Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 16. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Pukul sepuluh lewat tujuh menit. Ini adalah malam ketiga sejak kepulangan tuan Darius dari rumah sakit. Semua menjadi berbeda sejak itu, terutama sejak mantan istri Tuan Darius lebih banyak diam dan jarang menemui ku. Suatu ketika ia datang menemui ku dalam keadaan mabuk berat. "Fara...." ucapnya sambil mendekatiku. Jalannya terhuyung karena pengaruh minuman keras. Pun demikian tatapannya bak singa lapar mengintai mangsa. Tangannya mulai menggapai tubuhku. Sekuat tenaga aku menghindari nya. Kemudian aku berlari dan mengunci pintu diri dalam kamar mandi. Aku terisak. "Fara..." panggil tuan Darius. Suaranya semakin membuatku bergidik. "Fara..." panggilnya lagi. Kali ini sambil menggedor pintu. Tak ingin mendengar panggilan tersebut aku pun segera menghidupkan shower dan membiarkan tubuhku basah di bawahnya. Bukan tanpa alasan aku membiarkan air mengguyur tubuhku malam ini. Aku ingin menghilangkan sisa-sisa tangan tuan Darius di tubuhku. Tangan kekar itu pernah menggerayangi tubuhku. Aku menangis sejadinya mengingat kejadian tersebut. Ku peluk kedua lutut ku dengan erat. Masih dalam tangis frustasi ku saat pintu di ketuk. "Nyonya....Nyonya..." panggil pak Wibowo. Aku yakin itu dia. Segera ku buka pintu dengan tubuh yang menggigil. "Nyonya tidak apa-apa?" ucap pak Wibowo cemas. "Sebentar Nyonya..." ucapnya lagi dan membiarkan aku berdiri di ambang pintu kamar mandi. Tak lama ia pun membawa handuk dan pakaian ganti untuknya. "Ini Nyonya..." ucapnya sambil menyodorkan handuk dan pakaian ganti yang ia bawa. Dengan tangan gemetar aku menerimanya dan kembali menutup pintu kamar mandi.


Pukul sebelas lewat lima puluh menit. Ku lihat pak Wibowo duduk terpekur pada sofa di sudut ruangan sesaat setelah aku keluar kamar mandi. Matanya menatap keluar jendela yang ia buka sedikit. Tatapan kosong karena mungkin fikirannya sedang terbang entah kemana. "Pak Wibowo...." panggilku yang berhasil membuyarkan lamunannya. "Nyonya...."ucapnya sambil mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia pun tersenyum. Entah apa makna senyumnya itu. "Apa Nyonya baik-baik saja? Apakah tuan berhasil....." ucapnya terhenti. "Saya tidak tahu apakah saya baik-baik saja atau tidak, Pak" ucapku sambil menghela nafas panjang. "Tapi malam ini Allah kembali menyelamatkan saya. Tuan tidak sampai menjamah tubuh saya lagi" ucapku lagi. "Syukurlah nyonya...Saya khawatir, sebab tuan datang dalam keadaan mabuk" ucapnya lagi. "Khawatir? Saya tidak mengerti maksud, bapak?" Ucapku. "Saya pun seorang ayah, Nyonya. Apalagi saat melihat Nyonya. Saya teringat anak perempuan saya" ucapnya. Matanya berubah sendu saat menatapku. "Nyonya tahu, sebenarnya mantan istri tuan Darius itu perempuan baik. Kedatangannya bukanlah suatu kebetulan. Saya yang memberitahukan setiap tuan akan menyakiti nyonya" ucapnya yang membuat aku tertegun. "Ia mencoba melindungi Nyonya. Ya, mungkin perlakuanku kasar terhadap Nyonya. Namun semua itu ia lakukan sekedar sandiwara. Setiap ia melakukan hal tersebut pada Nyonya ia selalu menanyakan keadaan Nyonya. Apa kah Nyonya baik-baik saja. Apakah Nyonya terluka. Semua ia tanyakan..." ceritanya semakin membuatkan tertegun dan hampir gagal faham.

__ADS_1


"Jika Nyonya itu begitu baik. Lalu bapak ini orang macam apa" ucapku sambil menatapnya. "Saya hanya lelaki gagal yang mencoba bangkit. Dua tahun lalu semua usaha keluarga saya hancur tak bersisa. Bersamaan itu hancur juga harga diri saya. Dan tuan Darius yang menolong saya dari segi finansial. Sementara kekuatan saya ada pada seorang perempuan dari masa lalu saya. Perempuan yang amat saya cintai. Perempuan yang baru saya temui kembali. Istri pertama saya. Dia kekuatan dan juga kelemahan saya. Perempuan yang menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan saya" ucapnya pilu. Sesekali tangannya mengusap pipinya yang mulai basah. Aku turut terhanyut dengan ceritanya tersebut. "Saat nafas terakhirnya, ia menitipkan sebuah nama. Ia adalah putri kami. Karena itu saya sempat mencarinya ke kota B, seperti petunjuknya. Sialnya saat itu saya menabrak seorang gadis penjual kue yang namanya sama persis dengan putri saya. Namun saya hilang kontak karena ponsel saya rusak" ucapnya membuat aku terkejut. Ceritanya sama persis seperti yang ku alami. "Apakah ia ayahku? Tapi nama ayahku bukan Wibowo. Ah, mungkin hanya sama cerita saja" ucapku dalam hati. Tapi aku penasaran. "Pak Wibowo...Apa itu nama bapak?" tanyaku menyelidik. "Bukan. Nama saya Permana" ucapnya.


