Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 34. Pernikahanku


__ADS_3

Antara percaya atau tidak atas satu keputusan yang sudah kuambil. Ya...aku bersedia menikah dengan kak Mirza hari ini juga. Tanpa persiapan apa pun. Aku tersenyum menyelamati diriku sendiri atas keputusan ku tersebut. Rasanya tak terbayangkan apa yang akan terjadi nanti. Satu keraguanku yang masih bergelayut di ujung hatiku adalah mampukah aku menjadi pendamping seperti yang ia inginkan? Apalagi dengan situasi dan kondisi ku saat ini. "Ya..Robb, tolong hamba-Mu ini. Berikan kekuatan kepadaku"ucapku lirih sambil mengusap wajahku perlahan.


Pukul sebelas lewat dua puluh menit. Aku berdiri menatap diriku pada sebuah cermin. "Mbak Fara, kami diperintahkan untuk membantu kesiapan mbak" ucap mbak Dita, seorang professional makeup artist. "Oya, mbak Dita. Silahkan..." ucapku sambil tersenyum. "Oya, aku tidak ingin makeup yang berlapis-lapis. Aku ingin yang sederhana saja" ucapku sambil tersenyum dan duduk pada sebuah kursi. "Baik, mbak. Saya mengerti" ucap mbak Dita tersenyum menatapku dan memulai aksinya.


Hanya butuh sepuluh menit aku bersiap-siap. Sehelai selendang menjuntai panjang melebihi tubuh dipadu dengan mahkota disematkan di kepalaku. Tak lupa seikat bunga pun menghiasi genggaman tanganku. Hampir meluncur air mata ini ketika sekali lagi aku menatap diri ku pada cermin. Tak terbayangkan jika hari ini aku akan melepas masa lajangku. Aku tertagun. Dalam hatiku kembali bertanya-tanya, mampukah aku menghilangkan ketakutan ku ketika harus berlaku sebagai istri sepenuhnya nanti? Entahlah...Namun aku berharap semua akan baik-baik saja.


Tak lama kemudian perlahan aku mulai menuruni anak tangga yang cukup panjang. Ada banyak pasang mata yang memperhatikan ku saat itu. sebuah uluran tangan pun Ayah berikan dan langsung kusambut dengan sukacita. Tampak sumringah wajah Ayah dihiasi senyuman dengan tatapan penuh bahagia. "Ini loh calon pengantinnya" ucap Mama Melissa yang menyambutku dan mempersilahkanku duduk tepat disebelah Kak Mirza yang sedari tadi menatapku tiada henti.


"Baik kita mulai saja. Ada waktu dua puluh menit sebelum adzan Dzuhur berkumandang" ucap Pak Burhan selaku petugas pencatat pernikahan. Berdegup hebat jantungku. Iramanya pun jadi tak menentu. Apalagi saat kalimat ijab dan qobul diucapkan. "Saya terima nikah dan kawinnya Olivia faradila Permana binti Permana Raharjo dengan mas kawin sebuah kalung emas 24 karat seberat 20 gram dibayar tunai" ucap kak Mirza begitu lancar penuh keyakinan. "Alhamdulillah...." ucap kami hampir bersamaan saat kata sah diucapkan para saksi. Sujud syukur pun mewarnai situasi saat itu. Tak lupa tengadah tangan kami bermunajat menguntai doa dan pengharapan kepada Tuhan 'Azza Wajalla.


