Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 5. Semangat...!!


__ADS_3

Pukul tujuh pagi. Aku masih menatap langit biru dengan awan putih tipis yang menghiasinya. Mataku terpejam saat ada seberkas cahaya yang menerobos melalui jendela kamarku. Aku terhenyak saat pintu kamarku diketuk. "Siapa...?" tanyaku setengah teriak. "Bang David, Fara..." ucapnya dari balik pintu. "Ya, bang. Ada apa?" ucapku saat pintu kamar terbuka. "Sudah sarapan, belum?" ucapnya yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala. "Abang bawa bubur ayam" ucapnya lagi. Sumringah wajahku mendengar salah satu makanan kegemaran ku itu disebut. Dan benar saja satu mangkok bubur ayam sudah tersedia. Segera ku lahap bubur ayam tersebut. "Abang tidak sarapan?" tanyaku. "Sudah..." jawabnya singkat sambil menopang dagu dan menatapku yang tengah asyik menikmati menu sarapan pagi ku. "Sekolah mu, bagaimana Fara?" tanya bang David yang membuat aku menghentikan suapan ku. Aku menarik nafas begitu berat. Menandakan aku sedang merasakan hal yang begitu berat. "Kemungkinan Fara akan berhenti. Fara akan bekerja saja untuk menopang hidup" ucapku dengan pandangan menerawang jauh. "Gadis seusiamu akan sulit mencari kerja. Apalagi kau belum lulus SMA. Begini saja. Kau tetap melanjutkan sekolah. Aku yang akan menanggung semua biaya sekolahmu hingga lulus. Bagaimana?" ucapnya yang membuat mataku berkaca-kaca. "Ah, itu hanya akan menjadi beban bang David saja" ucapku sambil membetulkan posisi dudukku. "Tidak akan pernah menjadi bebanku,manis. Percayalah. Dan lagi ini untuk sementara waktu hingga kau benar-benar bisa mandiri. Oya, ngomong-ngomong soal mandiri. Mengapa tidak kau lanjutkan saja usaha nenek Merry?" ucap bang David sambil ikutan makan bubur ayam dari mangkukku. "Sudah menjadi rencana Fara, bang. Tapi Fara bingung harus memulai darimana dan bagaimana?" ucapku sambil merebut sendok dari tangan bang David. "Bagaimana jika dimulai dengan Fara sekolah lagi besok. Usaha kuenya dimulai saat libur sekolah nanti. Apalagi dua bulan kedepan akan ada ujian kenaikan kelas. Fara konsentrasi saja belajar menyiapkan ujian" ucap bang David lagi. Sungguh aku terenyuh mendengar setiap penuturannya. Belum kutemui orang sebaik bang David. Semoga orang baik selalu mendapat kebaikan. "Oya, untuk kebutuhan dua bulan kedepan nanti bang David yang coba memenuhinya" ucap David lagi. Meluncur sudah bulir bening dari mataku yang sejak tadi aku tahan. Aku terisak hingga tubuhku terguncang beberapa saat hingga aku berhasil menyusutnya. "Terima kasih ya. Abang sudah selalu membantu Fara dan juga nenek. Fara tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Abang" ucapku saat tangisku berhasil ku kendalikan. "Jika memang menurut Fara Abang ini baik, Fara hanya cukup mendoakan Abang saja. Doakan agar Abang selalu sehat dan dilapangkan rizkinya"ucap bang David sambil sesekali mengacak pucuk kepalaku. Aku tersenyum saja mendapati perlakuan tersebut.

__ADS_1


Pukul sepuluh siang. Aku mulai berkutat dengan peralatan dapurku. Mencoba meracik beberapa bahan menjadi masakan seperti yang nenek ajarkan. "Ah, nenek...." ucapku sambil menyeka bulir bening yang kembali meluncur saat mengingat nenek. "Fara....!" teriak Sherlly sambil memelukku dari belakang. Teriak girang aku mendapati kedatangan sahabatku ini. Kami pun berpelukan untuk beberapa waktu. "Kemana saja tiga hari tidak nongol" ucapku sambil mencubit hidung bangirnya. "Sakit gw, Ncess...," (Ncess \= princess) ucap Sherlly sambil mengamati masakan yang baru saja selesai aku buat. "Enak nieh, Ncess..." ucapnya lagi sambil tersenyum menatapku yang sibuk memasukkan sebagian masakan ke dalam rantang. "Untuk pak dokter.." ucapku yang membuat Sherlly meng-o panjang. Sejurus kemudian aku pun segera menghubungi bang David. "Nanti Fara ke rumah Abang ya. Fara bawa sayur dan lauknya untuk bang David dan bang Aditya" ucapku mengakhiri sambungan telepon. "Ayok Sher..." ucapku sambil menyambar rantang berisi makanan.