Deg...

__ADS_1


Serasa berhenti jantung ini mendengar pengakuannya. "Apakah nama istri bapak... Cia. Felicia...?" tanyaku yang membuatnya tersentak. "Benar. Darimana Nyonya tahu?" tanyanya penuh penasaran. "Apakah putri bapak itu Olivia Faradilla Permana?" ucapku dengan suara bergetar. Jika putrinya adalah dengan nama yang ku sebut, maka benar aku lah putri nya. "Benar...Mengapa Nyonya tahu semua itu" ucapnya sambil mendekatiku. "Karena aku adalah Olivia Faradilla Permana, Felicia amah ku dan Permana adalah ayahku" ucapku dengan suara bergetar dan tubuh yang hampir sulit untuk ditegakkan. Langkah pak Wibowo terhenti saat mendengar pengakuan ku. Matanya menatapku penuh selidik. "Aku tinggal bersama Nenek Merry" ucapku lirih. "Fara...."ucapnya seakan tak percaya. Namun demikian ia tetap melangkahkan kaki dan mendekap ku erat. Berurai air mata pada pertemuan malam ini. Pertemuan yang tak direncanakan sama sekali. Tapi aku yakin Allah lah yang sudah mentakdirkan kami bertemu. "Ayah..." ucapku lirih sambil terus memeluknya. Sosok ayah yang selama ini ku rindukan.


Pukul dua lewat lima menit. Ku hempaskan tubuhku pada kursi panjang berwarna maroon. Mata ku menatap seisi ruangan yang tampak megah dengan ornamen modern klasik. "Sekarang apa rencana mu, Permana?" Tanya Tante Vira. "Entahlah. Setelah mengetahui Fara adalah anakku, mungkin aku ingin pergi bersamanya memulai hidup baru" ucap ayah sambil memeluk ku dengan sebelah tangannya. "Apa Darius tidak akan curiga?" ucap Tante Vira. "Em, bisakah kau palsukan kematian ku?" ucap ayah. "Aku tidak mungkin meninggalkan putri ku lagi" ucapnya. "Memalsukan kematian ya...." ucapnya sambil mengangguk-angguk seakan ia sedang berfikir keras. "Bisa..." ucapnya kemudian sambil tersenyum. "Aku percayakan padamu semuanya. Terima kasih ya..." ucap ayah yang masih memelukku dengan sebelah tangannya. "Lalu setelah kau bebas kau akan kemana?" ucap Tante Vira sambil menyeruput teh di meja. Tampak ayah menghela nafas panjang. "Kita pulang ke rumah lama kita saja, Yah?" ucapku tiba-tiba memecah keheningan. Ayah tampak menatapku lama dan akhirnya tersenyum. "Baiklah..." ucapnya sambil tersenyum sumringah dan mengeratkan dekapannya. "Awali dengan mengganti ponsel dan nomor kontak mu" ucap Tante Vira sambil melempar sebuah ponsel yang baru saja ia ambil dari etalase. "Terima kasih ya..." ucap ayah sambil meraih ponsel tersebut. "Oya, cukur jambang mu agar penampilanmu berbeda. Dan ini untuk Fara..."ucap Tante Vira yang sekali lagi menyodorkan ponsel kepadaku. Sedikit ragu aku pun meraihnya.

__ADS_1


Pukul empat lewat lima menit. Menjelang subuh. Aku sudah berada dalam mobil. "Terima kasih untuk segalanya..." ucap ayah kepada Tante Vira. "Tak perlu di fikirkan. Oya, norek mu masih yang lama kan? Aku tf ya untuk Fara..." ucapnya lagi sambil melambaikan tangan. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan yang tampak sedikit basah karena rintik hujan yang baru saja menyapa bumi. Ku tatap wajah ayah yang kini tampak bersih dari bulu halus yang kemarin menumbuhi wajahnya. "Kenapa, sayang. Menatap ayah seperti itu?" ucap ayah. "Fara teringat Amah, Yah..." ucapku dengan mata berkaca. Ada bulir bening yang sejak tadi mengambang dan siap meluncur. "Nanti jika keadaan membaik kita akan mengunjungi pusara nya" ucap ayah. Aku pun mengangguk sambil mengusap pipi yang sudah basah dengan bulir bening yang tak dapat ku tahan lagi.


Mobil pun terus melaju meninggalkan kota Z yang akan menjadi kenangan pahit untukku. Dan semoga esok hari jauh lebih baik. Apalagi kini ada ayah yang akan menjagaku....

__ADS_1


__ADS_2