
Tak pernah ku bayangkan, darimana keberanian sebesar ini ku peroleh. Setelah aku mengirimkan pesan kepada tuan Darius akhirnya aku memenuhi keinginannya untuk menemuinya. Dan lagi-lagi bang Pandu lah yang memberi pengawalan atas diriku tanpa sepengetahuan kak Mirza atau pun ayah. Aku bermohon kepadanya untuk tidak memberitahu keduanya.
Pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Aku duduk pada sebuah kursi di sudut sebuah taman. Tempat yang dijanjikan sebagai tempat pertemuan aku dengan tuan Darius. Mataku mengitari seluas hamparan bunga yang bergoyang tertiup angin lalu. Tampak bang Pandu berdiri tak jauh dari tempatku berada. Matanya begitu cermat menatap sekeliling. Tak lama kemudian tampak seorang lelaki yang berjalan gontai menuju tempat ku berada. Sebagian wajahnya tertutup dengan kacamata hitamnya. Dialah tuan Darius.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungku berdegup hebat. Iramanya tak menentu. Ini akan menjadi sejarah. Aku bertemu kembali dengan lelaki yang sudah memberi warna hitam pada tubuhku. Lelaki yang berhasil aku hindari selama kurang lebih satu tahun terakhir ini. Lelaki yang sempat membuat bang Pandu terkejut dan menyembunyikan wajahnya dengan seketika. Aku melihat prilakunya tersebut. "Hei...ada apakah?"ucapku dalam hati sedikit penasaran. Cantik..." ucap tuan Darius saat berdiri di hadapanku. "Kenapa ingin menemui ku?" ucapku ketus tanpa menghiraukan tatapannya. "Fara...Fara, satu tahun tak bertemu kau semakin cantik dan...." ucap tuan Darius. Dan ia tertawa saat aku mengalihkan pandanganku menatapnya. "Menggairahkan..." ucapnya di sela tawanya. Hampir saja bang Pandu mendekati kami dengan tangan yang mengepal kuat. Namun aku mencegahnya melalui isyarat tanganku. "Apa mau mu?" ucapku tegas. "Aku ingin dirimu..." ucap nya dengan yakin. "Aku...?" ucapku. Kali ini aku menatapnya dengan cukup berani, walau degup jantungku hampir tak dapat aku kuasai. "Huh...Aku mencintaimu.. Sungguh" ucapnya sambil berjongkok di hadapanku. "Aku memang salah sudah memperlakukan mu dengan buruk. Dengan tidak hormat. Dan aku menyesal. Sejak kau pergi meninggalkan ku, aku kalut. Hidupku serasa hampa. Aku seperti kehilangan hal yang berharga dalam hidupku, yaitu kau Fara" ucapnya yang terus menatapku dan berjongkok di hadapan ku. "Kau kira aku terenyuh dengan semua penuturan mu? Kau kira aku memaafkan segala perbuatan mu? Cih....sungguh aku jijik dengan semua yang telah kau lakukan dan utarakan. Kau telah memberikan noda dalam hidupku. Noda yang hingga kini sudah mempengaruhi ketenangan jiwaku" ucapku sambil berdiri dan hendak berlalu. "Tunggu dulu Fara. Dengarkan penjelasanku. Aku mohon..." ucap tuan Darius lagi yang berhasil mencegah kepergian ku.
