
Aku menggeliat kembali. Mataku perlahan membuka dan mengitari seisi ruangan. Ini adalah ruangan yang berbeda dari sebelumnya. Aku yakin sekali. Dalam cahaya temaram sorot lampu warna warni aku berusaha membetulkan posisi dudukku. Masih dalam keadaan terikat aku mencoba menajamkan telinga. Benar saja, lamat-lamat aku berhasil mendengar riuh suara percakapan dan alunan irama musik yang menghentak dari lantai atas dimana aku berada. "Ya Allah... dimanakah aku berada? Tolonglah...." ucapku lirih. Terbayang kembali kalimat yang terucap dari tiga lelaki terkait rencana ketiganya menjual diriku. Kengerian pun menyelimuti ku hingga menggigil rasanya. Tak dapat ku bayangkan semua yang akan terjadi padaku nanti. Kembali sebuah nama ku sebut lirih hingga merintih. "Kak Mirza..." begitu panggilku sambil menitikkan air mata. Entah sudah berapa lama aku berada dalam situasi ini. Aku benar-benar tidak tahu.
Kemudian lamat-lamat ku dengar sebuah percakapan yang makin lama makin jelas ku dengar. Suara perempuan dan beberapa lelaki. Dari sorot lampu warna warni itu aku dapat melihat bayangan mereka di bawah pintu ruangan dimana aku berada. Tak lama pintu pun terbuka dengan suara derit yang khas. Di sana, di ambang pintu berdiri seorang perempuan setengah baya berpenampilan gelamor dengan riasan tebal. Di belakangnya berdiri tiga lelaki bertubuh besar dan seorang perempuan muda kira-kira berumur sama denganku. Berjalan perempuan setengah baya dengan lenggok yang memikat mendekatiku. Di angkatnya daguku dengan ujung kipas yang sejak tadi ia mainkan di jemari lentiknya. Mami...begitu ia dipanggil oleh ketiga lelaki dan seorang perempuan muda tersebut. "Em, cantik juga" katanya sambil mengamati setiap inci wajahku. "Berapa kalian lepas?" kata perempuan setengah baya itu lagi. "Sepuluh..." kata seorang lelaki sambil menunjukkan sepuluh jari tangannya. "Kau punya harga bagus juga. Suci tidak" kata perempuan setengah baya itu. "Dijamin ting ting..." kata lelaki itu tertawa. "You bilang ting ting tidak tahunya begitu dipake sudah ting tong" kata perempuan setengah baya itu sambil mengibaskan kipas di tangannya ke wajah lelaki itu. "Tidak,Mi. Dijamin" kata lelaki itu lagi. "Luna...you dandani yang bagus. Jangan menor-menor, tuan-tuan yang beduit lebih suka yang sederhana tapi memikat dan menggairahkan. Pilih baju yang cocok. Perlihatkan kemulusan tubuhnya. you faham?" kata perempuan setengah baya itu lagi sambil terus memainkan kipas di tangannya. "Serahkan pada Luna, Mi. Semua pasti beres" kata perempuan muda yang dipanggil sebagai Luna. Pintu pun kembali di tutup menyisakan Luna yang berdiri menatapku.
Tubuh ku yang lunglai, tak berdaya sangat mudah ia permainkan. Apalagi dengan posisi tangan terikat seperti ini. "Mau apa kau. Aku mohon jangan ganggu aku. Biarkan aku pergi..." kataku sambil menangis. "Dengar...! Jangan mempersulit pekerjaanku. Diamlah...Orang yang akan membeli kemolekan mu bisa jadi jalan untukmu agar keluar dari tempat sialan ini. Jadi berlaku baiklah" Katanya dengan penekanan. "Aku hanya ingin pulang" rengekku. "Di-am..." katanya sambil menarik rambutku kebelakang. "Jadilah gadis pintar. Pura-pura lah menurut. Jika ada kesempatan kau bisa lari nanti. Tapi biarkan aku menyelesaikan tugasku dulu" katanya lagi sambil merapikan rambutku yang sejak tadi menutupi wajahku.
__ADS_1
"Good girl..."katanya ketika aku menghentikan rintihan dan Isak tangisku. Luna pun mulai aksinya. Tangannya begitu terampil memoles wajahku. Membubuhi sedikit warna pada kelopak mataku atau memoles tipis perona pada bibir dan pipiku. "Kak Luna, ini di kota apa?" kataku lirih. "Kota Z..." katanya membuatku terkejut. Artinya aku sudah berpindah kota. Apa yang akan terjadi padaku nanti? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyerah begitu saja? "Ah, kak Mirza...aku tidak boleh menyerah..." kataku dalam hati saat terlintas wajah tampannya.
"Hei, apa yang kau lakukan...!" teriakku setengah terkejut saat Luna bermaksud membuka bajuku. Dan ia tak menghiraukan teriakkan ku tersebut. Untuk memudahkan aksinya tersebut, Luna pun menggunakan gunting untuk membuka bajuku. Meronta tubuhku. Menangis frustasi aku. Mengiba kataku, memohon kepada Luna. Namun apa dayaku. Sekali lagi aku menangis saat sayatan demi sayatan merobek bajuku. Hingga menyisakan pakaian dalam ku saja. "Jangan menangis...Kau merusak hasil kerjaku" katanya sambil menarik rambutku. Kemudian ia memakaikan lingerie yang sangat minim dan transparan, sehingga tetap saja menampakkan tubuhku. "Sial....Karena tangismu, aku harus mengulang memoles wajahmu..!" teriaknya. Aku semakin histeris saat melihat diriku pada pantulan cermin. Bukan hal seperti ini yang kubayangkan dalam hidupku.