Ku kecup punggung tangan lelaki yang telah menjadikanku pendamping hidupnya dengan takzim. Sebuah kalung warisan keluarga dilingkarkan pada leherku dan diakhiri dengan sebuah kecupan lembut pada keningku. Ada bulir bening yang kembali meluncur bebas. Namun kali ini adalah air mata bahagia. Pelukan nan erat pun ku terima terutama dari ayah, mami Vira dan mama Mellisa dengan penuh sukacita. Setibanya di hadapan bang David aku tertegun. Tak seperti dahulu bang David akan langsung merengkuh ku dalam pelukannya ataupun aku yang langsung menyandarkan kepala pada bahu kekarnya saat duka ku tak mampu ku tanggung sendiri. Hari ini berbeda. Ada keraguan yang bergelayut dihati setelah apa yang telah terjadi. "Selamat datang di keluarga kami" ucap bang David sedikit rikuh sambil mengusap lenganku. "Aku minta maaf atas kejadian tadi" ucap Bang David lagi. "Kejadian apa...?" kata Mikaela, istri bang David. Bang David tampak merengkuh Mikaela dan mengusap bahunya. Ia pun menyunggingkan senyuman tanpa berkata apa pun. Aku terdiam hanya sesekali menatapnya. "Fara sekarang sudah menjadi milikku. Dan bang David tidak bisa macam-macam lagi" bisik kak Mirza yang membuat bang David tersenyum kecut. "Fara...Fara sudah memaafkannya" ucapku sambil menatap bang David yang mulai tersenyum saat mendengar ucapan ku tersebut. "Terima kasih..." ucapnya sumringah. Sementara sebelah tangannya masih memeluk Mikaela. "Ada yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Mikaela lagi sambil menatapku. "Tidak ada mbak. Tadi hanya sebuah kesalahfahaman saja" ucap ku sambil tersenyum. "Benar hanya salah faham..." uvaap kak Mirza sambil memeluk ku dengan sebelah lengannya. Sementara matanya menatap lekat bang David.

__ADS_1


Pukul dua lewat sepuluh menit. Karib kerabat pun telah diantarkan kembali pulang. Tinggallah kami sekeluarga yang berkumpul dan berbincang saling mengutarakan kebahagiaan. "Terima kasih Nyonya Melissa atas semua kebaikannya. Semua yang nyonya lakukan sangat kami hargai. Entah bagaimana kami membalasnya..." ucap ayah sambil tersenyum. "Pak Permana jangan sungkan seperti itu. Wajar jika kami membantu, apalagi sekarang kita sudah resmi menjadi keluarga" ucap mama Melissa tersenyum sambil memelukku. "Mirza, Fara...apa rencana kalian? Em...maksud mama, kalian akan bermalam dimana malam ini?" ucap mama. "Mungkin malam ini di sini saja. Untuk selanjutnya belum kami bicarakan. Tapi Mirza ingin setelah ini kami akan tinggal di apartemen saja dahulu" ucap kak Mirza sambil tersenyum dan menatapku. "Tapi untuk beberapa waktu bisakah kita di rumah ayah dahulu ya? ucapku sambil tersenyum. "Baiklah. Bukan masalah, sayang..." ucap kak Mirza sambil tersenyum dan menatapku.


Pukul tujuh lewat dua puluh lima menit. Aku berdiri menatap langit yang dipenuhi bintang dengan bulan menggantung sempurna yang begitu terang. Ku lipat kedua lenganku di depan dada, sekedar mengurangi hawa dingin yang mulai menusuk. Pun demikian, aku tetap bertahan berdiri di luar menatap langit yang begitu indah. Walau gelap tak benderang tapi menenangkan. "Hei... di luar dingin loh, sayang..." ucap kak Mirza yang langsung mendekap ku dari belakang. "Tapi langit sedang indah,Kak. Lihatlah..." ucapku sambil menunjuk langit. "Kenapa aku harus menatap langit? Jika keindahannya saja ada di sini" ucap kak Mirza sambil mengecup lembut bahuku. "Gombal..." ucapku sambil mencubit lengannya yang mendekapku. Ia pun mengaduh karena perlakuanku tersebut, namun kemudian ia kembali tertawa. Rupanya sama halnya seperti aku yang terkadang rasa bahagia bisa mengalahkan rasa sakit.


Drrt...Drrt... Drrt..


Ponselku berpendar. Satu panggilan tertera pada layar ponselku. Kak Mirza pun melonggarkan dekapannya dan mengambil ponselku yang tergeletak pada meja. "Ya, ayah. Fara masih di Villa. Mama Melissa dan yang lainnya juga" ucapku sambil membalas tatapan kak Mirza. "Kak Mirza? Ini ada...Baik, Yah" ucapku sambil memberikan ponselku pada kak Mirza. Dan beberapa saat kemudian, keduanya sudah terlibat obrolan begitu serius. Entah apa yang diobrolkan aku tidak tahu karena kak Mirza berada jauh dari jangkauan pendengaranku.


