ucapnya lagi meledekku.
"Jika kakak berdiam diri hingga lupa sekitar, bisa dipastikan kakak sedang menyimpan masalah" ucapku. "Ah, itu hanya perasaan dek Fara saja..." ucap kak Keanu meledek ku. "Au...Ah" ucapku sambil memutar tubuh dan menatapi kuncup bunga yang tampak bergoyang ditiup angin lalu. Aku sempat gigil saat angin berhembus menerpa tubuhku dan juga menerbangkan bulir bening yang menempel pada dedaunan sisa hujan semalam. Kulipat kedua tanganku di depan dada sebagai cara mengurangi gigilku.
"Kita masuk sayang. Disini dingin..." ucap kak Keanu sambil mendekapku. "Em...." gumamku panjang seolah memikirkan sesuatu. "Suka bercanda..." ucap kak Keanu berulangkali sambil mencubit hidungku. Aku berkelit menghindari perlakuannya tersebut. Dan kak Keanu terkekeh karena reaksiku tersebut. Terlebih saat melihat ku manyun dan memalingkan wajah.
"Hei...aku bercanda. Maaf...Sebagai permintaan maaf ku bolehkah aku menggendongmu, Tuan putri? Sepertinya kaki tuan putri lelah..." ucap kak Keanu yang sedikit berjongkok. Melihat itu timbul jahil ku. "No...no..." ucapku sambil berisyarat dengan jari telunjukku. Kak Keanu pun mengangkat sedikit alisnya dan menatapku. Aku tersenyum.
"Begini baru betul..." ucapku sambil meletakkan kedua lengannya melingkari ku. Sementara itu, aku mengalungkan kedua tangan pada lehernya. Dilanjutkan dengan satu-satu menaikkan kaki ku di atas kaki nya. Kak Keanu tergelak. "Nakal ya..." ucapnya. "Ayo...jalan. Ini hukumannya untuk kakak yang sudah meledekku" ucapku. Kak Keanu kembali tergelak.
"Jika hukumannya seperti ini, maka setiap saat kak Keanu mu ini akan meledek mu" ucap kak Keanu di sela gelaknya. Kemudian satu-satu langkah pun dimulai dengan sangat hati-hati. Aku pun bergelayut pada tubuh kekar nan tegap laki-laki pujaan ku ini. "Aku mencintaimu, Fara. Sepanjang hidupku, aku akan selalu mencintaimu" ucap kak Keanu yang membuatku semakin mengeratkan dekapanku dan merebahkan kepalaku pada dada bidangnya.
"Ngomong-ngomong kemanakah tujuan kita kali ini? Ke tempat tidur kah?" ucap kak Keanu. "Bukan. Em, antarkan aku ke kamar mandi" ucapku dengan terus bergelayut manja. "Ke bulan juga aku turuti, sayang..." ucap kak Keanu yang tergelak lagi.
__ADS_1
"Okay... sudah sampai, tuan putri. Ongkos taxi nya...?" ucap kak Keanu sambil menunjuk bibirnya. Sebentar lalu kak Keanu memajukan bibirnya. "Tidak boleh turun sebelum taxi dibayar" ucap kak Keanu sambil mempertahankan posisiku dalam dekapannya. Aku terdiam dan menyimpan senyum di ujung bibirku. "Ayolah...taxi-nya sudah tak sabar ini" ucap kak Keanu lagi. Lagi-lagi kak Keanu memajukan bibirnya. Ahai.. ternyata tuan muda bisa segenit ini juga. Memang benar-benar tuan muda labil.
Dan belum lagi aku meluluskan permintaanbya, kami dikejutkan dengan dering ponsel.
Drrt...Drrt..Drrt...
"Ya, Ma..." ucap kak Keanu sambil melonggarkan dekapannya dan mengacak pucuk kepalaku. Menjauh kak Keanu saat berbincang dengan mama seakan enggan ku dengar. Hei...ada apa?
Pukul tujuh tepat. Mataku kembali menatap kak Keanu yang sudah bermandi peluh. Rupanya baru saja ia usai mengolah jurus selama aku di kamar mandi. Melihat itu aku langsung menghampirinya sambil membawa handuk kecil. "Hei...jagoan" ucapku sambil menggodanya dengan memamerkan jurusku. Yuph...walau sedikit sulit karena kondisi kaki ku yang belum sempurna, namun tetap saja kuperlihatkan hanya untuk menggodanya.
Kak Keanu tersenyum menatapku. "Kemarilah..." ucapnya sambil memberi isyarat agar aku duduk pada kursi yang baru saja ia tempati. Aku pun manut saja. "Em, handuknya..." ucapku sambil menyodorkan handuk dan duduk di sebelahnya. Disekanya peluh yang sudah membanjir itu. Matanya kali ini tidak menatapku, tapi pada langit yang tampak belum bersih karena mendung masih menyelimuti. Melihat kak Keanu seperti ini, aku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi. Ah, tuan muda kau masih saja bermain rahasia kepadaku. Kau lupa bahwa suka dan duka akan kita lalui bersama?
