
Matahari masih kuat membagi sinarnya seperti yang diamanatkan Tuhan 'Azzawajalla padanya. Tiada berkekurangan sedikit pun kepatuhannya. Walau mendung dan badai selalu menghantam, namun ia tetap ikhlas menerima dan membagi kehangatan pada bumi.
Dan sejatinya aku berkeinginan seperti matahari. Walau terbit dari satu arah, tapi sinarnya melingkupi segala arah. Walau terbenam, namun esok akan terbit kembali. Selalu bangkit dan selalu bersinar...!
Pukul satu siang. Mobil sport silver kak Mirza melaju menerobos guyuran hujan yang baru saja menyapa bumi. Selama beberapa waktu perjalanan, tiada kata yang meluncur dari ku atau kak Mirza. Kami sama-sama terdiam. Sibuk pada fikiran masing-masing. Sementara itu air mataku masih saja jatuh. Walau hanya satu, dua namun cukuplah mewakili apa yang ku rasa saat ini.
Mataku terus menatap titik hujan yang menempel pada kaca jendela ataupun yang jatuh pada jalanan. Sesekali tanganku menghapus air mata yang tak kunjung usai. "Kak Keanu..." ucap ku lirih. Ada rasa yang membuncah saat aku menyebut namanya. Bersamaan dengan itu mata kak Mirza menatapku melalui spion saat aku mengucapkan nama kak Keanu. Walau lirih tapi aku yakin kak Mirza masih bisa mendengarnya. Sepintas ku lihat ia menghela nafas panjang. Entah apa yang ia fikirkan saat ini hingga ia menghela nafas demikian.
Pukul satu lewat dua puluh menit. Mobil terparkir pada halaman rumah. Kemudian kaki ku basah saat menjejak genangan air saat turun dari mobil. Hasil jejakannya terciprat pada gaun pengantin yang masih ku pakai. "Tunggu sebentar..." ucap kak Mirza menahan gerakku. Tak lama tampak Azam melangkah menghampiri. Langkahnya begitu panjang. Sementara di tangannya tergenggam sebuah payung berwarna ungu.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Azam mengetuk kaca jendela dimana kak Mirza berada. Tangannya membukakan sebuah payung dan memberikannya kepada kak Mirza. Dengan segera kak Mirza menyambar payung dan berlalu mengitari mobil. Langkahnya berhenti tepat di pintu mobil pada sisi dimana aku berada. Tanpa menunggu pintanya, aku langsung memegang payung yang juga masih digenggamnya erat dan menjulurkan kaki keluar mobil. Seperti sebelumnya, kaki ku langsung basah saat menjejak rumput hijau yang digenangi air.
Sementara itu, tanganku menjinjing gaun pengantin menjauhi genangan air. Langkah ku menjadi hati-hati beriringan dengan langkah kak Mirza. Namun baru beberapa langkah, tubuhku langsung limbung karena ujung gaunku yang lain tanpa sengaja terinjak kak Mirza. Tak ayal lagi, aku langsung terjatuh tanpa ada sanggahan dari kak Mirza. Karena kak Mirza terlambat menyadarinya beberapa detik. Walau sempat ia berusaha menangkap tubuhku, namun ternyata laju tubuhku lebih cepat dari gerakannya.
Aku terduduk. Tak berdaya. Namun bukannya mengeluh, aku justru terkekeh. "Fara..." ucap kak Mirza. Matanya menatapku. Ada khawatir di ujung tatapannya. Bersamaan dengan ekspresi wajah kak Mirza, aku yang sudah basah langsung membasahi wajahnya dengan air yang tergenang di dekat ku.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan...?" ucapnya lagi. Saat itu hujan mulai jatuh satu-satu. Itu pun menjadi jarang. Pun demikian mendung masihlah menggantung pada langit dan matahari belum lagi terlihat. "Menunggu Rafan dan move on..." ucapku sambil membersihkan rumput yang menempel pada gaun yang kukenakan. "Oya..." ucap kak Mirza seakan ragu dengan ucapanku. "Kenapa...? Sepertinya kakak tak mempercayaiku" ucap ku yang membuatnya tertawa kecil. Tawa yang menghasilkan dua lubang pada kedua belah pipinya terlihat jelas. Walau kini wajahnya dipenuhi bulu halus, namun cetakan lubang pada pipinya masih jelas terlihat.
"Em, mendengar bagaimana kau menyebut nama Keanu aku tidak yakin kau mampu move on" ucap kak Mirza mengakhiri tawanya. Kini aku yang mengantikan tawanya.
"Hei..." ucapnya sambil menolak lenganku dengan lengannya. "Jika kau sudah tahu move on, menikahlah dengan ku" ucapnya sambil menatapku. Aku terdiam. Dan hanya senyum tipis yang ku urai sebagai taanggapan atas ucapannya.
__ADS_1
"Kenapa...? Aku tak pantas untuk mu?" ucap kak Mirza. "Bukan kau yang tak pantas, tapi aku yang tak pantas untuk mu" ucapku dalam hati. Sementara mataku menatap langit yang masih mendung tertutup awan. Mungkin beberapa saat lagi hujan akan kembali mengguyur bumi.
"Entahlah, Kak. Yang pasti..." ucapku terhenti. Mataku menatapnya sambil tersenyum tipis saja. Kak Mirza menggerakkan alisnya sedikit. Ia menunggu kelanjutan ucapanku. "Selama kita masih saingan memanjangkan rambut, aku tak kan pernah punya jawaban atas pertanyaan kakak" ucapku sambil menarik kuncir rambut hitamnya yang mengikat rambut panjangnya hingga kepalanya terayun ke belakang. Setelah itu, aku pun kembali berlari meninggalkannya sambil tertawa.
"Fara...!" teriaknya lantang mengisi udara. Jadilah kami dua bocah kembali yang senang berlarian di halaman pada tanah yang basah. "Cukup, Kak. Maafkan aku..." ucapku di sela tawa dan nafas yang memburu. "Kena, Kau..." ucap kak Mirza sambil mendekapku dari belakang. Aku terkesiap dan langsung meronta. "Lepaskan...!" ucapku sambil meronta, berusaha melepaskan dekapannya. "Aku tidak akan melepaskan mu lagi, Fara..." ucapnya sambil mengeratkan dekapannya. "Lepaskan, Kak..." ucapku. "Jawab dahulu pertanyaanku..." ucapnya. Aku mengangguk sambil sesekali meronta.
"Jadi kau akan mempunyai jawaban setelah aku memangkas rambutku" ucapnya. Aku terdiam. Fikiranku bertaktik. "Ah, ya. Tentu saja..." jawabku kemudian mengakhiri diamku. "Baiklah..." ucapnya tanpa melepaskan dekapannya. "Sekarang lepaskan aku, Kak..." pintaku. "Tidak akan. Sudah ku katakan, aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi" ucapnya. Aku pun kembali meronta, berusaha melepaskan dekapannya.
"Fara...Kesedihan itu seperti matahari, ada saatnya terbit dan ada saatnya tenggelam. Namun matahari akan tetap terbit, dengan atau tanpa mendung. Karena itu bersedihlah sepantasnya, tertawalah sewajarnya, karena hidup terus berjalan" ucap kak Mirza sambil melonggarkan dekapannya sedikit demi sedikit.
"Mirza...!" teriak seorang perempuan. Sontak kami langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Berdiri seorang perempuan di ambang pintu pagar rumah.
"Mama...!" teriak aku dan kak Mirza hampir bersamaan.
__ADS_1