Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 98. Aiman...


__ADS_3

Pukul enam tepat. Seperti bunyi tiktok yang baru saja ku dengar dari jam yang masih setia menyampaikan pesan kepadaku. Dan aku terkesiap saat membuka jendela. Saat sang Bayu membelai wajahku. Hawanya Begitu dingin. Mungkin sedingin hati ku yang masih saja diterpa gerimis.


Aku menghela napas dalam. Kembali merasai aroma pagi yang disampaikan semilir sang bayu. Aromanya begitu khas. Aroma wangi bunga ataupun tanah dan rerumputan juga embun yang ku yakin masih sama seperti saat cahaya masih senang bersarang di mata ini, begitu bening, segar dan manja bergelayut pada dahan-dahan dedaunan. Ah, hatiku semakin gerimis mengingat semua hal itu. Semuanya menjadi keping kenangan yang sewaktu-waktu sering ku tengok untuk menghibur hati.


Sesaat ku dengar derit pintu yang terbuka. Aku yakin itu. "Siapa...?" ucapku saat terdengar langkah kaki menghampiri ku. Langkah yang begitu gontai dan begitu hati-hati. "Aiman..." ucapnya tenang. Laki-laki yang sudah banyak membantuku beberapa waktu ini. "Bagaimana kondisi mu, Fara...?"Ucapnya lagi. Ku yakin ia sambil duduk di tepian tempat tidur yang tak jauh dari jendela. "Fara rasa, akan semakin baik" ucapku tersenyum mengalihkan wajah pada sumber suaranya. "Bagaimana jagoan yang diperut mu?" ucapnya lagi. "Semakin aktif, Kak..." ucapku tertawa kecil. "Boleh aku merasakannya?" ucapnya. Aku terdiam. Aku mencoba memaknai kata yang baru saja terdengar. Aku gamang.


"Oh, jika Fara keberatan tidak apa-apa" ucapnya lagi. Kali ini ada tawa kecil yang mengiringi katanya. Aku tersenyum. "Silahkan jika kakak ingin merasainya. Kemarilah...Dia sedang aktif bergerak di sebelah kanan ku" ucapku sambil menunjuk arah pergerakan baby di perutku. Aku sedikit terkejut saat tangan Aiman mengusap perutku. Ia tertawa kecil saat mengikuti pergerakan aktif anak ku.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat pada perutku. Aku tertegun. "Kak Aiman..." ucapku lirih. Ada tanya yang menyapa ujung hatiku atas perlakuan Aiman. "Maaf..." ucapnya cepat sedikit bergetar. Terdengar langkah menjauh. Langkah yang begitu cepat. Hei...ada apa? Mengapa Aiman demikian? "Kak..." panggilku saat langkahnya semakin samar di ujung ruangan. Tanyaku semakin membuncah atas perilaku Aiman tersebut. Aku yakin ada kegamangan dan sedih yang merayapi jiwanya saat menyentuh dan mengecup perutku. Tapi apa dan mengapa...?

__ADS_1


Aku duduk terpekur. Mengulas peristiwa yang baru ku alami. Aku menghela nafas. "Non Fara, sarapannya..." ucap Bu An. "Terima kasih, Bu An. Sebenarnya tidak perlu dibawa ke kamar, Bu. Saya ingin sarapan bersama yang lain" ucapku sambil mengurai senyum. Entah apakah Bu An melihat senyum barusan atau tidak. "Kak Aiman sudah sarapan, Bu?" tanyaku sambil berusaha meraih sisi tempat tidur. "Tuan Aiman sudah berangkat, Non. Ada meeting di luar kota, Non. Begitu kata Tuan Aiman" ucap Bu An sambil meraih tanganku dan membantu mencapai sisi tempat tidur.


"Fiuh..."dengusku lega saat berhasil mencapai sisi tempat tidur dan duduk di tepinya. "meeting...? Sebenarnya apa pekerjaan kak Aiman, Bu?" tanyaku sambil menyuap menu sarapanku setelah beberapa saat sebelumnya kesusahan menemukannya. Beruntung Bu An membantuku.


"Non Fara, tidak tahu...?" tanya bu An yang langsung ku jawab dengan seulas senyum dan gelengan kepala. "Aku tidak tahu apa pun tentang kak Aiman. Aku mempercayainya karena dokter Faaz, sahabat suamiku begitu mempercayai kak Aiman. Dan beberapa bulan ini pun aku semakin percaya padanya karena semua kebaikannya kepadaku. Aku merasakan ketulusannya, Bu..." jelasku lumayan panjang. "Tuan Aiman memang baik, Non. Hanya takdir saja yang tak berpihak pada tuan Aiman" ucap Bu An yang membuatku penasaran. Suapan terakhirku pun urung saat mendengarnya. Ah, mungkin ini jawabannya. Tentang kesedihan yang sebentar lalu ku rasa pada kak Aiman.


