Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 79. Keyakinan Keanu


__ADS_3

Mataku menatap gamang kuntum bunga yang terkadang berayun ditiup angin lalu. Dan wewangiannya sempat hinggap di ujung hidungku. Sementara itu, langit mendadak mulai diselimuti awan tipis berwarna kelabu. Mentari Puna perlahan mulai disembunyikan kumpulan awan yang kian lama makin semangat berarak. Pertanda sesaat lagi bumi akan disapa hujan.


Pukul sembilan lewat lima belas menit. Aku masih duduk di kursi roda pada balkon kamar. Mata ku terus bermain pada hamparan bunga putih yang kadang tertiup angin lalu itu. Ada pilu yang menelusup memenuhi hati ku. Terutama saat bayangan kak Keanu bersama perempuan cantik itu. Bibir ini berucap mengikhlaskan seandainya kak Keanu bersiap mencari pengganti, namun entah mengapa hati ini membisu jika melihat kebersamaannya itu. Ah, perasaan macam apakah ini? Memberi izin, namun hati terasa sakit. Memberi kesempatan kepadanya untuk memilih yang lain, namun pilu ini semakin menghantui. Astaga...


Ah, apa sebenarnya keinginanku? Gamang ku terus melaju. Menjalar hingga memenuhi sukma. Pada setiap bunga yang bergoyang, aku menitipkan segala rasa yang ada. Hingga air mata ku menitik tiada terasa. Kekacauan perasaan ini tentulah aku sendiri yang sudah membuatnya. Entah pintu api yang mana yang sudah ku sulut hingga amarah kak Keanu tumpah. Hingga saat ini wajah tampannya belum ku jumpai. Kharisma suaranya pun belum lagi menggelitik telinga. Kemana kah lelaki tampan ku itu? Dan lagi-lagi pada angin lalu ku titipkan segala rasa yang ada. Berharap si empunya hati ini merasa apa yang ku rasa.


"Sayang...." ucap sebuah suara yang begitu khas di telinga. Ah, lagi-lagi aku berangan menjumpainya kini. "Sayang..." ucap suara itu lagi. Kali ini membuatku terkejut. Bagaimana tidak? Lengan kekar si empunya suara melingkar erat padaku. Dan...Astaga, jantungku benar-benar berdegup hebat. Iramanya berlarian dan begitu bertalu. Mimpikah aku? Aku membatin hampir menangis. Terlebih saat sebuah kecupan pun mampir di keningku. Terlonjak hatiku kegirangan. Berakhir sudah penantian ku atas kehadirannya.


Pun demikian, tiba-tiba saja satu tanya menggoda di hati. Apakah kehadirannya benar akan membawa kabar yang akan membuat hatiku tertawa? Atau justru memberi ku pilu? Ya, Tuhan...Aku tak sanggup menerkanya. Yang pasti fikiranku pun sejenak kembali mengembara, menelusuri tiap waktu yang menyimpan berbagai peristiwa baik bahagia ataupun pilu. Terutama peristiwa saat kak Keanu bersama seorang perempuan. Yang dengan mesranya berbincang dan mengacak pucuk kepalanya. Jika sudah demikian, aku harus apa?


Pukul sembilan lewat empat puluh menit. Mataku masih menatap bunga-bunga yang masih saja bergoyang ditiup angin lalu. Dan sekali lagi suaranya membuyarkan lamunan liarku. "Sayang..." ucapnya sambil terus mendekapku erat. Alih-alih menutupi perasaan yang ada, aku acuh. Ada ganjalan dalam hati yang tak sanggup ku ungkap hingga menimbulkan kegamangan. "Maaf, semalam aku tidak pulang. Dan baru saat ini aku menemuimu" ucapnya sambil mengecup lembut kening ku lagi. "Sudah mulai harus berbagikah?" ucapku datar.


