Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 109. Satria


__ADS_3

Berdiri aku menatap sebuah bangunan dua lantai di hadapanku. Bangunan dengan lampu hias yang indah. Mengangguk takzim beberapa pegawai saat langkahku mulai menyusuri lorong di antara susunan kursi yang tertata apik. Tak lupa aku pun mengumbar senyum sambil sesekali membalas sapaan beberapa pelanggan yang mulai memenuhi ruangan.


Ah, lelah ku terbayar sudah saat mendapati keriuhan yang ada. Keriuhan yang tercipta dari semua obrolan dari pada pelanggan berpadu dengan alunan musik yang mengalun. Hari ini adalah weekend terpanjang yang harus ku lewati. "Kak Fara..." panggil Rio, seorang laki-laki yang ku percaya untuk mengawasi segala hal tentang cafe yang bangun beberapa bulan terakhir. Rio adalah satu diantara anak jalanan yang dahulu bekerja pada toko lama ku. Toko yang kini dikelola kak Roy, kakak laki-laki kak Mirza dari ibu yang berbeda. Aku memberinya kepercayaan bersama Dara ketika keduanya telah menikah. Dan berbekal dari profit dan sejumlah dana yang dihibahkan kak Keanu kepadaku, maka aku membangun cafe yang saat ini telah cukup dikenal walau baru beberapa bulan berdiri.


"Ya, pak Rio..." jawabku setengah meledekku sambil tersenyum lebar. "Kak Fara ini loh. Senang sekali meledekku sepertinya..." ucapnya manyun. "Tapi kamu suka kan?" ledek ku lagi. "Astaga kak Fara..." ucapnya lagi. Nada suaranya sedikit kesal. Aku tertawa saat melihat reaksi di wajahnya.


"Ada apa, Rio..." ucapku sambil terus melangkah hingga dalam office. Rio yang mengiringi langkahku terus berceloteh menceritakan situasi dan kondisi cafe seminggu terakhir. Hingga ia duduk pada sofa pun, ceritanya belum lagi usai.


"Good..." ucapku singkat menanggapi semua cerita panjangnya sambil tersenyum.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk..." ucapku kemudian. "Kak, ada tamu..." ucap Sonia yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Aku pun memberinya isyarat agar tamu tersebut dipersilahkan menemuiku.

__ADS_1


"Jika demikian, Rio ke cafe lagi kak" ucap Rio sambil berdiri yang langsung ku aminkan. Langkah Rio pun terhenti sesaat di ambang pintu ketika berpapasan dengan seorang laki-laki. Tubuhnya begitu tegap dan kekar. Separuh wajahnya tertutup topi yang dikenakannya.


"Ada yang bisa dibantu..." ucapku sambil berisyarat mempersilahkannya duduk pada sebuah sofa. "Nyonya Fara..." ucap laki-laki itu. Suaranya begitu berat. Aku terkesiap saat mendengar suaranya. Begitu khas dan juga begitu familiar kurasa. "Ya benar..." jawabku sambil terus menatap dan berusaha mengenalinya.


"Baru satu tahun tak bertemu, Nyonya sudah melupakan saya..." ucapnya sambil terkekeh. Tangannya membuka topi yang sejak tadi ia pakai. Aku terkesiap saat menatap wajahnya.


Deg.


Mataku tak lepas menatap wajahnya yang sebagian terdapat luka parut yang cukup parah. Matanya kini menatap wajahku lekat. Matanya begitu sendu menatapku karena ada bulir bening yang mengambang di sana. "Nyonya sungguh tidak mengenaliku?" tanyanya lagi. Kali ini senyumnya sedikit mengembang. Sementara tangannya mengusap bulir bening yang hampir saja jatuh.


"Astaga...Kak Satria" ucapku terperangah dan baru tersadar. Ia tersenyum sambil mengangguk takzim. "Apa kabar, Nyonya..." ucapnya dengan suara sedikit bergetar. "Baik, Kak..." jawabku dengan suara tak kalah bergetar. Aku menatapnya pilu. Hanya menatapnya. Sungguh ada banyak hal yang ingin aku ceritakan namun mendadak lidahku jadi kelu. Kata ku jadi gagu. Hanya air mata yang mulai terjun bebas dan tak sanggup ku bendung lagi. Ada kepiluan yang makin ku rasa saat ini.


"Kemana saja, Kak...?" tanya kemudiaan saat air matanya benar-benar telah usai. "Ceritanya panjang, Nyonya" ucap Satria. Matanya menerawang jauh seakan mengingat dan mencoba menautkan keping kenangan dalam ingatannya. "Saat itu aku tersadar saat sudah berada dalam sebuah ruangan dengan di dinding berwarna putih. Beberapa alat medis pun masih menempel pada tubuhku. Dan rasa sakit dan perih begitu menyergap ku pada sekujur tubuh. Tatapan ku menyasar pada balutan perban pada beberapa bagian tubuhku. Terlebih pada separuh wajah dan leherku" ucap Satria.