"Kak Aiman kenapa, Bu?" tanyaku penasaran. Ku dengar Bu An menghela nafas. "Tuan...." ucapnya terhenti. Bahkan sedih itu pun ku rasa pada Bu An. Aku semakin penasaran. "Bu An..." ucapku lirih penuh perasaan turut merasai sedih yang ada. "Bu An tidak sanggup menceritakannya, Non. Maaf..." ucap Bu An dengan suara bergetar. "Tidak apa-apa, Bu. Maafkan aku, membuat Bu An sedih" ucapku kemudian sambil mengakhiri suapanku.


"Non...tuan Aiman mengalami kekecewaan dan kesedihan yang terdalam. Istrinya telah meninggalkannya dalam kesedihan berkali lipat Bu An rasa. Istrinya meninggal saat terjadi ledakan di sebuah cafe" ucap Bu An. Entah mengapa Bu An memilih menceritakannya. Namun yang pasti aku terkejut mendengar ucapannya. Ledakan di cafe? . "Apakah cafe Bx, Bu An...?" tanyaku semakin penasaran. "Bu An tidak tahu pastinya, Non. Namun ada hal yang semakin membuat tuan Aiman. Ini berkenaan dengan putra tuan Aiman" ucap Bu An. "Ada apa, Bu An..." ucap ku. "Anak tuan Aiman ternyata bukan anak kandung tuan Aiman. Itu anak Nyonya dengan pria lain" ucap Bu An dengan suara bergetar.


Deg.

__ADS_1


"Sudah selesai membicarakan saya?" ucap seorang laki-lak. Aku tertegun. Aku yakin itu suara Aiman. Aku tertawa tak enak rasa. "Maaf, kak..." ucapku kemudian. "Tidak apa-apa. Masih penasaran? Tanya langsung saja" ucap Aiman tertawa kecil. "Maaf, Tuan. Bukankah tadi tuan berangkat keluar kota?" tanya Bu An. "Ditunda..." jawab Aiman singkat yang langsung ditanggapi Bu An dengan meng-o pendek.


Suara tiktok jam menyuarakan sepuluh kali. Aiman belum beranjak dari kursi yang tak jauh dari sisi jendela. Entah apa yang Aiman fikirkan, aku tak mengetahuinya. Bahkan bagaimana ekspresinya pun aku tak dapat menerka. Sejak cahaya tak menjadi sahabatku lagi, sejak itulah aku hanya mengandalkan informasi dari orang sekitar.


"Em, kak Aiman baik-baik saja?" tanya ku kemudian sangat hati-hati. Ku dengar Aiman menghela nafas cukup panjang. Aku yakin ada banyak kegundahan yang menyelimuti jiwanya. "Tanpa ku sadari hidupku tengah berulang pada titik nol. Setelah jungkir balik, hidupku kini mulai ada sedikit cahaya. Walau masih tampak samar, namun cukup membuat senyumku mengembang" ucapnya di sela helaan nafas yang sedikit tak beraturan. Aku yakin ada sesuatu yang begitu dalam tengah berkecamuk dalam jiwanya.


"Aku harap Fara cukupkan bertanya-tanya tentang diri ku. Aku khawatir Fara akan kecewa saat mengetahuinya. Cukuplah yang Fara ketahui seperti saat ini saja. Aku ingin dikenal sebagai Aiman saat ini saja" ucap Aiman. "Maafkan aku, Kak..." ucap ku.


"Ah..." gumamku saat ku rasakan kembali pergerakan dalam perutku. Tanganku pun langsung refleks mengusap perut dimana pergerakan baby dimulai. "Wah, gerak lagi ya...?" ucap Aiman. Aku tersenyum. "Rasakan lah, Kak" ucapku sambil menunjuk area perutku.


Kemudian aku sedikit terkejut saat tangan Aiman kembali menyentuh perutku. "Sebelah sini, kak..." ucapku sambil mengarahkan tangan Aiman.

__ADS_1


Deg.


Ada desir aneh saat memegang tangan Aiman. Dan sesaat fikiranku mengembara pada sebuah keping kenangan. "Kak Mirza..." ucapku dalam hati. Kehangatan tangannya sama seperti kehangatan kak Mirza. Tapi sungguh itu sebuah kemustahilan rasanya. Cepat Aiman menarik tangannya. Mungkin ia mengetahui rasa apa yang tengah aku alami saat ini. "Kak Mirza...." ucapku lirih nyaris tak terdengar. Bahkan oleh telingaku sendiri. Mungkinkah...


__ADS_2