Kak Keanu melonggarkan dekapannya. Dan kemudian ia memilih berdiri dekat dinding balkon. Sejenak matanya menyapu pemandangan di bawah. Setelah itu ia memutar tubuh, berdiri bersandar dan menatapku. Sesekali ia menghela nafas panjang. "Aku tidak pernah sekalipun berniat untuk membagi perasaanku, Fara. Sejak kemarin aku tidak menemuimu, bukan berarti aku sedang membagi rasa ini. Aku sedang berusaha meredam kekesalan ku padamu" ucapnya sambil menatapku. Sebelah tangannya ia masukkan dalam kantung celana dan sebelahnya lagi menggenggam erat ponsel yang sesekali berpendar "Kesal padaku?" tanyaku singkat tanpa menatapnya. "Ya. Aku kesal karena Fara tidak mempercayai perasaanku. Hubungan kita jadi rapuh jika demikian, sayang..." ucapnya lagi. "Aku percaya dengan perasaan kakak. Tapi mengingat perbincangan kakak dengan mama hati ku sanksi. Dan terlepas itu semua sugguh aku ingin kakak bahagia. Aku tidak ingin menjadi beban kakak" ucapku penuh perasaan hampir menangis. "Kamu yakin, sayang..." ucapnya menatapku lekat. Aku yakin ia mencari keyakinan di sisi terdalam hati ini dari tatapannya itu. Aku terdiam. Ada badai yang sedang berkecamuk dan sulit ku redakan sepertinya.


"Sesungguhnya separuh jiwaku berontak, Kak. Aku tidak rela. Aku tidak menginginkannya. Aku...Aku takut kehilanganmu" ucapku kemudian begitu saja di sela isak ku. Ya...bulir bening itu sudah berjatuhan sejak tadi. Bulirnya menitik pada pangkuanku.


"Sayang...." ucap kak Keanu yang langsung merengkuh dan memelukku erat. Ia pun terisak kurasa. Nafasnya menjadi sedikit berat dan dadanya turun-naik tak beraturan. "Aku pun tidak bisa jauh dari mu, sayang. Kau cintaku satu-satunya. Aku mohon jangan berkata kau akan mengikhlaskan ku bersama yang lain. Aku mohon jangan cuma bahagiaku yang kau fikirkan. Aku ingin kita berdua bahagia tanpa ada yang tersakiti


Aku mohon jangan ucapkan perpisahan lagi. Karena sesungguhnya itu akan menyakiti kita berdua" ucapnya di sela tangisnya.


Tak kuasa rasanya menyaksikan lelaki yang selama ini begitu kharismatik, cool, acuh namun perhatian menangis karena ulahku. "Aku janji, Kak. Aku tidak akan pernah meminta perpisahan dari mu. Dan kakak pun harus berjanji tidak akan pernah meninggalkanku" ucapku lagi sambil mengeratkan pelukanku.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi sumpahku, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau adalah cinta dan hidupku yang sudah menjadi tanggung jawabku dunia dan akhirat" ucap kak Keanu yang masih mendekapku erat. Sebuah kecupan lembut pun ia hadiahkan lagi pada pucuk kepalaku membuat ku tersenyum bahagia.


Ada sebuah kelegaan yang menyelimuti hati dan jiwaku. Bahkan leganya membuatku mampu melakukan hal yang belum pernah aku lakukan selama kami menikah. Aku mengecup lembut bibirnya, walau sambil lalu. Jiiaaahhh.... wajahku menjadi merona karenanya. Bahkan jantungku berdegup begitu gaduh. Kedua tanganku kini menutup sebagian wajahku. Haduh, berani sekali aku. Entah keberanian darimana aku tidak tahu. Yang pasti kak Keanu saja menjadi tertegun. Matanya sedikit membulat. Namun kemudian ia tersenyum menatapku.


"Aku bahagia..." bisiknya dekat telingaku. Sedikit malu atas perlakuanku tadi, aku memilih untuk bergelayut manja pada lengannya. Dan sedikit membenamkan wajahku pada lengannya. Dia tertawa atas perlakuan ku tersebut.


Pun demikian, sekonyong-konyong fikiran ku memulai perjalanan lagi. Kali ini langsung tertuju pada sosok perempuan yang kemarin ku lihat bersamanya. Aku terdiam. Hanya mataku saja yang menatapnya dalam sambil menyusut air mata. "Ada apa?" tanya kak Keanu. Tangannya mengusap lembut kepalaku. "Aku belum tenang, Kak...Hati dan fikiranku masih dihantui sosok cantik yang kemarin bersama kakak" ucapku sambil menatapnya yang berdiri bersandar pada dinding balkon. "Ini bukan katanya. Atau khayalku saja. Ini nyata karena aku melihatnya sendiri. Bagaimana kakak mengacak pucuk kepalanya. Bagaimana kakak tertawa bersamanya. Semuanya membuat hati ini dipenuhi kegusaran" ucapku hampir menangis lagi.


