Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 118. Kelicikan Keenan


__ADS_3

Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel ku kembali berpendar. Dari nadanya aku tahu itu sebuah pesan. Namun aku tak dapat berbuat apa-apa, karena ponsel ku itu berada pada kak Mirza. Entah mengapa ia melakukannya. Yang pasti kini sudah ku dapati kembali sikap kak Mirza seperti yang dahulu. Sikap yang terkesan seenaknya, acuh, super protektif, dan terkadang egois dan sedikit arogan. Hal tersebut sungguhlah seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengan sosok saat ia menjadi Aiman. Pun demikian ia tetap mengantongi sifat baik sebagai karakter utamanya dan juga berparas tampan. Bahkan bagi ku super tampan. Hehe...


"Ini...." ucapnya singkat. Tangannya menyodorkan ponsel milik ku, itu pun setelah ia membacanya terlebih dahulu. "Kau melanggar hak privasi ku, Kak.." ucapku sedikit kesal. "Demi kebaikan..." ucapnya tanpa ekspresi. Aku merengut.


"Gedung Aster blok A 212. Lima belas menit lagi aku sampai" begitu isi pesan Keenan. Aku menghela nafas panjang. Mataku menatap kak Mirza yang tengah fokus pada jalanan. Sesekali ia pun menatapku.


"Kau yakin akan menerima tawaran menikah Keenan...?" tanya kak Mirza tiba-tiba. "Entahlah. Tapi sejauh ini tidak ada alasan yang menghalangiku untuk menolaknya" ucapku tanpa menatapnya. Mataku lebih memilih menatap bayang pohon yang berkejaran di sepanjang jalan.


"Jika tak yakin, jangan lakukan" ucap kak Mirza sambil memarkir mobil sport silver-nya.

__ADS_1


Aku menghela nafas. Kali ini terasa berat. "Mungkin dengan cara ini, Rafan kembali dalam pangkuan Fara sehingga Fara bisa memeluknya setiap saat, Kak. Mungkin Fara serakah, Kak. Fara tidak puas dengan keputusan Mama Wina. Mama hanya membolehkan Fara bertemu Rafan kapan pun Fara inginkan, tapi tidak dengan membawanya. Apakah tidak boleh Fara berharap lebih sebagai seorang ibu?" ucapku sambil menahan gemuruh di dada.


"Jalan satu-satunya untuk saat ini adalah bersabar. Kita tidak tahu bagaimana mama Wina di hari esok. Bisa jadi ia akan berubah..." ucap kak Mirza. "Bisa jadi tidak berubah..." ucapku yang membuatnya menatapku lekat. "Sejak kapan seorang Fara kehilangan keyakinan dan kesabaran?"ucap kak Mirza kemudian.


Aku terdiam. Ada gemuruh dalam dada yang kian membuncah dan bersiap menjadi badai. Sebuah perasaan yang berhasil meninak-bobokkan kesadaran dan akal sehat ku, karena lebih mengedepankan perasaanku.


"Apa kakak tidak suka dengan rencana ku ini?" tanya ku yang membuatnya lagi-lagi menatapku lekat. Tatapan yang tak dibarengi kata sedikitpun. Kak Mirza diam? Sungguh terasa aneh bagiku. Apakah diamnya dapat ku artikan setuju? Atau justru sebaliknya? Ah, teka-teki.


Pukul sembilan lewat lima belas menit. Jantungku bertalu. Ada desiran aneh kembali menyergap saat ku lihat Keenan keluar mobil dengan membawa Rafan. Mbak Min pun tampak mengekori langkahnya. Sementara itu lebih ke belakang terdapat dua orang laki-laki bertubuh kekar melangkah dengan sikap penuh waspada.


"Kau...Tuan Mirza yang terhormat. Apa kau sudah gila?!" ucapku. Kak Mirza terkekeh. "Aku memang sudah gila, Fara..." ucapnya di sela kekehnya. "Cukup, Kak. Cerita ku dengan Keenan belum lagi dimulai kau sudah bermanuver tak penting" ucapku sambil menutup pintu. Ada gemuruh yang kian menguasai dada ini. Bahkan badai pun telah mulai berkecamuk dan mengikis keyakinan dan kepercayaan ku kepadanya sedikit demi sedikit karena ucapannya tersebut.


