Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 29. Cinta Dua Lelaki


__ADS_3

"Pandu...tak banyak orang kepercayaan ku yang dapat di andalkan. Hanya kau yang aku yakini bisa membantuku. Selain bodyguard, kau adalah sahabatku. Kita besar bersama sejak kecil. Ingat..." ucap kak Mirza pada lelaki di hadapannya yang ia panggil sebagai Pandu. Aku yakin usianya terpaut empat atau lima tahun saja. "Karena itu aku mempercayakan calon istriku dalam pengawasan mu. Terutama saat aku tidak sedang bersamanya" ucap kak Mirza yang langsung berbalas anggukan kepala penuh takzim dari Pandu sebelum ia berlalu.


Sayang....kita ke apartemen ku saja. Aku khawatir jika kau di rumah mu, maka Darius akan lebih mudah menemukanmu


Untuk sementara saja, sayang hingga aku menemukan cara menyingkirkan Darius dari kehidupan mu" ucap kak Mirza sambil menatapku dan beriringan melangkah menuju mobil yang terparkir di depan salah satu cafe di daerah W. Perlahan saja kami melangkah sambil mengurai senyum khas masing-masing. Ku lihat dengan ekor mataku tampak dua lubang pada pipinya begitu nyata saat ia tersenyum. Maka auto meningkatlah tingkat ketampanannya.


"Kak... aku baik-baik saja. Tidak perlu hingga seperti itu. Di rumah ada ayah, Tante, ada kak Mirza dan sekarang di tambah bang Pandu. Ayolah...jangan terlalu khawatir begitu" ucapku. "Tapi aku tidak selalu ada di dekatmu, sayang..." ucapnya sambil mengacak pucuk kepalaku. "Kita berembuk dengan ayah dulu ya,kak. Apalagi acara ayah dan Tante sudah dekat. Aku ingin ikut serta mempersiapkannya, kak" ucapku. "Baiklah...jadi sekarang kita pulang nieh?" ucap kak Mirza sambil tersenyum. Dan lagi-lagi dua lubang pada pipinya terlihat jelas kembali. ish....gemas aku melihatnya.


Pukul sembilan malam lewat sepuluh menit. Mobil berhenti tepat di halaman rumah. Tampak sepi. Sempat ragu aku untuk turun dari mobil. Namun saat melihat gorden yang sedikit tersingkap dan ku kulihat bayangan Tante Vira, ragu ku memudar. "Pandu, dimana?" tanya kak Mirza melalui sambungan teleponnya. "Baik. Segera...." ucap kak Mirza mengakhiri teleponnya.


"Cepat masuk..." ucap Tante Vira saat aku dan kak Mirza berdiri di depan pintu. Aku dan kak Mirza pun bersegera masuk dan langsung duduk pada sofa. Ada ayah di sana. Ia tersenyum melihat kedatangan kami berdua. "Ayah kita anak gadis ayah dibawa kabur, Mirza..." seloroh ayah. "Hampir, yah. Hahaha..." ucap kak Mirza sambil tertawa. "Darimana saja? Tuh makanan jadi dingin. Tapi maaf kami tadi makan daluan. Laper....Hehee" ucap ayah terkekeh. "Kami juga sudah makan, yah. Tadi kami berputar-putar dahulu. Menghilangkan jejak, khawatir di kuntit" ucapku sambil membetulkan posisi duduk. "Em...Oya, Yah. Besok jam sepuluh asisten mama akan membawa beberapa pasang pakaian untuk ayah dan Tante Vira. Ingin di sini atau di toko?" ucap kak Mirza. "Loh...bukankah kita yang akan kesana? Kalau seperti itu namanya merepotkan" ucap ayah. "Mama yang punya usul demikian. Menimbang situasi saat ini, maka hal itu menjadi pilihan terbaik sepertinya" ucap kak Mirza sambil menyeruput teh hangat yang baru saja tersaji. "Dan lagi tidak merepotkan sama sekali. Oya, Mirza menempatkan dua orang untuk membantu memberi pengamanan di sini. Nah, itu dia..." ucap kak Mirza terutama saat melihat kedua orang yang dimaksud. "Ini bang Pandu dan ini bang Satria. Keduanya sahabat saya. Saya mempercayai keduanya karena itu saya memintanya untuk sementara di sini" ucap kak Mirza lagi sambil tersenyum. Sementara bang Pandu dan bang Satria mengangguk takzim sambil tersenyum. "Nah, bang Pandu dan bang Satria mohon pengawasan ekstra ya. Kalau ayah dan Tante Vira saya tidak begitu khawatir karena keduanya bisa ilmu bela diri. Tapi....ini nieh..Auto ekstra sepertinya. Ditambah sifat keras kepalanya. Beeuuh...." ucap kak Mirza sambil mengacak pucuk kepala ku. Sontak semua pun tertawa melihat polahnya itu. "Apa sih, Kak..." ucapku sambil berusaha menghindar dari perilaku kak Mirza. "Masih ada kamar kan, Yah...?"ucap kak Mirza lagi. "Masih. Kamar yang diujung bisa ditempati. Nah kalau yang di depan kamar Fara. Yang sebelahnya kamar saya" ucap ayah.