Kak Keanu tersenyum. Matanya berbinar menatapku. Tapi di sudut tatapan itu ada sebuah kegamangan yang berhasil kutangkap. Itu nyata adanya. Ini adalah kemisteriusan seorang tuan muda Keanu.


"Aku bahagia. Kau mengkhawatirkan perasaanku saat ini. Kau cemburu, sayang..." ucapnya sedikit kekeh. Tangannya mencubit kecil hidungku. "Begini...." ucapnya kemudian sambil mengitari ku dan melajukan kursi rodaku. Hei...akan dibawa kemana aku??


"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya kenalanku. Em, sahabatku saat di perguruan ilmu bela diri. Maaf atas perlakuan ku terhadapnya. Hanya refleks saja" ucapnya lagi sambil terus melajukan kursi roda ku. Jika melihat arahnya, jelas ini menuju area belakang rumah, apalagi jika bukan taman. Tapi ingin apa kak Keanu mengajakku ke taman? Bukankah di luar hujan sudah mulai turun satu-satu.


Dan pada akhirnya aku pun memejamkan mata, walau ada sedikit ragu. Wajahku pun menengadah ke langit. Satu-satu titik hujan menghampiri wajahku. Lama kelamaan menjadi kerap. Pada akhirnya tak hingga lagi karena rintik telah berubah menjadi guyuran. "Kak Keanu...!" ucapku setengah teriak. "Ya, sayang..." ucapnya sambil mendekapku erat dari belakang. Sepintas ku lihat Satria tersenyum menatap tingkah tuan muadanya.


Tergelak aku di sela terpaan hujan. Ada kelegaan saat hujan membasuh seluruh tubuh. Ah, tuan muda labil pandai kau membuatku seperti ini. Sebuah keadaan yang jarang ku nikmati. Tawa kami semakin jelas saat kami berputar-putar di tengah taman dekat kolam.


"Musuh yang paling berbahaya di dunia adalah rasa takut dan bimbang. Sedangkan, teman yang paling setia hanyalah keberanian dan keyakinan tanpa keraguan."


Pukul sebelas lewat lima belas menit. Tergopoh Satria mendatangi kami. Separuh tubuhnya telah basah walau payung melindunginya. Bibirnya komat-kamit mengurai kata dekat telinga kak Keanu. Sedikit membulat mata kak Keanu menyimak setiap kata Satria. Belum lagi usai kata Satria, melangkah gontai di tengah guyuran hujan seorang perempuan. Tangannya memegang payung terkembang untuk melindungi tubuh. Pun demikian, sebagian tubuhnya telah basah oleh hujan.

__ADS_1


Hei, siapakah dia? Aku tak dapat menerkanya karena wajahnya tertutup payung merah yang mengembang. Langkahnya semakin dekat. "Mas..." ucapnya saat tepat berdiri di depan kak Keanu. Dan saat itulah aku melihat wajahnya. Hatiku kecut. "Astaga...bukankah ia perempuan yang kak Keanu temui kemarin di resto? Mau apa dia?" Aku membatin. Mataku bergantian menatap si perempuan dan kak Keanu.


"Aku...Aku hamil, Mas" ucap perempuan itu. Dari mimik wajahnya aku meyakini ada sejuta pilu yang sedang menyergapnya. "Aku mohon bantu aku, Mas. Tolong nikahi aku..." ucapnya.


Deg...


Mendadak degup jantungku bertalu menyimak penuturan perempuan itu. Ada kegamangan yang kembali mendobrak hati dan merobek dan memotong kepercayaanku pada kak Keanu. "Mari kita duduk dahulu" ucap kak Keanu sambil melangkah. Tangannya memegang lengan si perempuan dan menyuruhnya duduk pada kursi taman pada sebuah gazebo. Aku pun akhirnya mengekori langkah keduanya. Sedikit berjarak aku menghentikan kursi rodaku.