"Sayang..." ucap kak Keanu membuyarkan lamunan liarku. Sebelah tangannya meraih jemariku dan menggenggamnya. Matanya menatapku. Aku yakin di ujung tatapannya ada sebuah kegamangan. "Em, mama sakit..." ucap kak Keanu yang membuatku terkejut. "Sakit...?!" ucapku cepat. "Ya, sayang. Sudah seminggu ini" ucap kak Keanu. "Kalau begitu apa yang kita tunggu lagi. Kita harus menemui mama. Kasihan, mama..." ucapku khawatir. Aku pun bermaksud beranjak untuk bersiap-siap. Namun kak Keanu mencegahku. "Sayang...sayang, dengarkan penjelasanku dahulu. Benar mama sakit, tapi...." ucap kak Keanu terhenti. Ia menjadi ragu berkata. "Tapi... Apa, Kak?" tanyaku penasaran. Ku lihat kak Keanu menghela nafas cukup berat. Ada bulir bening yang mengambang yang ia tahan. "Jangan berteka-teki, Kak. Ayo...katakan" ucapku sambil menatapnya lekat. "Kemarilah..." ucap kak Keanu sambil merengkuh dan memelukku. Tapi kali ini tangisnya tak dapat ia sembunyikan lagi. Tubuhnya berguncang hebat. Mendapati polahnya aku semakin penasaran.
"Kalau memang tidak boleh, alasannya adalah aku. Maka aku ikhlas untuk tidak menyertaimu saat menemui mama" ucapku. "Justru karena itu aku tidak bisa, sayang. Menurutku dengan tidak membawamu, maka aku telah mengkhianatimu" ucap kak Keanu saat air matanya susut. Aku terdiam, hanya mataku saja yang menatapnya lekat. Sementara kak Keanu sendiri tengah asyik menatapi kembali pucuk pepohonan yang tampak menghijau.
"Bagaimana jika aku ikut menyertai kakak, tapi tidak menyertai kakak saat menemui mama sebagaimana keinginannya" ucapku kemudian. Kak Keanu beralih menatapku. Ada tanya diujung tatapannya. "Maksudmu..." ucap kak Keanu. "Em, aku akan pergi bersama kakak. Menginap di tempat lain, hotel misalnya atau rumah nenek atau cafe ku. . Dan aku akan tetap di hotel saat kakak menjenguk mama" ucapku. Kak Keanu tersenyum tipis. Sebelah tangannya mengacak pucuk kepalaku. "Cerdas..." ucapnya. Tapi mengapa aku masih saja melihat kegundahan di ujung tatapannya, walau senyum telah ia umbar. Hal ini tentu saja membuat ku semakin penasaran.
Pukul delapan lewat lima belas menit. Diputuskan selama dua hari kami akan berada di kota Yz. Kota kelahiranku. Segala persiapan pun sudah dilakukan. Beberapa potong pakaian sudah ku rapikan dan tersusun dalam tas. Aku pun sudah siap setelan simple yang dipadu-padankan dengan kerudung berwarn biru muda. Tersenyum kak Keanu saat mendapatiku tengah mematut diri di depan cermin.
"Cantik..." puji kak Keanu sambil mendekapku dan menyertaiku mematut diri. Sesekali ia pun mendaratkan kecupan pada pipiku. "Kita berangkat, sayang..." ucapnya. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Mobil sport silver pun melaju menyusuri jalanan yang tampak basah karena baru saja diguyur hujan. Langit pun masih gelap diselimuti awan hitam. Sesekali ku lihat kawanan burung berlombatan pada satu dahan ke dahan lainnya. Rupanya menghindari terpaan titik hujan karena digoyang angin lalu. Tapi ada dua atau tiga burung yang bertengger mantap pada satu dahan sebagai naungannya. Sepertinya si burung yakin betul akan keselamatannya. Ah, seperti itulah hidup. Jika yakin maka jalanilah walau diterpa badai sekalipun. Yakin pula bahwa badai pasti berlalu. Semua sudah ada pengaturnya, jangan bersusah hati apalagi khianat. Dan jika tak yakin maka beralihlah, pilihlah jalan lain dengan yakin. Pergi bukan berarti lari atau khianat. Tapi pergi demi kebaikan. Lihat saja si burung dengan keyakinannya, kepakan sayapnya pun jauh lebih mantap. Bahkan kepalanya pun tegak menatap dengan bangga. Ah, itulah semestinya hidup.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Mobil sport silver kak Keanu berhenti tepat di sebuah areal parkir rumah sakit. Aku menatapnya. Apakah kak Keanu berubah pikiran? "Tunggu di sini. Sebentar lagi kita cari penginapan" ucap kak Keanu sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku penuh perasaan. Aku pun mengangguk dsn meraih tangannya. Mengecup lembut punggung tangannya dengan takzim.