__ADS_1


Pukul sebelas lewat lima. Ku parkir scooter tepat di halaman rumah dimana kedua dokter muda itu tinggal. Belum lagi aku mengetuk pintu, terdengar obrolan dari dalam yang membuatku tertegun. "Jadi Fara perempuan yang membuat mu selalu menolak ku. Menolak semua bentuk perhatianku. Seorang bocah ingusan yang miskin yang tinggal sendirian. Perempuan seperti itu yang kau inginkan?" ucap suara seorang perempuan. "Ini tidak ada kaitannya dengan Fara. Sejak dahulu pun aku tidak pernah mencintaimu" ucap bang David. "Munafik kau David..." ucap perempuan itu lagi. Kini terdengar suara Isak yang tertahan. "Vid, Fara..." ucap bang Aditya seakan menyadari kehadiranku. Aku pun segera berlari ke scooter ku di iringi langkah Sherlly. "Fara tunggu...."Ucap bang David yang berlari ke arahku. "Jangan salah faham. Aku..." terhenti ucapan bang David karena ku potong. "Bang, Fara tidak apa-apa. Fara hanya tidak suka jika Fara dikaitkan dengan kelangsungan hubungan Abang dengan perempuan" ucapku sambil menatapnya. "Dia bukan siapa-siapa ku. Sungguh...." ucapnya yang tak ku hiraukan. Ku starter scooter ku dengan cepat. Ku lihat sepintas bang David mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Taraa.....this is it " ucap Sherlly menirukan salah satu chef di televisi yang sering kami tonton. "Silahkan Bu..." ucapku sambil menyodorkan piring. "Hemm...enak loh, Ra. Sungguh..." puji Bu Ratna sesaat setelah menikmati suapan pertamanya. "Ya, Ra. Enak banget. Mungkin setara dengan masakannya chef Fara Queen. Mungkin karena nama panggilannya sama juga ya" ucap Sherlly menggodaku. "Em, dasar semprul...." ucapku yang disambut tawa keduanya.

__ADS_1


Pukul satu lewat dua puluh menit. Kami masih bersantap siang yang diselingi canda dan tawa. Suapan ku terhenti saat ucapan salam terdengar dari arah pintu. Setengah berlari aku menghampiri pintu yang sedikit terbuka. "Bang David..." ucapku saat melihatnya berdiri di ambang pintu. "Mengantarkan ini. Terima kasih. Enak sekali. Dan ini..." ucapnya sambil menunjukkan rantang dan sekantong sayur mayur. Aku tersenyum. "Jadi bang David minta dimasakin lagi,nieh" ucapku. "Kalau berkenan. Please... Kan sekalian Fara masak buat sendiri juga" ucap bang David. Aku tersenyum. Aku mengerti sekali dengan maksud Bang David tersebut. Dia hanya ingin membantu dengan memberi bermacam sayuran kepadaku. Meminta untuk dimasakkan hanyalah sebuah modus saja terkait maksud yang sebenarnya. "Terima kasih ya, bang..." ucapku sambil menerima rantang dan kantong berisi sayuran tersebut. " Maaf juga tentang siang tadi. Sungguh dia bukan siapa siapa abang. Tanyalah dokter Aditya" ucapnya sambil menatapku. "Jangan difikirkan lagi, bang. Fara baik-baik saja" ucapku sambil tersenyum tipis. Tak lama kemudian ia pun pamit karena ia tugas jaga di puskesmas rawat inap malam nanti . Ku tatap kepergian bang David hingga ia menghilang di ujung gang rumahku. Bang David, sosok dokter muda berperawakan tinggi, tegap dengan tubuh yang atletis. Selain itu wajahnya pun tampan.Tapi yang lebih tampak pada dirinya adalah kebaikannya. Sosok lelaki idaman. Wajar saja jika banyak wanita yang menggilainya.

__ADS_1


__ADS_2