Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 92. Kisah Tiga Sahabat


__ADS_3

Brrak...!!


Pintu ruangan di buka paksa. Berdiri kak Keanu di ambang pintu. Nafasnya sedikit tak beraturan. Sementara matanya bergantian menatap kami bertiga. "Ah, bukan Keanu namanya jika datang tidak berisik dan tidak penuh aksi" ucap kak Faaz sambil berdiri. "Dokter mesum...Aku tidak akan mengizinkan istriku jika tahu yang ia temui adalah kau" ucap kak Keanu dengan suara menggeram. Sebelah tangannya terkepal, sementara sebelahnya lagi mencengkram kerah kemeja kak Faaz.


Aku begitu terkejut melihat polah kak Keanu tersebut. Ada apa sebenarnya? "Hei...cukup!" ucap kak Noah mencoba menengahi. Tapi usaha rupanya menjadi nihil. Karena yang terjadi justru keduanya adu jutos. Aku terpekik saat kak Keanu berhasil menyarangkan sebuah tendangan pada tubuh kak Noah. Pun sebaliknya, saat jurus kak Noah hampir mengenai kak Keanu. Bagaimanapun juga keduanya adalah orang yang special bagi ku. Dan aku tidak ingin sesuatu pun terjadi pada keduanya.


"Kak....!" teriakku histeris dan hampir menangis saat kak Keanu berhasil memaksa tubuh kak Noah rebah di lantai. Kemudian keduanya tampak mengurai jurus dan kini kak Keanu yang dipaksa rebah pada lantai. Aku makin histeris melihat keduanya bergumul saling menyakiti.


"Bangsat kau Keanu. Kau tega menyakiti adik ku...!" ucap kak Noah penuh amarah. "Aku tak pernah menyakiti adikmu" ucap kak Keanu sambip membalikkan keadaan. Ya...kak Noah kini tersudut. Tubuhnya merapat pada dinding. "Kau sama bejat dengan dokter mesum itu" ucap kak Keanu makin diamuk amarah.


"Cukup...!" teriakku memecah suara keduanya. Dan akhirnya keduanya terdiam. Mungkin keduanya baru tersadar akan keberadaan ku. Ku dekap tubuh kak Keanu yang tangannya masih mencengkram kuat leher kak Noah. Nafasnya naik-turun tak beraturan. Tanda amarah sedang menguasai akal sehatnya. "Aku mohon, Kak..." ucapku sambil menangis. "Aku mohon..." ucapku lagi.


Perlahan kak Keanu melonggarkan cengkeramannya dan memilih merengkuh dan mendekap ku. "Kita pulang..." ajak kak Keanu sambil menarik tangan ku. Dan aku hanya diam. Tubuhku tak merespon ajakannya itu. Bahkan menahan sekuat tenaga tarikan tersebut. Aku yakin ada persoalan yang terjadi antara kak Keanu dan kak Noah juga kak Faaz. Aku harus tahu. Dan harus berusaha menengahi pertikaian yang terjadi. Mendapati polah ku yang demikian, kak Keanu menatapku. Tatapannya begitu lekat. Aku sendiri jadi rikuh ditatap demikian.


"Jika kau tak ingin pulang. Silahkan..." ucap kak Keanu sambil melangkah berlalu. "Patung..." teriakku. Ini adalah permainan masa kecil yang masih kami mainkan hingga saat ini. Permainan "ikuti kata pemimpin". Permainan ini cukup ampuh untuk menetralisir situasi jika satu diantara kami sedang diamuk amarah ataupun hanya dimaksudkan main-main saja.


"Fara gamang mendapati sikap kalian. Orang-orang yang katanya sudah dewasa, tapi berpolah bak bocah. Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Katakan...!" ucapku dengan sedikit menegaskan nada bicara. "Aku mulai dari kak Noah. Kenapa kakak menuduh kak Keanu menyakiti adik kakak? Siapa yang dimaksud dengan adik itu?" tanyaku sambil menatap lekat kak Noah.


"Dania. Aku melihat Keanu bersamanya di sebuah swalayan. Berdua bercanda dan mengurai tawa. Aku kecewa. Dan empat bulan sebelum itu, ia mengorbankan adikku, kembaran ku untuk melancarkan misinya" ucap kak Noah.


Deg.


Kembaran? Artinya aku masih memiliki saudara walau berbeda ibu selain kak Noah. Aku terdiam. Mataku masih menatap kak Noah berharap penjelasan lebih. Dan Misi? Misi apa? Aku benar-benar dibuat penasaran. "Kembaran?" tanyaku Kemudian.