Pukul sembilan lewat empat puluh menit. Saat kak Mirza pamit. Ku tatapi punggungnya yang masih melangkah menuju mobil sport silver nya. Tinggal beberapa langkah lagi, akk Mirza menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik arah dan melangkah cepat kembali ke tempat dimana aku berdiri. Ia tersenyum menatapku. "Untukmu sayang...." ucapnya sambil memberikan sebauh kotak kecil berwarna ungu. "Bukalah..." ucapnya lagi. Sedikit ragu aku pun meraih kotak tersebut dan membukanya. Sebuah cincin berkilat terpapar temaram cahaya lampu. "Untuk ku...?" ucapku sambil menatapnya. "Ya....masa untuk Pandu" ucapnya sedikit kesal. Kemudian kak Mirza pun menyematkan nya pada jari manisku. "Pas..." ucapnya. "Dalam rangka apa, Kak...?" ucapku sambil memandang cincin yang melingkar di jari manis ku. "Dasar...memberi itu bukan berarti harus daalm rangkanya" ucapnya. Dan lagi-lagi ia mengacak pucuk kepalaku dengan gemas. "Kakak...." ucapku manja. Kali ini aku mengiringi langkahnya hingga ia benar-benar masuk ke daalm mobil. "Esok, selain tuk ayah dan Tante Vira, mama pun mengirimkan beberapa koleksi baju untuk mu. Jadi pilihlah. Dan pilihkan juga untukku" ucapnya lagi sambil men-stater mobil sport silver nya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum menatapnya. Ada sebuah ketidakrelaan saat ia akan meninggalkanku malam ini. Sepertinya kegundahan akan menyelimutiku malam ini. "Mimpi indah, sayang...jangan lupa berdoa untuk kita" ucapnya lagi. Lambaian pun mengiringi kepulangan kak Mirza malam itu. Dan menyisakan senyuman di wajahku.


"Tuan Mirza...." ucap bang Pandu lirih sambil menggelengkan kepalanya, namun masih bisa ku dengar. "Kenapa, Bang...?" tanyaku yang membuatnya terkejut. Aku yakin, ia tidak tahu jika aku mendengar gumaman ya tadi. "Em, anu nyonya muda. Em, baru kali ini saya melihat Tuan Mirza demikian" ucapnya kikuk. "Maksud Abang...?" tanyaku lagi. "Em, sejak bersama nyonya muda tuan menjadi seperti itu" ucapnya. "Apa...?" tanyaku penasaran. "Romantis akut..." ucap bang Pandu. Kami pun tergelak. "Ah, bang Pandu ada-ada saja. Aku kira ada keganjilan apa gitu" ucapku sesaat sebelum berlalu. "Ya..itu suatu keganjilan bagi saya" ucapnya lagi sambil terkekeh.