"Wedang jahe nya, Nyonya..." ucap Bu Anna saat menyajikannya. "Terima kasih, Bu.." ucapku sambil tersenyum. Ku ajak Bu Anna untuk menyertai ku duduk pada sebuah kursi dan menatap langit yang begitu cerah malam ini. Kemudian ia pun menatap langit dan tersenyum. "Iya, Nya. Indah..." ucapnya. "Em, Nya...ibu senang sekali akhirnya Nyonya muda berkenan menikah dengan tuan muda" ucapnya kemudian. Aku hanya tersenyum sambil menatapnya dan mengeratkan dekapanku pada kedua lututku. "Perempuan yang tuan muda cintai hanya Nyonya Fara" ucapnya lagi. "Tahu dari mana kalau hanya saya yang ia cintai..." ucapku tertawa. "Ibu ini membersamainya sejak usianya beranjak dewasa. Semua hal, tuan muda ceritakan kepada saya, kecuali tentang cinta layaknya remaja. Hingga ia dewasa pun tidak pernah ia bercerita tentang hal tersebut. Ibu pernah menanyakannya berulang kali, namun tuan muda selalu menjawab tidak ada. Dan Nyonya besar saja menanyakannya kepada ibu, mungkin saja tuan muda bercerita. Namun setelah saya menceritakannya beliau makin khawatir" cerita Bu Anna yang ku simak sambil menatapnya. "Em, hingga tuan muda membawa nyonya muda ke apartemen nya saat itu. Barulah kami lega, Nya..." ucapnya sambil terkekeh. Aku tertawa mengerti dengan kekhawatiran yang dimaksud.


"Bu Anna, tolong saya dulu..." panggil mama Melissa. Bu Anna pun langsung beranjak sambil tersenyum lega dan sedikit membulatkan mata. "Permisi Tuan, Nyonya..." ucapnya sesaat sebelum berlalu. Aku dan kak Mirza pun mengangguk. Untuk sesaat kemudian kami saling berpandangan dan melempar senyuman. "Kemari, sayang..." ucap kak Mirza sambil berisyarat untuk duduk di sebelahnya. "Kakak saja, sini..." ucapku manja setengah menggodanya. "Astaga...." ucapnya sambil menggeser posisi duduknya. Aku pun membagi separuh selimut yang kupakai. Berdua dalam satu selimut. Kemudian ia pun melingkarkan lengannya pada bahuku. Spontan saja aku merebahkan kepalaku pada bahunya yang kekar. Wuih...ada rasa yang berbeda saat sebelah tangannya mengusap perlahan pucuk kepalaku atau mengecup lembut keningku. "Kamu bahagia, sayang..." ucapnya kemudian dengan mata yang menatap langit sesaat aku mendongak menatap wajah tampannya. "Bahagia sekali. Tapi masih saja ada kekhawatiran yang mengusik hati ini..." ucapku lirih. "Oya...?" ucap kak Mirza yang menggeser letak duduknya dan menatapku lekat sambil sedikit menaikkan alisnya sebagai sikap menunggu penjelasan ku berikutnya. Tapi aku justru menggelengkan kepala, tanda bahwa aku sendiri tidak mengetahui sebab kekhawatiran ku itu. "Dasar..." ucap kak Mirza sambil menarik hidungku. Aku pun mengaduh dan mengeluh manja atas perlakuannya tersebut.