Kak Noah terduduk. Tubuhnya bersandar pada dinding berwarna putih. Tatapannya mulai menerobos jendela dan pergi entah kemana. "Faiha, kembaran ku. Kakak perempuan mu, Fara. Ia meninggal karena menjalankan misi dari Keanu. Ia diumpan untuk menangkap seorang target" ucap kak Noah. Menyimak cerita kak Noah aku terdiam. Aku berusaha memaknai tiap kata yang meluncur.

__ADS_1


Dan kini mataku menyasar pada kak Keanu yang masih berdiri mematung. Aku bermaksud mengkonfrontasi informasi yang baru ku dapat. "Selesai..." ucapku mengakhiri permainan ikuti kata pemimpin. "Katakan padaku, Kak. Apa pembelaan mu atas cerita kak Noah?" ucapku sambil memegangi lengannya.


Kemudian kak Keanu mengambil kursi yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Ia pun duduk bersandar. Matanya menatapku lekat. Mungkin ia sadar jika jawabannya akan mempengaruhi sikap ku pada nantinya. "Aku tidak bermaksud menjadikan Faiha umpan. Itu real sebuah kecelakaan. Tapi karena aku yang memimpin misi, maka aku yang harus bertanggungjawab atas kegagalan misi. Menerima segala tuduhan dari sahabatku sendiri walau di pengadilan, aku tidak terbukti bersalah. Kenapa? Karena semua sudah dilakukan sesuai prosedur yang ada" ucap kak Keanu panjang. Penjelasan yang membuatku semakin tak mengerti. Terutama pada kata "Misi". Apa sebenarnya yang terjadi pada kak Keanu? Apa yang ia sembunyikan dariku? Aku makin lekat menatap kak Keanu.


"Kau dengarkan ini" ucap kak Keanu sambil menyodorkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara.


"Umpan, mundur lah. Misi mu hanya memancing, bukan bertanding. Pedangmu tumpul, mundur lah" ucap seorang laki-laki yang aku yakini sebagai suara kak Keanu. "Pancing sudah terkait, Pak. Hanya selangkah lagi. Umpan akan menjadi pedang" ucap seorang perempuan. Mungkinkah itu saudara perempuan ku yang merupakan saudara kembar kak Noah. Suaranya begitu tegas. Apakah ia juga seorang perwira. Panas mataku dengan genangan bulir bening yang masih berusaha ku tahan. "Batalkan niatmu...! Misi bocor. Ini jebakan" teriak kak Keanu. Tak lama ku dengar desingan senjata yang memuntahkan peluru beberapa kali. "Umpan..! Faiha...!" teriak kak Keanu diakhir rekaman.


Aku terdiam. Tak mampu berkata. Ada sesak yang mendiami dada ini. Kemudian kulihat kak Noah terisak di sudut ruangan. Wajahnya disimpan ke dalam pangkuan. "Aku tidak memintamu memaafkan ku. Tapi setidaknya kau tahu kronologis kejadiannya" ucap kak Keanu yang langsung berdiri. Kaki panjangnya hampir saja melangkah dan berlaku. Beruntung aku kembali dapat menghentikan langkahnya. "Patung..." ucap ku lagi. Kali ini dengan suara sedikit bergetar. Kak Keanu pun kembali mematung. Hanya matanya saja yang menatap ku penuh perasaan.


"Kak Faaz, kenapa suamiku ini melebilimu dengan kata mesum?" tanyaku sambil menatap kak Faaz. "Aku...Aku. Ah, aku bingung dari mana harus memulainya" ucap kak Faaz. Dia tampak menarik nafas panjang berulangkali. Matanya seperti menerawang. Rupanya ia mengingat kejadian lalu. "Sarah..." ucap kak Faaz.


Deg.


Aku menatapnya lekat saat nama Sarah disebutnya. Apakah yang dimaksud adalah Sarah yang pernah menangis meminta kak Keanu menikahinya? Perempuan yang kini dinikahi Kenan, adik kak Keanu berbeda ayah. "Saat itu aku, Kenan, Noah, Sarah dan Keanu pulang larut malam. Sarah yang mencintai Keanu meminta agar Keanu mengantarnya, namun disampaikan melalui ku.