Pukul sebelas malam. Dentang jam dinding terdengar begitu jelas. Aku yang masih terjaga, tak mampu memejamkan mata sedetikpun. Fikiranku sedang terbang jauh membersamai kerlip bintang dalam lamunanku. Jelajahku tak akan usai terlebih jika mengingat semua perlakuan yang ku dapati dari kak Mirza. Ia begitu peduli dan itu membuatku tersanjung. Ia pun penuh kasih dan sayang dan itu membuatku bahagia.


Drrt...Drrt...Drrt...

__ADS_1


Ponsel ku berpendar. Sebuah pesan tampak menghiasi layar ponselku. "Kak Mirza..." ucapku lirih sambil membetulkan posisi duduk ku.


"Perasaan kangen biasanya dirasakan ketika sudah lama tak bertemu atau berjumpa, namun pada kasusku berbeda. Baru saja aku bertemu dan berpisah, aku sudah kangen". begitu pesannya.


"Dalam cinta sejati, jarak terkecil terlalu jauh dan jarak terjauh bisa dijembatani." balasku sambil mengumbar senyum tipis.


"Malam ini kangenku menjadi luar biasa. Karena itu ketika angin dingin bertiup, aku memejamkan mata dengan tenang karena tahu aku akan berlabuh padamu. Dan bila hati ini tak lagi sanggup membendung semua kangenku, maka tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain mendoakanmu" pesan kak Mirza lagi.


"Aku tahu itu, Kak. Dan jika kakak mendengarkan angin dengan sangat hati-hati, kakak pun akan dapat mendengar aku membisikkan cintaku padamu. Dan tahu kah kakak bahwa ketika aku menutup mata, yang kulihat adalah dirimu. Ketika aku membuka mata, yang kurasa bahwa benar aku sedang merindu" balsku lagi.


"Rindu bilang, ia adalah kesabaran. Untuk memenangkannya, kita hanya butuh berteman dengan waktu, tunggu, dan mampu. Dan kita tahu bahwa aku, kamu, dan jarak adalah tim solid yang nantinya akan membawa kisah indah bagi kita, yaitu pernikahan" pesan kak Mirza yang ku baca sambil tersenyum.


Begitulah percakapan antara dua orang yang sedang merasakan cinta dan kangen. Segalanya jadi mingkin diungkapkan. Sementara itu malam semakin jauh. Pekatnya mampu membawa penikmatnya bermimpi jauh. Aku masih duduk termenung di tepi tempat tidur ketika ku dengar langkah di luar. Bukan satu tapi dua. Aku yakin itu, karena irama langkahnya berbeda. Ku rapatkan tubuhku pada dinding dekat jendela. Perlahan ku singkap sedikit gorden jendela kamar ku. "Astaga..." ucapku tertahan saat melihat bang Prabu melangkah cepat ke balik semak. "Ada apa, Fara..." ucap Tante Vira yang semakin membuatku kalut. Tiada kata aku hanya menunjuk ke luar ke arah semak dimana bang Prabu menghilang. "Apakah ada orang di sana?" ucap Tante Vira lagi. Mata kami begitu seksama menyelidik situasi yang ada. Tak lama ku lihat bang Prabu muncul kembali dengan mencengkram lengan seorang lelaki yang sudah tak berdaya. Bersama pak RT dan beberapa warga, lelaki itu di paksa duduk dan berbicara.


"Katakan apa yang kau lakukan di rumah pak Permana" ucap pak RT. "Saya hanya lewat, pak" ucapnya. "Jam segini? Dan lagi kau bukan warga sekitar sini. Jadi apa sebenarnya kepentingan mu?" tanya bang Satria. Tak berapa lama ku lihat ayah menghampiri. "Suji....?!" ucap ayah sambil mengusap wajahnya. "Tuan Robert...." ucap lelaki itu. "Tuan Darius yang mengirim mu?" tanya ayah tanpa senyum sedikit pun. "Maaf kan saya, Tuan. Tapi itulah yang terjadi" jawab lelaki itu. "Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak mengganggu keluargaku. Jika ia masih melakukan nya, maka tidak segan-segan aku akan menghancurkan hidupnya. Karena aku tahu kelemahannya segala harta bendanya termasuk perusahaannya" ucap ayah geram. "Tuan Darius tidak peduli, Tuan. Ia sudah berubah. Dan yang tuan Darius inginkan hanya non Fara, putri tuan sendiri" ucap lelaki itu lagi. Mendengar penuturan lelaki itu Ayah menjadi berang. Tangannya terkepal hebat, wajahnya mengeras. Dan tak ayal lagi satu pukulan pun ayah lancarkan kepada lelaki itu. "Bangsat...!" kata ayah penuh amarah. "Cih, katakan pada tuhanmu. Aku tidak peduli apakah ia sudah berubah atau belum. Yang pasti jangan pernah mendekati keluargaku terlebih putri ku...!" ucap ayah.


