Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 40. Cinta yang Berbeda tuan Darius ...


__ADS_3

Semilir angin menerpa wajahku. Menerbangkan ujung kerudungku. Hawanya berhasil menyentuh jiwaku dan memberi ketenangan pada sukma ku. Pada sisi lain sang mentari mulai menyapa bumi. Perlahan namun pasti sinarnya telah mampu mengikis hawa dinginnya malam. Kehangatannya pun telah memberi kekuatan dan manfaat kepada semua makhluk yang membutuhkannya. Saat ini aku duduk pada sebuah kursi di taman setelah beberapa waktu lalu aku harus bersusah payah melangkah untuk mencapainya. Mataku tiada henti menatap kumpulan kuncup bunga yang bergoyang ditiup angin. Dan kini mulai bermekaran satu satu. Sementara itu di langit, sekumpulan burung ramai menghiasinya dengan kepakan sayap ataupun suara cicitnya seakan memberi ucapan salam selamat pagi.


Pukul tujuh lewat empat puluh menit. Kupejamkan mata. Membiarkan hangatnya sinar mentari membasuh wajahku. Menghangatkan ujung hatiku dan membalut lukaku. Sementara itu semilir angin kembali menyentuh ragaku. Sejuknya mulai menerbangkan lamunanku dan membawanya mengembara entah kemana. Pengembaraan ku pun berakhir saat berhasil menemukan seulas wajah tampan yang kini menghiasinya. Wajah dari lelaki yang telah berhasil menyentuh sukmaku. Aku tersenyum bahagia berada dalam pengembaraan ku itu.


Mataku perlahan terbuka saat kurasakan hembusan hangat lain menerpa wajahku. Merona sudah wajahku saat mengetahui siapa pemilik hembusan hangat itu. Dan ia tampak tersenyum sumringah, terutama saat berhasil menyentuh lembut bibirku. "Kak Mirza..." ucapku lirih sambil menyentuh bibirku dengan jemariku yang berhasil ia kecup tadi. Sementara itu mataku tiada henti menatap wajah tampannya yang berjarak hanya beberapa sentimeter saja. Wajah yang selalu tampan dengan dua lubang yang menghiasinya saat ia tersenyum. "Aku merasa ada hati yang memanggil-manggil ku. Begitu kuat hingga membuat hati ku bergejolak. Jadi aku kembali" ucapnya sambil tersenyum dengan kedua tangan yang menopang pada sandaran kursi yang ku duduki. Dan matanya terus saja menatap ke dalam mataku. Ku gigit bibirku menahan gejolak yang makin bergelora.


"Tuan Mirza...." ucap sebuah suara yang berhasil membuyarkan lamunanku. "Ya..." ucap singkat kak Mirza tanpa memalingkan tatapan matanya dariku. "Berkasnya sudah ditemukan..." ucap bang Pandu yang berdiri sedikit menkauh. "Baiklah, cantik...Tiga jam lagi aku kembali. Saat makan siang" ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku dan mengecup lembut kening ku. "Tunggu ya..." ucapnya lagi sesaat sebelum berlalu. Ku tatap punggungnya yang baru saja berbalik. Dan entah mengapa aku langsung memeluknya erat. Mengecup punggungnya dan membenamkan wajah ku penuh manja. Melihat itu, bang Pandu pun memalingkan wajahnya. Aku tersenyum melihat polahnya itu. "Terima kasih ya..." ucapku sambil sekali lagi mengecup punggungnya. Dan kak Mirza pun kembali memutar tubuhnya dan mendekapku kembali. Tanpa kata. Hanya degup jantung yang terasa semakin tak berirama seiring hembusan nafas yang memburu.


"Mirza..." ucap bang David tiba-tiba. Dia tampak berdiri menatap sambil menggelengkan kepalanya. "Yang beginian di kamar jangan di sini" ucapnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk sebuah nampan berisi obat dan perban. Kak Mirza pun tak mempedulikan perkataan bang David. Dan sekali lagi ia mengecup keningku dan berlalu. Dan sekali lagi jemarinya berisyarat dengan memperlihatkan tiga jari. Kumaknai bahwa tiga jam lagi ia akan kembali menemui ku. Aku tersenyum tanda mengiyakannya.