__ADS_1
Langkahnya begitu cepat di bawah rintik hujan yang masih jatuh satu-satu. Ku tatapi punggungnya hingga hilang di balik dinding. Ah, kak Keanu masih kurasakan kegamangan itu di ujung tiap tatapannya. Ini adalah teka-teki yang tanpa kau sengaja tersaji begitu saja. Apakah berkaitan dengan kondisi mama saat ini? Semoga semua akan baik-baik saja.
Fiuh...sepuluh menit dalam membuatku tak sabar. Dan rasa penasaran pun mendorong ku untuk mencari tahu kondisi mama Wina. Segera ku masuki gedung rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Langkahku sedikit cepat menuju sebuah ruangan berdasar informasi yang ku peroleh dari perawat di bagian informasi. Dan kini aku berada di depan sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat. Jantungku berdegup hebat. Maafkan aku, Kak. Aku jadi tidak amanah karena rasa penasaran ku.
"Nyonya Fara...." ucap seorang perempuan yang tak lain adalah mbok Nah. Aku tersenyum dan memeluknya. "Mbok senang, Nyonya Fara ada di sini. Apa tuan muda juga di sini?" ucap mbok Nah. Aku pun berisyarat menunjuk dalam ruangan. "Mbok tahu, Nya. Tuan muda sangat mencintai Nyonya, tapi Nyonya besar jadi tidak sabaran. Em, nanti mbok masuk Dan akan mbok buka sedikit pintunya agar Nyonya Fara bisa mendengar percakapan di dalam" ucap mbok Nah menatapku lekat penuh khawatir. Aku pun mengangguk menyetujui. "Sabar ya, Nya Fara..." ucap mbok Nah lagi sesaat sebelum berlalu. Hei...ada apakah ini? Aku semakin penasaran.
Mbok Nah pun langsung ke dalam ruangan. Dan benar saja, mbok Nah membiarkan pintu sedikit terbuka. Degup jantungku semakin menggila. Bermacam spekulasi menghinggapi ujung hatiku. Ya, Robby...ada apakah ini? Gamang ku rasa saat melihat sepintas kak Keanu duduk di dekat tempat tidur mama. Dan di sebelahnya duduk juga seorang perempuan cantik dengan rambut yang tergerai indah. Segera ku tajamkan telinga saat percakapan kembali terjadi.
"Keanu, mama tidak bisa menerima kondisi Fara saat ini. Mama ingin kau melanjutkan hidup mu. Dan mama sudah pilihkan perempuan yang cocok untukmu. Dia Dania, putri teman mama" ucap mama Wina.
Deg...
Serasa petir menyambar. Tubuhku gemetar, jantung ku serasa berhenti berdegup, dan darahku bak terhenti mengaliri tubuhku saat mendengar ucapan mama. Ya, Robby...apakah ini kegamangan yang ku lihat di tiap tatapan kak Keanu?
"Dania...ini Keanu. Anak tante yang pernah tante ceritakan. Sepertinya kalian cocok..." ucap mama Wina sambil tertawa kecil. "Ah, tante..." ucap Dania malu-malu. Memerah wajah kak Keanu. Terkepal tangannya begitu erat. Tatapannya sedikit ia simpan di ujung kakinya. Rupanya sedang ada badai yang berkecamuk dalam dirinya. Dan tak sedikit katapun ia ucapkan. Bahkan uluran tangan Dania pun tak ia gubris. "Kak Keanu..." ucapku lirih. Ada bulir bening yang menggenang di mataku dan siap meluncur.
"Keanu...." ucap mama sedikit keras. "Maaf, Ma. Keanu tidak bisa. Keanu sangat mencintai Fara. Maafkan Keanu, ma..." ucap kak Keanu sambil beranjak dari tempat duduknya. "Jika kau menolak permintaan mama kali ini, maka mama lebih baik mati Keanu..." ucap mama yang membuat urung langkah kak Keanu.
"Apa ini, Ma...? Permintaan macam apa ini? Dan mama mengancam Keanu? Kenapa, Ma...? Apa yang membuat mama seperti ini? Mengapa mama berubah?" ucap kak Keanu dengan suara sedikit bergetar.
"Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, untuk kita semua. Keanu...!" ucap mama sedikit terisak. "Baik menurut mama, belum tentu untuk Keanu..." ucap kak Keanu. Kali ini ia benar-benar beranjak meninggalkan mama.
Aku yang berdiri di depan pintu, secepat mungkin berlalu. Sedikit ku seret langkahku. Dengan kaki yang belum sempurna, langkahku sedikit terhambat. Dan fiuh...akhirnya langkahku berakhir pada sebuah pintu. Dan baru saja aku melangkah keluar pintu sebuah suara menghentikan ku. "Fara...." ucap seorang laki-laki. Aku terdiam. Karena aku hafal betul siapa si empunya suara. Dia adalah....
To Be Continued...
__ADS_1