"Aku meminta bantuanmu, kak Faaz. Aku ingin diantar kak Keanu" ucap Sarah. Entah mengapa aku merasa mencium sebuah rencana. Tapi tak apalah bukankah keduanya lajang. Aku pun langsung menginformasikan kepada Keanu. Namun karena ada suatu hal Keanu tidak dapat memenuhi permintaan Sarah tepat waktu. "Kau temani Sarah dahulu ya. Aku ada keperluan" ucap Keanu yang langsung ku sambut dengan senyum dan anggukan kepala. Setelah itu Keanu menghilang dibalik pekatnya malam bersama raungan motor sport yang ia lajukan. Aku pun menuju tempat yang menjadi permintaan Sarah untuk ditemui Keanu.


Mataku menyasar tempat yang dijanjikan. Namun tak ku jumpai Sarah. "Kemanakah, ia...?" gumamku. Mataku terus menyasar pada setiap sudut. Kemudian telingaku mendengar suara ******* dari sebuah sudut yang agak jauh dari jangkauan lampu taman. Begitu temaram hingga mataku menjadi samar. Pun demikian aku masih mengenali dua sosok yang sedang bergumul di balik keremangan semak. "Sarah, Keanu...Apa yang mereka lakukan? Bukankah Keanu memintaku menemani dahulu, tapi mengapa kini ia justru enak-enak di sini? Ah, benar-benar sialan kau Keanu" ucapku kesal.


Kemudian aku melangkahkan kaki bermaksud mengganggunya. Sekaligus menangkap basah tuan muda Keanu yang selama ini begitu naif dan terkesan acuh terhadap lawan jenis. Ah, luar biasa kau Keanu. Pada tempat seperti ini pun kau mau melakukan hal seperti itu. Kulihat keduanya sudah menuntaskan hasrat yang bergelora tadi.


"Keanu...!" ucapku setengah teriak. Hal tersebut tentu saja mengejutkan keduanya. Namun yang lebih terkejut adalah aku. Terlebih saat mengetahui siapa laki-laki itu. "Kenan...?" ucapku tak percaya. "Kenan...?" ucap Sarah sambil menatap Kenan dan langsung merapikan pakaiannya. "Kau..." ucap Sarah gamang. Secepat mungkin Kenan pun berlalu meninggalkan Sarah dengan isaknya.


"Kak Faaz..." ucapnya di sela tangisnya. Padaku ia mencurahkan kegamangannya. Sarah menyesali perbuatannya. Cintanya telah membuatnya buta hingga tak dapat membedakan mana Keanu, mana Kenan. Memanglah sepintas keduanya begitu serupa, bak pinang dibelah dua. Akupun seringlah salah faham dalam mengenali keduanya.

__ADS_1


Menangis Sarah dalam dekapan ku. Ia begitu pilu dan gamang harus apa dan bagaimana. "Faaz...!" teriak seorang laki-laki yang tidak lain adalah Keanu. Ia melancarkan serangan bertubi tanpa mendengar penjelasan ku terlebih dahulu. Apakah Keanu cemburu karena aku mendekap tubuh Sarah yang setengah terbuka? Setelah menghajar ku habis-habisan, Keanu berlalu tanpa tahu kebenarannya.


Faaz Flashback Off


Aku tertegun menyimak penuturan kak Faaz. Ah, sebegitu marahnya kak Keanu. Apakah sebenarnya kak Keanu mencintai Sarah? Tapi mengapa ia tidak menikahinya saat Sarah memintanya? Ah, sungguh pusing berteka-teki seperti ini.


"Kau boleh percaya, boleh tidak. Tapi itu lah kenyataanya. Dan aku sanggup berucap di bawah sumpah" ucap kak Faaz.


Kini semua menjadi diam. Tiada lagi kata yang terucap. Saat ini bahasa jadi kelu, kata jadi terbelenggu, dan mata tak berpadu. Semua dalam fikirannya masing-masing.


Pukul sebelas lewat lima belas menit. "Fara rasa kak Keanu dan kak Noah hanya salah faham. Jadi aku mohon hentikanlah pertikaian yang tak berarah ini. Aku mohon demi aku..." ucapku sambil menatap kak Noah dan kak Keanu bergantian. Keduanya kini menatapku. Berdiri kak Noah menghampiri kak Keanu. Tangannya mengembang memberi pelukan, ungkapan penyelesaian atas masalah diantara keduanya beberapa waktu ini.


"Kemarilah Faaz..." ucap kak Keanu. Dan ketiganya pun saling berangkulan mengumbar kata maaf. Aku tersenyum melihat ketiganya demikian. "Fara, Kemarilah..." ucap kak Faaz yang langsung dicegah kak Keanu.."Eh, enak saja. Tak perlu..." ucap kak Keanu sambil menatapku menggelengkan kepala.