"Aku ingin memeriksa ulang luka mu, Fara. Yang semalam sifatnya darurat. Jadi obatnya pun belum maksimal" ucap bang David sambil tersenyum menatapku dan berjongkok di hadapanku. Diraihnya kaki ku dan diletakkan pada sebelah pahanya. "Seperti waktu dulu ya...? Ingat saat kau terluka dahulu" ucapnya yang berhasil membawaku kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu. Aku mengangguk kecil dan tersenyum menatapnya. "Aku masih sama seperti dahulu, Fara. Aku masih bang David mu. Bedanya kita sudah sama-sama memiliki pasangan masing-masing. Namun janjiku pada nenek Merry untuk selalu menjagamu tak kan pernah kuingkari" ucap bang David yang sesekali menatapku. Sementara tangannya begitu cekatan mengobati dan sekali lagi membalut luka ku itu. "Terima kasih ya, Bang. Fara sangat menghargainya" ucapku sambil menahan nyeri pada luka ku. "Okey sudah selesai. Semoga cepat membaik..." ucap bang David sambil memakaikan kembali alas kaki ku dan meletakkannya perlahan.

__ADS_1


"Bagaimana lukanya, David...?" tanya mama yang masih berjarak beberapa langkah. Di belakangnya mengiringi Bu Anna sambil membawa juice buah lengkap dengan kudapannya. "Tidak mengkhawatirkan. Tiga atau empat hari lagi sembuh. Semoga..." ucap bang David sambil merapikan peralatannya dan duduk tidak jauh dariku. "Syukurlah jika demikian..." ucap mama sambil meneguk juice buah. Tak lama, bang David pun pamit untuk kembali ke rumah sakit. Diciumnya punggung tangan mama dengan takzim dan berlalu. "Jangan jalan-jalan terus nanti lukanya terbuka lagi" ucap bang David sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut sesaat sebelum berlalu. "Tidak menemui Kenan dahulu?!" ucap mama setengah teriak. "Nanti saja. David buru-buru. Ada pasien..."! timpal bang David yang tetap memacu langkah.


Langit tampak membiru dan begitu bersih. Hanya sedikit saja awan putih yang berarak. Tanda hari akan cerah siang ini. Sementara itu mentari semakin semangat menyapa bumi. Membagi sinarnya dengan adil bagi setiap makhluk bumi. Ku teguk juice buah yang sejak tadi tersaji di meja. Sesekali mataku menatap setiap deret kalimat pada lembar majalah. Kali ini mataku menatap seulas wajah tampan dengan senyuman khasnya pada lembar majalah yang ku baca. "Ma..." ucapku sambil menunjukkan seulas wajah yang terpampang pada majalah. Mama pun tersenyum menatap wajah tersebut. "KIAT SUKSES PENGUSAHA MUDA, From Zero To Hero. Mirza Adhiatma" ucap mama membaca deretan judul di majalah. "Alhamdulillah...anak Mama" ucap mama lagi. Tatapannya berubah sendu. Ada bulir bening yang mengambang di kedua matanya dan siap meluncur. Ku yakin itu adalah air mata bahagianya. Air mata seorang ibu yang menjadi doa mustajab dan keberkahan bagi anak-anaknya ketika ia mengangkat kedua tangan. Dan menjadikan yang mustahil menjadi mungkin. Ibu adalah keramat bagi setiap anak-anaknya.