"Aku mohon mas, tolong aku" ucap si perempuan yang baru saja ku ketahui bernama Sarah. Mendapat permintaan itu, kak Keanu menatapku. Entah maksud apa yang tersirat dari tatapannya itu. Apakah kak Keanu meminta pendapatku atas permintaan itu? Atau kak Keanu sekedar ingin mengetahui reaksi yang tersirat di wajahku? Ah, kacau...


"Tolong kak Fara. Izinkan mas Keanu menikahi saya. Saya tidak akan menuntut lebih. Saya hanya ingin berada di dekatnya saja. Anak yang saya kandung bukanlah anak mas Keanu, tapi hanya mas Keanu yang bisa menolong saya" ucap perempuan itu sambil bersimpuh di hadapanku. Air matanya mulai berjatuhan. Sementara tangannya menggenggam tanganku. Aku terdiam.


Ya, Tuhan...apa lagi ini? Haruskah ceritaku saat bersama kak Mirza terulang kembali? Aku kacau. Ada hawa panas yang mendiami mata ini dan perlahan namun pasti menghadirkan bulir bening. Pun demikian, jatuhnya ku tahan.


"Mbak Sarah..." ucapku kemudian setenang mungkin walau badai sedang berkecamuk dalam hati. "Apa alasan saya sehingga saya harus merestui keinginan mbak?" ucapku datar. Ia tertegun menatapku. "Karena hanya mas Keanu yang dapat menolongku, Kak. Saya mencintai mas Keanu. Sejak dahulu saat masih di perguruan" ucap Sarah tertunduk.


"Ow, jadi karena kamu mencintai kak Keanu kami berhak untuk memintanya menikahimu? Demi menyenangkan hatimu kau akan menghancurkan pernikahan kami? Picik sekali, kamu..!" ucapku setengah teriak. "Kak, saya kan mengurus mas Keanu. Kak Fara jangan khawatir. Apalagi setelah melihat keadaan kakak, saya pastikan mas Keanu tidak akan pernah kekurangan" ucapnya mengiris luka di hati. "Lancang...!" ucap ku.


Kemudian, aku menatap kak Keanu yang sejak tadi hanya diam. Matanya pun beradu pada tatapan ku. Ia tersenyum tipis sedikit dipaksa sambil menghela nafas panjang. Kak Keanu pun mengambil langkah dan mendekati Sarah. Mengusap pucuk kepalanya. "Sarah...maaf, aku tidak bisa menolong mu" ucap kak Keanu. "Tapi mas pernah berkata akan memenuhi segala permintaanku karena aku sudah menolong mas saat itu" ucap Sarah. "Ya. Aku berucap terima kasih atas semua itu. Tapi aku tidak melunasi hutang Budi ku saat ini. Aku tidak bisa mengorbankan hati seorang perempuan yang aku sayangi demi melunasi hutangku itu. Maafkan aku. Kau boleh meminta yang lain" ucap kak Keanu sambil menatapku. Aku terenyuh mendengarnya. Hampir saja senyum tipis tergambar di wajahku.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" ucap Sarah histeris. "Aku akan membantu mu. Sungguh...Tapi tidak dengan jalan ini. Yakinlah...aku pasti akan memenuhi janjiku dan munasi hutangku itu" ucap kak Keanu. "Sekarang lebih baik, Sarah pulang. Tunggu kabar dariku" ucap kak Keanu lagi. Tangannya berisyarat kepada Satria untuk segera mengantar Sarah. "Baik, Tuan..." ucap Satria takzim. Matanya langsung tertuju pada Sarah. "Mari..." ucap Satria sambil mengangkat lengan Sarah yang masih duduk lesu.

__ADS_1


Keduanya berlalu. Langkahnya begitu gontai hampir tak bertenaga. Entah bagaimana perasaannya kini. Sedih, malu atau biasa saja. Ah, aku tidak mampu memaknai dengan pasti. Namun dari langkahnya aku bisa mengetahui bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Mataku masih menatap lalu keduanya hingga hilang di ujung jalan taman.


Pukul satu lewat lima menit. Langit mulai bersahabat dengan angin yang bersedia menerbangkan awan gelap sehingga langit pun kembali bersih. Mentari pun kembali riang mengapa bumi dengan hangatnya. Seiring dengan itu, senyumku pun terkembang. Ada rona bahagia atas pernyataan kak Keanu. "Maafkan aku, sayang..." ucap kak Keanu yang lagi-lagi memelukku erat.


__ADS_2