Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 55. Terbakarnya Cafe dan Toko


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, kak Olivia...?" ucap seorang laki-laki yang berdiri di hadapanku. Aku pun spontan mendongakkan kepala menatap wajahnya. Berdiri tegak sambil mengumbar senyum. Matanya teduh menyimpan ketenangan. "Bang...." ucapku terkejut saat mengetahui si empunya suara. "David..." ucapnya melanjutkan ucapanku, tepatnya memotong ucapanku. Aku terkesiap kedatangannya hingga aku berdiri. Juice yang sejak tadi sedang ku nikmati pun tersenggol hingga tumpah membasahi sebagian rok ku. Mataku tak lepas menatapnya. Seorang dokter muda pemilik rumah sakit terbesar di kota dengan sejumlah prestasi. Terlahir dari orangtua konglomerat. Ia tersenyum lebar melihat polahku tersebut. "Tetap sama tidak berubah" ucapnya. Aku nyengir cengengesan.


"Aku mendapat kabar tentangmu" ucapnya sambil mengacak pucuk kepalaku. Dari kejauhan kulihat Roy yang menyembunyikan tubuhnya di antara kerumunan pengunjung cafe saat melihat bang David. "Kabar apa dan dari siapa?" tanyaku sambil mengajaknya ke office. Ia tersenyum menatapku. "Setelah mendengar kabar tentangmu, aku tidak sabar untuk datang menemui mu. Aku ingin tahu keadaanmu?" ucapnya sambil terus menatap ku. "Pulanglah, Fara...Kami semua mengkhawatirkan mu" ucapnya lagi.


"Fara baik-baik saja, Bang" ucapku sambil duduk pada sofa maroon di ikuti bang David. "Em, mungkin kabar yang Abang maksud adalah saat Fara terluka, itu memang benar. Tapi Fara tegaskan lagi bahwa Fara sudah baik-baik saja" ucapku tersenyum sambil memainkan ujung kerudungku. "Pulang...?" tanya bang David singkat, tangannya terlipat di depan dada. "Pulang? Kemana?" Selorohku yang ditanggapi bang David dengan sedikit membulatkan matanya. "Em, untuk pulang mungkin Fara tidak bisa. Fara meminta kak Mirza menceraikan Fara, Bang..." ucapku. Mataku tak sanggup menatap matanya yang dalam menatap ku. "Cerai...Ayolah, aku rasa itu tak kan pernah terjadi. Mirza begitu mencintaimu, Fara" ucap bang David. Aku menghela nafas panjang dengan berat. "Entahlah...Tapi yang pasti aku tengah menanti keputusan kak Mirza" ucapku. "Bagaimana jika keputusan Mirza adalah tidak akan pernah menceraikan mu?" ucap bang David. "Apa alasannya ia tidak ingin menceraikan ku, sementara aku sudah tidak mampu bertahan bersamanya" ucapku yang membuat bang David tertegun. Ia semakin lekat menatapku.


"Sebulat apa tekad mu itu?" ucap bang David. "Aku tidak bisa merebut tawa dari seorang bocah yang sedang bermain di buaian kak Mirza. Dan lagi istri pertama kak Mirza tidaklah semanis yang terlihat. Maaf bukan aku memfitnah. Tapi dari semua perkataannya yang terlontar aku jadi mengerti bagaimana ia sesungguhnya. Itupun jika kalian semua menyadarinya" ucapku ketus. Ku lihat bang David menghela nafas panjang dengan berat. Sementara matanya tak lepas menatapku dengan lekat. Aku semakin rikuh diperlakukan demikian. Jelas sekali kerikuhanku, tanganku saja terus memainkan ujung kerudungku. "Aku tidak berbagi, Bang. Apalagi istri pertama kak Mirza pun demikian. Daripada aku menyiksa diri dengan menerima semua nyinyirannya yang sepertinya tak kan pernah habis, lebih baik mengamankan hati dan jiwaku" ucapku panjang tanpa menatapnya. Pun demikian, bang David tetap mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. "Aku mengerti..." ucap bang David kemudian.


