Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 114. Kutimang Penuh Sayang


__ADS_3

"Tidak Fara. Tidak demikian. Semua mama lakukan karena Rafan terancam" ucap mama Wina.


Deg.


Aku terkesiap. "Ya, Fara. Semua karena Rafan anak Keanu. Anak seorang perwira yang ditakuti sekaligus diincar penjahat seantero negeri" ucap mama Wina. "Dan Keanu menghembuskan nafas terakhirnya juga karena menyelamatkan Rafan yang saat itu hendak diculik. Saat itu....


Mama Wina Flashback On


"Berhenti...!" ucap sebuah suara dari ujung tangga. Siapa dia? Tapi dari suaranya aku yakin itu Keanu. Ada apa dia berkeliaran di lorong rumah sakit? Bukankah mestinya ia dalam ruang perawatan? Ah, dasar bocah nakal.


Aku memacu langkah menyusuri anak tangga. Baru beberapa anak tangga ku naiki, aku mendengar suara bergedebukan dan juga tangis bayi. "Keanu....!" teriakku hebat. Aku kalut saat mendapati Keanu tengah bergelut dengan seorang laki-laki. Keduanya tengah memperebutkan seorang bayi yang tengah menangis. "Tangkap, Ma...! Itu Rafan, anak Keanu...!" ucap Keanu sambil melempar bungkusan berisi bayi.


"Astaga....!' teriakku sambil berusaha menangkap bayi mungil tersebut. "Fiuh..." dengusku. Sebuah kelegaan saat Rafan telah berada dalam dekapanku. Sementara itu Keanu yang tengah sibuk meladeni permainan jurus-jurus penculik tampak kewalahan. Tentu saja dengan kondisinya yang berada di atas kursi roda, amatlah menyusahkan nya. Sekuat apa pun upayanya, tetap saja kondisinya menjadi penghalang.


"Tolong...!" teriakku berulangkali. Tak lama security menghampiri, namun terlambat. Bersamaan dengan itu Keanu hilang kendali hingga ia berhasil diterjunkan dari ujung anak tangga. Histeris aku melihat semuanya. Sambil mendekap bayi mungil yang baru saja dilahirkan, aku menuruni anak tangga. Riuh suasana saat itu ketika tubuh Keanu berguling menuruni anak tangga dan berakhir menghantam lantai dasar. Aku kacau. Ada darah yang berceceran dimana-mana.


"Keanu...!" teriak ku histeris saat melihat kondisinya. Derai air mata tak sanggup lagi ku bendung. Terbatuk Keanu dengan darah yang terus mengalir dari sela bibirnya. "Rafan..." ucap Keanu lirih. Kemudian dokter dan beberapa perawat membawa Keanu, anak laki-laki ku itu ke ruang IGD. "Jaga Rafan, Ma. Jangan biarkan siapa pun menyakitinya" ucap Keanu sebelum masuk ruang IGD.


Aku tertegun. Lidah ku kelu. Ku kecup berulangkali wajah putih bayi mungil yang kini tengah lelap dalam buaian ku. Hanya sesekali saja ia menggeliat. "Fara..." ucapku seakan teringat sesuatu. Kaki ku melangkah cepat. Aku bermaksud memberikan Rafan kepada Fara. Tentu saat ini ia tengah meratapi kehilangan bayi tampannya ini. Begitu fikir ku.

__ADS_1


Mendadak langkah ku terhenti. "Tidak...! Bisa saja penculik itu akan menemukan lagi Rafan dan mengambil paksa kembali jika aku menyerahkannya kepada Fara" aku membatin. Terngiang pesan Keanu untuk menjaga anak laki-laki semata wayangnya ini. "Baiklah...aku akan membawa pergi bayi tampan ini. Maafkan mama Fara. Ini demi kebaikan Rafan" kembali aku membatin sambil memutar tubuh. Kaki ku begitu cepat melangkah meninggalkan rumah sakit.


"Nyonya..." ucap seorang bodyguard ku. Ia pun mengekori langkah cepat ku. "Kita pulang..." perintahku. "Tuan Keanu...?" tanyanya dengan tatapan heran. "Ada dokter yang menanganinya. Ini Rafan, cucu ku. Ia dalam bahaya. Kita harus melindunginya. Bisa jadi ini adalah harta terakhir dan paling berharga bagi Keanu" ucapku dengan suara bergetar dan tubuh yang bergetar. Bahkan hampir gigil. Tatapan ku pun jadi gamang.


"Dan nyonya Fara...?" ucapnya sedikit ragu. Aku menghela nafas berat. "Biarkan ia dengan anggapannya untuk beberapa saat ini, bahwa anaknya tengah di culik. Suatu hari aku akan memberitahunya" ucapku sambil menenangkan Rafan yang mulai terbangun dari lelapnya. Sepertinya rasa lapar sudah menghinggapinya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi. Lajunya menyusuri jalanan yang tampak basah karena baru saja usai diguyur hujan.