__ADS_1


"Jangan suka membuat asumsi yang tidak-tidak. Aku tidak suka..." ucap kak Mirza sambil merapikan rambutnya yang sedikit panjang. Aku pun turut merapikan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. "Em, esok pagi aku akan ke kampus setelah itu ke kantor. Fara ikut ya..." ucapnya yang membuat aku menegakkan tubuh dan menatap wajahnya. "Serius...Fara iku" ucapku kemudian. "Ya, sayang... Biar kamu tahu bagaimana aktifitasku. Sekalian menyemangati ku, esok pengajuan skripsiku" ucapnya. Lagi-lagi tangannya mengacak pucuk kepalaku. Aku pun meng-o singkat. "Okey....Jam berapa?" tanyaku sambil meregangkan tubuh. "Jam tujuh kita berangkat" ucap kak Mirza. "Okey..." ucapku singkat dan lagi-lagi aku meregangkan tubuh. Namun kali ini aku sengaja mengenai dagu kak Mirza hingga kepalanya mendongak ke belakang. Setelah itu aku berlari. Sadar dikerjai, kak Mirza pun mengejar ku yang sudah terlebih dahulu sampai di ambang pintu. "O...mengerjaiku ya! Awas ya...!" ucapnya yang terus mengejar ku hingga keruangan dimana mama Melissa, bang David dan Mikaela berada. "Ampun, Kak...Maaf, Kak!" ucapku di sela tawa riang ku.


"Ada apa sih, kalian ini...?" ucap mama Melissa. Mendengar itu aku langsung menghentikan langkah cepat ku dan duduk tepat di sebelah mama. Seakan mencari perlindungan aku pun memeluk mama. "Mirza...." ucap mama saat kak Mirza masih saja berusaha menarikku. "Ya, Ma..." ucap kak Mirza yang langsung duduk pada kursi tak jauh dariku. "Awas ya..." ucap kak Mirza setengah berbisik sambil mengangkat jari telunjuknya. "Mirza..." ucap mama Melissa lagi yang tentu saja membuat kami terkekeh. "Rasain..." ucapku dengan mimik wajah yang meledeknya. "Fara...." ucap mama Melissa. "Ya, Ma" ucapku salah tingkah. Melihat situasi tersebut bang David pun tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Lucu sekali sih kalian ini...Buat iri saja" ucap mbak Mikaela menatap aku dan kak Mirza bergantian. "Tuh Bang, mbak Mikaela curhat" ucap kak Mirza tertawa. "Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Kalau Mbak mu ini tipe serius mana bisa diperlakukan seperti Fara yang memang lucu dan lugu. Kalau aku memperlakukannya seperti itu bisa-bisa patah tangan nanti" ucap bang David. "Emang mbak Mikaela seperti itu. Lah manis gitu" ucapku yang diacungi ibu jari oleh mbak Mikaela. "Ya, mbak mu seperti itu. Abang ja kalah kalau harus beradu jurus dengannya" ucap bang David. "O...maksudnya itu" ucapku sambil menatap kak Mirza yang tersenyum menatapku. "Tapi enak dong...kalau mbak Mikaela bisa bela diri. Jadi bang David ga terlalu repot kalau ada orang yang berniat menjahati" ucapku. "Tunggu...tunggu...tunggu. Berhenti pada kata terlalu repot. Jadi kamu kira aku akan direpotkan olehmu, secara kamu tidak bisa bela diri?" ucap kak Mirza yang menatapku. "Yah...mulai lagi" ucap bang David. Aku tersenyum sambil memeluk lengan mama. "Sini dijitak..." ucap kak Mirza sambil menggeser letak duduknya. Belum lagi kak Mirza mendekat mama sudah pasang badan. "Berani macam-macam, mama yang nanti menjitak kamu Mirza..." ucap mama Melissa. "O...sudah punya pembela ya" ucap kak Mirza berdiri. "Eit...tunggu. Aku juga siap membala" ucap bang David sambil berdiri menghalangi langkah kak Mirza. "Ak...aku juga siap" ucap mbak Mikaela turut berdiri yang membuat mama, kak Mirza dan bang David saling pandang. "Ah, mainnya keroyokan" ucap kak Mirza sambil duduk kembali. Aku pun bersorak dan berangkulan lah kami berempat. Aku, mama Melissa, bang David dan mbak Mikaela.


Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Rasa kantuk mulai menyerang kami satu persatu. Saat hendak beranjak mama menyarankan untuk menginap di villa semalam lagi. "Bagaimana jika kita menginap semalam lagi? Esok malam kita buat acara. Bagaimana?" ucap mama Melissa. Kami pun saling menatap. "Bagi Fara, ucapan mama adalah perintah" ucapku tersenyum. "Seperti ucapan Fara, ucapan mama bagai perintah untuk ku, jadi kita buat acara esok malam" ucap kak Mirza sambil merengkuh bahu ku. "Berat...." ucapku sambil melepaskan tangannya dan berlari menaiki tangga. "O...awas ya" ucap kak Mirza berlari mengikuti ku menaiki tangga. "Hati-hati, sayang..." ucap mama setengah teriak sambil menggelengkan kepalanya.


Pukul sembilam lewat tiga puluh menit. Aku mengguyur tubuhku sejenak dengan air hangat. Sudah menjadi kebiasaan ku yang membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum tidur apalagi setelah melakukan aktifitas sebelumnya. "Sayang...cepatlah. Aku sudah tidak bisa lama lagi menahan pipis" ucap kak Mirza sambil mengetuk pintu kamar mandi. Aku pun segara menyudahi ritual mandiku. "Cerewet..." ucapku saat membuka pintu. Kak Mirza pun segera menerobos walaupun aku masih berdiri diambang pintu. "Kak Mirza...!" ucapku kesal saat tubuh hampir terjatuh. "Maaf...!" ucapnya dari dalam kamar mandi.


Aku cemberut saat kak Mirza keluar kamar mandi. Tak ku tatap sedikitpun wajah tampannya. Bahkan pandanganku pun segera Kualihkan pada sisi lain. "Marah ya..."ucap kak Mirza sambil menolakku perlahan dengan sisi tubuhnya. Aku diam saja. Berpura-pura marah. Dalam hati aku tertawa, apalagi saat melihat sejenak reaksi wajahnya. "Maaf...aku sudah tidak tahan" ucapnya sambil merengkuh tubuhku. Berulangkali ia mengutarakan maaf kepadaku. Tak tahan dengan situasi yang ada aku pun tertawa kecil. Sadar dikerjai kak Mirza pun menyarangkan jemarinya pada tubuhku. Gelitiknya membuatku makin tertawa sambil berusaha menghindarinya. "Rasakan... Sudah mengerjai suaminya" ucap kak Mirza sambil terus menyarangkan jemarinya. Aku menggeliat hebat. Hingga di suatu waktu kak Mirza menghentikan polahnya. Matanya menatapku lekat dan sebagian tubuhnya menghimpit tubuhku. Nafasnya memburu tak beraturan. Aku tak berdaya menolaknya. Apalagi saat ia mulai merasai bibirku. Jantungku berdegup hebat. Iramanya pun tak karuan. Terlebih saat tangannya mulai menelusuri lekuk tubuhku. Serasa melayang jiwa ini atas perlakuannya tersebut. Pun demikian, tiba-tiba saja ia menghentikan perlakuannya tersebut. "Tidak malam ini,sayang. Aku lelah. Engkau pun pasti demikian..." ucap kak Mirza yang kemudian menghempaskan tubuhnya di sebelahku. Matanya terpejam dengan dada yang naik-turun cepat. Kemudian kak Mirza pun berlalu meninggalkanku begitu saja. Aku termangu sambil menggigit bibir bawahku saat menatap punggung kak Mirza yang langsung menghambur ke kamar mandi.


Aku terdiam dan mencoba memaknai peristiwa yang baru saja aku alami. "Mungkin benar ia sedang lelah. Apalagi esok aktifitasnya akan padat" aku membatin.

__ADS_1


Lama kutatap pintu kamar mandi. Namun kak Mirza belum keluar juga. "Maaf...kita tunda dahulu ya. Aku teringat ada pekerjaan yang harus diselesaikan" ucapnya sambil memelukku. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, kak Mirza pun berlalu. Ia duduk pada sofa dan mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Ia begitu fokus pada layar laptop di hadapannya. Sementara itu, aku segera merapikan pakaian yang sudah setengah terbuka. Ku rebahkan tubuh dan berusaha memejamkan mata. Fikiranku mengembara entah kemana....


__ADS_2