Satria Flashback On


"Akh...." keluh ku hebat saat sakit dan perih menderaku. "Kau beruntung, Satria. Nyawamu terselamatkan. Apa mungkin kau memiliki banyak nyawa, hah.." ucap seorang laki-laki yang tidak lain adalah dokter Faaz. Kekeh nya mengakhiri ucapannya. Aku pun tersenyum sekenanya saja. "Tuan dan Nyonya, bagaimana...?" tanyaku terbata. "Tuan Keanu dan Nyonya Fara berhasil melewati masa kritisnya" ucap dokter Faaz sambil memeriksa kondisi ku. "Syukurlah jika demikian..." ucapku lega. "Tapi..." ucap dokter Faaz terhenti seakan ada hal yang begitu beban yang menghimpitnya. Mataku langsung sedikit membulat dan menatapnya penuh tanya. "Katakan, dokter Faaz. Adakah sesuatu yang terjadi pada keduanya?" tanyaku perlahan.

__ADS_1


Tampak dokter Faaz menghela nafas. "Tuan Keanu mengalami kerusakan pada organ vitalnya, tapi beruntung masih terselamatkan. Hanya saja..." ucapan dokter Faaz kembali terhenti. Ia menatapku lekat seakan menunggu kesiapan ku untuk mendengar kabar terburuk sekalipun. "Katakan dokter..." pintaku lagi. "Tuan Keanu harus kehilangan kedua kakinya..." ucap dokter Faaz kemudian.


Deg.


"Apa...!" ucapku hampir terlonjak dengan suara meninggi. Tak ku hiraukan lagi sakit yang masih mendera tubuh saat mengetahui kondisi tuanku itu. "Tidak mungkin, dokter..." ucapku sedikit terbatuk dan memercikkan sedikit darah. "Tenanglah, Satria..." ucap dokter Faaz sambil menenangkan ku melalui isyarat tangannya.


Ya, Allah...skenario apa lagi yang sedang Kau siapkan, ya Robb? Mengapa bukan aku saja yang mengalaminya? Aku histeris. Air mata ini tak terbendung lagi di tengah penyesalan yang mendalam.


"Nyonya Fara, bagaimana?" ucapku saat teringat nyonya Fara, istri tuanku itu. Lagi-lagi dokter Faaz menghela nafas dan menatapku. "Aku siap, dok..." ucapku dengan suara bergetar. "Nyonya Fara kehilangan penglihatannya" ucap dokter Faaz. Bak mendengar Guntur di siap hari, aku makin histeris. Bahkan luka-luka ku pun kembali mengeluarkan darah karena pergerakan ku yang menggila. "Aku gagal menjaga keduanya, dok..." ucapku lirih.


"Kau pun tidak jauh berbeda dari keduanya. Kecelakaan itu telah membakar delapan puluh persen tubuhmu. Dan hanya tujuh puluh persen yang dapat sembuh total. Sedangkan sepuluh persennya akan meninggalkan bekas yang cukup dalam" jelas dokter Faaz. Aku terdiam. Aku tidaklah mempedulikan kondisiku saat ini, yang ada dalam benakku hanyalah tuan Keanu dan nyonya Fara. Ada penyesalan yang mendalam dan semakin menyelimuti jiwa.


"Tidak ada yang perlu disesali, Satria..." ucap seorang laki-laki yang aku tahu itu adalah Noah, teman sekaligus kakak laki-laki nyonya Fara. Aku menatapnya lekat. Aku tahu ada pilu yang tersimpan karena kondisi adiknya, nyonya Fara. "Kau dan aku adalah incaran selanjutnya. Karena itu untuk sementara kita akan berpindah ke kota lain. Perpindahan mu sedang di siapkan" ucap Noah. "Tuan Keanu...?" tanyaku singkat.


"Keanu sudah dinyatakan tiada beberapa hari lalu. Kabarnya sudah tersebar di media sosial. Sedangkan adik ku, sementara akan dibawah penjagaan dokter Faaz dan negara" ucap Noah. "Tidak adakah jalan lain...?" ucapku gamang. "Tidak..." ucap Noah tegas. "Oya, kabar kematian Keanu pun sudah disampaikan pada adikku, Fara..." ucap Noah sesaat sebelum berlalu.


Deg.

__ADS_1


"Apa...?! Jadi nyonya Fara tidak tahu....!' ucapku berusaha bangkit namun berhasil di cegah dokter Faaz dan beberapa perawat lainnya. "Astaga..." ucapku lirih. Ada sesal yang makin menjalari jiwaku. "Tidak....!" teriakku mengisi ruangan.


Satria Flashback Off


__ADS_2