Pukul sembilan lewat lima belas tahun. Entah siang, entar malam. Aku tidak tahu pasti. Sebuah langkah kembali terdengar dan berhenti tepat di depan pintu ruangan aku berada. Aku kecut saat pintu hitam itu berderit dan membuka sedikit lebar. Ku lirik dengan ekor mataku, seorang lelaki bertubuh tegap dan berwajah tampan berdiri di ambang pintu. Langkahnya begitu mantap. Penampilannya pun perlente, menandakan ia dari kalangan berada. Dan ku taksir umurnya tak jauh beda dengan om Darno, seorang tetanggaku di dekat tempat tinggal ku. Ia duduk di bibir kasur dimana aku berada. Ia menatapku yang duduk dengan mendekap kedua lututku. Sementara sesekali isak ku masih terdengar mengisi ruangan tersebut. Tampak ia menghela nafas berat. "Siapa namamu?" tanyanya dengan suara berat berkarisma. Aku diam. Hanya sesenggukan ku saja yang terus terdengar. Ku lihat ia membuka blazer hitamnya dan meneguk minuman yang tersedia di sisi tempat tidur. "Aku membeli mu untuk malam ini. Bukan dengan harga murah. Harga mu fantastis. Aku tidak tahu apakah sebanding dengan tubuh molek mu itu" katanya sambil mendekatiku. "Aku mohon tuan. Jangan lakukan apapun pada ku" kataku mengiba sambil mengeratkan dekapanku pada lutut. Lelaki tegap itu pun menyeringai yang membuat aku bergidik. "Lalu bagaimana nasib tiga puluh juta yang sudah ku bayar itu? Bisa kau mengembalikannya" katanya sambil menarik lenganku keras. Aku pun limbung dari dudukku. Dan terbukalah bagian dadaku. Melihat itu, bak singa ia mendekatiku. Matanya menatap tubuhku bak singa lapar mengintai mangsa. Terutama pada dua gundukan di dadaku yang sejak tadi ku tutupi. Setengah telanjang lelaki itu mendekap ku erat. Tubuh dan tangannya berusaha menguasai tubuhku yang berontak hebat. "Aku mohon, tuan....Jangan!" teriakku sambil terus terus meronta. Teriakku terhenti saat lelaki itu menutupnya dengan bibirnya. Seakan menikmati perlawanan ku, lelaki itu semakin bergairah dan gencar melancarkan serangannya. Menyusuri setiap lekuk tubuhku.
__ADS_1
Lelaki itu mengaduh saat kaki ku berhasil menjejaknya. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Terduduk lelaki itu, nafasnya tersengal turun naik tak beraturan, wajahnya mengeras dan matanya menatapku bak anak panah yang siap menghunjam. Tak lama kemudian ia pun meninggalkan ku dan beralih ke kamar mandi. Ku dengar gemericik air dari dalamnya.
Pukul sepuluh lewat empat puluh menit. Saat lelaki itu keluar kamar mandi dan memakai pakaiannya kembali. Ia diam saja tak menatapku sedikit pun. "Siapa namamu?" tanyanya lagi yang tak ku tanggapi sama sekali. "Mengapa kau bisa berada di sini? Di lihat dari perlawanan mu kau di sini bukan atas kemauan mu.." katanya sambil duduk di bibir kasur sedikit jauh dari ku. Aku hanya menangis sambil merapatkan selimut ke tubuhku. "Baiklah. Aku pergi..." katanya sambil mengambil ponsel dan berlalu. "Esok aku akan datang lagi" katanya sesaat sebelum ia berlalu dengan kilatan mata yang tak ku mengerti. Aku menangis sejadi-jadinya. Sesaat kemudian datanglah mami mendekatiku. Lagi lagi diangkatnya wajah ku dengan ujung kipas indahnya. "Tuan Darius puas. Ia senang. Dan ia memintaku menjagamu. Kau adalah miliknya. Kau hanya akan melayaninya, tidak ada yang lain" katanya sambil menatapku. "Sudah ku duga kau gadis istimewa..." katanya lagi sambil tertawa lepas yang membuatku bergidik. Luna yang saat itu ada pun turut tertawa sambil menatapku. Kemudian ia melemparkan pakaian kepadaku. "Pakailah dan beristirahatlah. Hari sudah malam" kata mami sambil terus tertawa dan meninggalkanku.
Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Dari ucapan perempuan setengah baya tadi atau yang mereka sebut sebagai mami bahwa saat ini adalah malam. Artinya saat ini hampir tengah malam. Ku sambar pakaian yang tadi sudah di lemparkan Luna dan berlalu ke kamar mandi. Ku biarkan tubuhku di guyur air dingin berharap sentuhan lelaki tadi dapat hilang. Aku menangis dalam guyuran air. Walau ia tidak sampai merebut keperawananku namun tetap saja aku merasa jijik atas perlakuannya tadi. Berkali-kali aku menggosok setiap inci tubuhku berusaha menghilangkan setiap sentuhannya. Aku terduduk pada lantai dingin yang basah karena guyuran air sambil meratap penuh kekesalan dan amarah. Entah apa yang akan terjadi esok hari. Aku tidak tahu. Aku berharap ada kesempatan untuk pergi dari tempat terkutuk ini. Semoga saja...
__ADS_1