"Ma..." ucap kak Mirza yang tiba-tiba saja sudah datang di belakang. Tangannya langsung memeluk dan mencium pipi mama. "Mama bangga..." ucap mama tersenyum sambil mengusap lengan kak Mirza yang masih melingkar pada bahu mama. "Semua karena doa mama..." ucap kak Mirza dan sekali lagi mencium pipi mama. Aku tersenyum menatap keharmonisan keduanya


"Laper nieh..." ucap kak Mirza kemudian. Kami pun tersenyum mendengar ucapan kak Mirza. Karena baru kali ini kak Mirza mengeluh seperti itu. Kemudian kami pun beriringan melangkah. Dan karena kondisi ku langkah pun menjadi terhambat, sehingga kak Mirza lebih memilih menggendong ku pada punggungnya. Aku teriak setiap ia memainkan langkahnya. Pegangan ku menjadi semakin erat sambil sesekali mencubit kecil bahunya karena perlakuannya tersebut. "Anak-anak zaman sekarang..." ucap mama sambil tersenyum dan menggeleng kepala.


Pukul dua lewat lima belas menit. Aku kembali mendapat kejutan dengan kedatangan kak Roy atau yang dulu aku kenal sebagai tuan Darius. Mendadak aku jadi terdiam saat bua Anna memberitahuku. Mata ku sedikit membulat. Dadaku bergemuruh. Dan wajahku menjadi pasi. Aku terduduk begitu saja pada sofa dan berusaha keras mendamaikan irama jantungku yang mulai berlarian. "Tolong kunci pintunya, Bu..." ucapku setengah berbisik dengan sedikit bergetar. Langkah Bu Anna pun menjadi cepat demi memenuhi keinginanku itu. Berulang kali aku memejamkan mata dan berusaha mengusir bayang apa yang telah kak Roy lakukan terhadap diriku dahulu. Kemudian lamat-lamat ku dengar sebuah percakapan. Ku yakin itu adalah percakapan antara kak Roy bersama mama. Ku tajamkan pendengaran ku dan menyimak percakapan keduanya. Namun sayang aku tidak dapat jelas menyimak isi percakapan keduanya karena jarak yang terlalu jauh. Dan pada akhirnya rasa penasaranku berhasil mengalahkan kecemasan dan ketakutan ku. Ku minta Bu Anna membantuku keluar kamar. Aku pun langsung bersandar pada salah satu sisi dinding yang ku yakini terlindung dari setiap tatapan mata dari lantai dasar.


"Maaf, Ma. Roy datang kembali. Roy bingung harus kemana lagi membawa kesedihan dan kebimbangan hati ini" ucap kak Roy. "Sayang...kau sudah benar dengan datang menemui mama. Jangan pergi jauh, Roy. Kita wujudkan keinginan terakhir papa mu" ucap mama sendu. "Ma...apakah benar Mirza dan Fara telah menikah? Apakah benar keduanya sudah saling mencintai jauh sebelum Fara bertemu denganku?" ucap kak Roy. Mendengar ucapan tersebut aku terenyuh. Ku gigit bibirku yang sedikit bergetar dan memejamkan mataku. "Kau sudah dewasa Roy. Mama yakin kau akan faham yang mama katakan ini. Pertama yang harus kau ketahui adalah bahwa anak mama ada empat bukan hanya dua. Dan mama berusaha berlalu seadil-adilnya untuk keempat anak lelaki mama. Yang kedua, memang benar keduanya sudah menikah. Ketiga, benar jika keduanya saling jatuh hati jauh sebelum Fara diculik, di sekap di rumah esek-esek dan diperlakukan tidak senonoh oleh mu" ucap mama dengan suara yang semakin lama semakin meninggi. "Maaf, mama terbawa suasana. Mama hanya melihat bagaimana kedukaan Fara selama ini" ucap mama sambil mengusap pipinya yang mulai basah dengan air mata. "Mama..." ucapku lirih. "Aku tak pernah merasakan cinta. Dan sekalinya merasakan hanya kekecewaan yang ku dapat. Aku tak berdaya, Ma. Maafkan Roy, Ma..."ucap kak Roy pilu. "Roy...." ucap mama. "Bolehkah Roy menemui Fara sekali lagi?" tanya kak Roy yang tentu saja membuatku terkesiap. "Untuk apa, Roy...?" tanya mama. "Karena polah mu dua tahun lalu, Fara mengalami trauma yang cukup lama. Ditambah peristiwa akhir-akhir ini ia semakin guncang. Dia tak tenang bahkan dalam tidurnya sekalipun. Mama, pinta kau legowo menerima kenyataan. Kau sudah dewasa mama rasa. Biarkan Fara bahagia bersama adikmu. Lelaki yang sejak dahulu ia cintai" ucap mama panjang. Kak Roy terdiam, matanya menatap mama sendu.