Ku pacu langkahku dengan cepat menuju tempat yang sudah diberikan Keenan. Berdiri aku tepat pada sebuah pintu. "212.." ucapku lirih. Belum lagi aku mengetuk, pintu pun dibuka dari dalam. Seorang laki-laki dengan senyuman berdiri di ambang pintu. Matanya menatapku lekat. "Masuklah..."ucap Keenan.


Setengah berlari aku memasuki ruangan tersebut. Hal tersebut karena mataku menyasar pada bocah laki-laki gembul yang tengah asyik bermain. "Rafan...." ucapku setengah teriak. Dan diuar dugaan Rafan pun merespon panggilanku. Matanya menatapku dengan senyum lebarnya. "Mama..." ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya. Tentu saja dengan suka cita aku menyambutnya. Menerbangkannya sebentar di udara kemudian menciumi pipi gembulnya.

__ADS_1


Tertawa Rafan atas perlakuan ku tersebut. Tak henti-henti tawanya mengisi udara di seluruh ruangan. "Anak mama, main apa? Wah, pintarnya..." pujiku saat ia berhasil menyusun balok walau belum sempurna. Bertepuk tangan Rafan tanda senangnya tak terhingga atas keberhasilannya tersebut. Pun demikian denganku. Tak henti-hentinya pujian dan semangat ku berikan padanya. Lega rasanya bisa melihat tawa dan tumbuh-kembangnya seperti ini. Ah, seandainya aku bisa bersamanya selalu, alangkah bahagianya aku.


"Bagaimana Fara dengan tawaran ku? Ayolah...jangan jadi munafik. Bukankah kau menginginkan Rafan selamanya bersama mu? Bukan hanya sekali-kali seperti yang mama maksud" ucap Keenan. Matanya menatapku begitu lekat. Aku saja bergidik saat menyadari tatapannya itu. Astaga...Tatapannya bak singa yang siap melahap mangsanya.


"Entahlah..." jawab ku singkat. "Jangan bermain-main dengan ku, Fara. Aku bukan Keanu.." ucap Keenan sedikit kasar. Tangannya menarik kerudungku dengan kasar hingga kepalaku mendongak. Aku mengaduh hebat. "Den Keenan...!" ucap mbak Min saat melihat perlakuan Keenan terhadapku.


"Jadi apa kau akan menyetujuinya?" ucap Keenan lagi tanpa melepaskan tangannya dari kerudungku. "Hai kau..." ucap Keenan sambil berisyarat kepada satu diantara pengawalnya yang langsung mengangguk tanda mengerti. Dengan cepat laki-laki itu membawa Rafan. Menangis Rafan dalam cengkraman laki-laki tersebut. Ia meronta sambil menatapku. "Mama, mama..." ucapnya yang membuatku pilu.


"Jangan sakiti anakku...!" teriakku. Kemudian laki-laki bertubuh kekar itu membuka jendela. Tangan nya mencengkram tubuh Rafan dan mengeluarkan Rafan ke luar jendela. Ia membiarkan tubuh Rafan menggantung tak berdaya. Melihat itu aku histeris. Terutama saat anak laki-laki semata wayang ku itu meronta dan menangis histeris. Di ujung tatapannya ada ketakutan yang luar biasa. "Jangan...! Jangan sakiti anak ku..." ucapku lagi di sela tangisku.


Tak dapat ku bayangkan apa yang akan Keenan lakukan kepada anakku itu. "Itu yang akan terjadi jika kau menolakku..." ucap Keenan. "Kau sudah gila Keenan...!" ucapku di amuk marah. Tapi apa dayaku, situasiku tidaklah menguntungkan. "Aku memang gila. Aku gila karena diri mu...! Bagaimana..?! Kau memyetujui rencana ku?" ucap Keenan. Matanya bergantian menatap ku dan juga Rafan yang masih bergelantung pada lengan laki-laki itu di luar jendela.


"Baik. Baik aku menyetujuinya. Lepaskan Rafan...!" ucapku histeris. Lagi-lagi Keenan berisyarat kepada laki-laki bertubuh kekar itu yang langsung mengembalikan Rafan pada mbak Min. Sementara itu Keenan melepaskan cengkeramannya pada ku dengan kasar.


"Rafan...!" teriakku sambil berlari dan merengkuh tubuh gembul bocah dua tahun itu. Histeris Rafan dalam dekapan ku. Tangisnya begitu memilukan. "Jangan takut, sayang. Ada mama..." ucapku sambil mendekap dan menghadiahinya ciuman pada wajah gembulnya.

__ADS_1


__ADS_2