"Suara keributan apa itu?" ucapku saat lamat-lamat ku dengar hiruk pikuk keriuhan. "Nyonya..." ucap Roy yang membuka pintu dengan keras. Nafasnya memburu penuh kekhawatiran. Tubuhnya sudah Bermandi peluh. "Kak Roy...?!" ucap bang David terkejut. Ia hingga berdiri saat melihat kehadiran Roy. "Tidak bisa di jelaskan sekarang. Panjang ceritanya. Sekarang kita harus segera keluar dari tempat ini" ucapnya. "Kenapa..?!" ucapku setengah teriak. "Lantai bawah sudah terbakar, Nyonya...Cepatlah!" ucap Roy yang dengan cepat menarik lenganku. "Tunggu..." ucapku sambil menarik laci dan memasukkan uang ke dalam tasku. "Ini hak pegawaiku..." ucapku sesaat sebelum berlalu diantara langkah cepat kedua lelaki kakak-beradik itu. Cukup cepat aku melangkah mengikuti keduanya. Dan Api mulai menyambar tak tentu arah, menutup jalan keluar untuk kami. Asapnya pun mulai mengisi ruangan pada lantai dua dimana kami berada. Aku terbatuk-batuk karena asap yang terus mengisi ruangan. Ku tutup mulutku dengan kedua tanganku sambil melangkah cepat. "Kak Olivia..." ucap Dara pasi sambil sesekali terbatuk-batuk. "Kenapa masih di sini?! Ayo cepat..!" ucap Roy yang berusaha mencari jalan untuk kami. "Tangga darurat..." ucapku saat teringat. Kemudian aku bergegas menuju tangga darurat berada diikuti yang lainnya. Langkahku sedikit terganggu karena nyeri pada lukaku. Bergantian Roy dan bang David melindungi ku. Mungkin seperti ini rasanya memiliki saudara laki-laki. Saudara yang akan selalu melindungi ku.

__ADS_1


Hingga di parkiran suasana sangat kacau. Api makin membesar membakar segala yang ada terutama barang-barang di lantai dasar. Asap hitam mulai membubung tinggi. Pemadam kebakaran rupanya mulai berdatangan. Kami pun diminta menjauh dari lokasi. "Danu... check semua pegawai. Sudah lengkapkah?!" teriak ku sambil "Rio...Adakah pelanggan kita yang terluka?!" ucapku pada Rio yang langsung dijawabnya bahwa semua pelanggan baik toko maupun cafe tidak ada yang terluka. "Alhamdulillah...." ucapku lega. Mataku kembali menatap bangunan toko dan cafe lagi. Menatap segala barang pada toko yang dilalap api. Pilu rasanya melihat hasil kerja keras ku bersama anak-anak jalanan sedang dilalap api. "Lengkap, Kak.. Semua ada di sini" ucap Danu dengan nafas memburu. Ku tatap satu-satu wajah pegawaiku yang tampak pasi. Wajah yang semula penuh harapan, kini tampak lesu tak bergairah. Makin terenyuh aku melihatnya saat ada diantaranya yang menangis pilu sama hal seperti aku. Sementara itu aku yang berdiri di antara bang David yang ada di belakangku dan Roy yang berdiri dan begitu siaga di depanku terus menatapi toko yang makin hebat di lalap api. "Semoga tidak sampai lantai dua" gumamku. Sudah hampir dua jam, namun belum ada tanda-tanda api akan padam. Mendadak aku merasa luka di lenganku terasa begitu perih. Mungkin karena ada banyak pergerakan tadi. Aku pun mengaduh sambil merabanya. Astaga...ternyata ada darah yang kembali menetes dari luka di lenganku. Memanglah dibanding luka pada perutku justru luka pada lenganku lah yang lebih dalam dan lebih panjang. Kemudian kepalaku terasa begitu berat. Pandanganku menjadi pudar. Lama-lama benar-benar menghitam dan akhirnya tiada rasa lagi. Aku lunglai. Entah siapa yang menolongku di situasi saat ini. Terakhir ku ingat pegawaiku histeris melihat kondisiku.