__ADS_1


Tak lama kemudian matanya tampak kembali mengitari seisi ruangan. Entah apa yang ia cari. Hingga di suatu tempat, tepatnya dimana aku berada sepertinya ia menajamkan mata. Tatapannya tampak begitu menyelidik. Mungkin ia berhasil menangkap bayangku.


Deg.


Degup jantung kembali tak berirama. Fikiranku mengembara dan berandai, bagaimana jika kak Roy tahu aku di sini? Apa yang harus aku lakukan? Dan segera saja aku menyembunyikan diri dengan duduk berjongkok bersama Bu Anna. Namun sial sepertinya kak Roy mengetahui keberadaan ku atau paling tidak ia mencurigai sesuatu di tempat ku berada. Aku gusar. Setengah berusaha sekuat tenaga aku berusaha segera mencapai pintu kamar. Aku tidak ingin ia tahu keberadaan ku. "Fara...!" teriak kak Roy. Dan sepertinya Ia berlari. Langkah cepatnya dapat kudengar jelas saat ia menyusuri anak tangga dari tempat di mana aku berada. "Roy...?" teriak mama memanggil kak Roy yang tak menghiraukannya. Ku percepat langkahku dengan susah payah. "Fara...!" teriaknya lagi. Sial...kali ini ia berhasil menghentikan langkah tertatih ku. Dia berdiri tepat di belakangku. Hanya beberapa langkah saja. Ku lihat mama yang baru saja menghentikan langkahnya tepat diujung tangga dekat kak Roy. Nafasnya tampak tak beraturan


Sementara tangannya berpegangan pada tiang penopang tangga yang terbuat dari kayu.


Ku putar tubuhku menghadap nya yang menatapku penuh makna. Namun sayangnya aku gagal memaknai tatapannya itu. Tampak ia bersandar pada sisi dinding sambil terus memperhatikan ku. "Kau mungkin tidak tahu tentang cintaku, Fara. Karena itu aku akan membuktikannya bagaimana cintaku itu padamu, walaupun kau sudah menikah. Biar waktu yang akan menimbang kekuatan cinta antara aku dan Mirza. Suatu hari nanti kau akan tahu dan mengerti..." ucap kak Roy dengan tatapan yang berubah tajam dan menjadi dingin.


"Aku akan selalu berada dekat dengan mu hingga hangatnya hembusan nafas ku pun dapat kau rasakan walau dengan mata terpejam. Sedekat itu kita..." ucapnya tanpa menatapku. "Kenapa kau lakukan semua ini padaku, Kak...?" ucapku dengan menatapnya lekat berharap menemukan jawaban pastinya. "Kak...? aku senang kau memanggilku demikian. Itu jauh lebih baik ketimbang tuan" ucapnya yang sesaat lalu berhasil menghentikan langkahnya. "Kenapa...?!" Teriakku lagi tanpa menghiraukan ucapannya. Ia pun menyunggingkan sebuah senyuman. Senyumann yang begitu dingin kurasa. "Karena aku mencintaimu. "Cinta ku, cinta yang berbeda" begitu ucapnya sambil berlalu menuruni anak tangga. Dan lagi-lagi tatapan dinginnya berhasil membuat langkahku surut. Tanganku cepat meraih lengan Bu Anna yang berdiri tak jauh dari ku.

__ADS_1


__ADS_2