
Seperti janji ku pada nenek yang akan menemaninya berbelanja bahan kue pesanan koh Ahong esok, aku pun segera bersiap-siap setelah menunaikan sholat dzuhur. Di depan cermin, aku mematut diriku tiada henti. "Fara...belum siapkah?" tanya nenek dari balik pintu. "Em...sudah kok, Nek" ucapku sambil menyambar tas tanganku dan keluar kamar. "Ayok, Nek..." ajakku sambil melangkah ke pintu dan membukanya. "Surprise....!" teriak Ferry dan Sherlly yang membuat ku terkejut bukan kepalang. "Astaghfirullah...." ucapku. "Kami siap mengantar nyonya dan tuan putri kemanapun pergi" ucap Ferry sambil menunjuk sebuah mobil lengkap dengan sopirnya. "Mobil?" tanyaku singkat. "Aku pinjam papa. Beliau membolehkannya dengan syarat harus mang Parno supir nya" ucap Ferry lebih lanjut. "Ayoklah.... keburu sore" ucap Sherlly sambil melingkarkan lengan pada bahuku. Pun demikian dengan Ferry. Nenek tersenyum melihat tingkah polah kami bertiga sambil mengikuti langkah kami bertiga menuju mobil.
Cuaca begitu terik. Panasnya begitu terasa di kulit. Fiuh....keringat mulai membasahi tubuh. Ku seka berulangkali namun peluhku terus saja bermunculan.
Drrt...Drrt...Drrt...
Sebuah pesan masuk. Ku baca sebuah pesan dari nomor tak dikenal. "Bagaimana keadaan mu, Nak? Apakah luka mu sudah sembuh?" begitu isi pesan tersebut. Sejenak aku terdiam membaca pesan tersebut. "Luka...? Aku pun akhirnya meng-o saat mengingat kejadian tempo hari. Mungkin ini adalah bapak pemilik mobil yang menyerempet ku. "Alhamdulillah....baik baik saja, Om" jawabku. "Syukurlah jika demikian...Oya, tolong kirimkan nomor rekening mu" pesannya lagi. Aku bingung harus apa. Akhirnya aku memilih membiarkan saja tanpa membalas pesan tersebut. Sejurus kemudian mobil berhenti pada sebuah toko bahan kue. Kami pun segera masuk toko tersebut dan membeli bahan-bahan kue yang diperlukan.
__ADS_1
Aku bahagia saat melihat senyum sumringah nenek tampak jelas menghiasi wajahnya. Ku peluk lengannya dan bergelayut manja. Nenek pun mengusap punggung tanganku dan mengecup pucuk kepalaku. Sejak amah memutuskan bekerja di kota lain, hanya nenek lah tempatku bermanja. Hampir sepuluh tahun lebih nenek lah yang mengurus ku. Mengurus segala kebutuhanku. Dan menghibur ku dengan semua kesedihanku. Ah, bagiku nenek adalah segalanya. Entah apa yang akan terjadi jika nenek tidak ada.
"Sudah sampai...." kata Sherlly yang berhasil membuyarkan lamunanku. Rupanya sudah lima belas menit berlalu. Perlahan mobil pun memasuki halaman rumah sederhana kami. Rumah yang sudah menjadi saksi suka dan duka kami. Rumah yang sudah menjadi saksi bagaimana perjuangan kami dalam kehidupan ini.
Kemudian dengan bersama-sama kami menurunkan bahan-bahan kue. Ada canda dan tawa yang menghiasi di tiap aktifitas kami saat itu. "Terima kasih ya, guys untuk semuanya" ucapku sambil memeluk Sherly. "Ikuuut..." ucap Ferry hendak memeluk namun terhenti setelah melihat tangan Sherlly yang mengepal ke arahnya. Kami pun tertawa bersama sambil berangkulan. "Curang nih..." ucap Ferry sambil duduk pada kursi di teras rumah.