Suasana begitu sunyi. Hanya tiktok jarum jam di dinding yang terdengar. Juga suara binatang malam yang makin mengisyaratkan bahwa hari sudah semakin malam. Hawa dingin pun menerobos sela jendela membuatku sedikit gigil. Perlahan aku membuka mata. Menatap seisi ruangan. Ini adalah ruang kamarku. Aku ingat betul. "Bang David..." ucapku saat mendapatinya tengah duduk pada kursi tak jauh dariku. "Hei...sudah bangun. Bagaimana sudah enakan?" ucap bang David sambil mendekatkan posisi duduknya. "Sudah, Bang..." ucapku sambil membetulkan posisi tubuhku. Ku sandarkan tubuhku pada sandaran tempat tidur dibantu bang David. "Aku mendengar bahwa toko dan cafe ku sengaja dibakar. Siapakah yang tega melakukannya?" ucapku hampir menangis. "Sstt...jangan memikirkan hal seperti itu dahulu. Fokus pada kesehatanmu, sayang" ucap bang David sambil mengusap pucuk kepalaku perlahan. "Harus, Bang. Bagaimana dengan pegawaiku yang anak-anak jalanan itu? Baru sekejap mereka memperoleh kepercayaan diri kini harus kehilangan lagi" ucapku. Dan aku menangis. "Jika kau lemah, mereka pun akan lemah. Namun sebaliknya jika kau kuat maka mereka pun akan kuat" ucap bang David sambil berdiri menatap keluar jendela. Aku penasaran apa yang ia tatap. Aku pun akhirnya turut berdiri dekat jendela. Aku terkesima, hampir tak percaya dengan apa yang ku lihat. Kuperkirakan hampir seluruh pegawaiku duduk melingkar. Mereka tengah asyik berbincang dengan Roy. Wajah mereka pun tampak serius menyimak apa yang diutarakan Roy sepertinya. "Apa yang mereka lakukan?" ucapku meminta penjelasan pada bang David.


"Jika Fara kuat berjalan, akan jauh lebih baik jika Fara menemui mereka?" ucap bang David. Aku pun mengangguk. Langkahku begitu hati-hati beriringan dengan bang David. "Kak Olivia..." ucap beberapa pegawai hampir bersamaan yang sumringah mendapati kehadiranku. Aku pun tersenyum. Mataku hampir menatapi pegawaiku satu-satu. "Adik-adik ku, saudaraku... " ucapku memulai pembicaraan. Ada getar yang tak dapat ku sembunyikan. "Seperti yang kita ketahui bahwa ada peristiwa yang saya dan kita semua alami. Begitu beruntun. Terakhir toko dan cafe, baru saja terjadi. Tempat usaha kita, tempat kita mencari berkah hangus dilalap api. Tentu kita semua sedih atas hal tersebut. Tapi bagi saya, Olivia Faradilla bukan hanya sekali terjatuh, tapi berkali-kali. Namun bagi saya tak penting berapa kali jatuh. Karena yang paling penting adalah bagaimana bangkit" ucapku sedikit berapi. "Janganlah pernah menyerah ketika kita masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir sampai kita berhenti mencoba" ucapku lagi.


"Saat kita masih diberi kesempatan bangun di pagi hari, itu berarti Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk melakukan pekerjaan yang harus kita lakukan, maka jangan menyerah untuk terus berusaha agar mendapatkan yang terbaik" ucap Roy dengan menegakkan tubuh. Matanya menatap sendu. Sedikit terkejut saat mendengar ucapan bijaknya tersebut. Seorang Roy yang pernah berkecimpung dalam dunia abu-abu mau berbicara menyebut nama Tuhan.


"Biarkan kebencian menghancurkan fisik kita, tapi hati kita akan terus dibasuh oleh kasih sayang dan semangat. Karena upaya kita atas usaha kita adalah untuk mendapat berkah sudah teracik hebat yaitu doa dan kerja keras" ucapku. Entah mengapa air mataku kembali mengalir. Begitu pun dengan segenap pegawai yang ada. Isaknya mengisi ruang di halaman rumah ku. "Baik. Jika demikian, kita berdoa dan bermunajat kepada Allah" ucap bang David yang langsung mengimami doa malam itu. Ada kesyahduan yang membahana malam itu. Pun ada semangat yang kembali menguat mengisi ruang hati. Ini adalah doa dan pengharapan yang memberikan kekuatan pada yang lemah, membuat yang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian. Aku yakin kekuatan doa akan mengubah yang mustahil jadi mustajab. "Aamiin..." ucap kami hampir bersamaan diakhir doa malam ini.

__ADS_1


"Esok kita beristirahat dahulu di rumah masing-masing. Lusa kita bertemu lagi di toko kita" ucapku. "Kak Olivia, bagaimana jika esok saja kita ke toko. Sebab seingat saya cafe tidaklah terbakar sepenuhnya. Malam ini pun kami akan ke cafe melihat situasi dan kondisi cafe" ucap Rio. "MasyaAllah...baiklah jika demikian" ucapku sambil mengurai senyum. Ada keharuan yang mengisi ruang hati dan jiwaku saat melihat semangat pada Rio dan lainnya.