Mama Wina Flashback Off


Aku terdiam. Hatiku gerimis. Hanya mataku saja yang menatap sendu. "Kita telah salah faham..." ucapku lirih mengakhiri diamku. "Mama mengerti. Tentang Dania, mama terpaksa. Dia menekan mama karena hutang Keenan. Tapi semua telah lunas dengan kematian Sarah. Karena semuanya bermula dari Sarah, istri Keenan yang semula berharap dinikahi Keanu" ucap mama Wina sendu. Matanya pun telah basah oleh air mata yang tak henti membanjiri sebagian wajahnya.


"Dekatilah..." ucap mama Wina. Mendengar itu, mataku langsung menatap mama Wina. Seakan tak percaya. Kemudian tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung melangkah. Bukan saja langkah cepat tapi berlari. Aku menyongsong Rafan yang juga tiba-tiba saja berlari ke arah ku.


Ku rengkuh tubuh gembulnya. Sebentar aku menerbangkannya di udara. Tawa ku pecah saat melihat wajah gembulnya berhias kekehnya. Tak kuasa lagi aku langsung mendekapnya. Memainkannya dalam buaianku sambil menciuminya. Air mata ku sedang berubah menjadi tawa. Dan gerimis di hatiku tengah mereda. Sejenak berbayang senyum nan bahagia.


"Panggil mama, Rafan. Ini mamanya Rafan..." ucap mama Wina. Aku terdiam sambil menatap wajah Rafan. "Mama..." ucap Rafan. Panggilan yang sudah ku rindu hampir dua tahun ini. Terlebih sejak setahun lalu ketika aku tak pernah dapat menemuinya. "Ya, Nak. Ini mama, Rafan..." ucapku dengan suara bergetar. "Mama..." ucapnya lagi. Kali ini ia sambil mencium pipiku dan memelukku erat. Tak ayal lagi aku langsung memeluknya erat kembali sambil berurai air mata. "Anak kita sudah dapat ku dekap, kak Keanu" aku membatin. Selintah kak Keanu mengisi ingatanku. Ia berdiri sambil mengurai senyum khasnya. "Kak Keanu..." ucapku lirih.


Pukul delapan lewat lima menit. Malam mulai merangkak. Namun Rafan masih nampaknya masih betah bermain dalam penjagaan ku. Sementara mama Wina dan kak Mirza terus menatapku. Di ujung tatapan keduanya ada kesenduan yang mendalam. Ditambah senyum tipis yang sesekali mengembang.

__ADS_1


"Den Rafan, bobok yuk...Sudah malam" ucap Bu An sambil menyodorkan keduan tangannya. Tapi siapa menyangka, jika Rafan menepis uluran tangan itu dan memilih memelukku erat. Sontak perilaku tersebut membuat tawa semua. "Ah, ada mama Fara den Rafan lupa sama Bu An..." ucap Bu An sambil mencubit kecil hidung Rafan.


"Biar aku saja yang menidurkan, bu An..." ucap ku sambil menatap mama Wina yang langsung diamininya. "Kesayangan mama, kita bobok dulu ya. Sudah malam. Besok kita main lagi..." ucapku sambil menggendongnya dan mengekori langkah Bu An menuju sebuah kamar. Yuph...kamar yang di desain khusus untuk Rafan.


Sejenak manata ku mengitari seisi ruangan sesaat ketika aku sudah berada di dalamnya. "Kau beruntung, Nak. Mama kira, mama akan kehilanganmu selamanya..." ucapku. "Selamat ya, Nyonya. Alhamdulillah...akhirnya" bisik Bu An. "Sstt...." ucapku sambil menutupkan jari di depan bibir.


Tak lama, aku pun bersenandung. Berusaha meninak-bobokkan Rafan. Tak butuh waktu lama, Rafan pun sudah terlena dalam buaian ku. Kemudian segera saja aku meletakkannya pada kasur nan empuk berlapis kain warna biru. Ku kucium lembut pipi gembulnya berulangkali dan menyelimutinya. Aku masih menatapnya saat hendak meninggalkannya bersama Bu An.


"Bagaimana dengan tawaran ku, Fara..." ucap seorang laki-laki dan berhasil mengejutkanku. "Keenan..." gumamku sambil memutar tubuh ke arah sumber suara. "Aku belum berminat..." ucapku sedikit ketus dan melewatinya yang berdiri di ambang pintu.


"Hei..." ucapnya. Sebelah tangannya menarik cepat lenganku dan mensejajarkan paksa tubuhku pada dinding. Aku terkejut atas perlakuan yang tak terduga tersebut. "Apa mau mu..!" ucapku geram. Keenan tersenyum nakal. "Dirimu..." ucapnya.


"Lancang...!" ucapku geram. Kemudian ia mencengkram kedua tanganku dan menolaknya paksa pada dinding. Hanya beberapa sentimeter saja jarak tubuhku dengannya. Dan kurang ajarnya, ia berusaha ******* bibirku. Sekuat tenaga aku berusaha menghindarinya. Dan di suatu kesempatan...


Buk....!


Keenan menyeringai menahan sakit. Antara percaya dan tidak. "Kau...." ucapnya.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2