Hari mulai senja. Matahari pun mulai kembali pada peraduannya dan hanya menyisakan semburat merah pada sebagian langit barat. Ku tatap langit yang mulai temaram. Pandanganku menerobos jendela kamar dan menyusuri jalanan sesuai arah angin. Berharap menemukan sosok yang amat ku rindukan. Amah. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu. Kabarnya pun tak pernah ku dapat. Bukan lagi puluhan atau ratusan, namun ribuan pesan singkat ku kirim pada nomor ponsel yang terakhir amah berikan. Dan semua berubah menjadi kerinduan, karena tak satu pun pesanku berbalas. Sejak itu pula segala bentuk kiriman untuk penghidupanku terhenti. Ingin rasanya aku mencarinya, namun bagaimana dengan nenek jika harus ku tinggal sendirian. "Amah..." ucapku lirih. "Hei...kangen ya?" ucap Sherlly lirih yang segera merapikan mukena berbordir birunya dan memeluk ku. Tak terasa bulir bening pun mengalir membasahi sebagian wajahku. Tangisku makin menjadi mengingat semua hal indah yang aku dan amah lalui dahulu. Lama aku menangis sambil memeluk sosok sahabatku ini. "Apakah kau selalu menangis di depan nenekmu" tanya Sherlly tiba tiba sambil melonggarkan pelukannya. Aku menggeleng. Aku tak sanggup melihatnya bersedih. "Pernah dan ia begitu sedih. Sejak saat itu aku berusaha terlihat bahagia. Namun bila sudah tak tertahan aku pun akan menangis" ucapku. Sherlly pun tersenyum menatapku sambil menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit kami lalui untuk menghabiskan setiap hidangan yang ada. "Alhamdulillah...." ucapku sambil mengusap perutku yang membuat Sherlly dan Ferry tertawa."Dasar alay..." ucap Ferry yang langsung ku jawab dengan sebuah cubitan pada perutnya. "KDRT ini...Emak - emak kok senengnya nyubit sih" ucapnya sambil mengusap perutnya. "Emang kalau bapak - bapak sukanya apa?" tanya Sherlly. "Ngegigit, Argh...!" ucap Ferry seakan ingin menerkam Sherlly. "Nenek....!" teriak Sherlly sambil berlari dan sembunyi di balik punggung nenek. Kami pun tertawa lepas. Bahkan selepas-lepasnya.
Sejurus kemudian kami pun memulai aktifitas membuat kue. Malam ini kami membuat dua kue, yaitu cupcake dan lapis beras. Satu kue lagi berupa bahan setengah, yaitu onde onde akan di goreng esok pagi pagi sekali. Sudah hampir jam dua belas malam namun kami belum kunjung selesai juga. Rasa kantuk rupanya sudah menyerang kedua sahabatku itu. Aku tertawa saat keduanya beradu kepala karena terlelap. " Bisa bisanya terlelap dalam posisi duduk" ucapku sambil tertawa dan meneruskan mengisi oven yang kosong. "Dua kali lagi selesai..." ucapku. sambil meregangkan tubuh. Aku tersenyum kembali ketika melihat kedua sahabatku itu sudah terlelap. "Ambil selimut, Fara. Kasihan mereka" ucap nenek sambil tersenyum. Sementara tangannya terus membuat kue lapis.
__ADS_1
"Done...Tinggal di kemas satu persatu" ucapku sambil merapikan peralatan kotor dan mencucinya. Nenek pun tampak tersenyum melihat aku yang bersemangat.
"Nenek..." ucapku manja sambil memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. "Apalah dayaku tanpa nenek. Bagiku nenek adalah segalanya" ucapku sambil terus bergelayut pada punggungnya. "Cucu nenek juga segalanya bagi nenek. Cuma Fara yang bisa buat nenek tertawa" ucap nenek. "Doakan Fara ya, Nek agar cita cita Fara tercapai" ucapku lagi. "Selalu sayang..." ucap nenek sambil mencium tanganku yang masih melingkar pada lehernya. "Nenekku sayang..."ucapku sambil menciuminya lagi.