"Ayah....!" ucapku setengah teriak saat berdiri di ambang pintu. "Non Fara...saya ingin menyampaikan pesan tuan Darius untuk nona" ucap lelaki itu sambil merogoh balik jaket hitamnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru. "Kurang ajar...! berani sekali kau!" ucap Bang Pandu sambil mengambil paksa amplop itu dan hendak merobeknya. "Jangan, bang...!" ucapku mencegahnya. "Berikan padaku. Aku ingin tahu apa kemauan tuan Darius..." ucapku sambil mengambil amplop tersebut. "Tapi, nyonya..." ucap bang Pandu sambil menatapku. "Tidak apa-apa..." ucapku sesaat sebelum berlalu meninggalkan halaman rumah yang kini menjadi hening.


Langkahku begitu cepat. Sementara tanganku menggenggam erat amplop berwarna biru itu. Dengan perasaan kalut aku mulai membuka amplop biru tersebut dan mengeluarkan isinya yang ternyata juga berwarna biru.

__ADS_1


Kamu adalah satu-satunya gadis yang membuatku mempertaruhkan segalanya. Dan aku berharap semua pertaruhan itu hanya untuk masa depan yang berharga, yaitu bersama mu.


*Aku mencintaimu, tanpa awal, tanpa akhir. Aku mencintaimu karena kau telah menjadi organ yang sangat dibutuhkan dalam tubuhku. Tanpa rasa takut. Tanpa harapan. Tidak menginginkan imbalan, kecuali bahwa kau mengizinkan aku untuk menjaga mu di sini di hatiku.


Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa masalah atau kesombongan. Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tidak tahu cara lain untuk melakukannya*.


*Untukmu yang jauh disana dan sedang aku rindukan. Semoga kau selalu dilindungi oleh Tuhan.


Untukmu yang jauh disana dan sedang aku nanti. Aku ingin memelukmu sekarang juga.


Maaf atas duka dan takut yang sempat ku berikan. Itu bukan sebuah pilihan. Namun aku semata menguji rasa di jiwaku dan juga sikap mu. Dan aku takjub, ternyata aku mencintaimu.


untukmu yang jauh disana. Aku menanti kabar mu di 0821 xxxx xxxx. Aku bermohon dengan sangat*.


Dari ku, masa lalu dan masa depanmu.


Membaca itu semua, jiwaku berontak. Rasa jijik ku berganda. Aku tersedu. Aku kalut. Suara ku serasa meraung melepaskan kekalutanku yang teramat. "Nyonya...." panggil bang Prabu berulang kali sambil mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat. "Sayang..." ucap Ayah yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Segera saja ia merengkuhku dalam dekapannya yang begitu erat. "Aku jijik, Yah. Aku jijik....!" ucapku tersedu dalam pelukanku. Sepintas ku lihat bang Pandu meraih kertas berwarna biru itu dan membacanya. Ia mengerutkan keningnya, mungkin ia mencoba memaknai setiap kalimat dalam lembaran tersebut. "Ku rasa ia hanya orang gila yang menginginkan kehidupan orang lain. Tidak perlu ditanggapi" ucap bang Pandu sambil meletakkan kembali lembaran berwarna biru itu.


Pukul dua lewat lima menit dini hari. Aku belum terpejam juga. Walau sudah rebah di sebelah Tante Vira, namun fikiranku masih menerawang entah kemana. "Apa yang harus aku lakukan? Semua harus segera di akhiri. Aku tidak ingin berlarut-larut. Ya, Robb... tolonglah" ucapku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2