Pukul sembilan lewat lima belas menit. Para pegawai mulai meninggalkan halaman rumah. Sebagian kembali ke rumah masing-masing. Sebagian lagi menuju toko. Dan Roy sekali lagi membuatku terkesiap. Ia menatapku dan kemudian tersenyum. "Em, Nyonya. Saya akan ke toko dahulu. Mihat situasi di sana. David, saya titip Nyonya Fara. Jangan tinggalkan ia sedikitpun. Jangan lengah, David" ucap Roy begitu serius. "Ya, aku mengerti" ucap bang David sambil tersenyum dan menatap Roy. Setelah itu ia pun berlalu. Ku tatap punggungnya dengan penuh tanda tanya. Kemudian Roy pun mengendarai mobil sport hitam miliknya. "Kenapa...?" tanya bang David sambil menatapku. "Aku gagal faham dengan semua apa yang menjadi pilihan kak Roy. Dengan apa yang sudah ia lakukan untuk ku saat ini. Aku juga masih bertanya-tanya, apakah ada maksud terselubung lainnya dari apa yang sudah ia lakukan?" ucapku sambil menghela nafas panjang. "Aku pun hampir tidak percaya saat melihatnya di cafe sore tadi. Tapi menurutku apa salahnya mempercayainya terlepas pada apa yang sudah pernah ia lakukan pada mu" ucap bang David yang mengekori langkahku menuju sofa berwarna maroon.


"Masuk..."ucap bang David agak sedikit mendorong tubuhku saat masih di ambang pintu. Ia pun segera menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia menatap keluar jendela. Ia pun berisyarat agar aku diam tak bersuara. Langkah bang David pun begitu cepat menuju ruang belakang. Di tangannya tergenggam pemukul bola kasti lama ku yang sering aku mainkan dahulu saat berkunjung ke rumah nenek. Sementara mataku mengikuti setiap gerak-gerik bang David yang begitu sigap bak pemain film action yang biasa tayang di bioskop atau pun televisi. Lama ia berada di ruang belakang. Entah apa yang ia lakukan. Ada kekhawatiran yang menelusup di ujung hati ku saat sosoknya belum daapt ditangkap mata.


Tak lama kemudian, bang David pun kembali. Langkahnya sudah santai dengan wajah datar tanpa ekspresi. Disandangnya pada bahu pemukul bola kasti lama ku itu. Sementara sebelah tangannya ia masukkan dalam kantung celananya. Namun saat melihat ku berdiri mematung dengan wajah khawatir, ia justru tersenyum. "Sudah menjauh. Mungkin ia kangen padamu, karena ia datang berkunjung" ucapnya sambil meletakkan pemukul bola kasti lamaku itu tak jauh darinya. Kemudian ia duduk tak jauh dariku. Matanya lagi-lagi menatapku begitu lekat. "Kangen? Maksud bang David...?" tanyaku dengan penuh penasaran. "Tidak perlu difikirkan. Nanti jika datang lagi, aku yang akan menghadapinya" ucapnya sambil menyeruput teh yang sejak tadi belum sempat ia nikmati. "Jangan suka bercanda..." ucapku sambil sedikit menggeser posisi duduk ku dekat padanya. Melihat itu bang David pun tergelak. Aku manyun dan enggan menatapnya. "Bukan saja aku, tapi Mirza dan kak Roy mengakui bahwa dekat denganmu itu terasa nano-nano" ucapnya di sela gelaknya. "Apaan sih, Bang..." ucapku yang masih saja manyun. "Kamu tahu kan baik aku, Mirza ataupun Roy masing-masing dari kami sangat mencintaimu. Kami tiga bersaudara yang menggilai seorang gadis ingusan saat itu" ucap bang David sambil mengacak pucuk kepalaku dan tersenyum.


"Siapa itu...!" teriak bang David. Secepat-cepatnya ia pun langsung berdiri dan membuka pintu. "Tutup dan kunci..." ucapnya sesaat sebelum ia mengejar sebuah kelebatan bayangan di balik rimbunnya bunga perdu di sudut halaman. Nafasku memburu menahan kehawatiran dan ketakutanku. "Ya, Robb...tolong hamba" ucapku lirih dengan tubuh sedikit gemetar.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2