Pukul sebelas lewat lima belas menit. Aku menatapi ketiga laki-laki yang kini duduk bersebelahan. Sesekali terdengar tawa dari ketiganya. Mungkin ketiganya tengah menertawai sifat kekanakan yang beberapa waktu ini sudah ditampakkan.


"Kak Keanu..." panggilku sedikit ragu. "Fara penasaran dengan sebutan misi dan pimpinan, apa itu?" ucap ku sambil duduk di antara kak Keanu dan kak Noah. "Em, sayang. Sebenarnya suami mu ini berprofesi sama seperti aku. Malahan suami lebih dahulu melakoninya" ucap kak Noah sambil menatap ku. Perwira juga? Ah, masa iya? "Kak..." ucapku sambil menatapnya. Dan kak Keanu tersenyum menatapku. Sebelah tangannya merengkuh kepalaku dan mengusapnya lembut. "Tapi kenapa kakak tidak pernah menceritakannya?" ucapku lagi. "Em, aku khawatir Fara jadi takut dan menolak menikah dengan ku" ucapnya datar. Matanya tanpa ekspresi. Begitu dingin. Takut? Dasar bodoh. Mana ada aku takut. Dengan segala resiko yang ada, aku tentu memilih berani. Karena jalan hidupku saja sudah menjadikanku sosok yang berani kini. Walau satu dua kali rasa takut itu menghampiri, namun tidak sampai berkarat.


Em, bukankah wajar jika rasa takut itu ada. Selama kita masih menyandang gelar manusia, pastilah rasa takut itu berdiam dalam dada. Namun yang pasti jangan sampai rasa takut itu merenggut keyakinan, keberanian dan hati yang bijak. Karena rasa takut hanyalah sebuah perasaan. Ya, sebuah perasaan. Dan lagi aku yakin bahwa nasib ku tidak bisa diambil karena itu adalah hadiah dari Yang Maha Kuasa.


"Ketakutan adalah bagian dari hidup. Karenanya terimalah dan lewatilah".


Aku akhirnya tersenyum mendapat jawaban kak Keanu yang tak realistis itu. "Ayolah...berikan Fara alasan yang real. Apa adanya" ucap kak Faaz sekenanya. Walaupun ia seorang dokter, tapi pembawaannya begitu berbeda dari dokter spesialis kebanyakan. Gayanya bicaranya yang ceplas-ceplos, ceria dan apa adanya membuatnya memiliki karakter yang berbeda. Aku sendiri terkadang menyimpan tawa saat melihat kekonyolannya.


"Real..? ucap kak Keanu menatapku. "Real-nya aku mencintaimu. Itu saja yang penting" ucap kak Keanu lagi. Kali ini lengannya menolak sisi tubuhku hingga aku menyimpan wajah pada pangkuanku. Aku khawatir rona merah di wajahku terlihat kak Keanu atau pun lainnya. Ku liaht dengan ekor mataku, ada senyum di wajah tampan kak Keanu saat melihat polahku. Ia pun menghela nafas dalam. Matanya menatap tajam ke depan. Dan kali ini aku melihat ada binar di ujung tatapannya. Tatapan yang selalu membuatku jatuh hati berulangkali.

__ADS_1


"Baiklah...aku akan kembali ke Rumah Sakit. Hari ini ada pasien penting. Kasusnya hampir sama dengan Fara. Tapi jiwanya sakit. Dia adik ipar pemilik rumah sakit" ucap kak Faaz sambil merapikan pakaiannya. "Baiklah, aku pun harus kembali ke kantor" ucap kak Noah. Sementara itu kak Keanu tanpa kata merengkuh tubuhku dan membawaku berlalu meninggalkan kak Noah dan kak Faaz.


"Hei...tidak pamit pada tuan rumah" ucap kak Faaz saat langkah kami cepat meninggalkannya. "Dasar tuan muda aneh..." ucap kak Faaz. "Aku dengar..." ucap kak Keanu tetap mempertahankan langkahnya. "Maaf..." teriak kak Faaz sambil terkekeh. Aku pun tertawa mendengar label atas kak Keanu. "Tuan muda aneh...apa bedanya dengan tuan muda labil" ucapku sambil menggenggam tangan kak Keanu. "Aku dengar juga, Fara..." ucap kak Keanu. Ups...maaf.


__ADS_2