Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 102. Cahaya di Mata ku


__ADS_3

Aku Terpekik saat wajah tampan penuh senyum itu tiba-tiba saja pergi menjauh. Langkahnya tak sanggup ku tangkap. Kupanggil namanya berulangkali, namun tiada jawaban. Kak Keanu tetap dengan langkah panjangnya. Kali ini tangannya melambai seakan menandakan salam perpisahan.


"Kak Keanu...!" teriakku sekuat tenaga. Panggilan yang berulangkali ku lakukan. Panggilan yang tetap diabaikannya. Tangisku pecah kembali. Kemana kak Keanu pergi...? Rindu ini belum usai, Kak. Begitu aku membatin. "Kak Keanu...!" panggilku.


"Mimpi indah atau menakutkan, Fara...?" sebuah suara menyasar pada telingaku. Membuat aku terkesiap dan bangun dari tidur. Aku mengumbar senyum sambil membetulkan posisi duduk. Genap tujuh hari pasca operasi. Dan hari ini direncanakan dokter membuka perban mataku. Ini adalah satu dari sekian moment indah yang direncanakan Allah untuk ku. Sungguh aku menjadi tidak sabar. Karena aku sudah rindu dengan segala yang pernah ku lihat. Warna pagi, warna senja, pohon-pohon lengkap dengan burung-burung kecil yang berloncatan. Ataupun kuncup bunga yang bergoyang ditiup angin lalu. Dan yang paling ku inginkan adalah melihat wajah anak laki-laki ku.


Aku makin tak sabar saat dokter membuka perban sedikit demi sedikit. Sehelai demi sehelai perban mulai disisihkan. Aku tersenyum. Dan aku menjadi makin tidak sabar. "Bersiaplah Fara..." ucap dokter Faaz yang berdiri tak jauh dariku. Dari nada suaranya ku rasa ada senyum yang mengandung bahagia. Aku yakin ada sebuah kelegaan yang ia rasa akan keberhasilan operasi ini. Sebab sejak persiapan operasi hingga saat ini, dokter Faaz dan Aiman yang selalu memberi dukungan kepadaku. Memberikan semangat dan berbagai keuntungan yang ku dapat jika aku melakukan pencangkokan mata terlebih dahulu. Ya semua merujuk pada keinginanku untuk segera mendapatkan kembali anak laki-laki ku yang kini entah dimana. Namun Aiman pernah mengungkapkan, bahwa ia sudah mengetahui keberadaan anak laki-laki ku itu. Dan hal ini pula lah yang memberiku semangat dan keyakinan yang luar biasa.


Dan di hari penting ini pun sepertinya dokter Faaz tetap ada mendampingiku sebagai wujud dukungannya. Sesaat aku menelengkan kepala berusaha menajamkan telinga. Aku berusaha mencari keberadaan Aiman. Kemana dia...? Sejak tadi tak sedikit pun suaranya menyasar ke telinga ku. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Ah, tidak. Semoga semuanya baik-baik saja. Fikirku terus mengembara. Hingga keberadaan orang di sekitar pun menjadi samar.


"Nah Nyonya Fara, saya akan menghitung hingga tiga. Setelah itu nyonya bolehembuka mata. Tapi perlahan saja. Tidak perlu dipaksakan. Apa nyonya faham?" ucap dokter Fachrul yang mengembalikan kesadaran ku. Aku pun mengangguk sambil tersenyum tipis mengiyakan ucapannya.

__ADS_1


Kemudian perlahan sekali aku mulai membuka mata. Aku mulai menyadari ada bayang yang mulai samar. Aku yakin itu karena ada cahaya yang menerobos mataku sesaat setelah membuka mata. Dan jantungku pun mulai berdegup hebat, hampir tak dapat ku kuasai. Namun di ujung hatiku tetap menyelinap kekhawatiran akan keberhasilan operasi yang berusaha aki tepis.


Sempurna sudah mataku terbuka, namun segalanya masih samar. Entah mengapa demikian. Mungkin masih butuh penyesuaian. Aku semakin gamang atas hasilnya. "Sabar, Fara. Tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja" ucap dokter Faaz. Mungkin ia menangkap kegamangan dari mimik wajah dan bahasa tubuh yang ada.


Beberapa saat aku membiarkan mataku menyesuaikan dengan sekitar. Dan aku berusaha setenang mungkin menjalaninya. "Alhamdulillah..." ucapku saat cahaya mulai menjadi penerang ku. Satu-satu ku tatap wajah orang-orang di sekitar dan menyebut nama mereka. "Kak Faaz...mbok Jum. Dokter Fachrul..." ucapku terhenti. Mataku mencari sosok lain yang juga begitu berkesan di hati, yang karena kebaikannya di hampir sepuluh bulan ini. "Aiman...sedang ada pekerjaan di luar kota..Pagi-pagi sekali ia berangkat" bisik dokter Faaz seakan tahun siapa yang sedang ku cari saat ini. Aku pun tersenyum mendengar penjelasan dokter Faaz.


Aku menatap langit melalui jendela. Warnanya biru dengan sedikit awan menghiasinya. Sekawanan burung pun tampak melintas. Kepaknya begitu seirama. Melihat itu semua hatiku tak henti-hentinya berucap syukur. Saat satu bahagiaku hadir, pulihnya penglihatanku. "Terima kasih untuk mu yang sudah mendonorkan mata. Siapa pun dirimu. Kau sudah menjadi malaikat bagiku" ucapku lirih.


"Non..." ucap mbok Jum membuyarkan lamunanku. "Non...Dari den Aiman" ucap mbok Jum lagi. Kali ini tangannya menyodorkan sebuah paper bag berwarna biru bersama sebuah amplop yang juga berwarna biru. Sedikit ragu aku pun meraih dua benda yang di sodorkan mbok Jum. Dan mataku langsung tertuju pada amplop yang berwarna biru. Perlahan aku membukanya. Ada sederet tulisan tertera mengurai kalimat.


Mungkin saat ini cahaya telah jelas kau nikmati. Bahkan segala rupapun aku yakin sudah menyata bagimu. Dan aku berbahagia atas segala pencapaianmu itu. Selamat ku ucapkan untukmu.

__ADS_1


Pun demikian, maaf pun aku sampaikan padamu. Aku tak dapat menyertaimu hari ini. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mungkin untuk beberapa waktu aku tidak dapat menjumpai mu. Maaf sekali lagi aku tak berpamitan langsung padamu. Karena pagi-pagi sekali aku sudah harus meninggalkan kota ini.


Oya, rumah yang kau tinggali sudah menjadi hak mutlakmu. Aku memberikannya padamu. Dan memang aku membelinya atas namamu. Dalam paper bag aku sertakan sertifikat hak milik. Selain itu suami mu menitipkan buku deposito beserta debit card. Keanu berharap kau dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan mu beberapa waktu*.


*Em, ada hadiah kecil untukmu. Semoga dengan itu kita dapat berkomunikasi dengan lancar. Satu nomor kontak sudah ku simpankan. Itu nomor ponselku.


Well...sekali lagi selamat. Tentang anakmu, asistenku akan mengurusnya. Sabar dan tunggulah hingga mereka benar-benar memastikannya.


Jaga dirimu baik-baik, Fara. Secepatnya kita bertemu kembali*.


Aiman.

__ADS_1


Membaca itu, aku menghela nafas. Bukan sekali aku membacanya, tapi berulangkali. Terutama pada bagian pemberian hak rumah. Aku tak habis fikir, mengapa Aiman melakukan ini semua. Mengapa ia begitu baik kepadaku? Pun demikian aku tetap bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang begitu baik dan peduli. Namun masih ada sejuta tanya yang menggelayut di ujung hati. Diantaranya siapakah pendonor mata itu? Begitu penasaran aku hingga sudah beberapa kali aku menanyakannya kepada dokter, perawat bahkan dokter Faaz. Namun semua mempunyai jawaban yang sama. Pendonor meminta dirahasiakan. Ah, benar-benar berhati malaikat.


Saat ini mentari semakin tinggi. Hawanya tak menyurutkan semangatku. Bahkan sebaliknya, semakin membuat ku bersemangat dan hatiku pun mulai menarikan tarian yang entah apa namanya. Aku sendiri tidak tahu. Yang pasti semangat untuk melanjutkan hidup bersama anak laki-laki ku yang kini masih belum diketahui keberadaannya. Walau ada tangis yang luar biasa namun aku masih berusaha bahagia karena ada sedikit titik terang yang ku peroleh.


__ADS_2