"Mungkin bagi sebagian orang akan merasa aneh, lelaki dewasa berumur 32 tahun mencintai seorang anak yang pada saat itu masih SMA. Tapi Bukankah itu cinta. Cinta bebas memilih kepada siapa ia akan hadir?" ucapnya. "itu cintamu bukan cintaku...!" ucapku tegas. "Jadi aku meminta kepada mu tuan Darius untuk tidak menghantui hidupku lagi. Karena aku bukan siapa-siapa. Karena aku tidak mencintaimu" ucapku dengan tegas. "Kau....!" ucap tuan Darius hampir teriak. Tangannya mengepal hebat. Ku kira ia akan melakukan hal buruk, tapi ternyata ia hanya diam dan menahan amarahnya. "Hanya aku yang mengerti dengan situasi mu saat ini. Jika kau beranggapan tubuh mu bernoda, maka aku akan menghapusnya" ucap tuan Darius lagi. "Tuan Darius yang arogan sudah menjadi orang yang penuh kepedulian. Lalu kemana rasa peduli mu itu satu tahun yang lalu? Saat tangan kotor mau itu menggerayangi tubuh ku dan membuat noda di tubuh ku yang hingga kini tak dapat ku hilangkan. Katakan....!" ucapku dengan penuh amarah. "Maafkan aku Farah. Maafkan...!" ucap tuan Darius mengiba. "Cukup...! Aku rasa semua sudah jelas. Aku minta Jangan temui aku lagi atau pun mengutarakan semua rasa cinta arogan mu itu. Aku bukan bocah ingusan yang mudah kau iming-imingi coklat agar bersedia menjadi mainanmu" ucapku sambil berlalu cepat penuh amarah. "Fara..." panggil tuan Darius berusaha mencegah langkahku dengan meraih ku paksa ke dalam dekapannya. Aku meronta hebat dalam dekapannya. "Aku mohon Fara menikahlah denganku. Aku bersumpah, aku sudah berubah...!" ucap nya seperti memohon. "Maaf, tuan..." ucap bang Pandu sambil mencengkram lengan tuan Darius. "Lepaskan Nyonya saya. Jangan sampai saya berbuat lebih kepada anda" ucap bang Pandu lagi dengan tegas dan penuh kharisma. Hal tersebut tentu saja langsung membuat tuan Darius melonggarkan deakpannya. "Aku melepaskan bukan karena aku takut padamu. Aku hanya memberi ruang kepada Fara..." ucap tuan Darius. "Fara....!" ucap tuan Darius setengah teriak saat aku berlari meninggalkannya dalam cegahan bang Pandu.
__ADS_1
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Aku berada dalam mobil. Aku tersedu. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Hati ku semakin terluka, jiwaku merana atas semua penuturan tuan Darius. "Ya Robb....."ucapku pilu. Dan tak lama kemudian aku pun segera menyusut tangis saat ku dengar pintu mobil dibuka. Ku seka berulangkali cucuran air mata yang sudah membasahi sebagian wajahku. "Jangan katakan apapun kepada Kak Mirza ataupun ayah. Biarkan Aku yang akan mengatakannya" ucapku. "Baik, Nyonya. Sesuai permintaan. Saya dapat mengerti" ucap bang Pandu yang menatapku melalui spion utama. "Terima kasih sudah membantuku..." ucapku lagi sambil menatap titik hujan yang mulai turun dan menempel pada kaca jendela. "Kita pulang, Nyonya..." tanya bang Pandu yang lagi-lagi menatapku melalui spion utama. Aku pun mengangguk perlahan. Dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menembus guyuran hujan yang menyapa bumi.
"Ya, Tuan. Nyonya baru bepergian. Nyonya bertemu dengan seorang teman" ucap bang Pandu. Aku yakin ia sedang berbincang dengan kak Mirza. "Baik Tuan..." ucapnya lagi. Kali ini ia memandangku. "Kata Tuan, ponsel Nyonya mohon diaktifkan" ucap bang Pandu. Setengah terkejut aku pun langsung mengambil ponsel dari dalam tasku. Aku pun tersenyum saat melihat ponsel ku yang tak bernyawa alias tidak aktif. Aku memang menonaktifkannya saat menemui tuan Darius tadi.
Drrt... Drrt... Drrt...
Ponselku berpendar sesaat setelah aku mengaktifkannya. Sepuluh pesan kak Mirza memenuhi kotak masukku. Sebagian menanyakan keberadaan ku, sebagian lagi menanyakan keadaanku. "Maaf tidak mengabari" begitu aku membalas pesan kak Mirza dengan menyisipkan emoji permintaan maaf.
"Maafkan aku. Sungguh cintaku bukan main-main. Dan yakinlah aku sudah berubah..." sebuah pesan dari tuan Darius membuat aku tertegun. "Maaf juga aku telah mendekap mu tadi. Aku hilang kendali. Aku hilang cara untuk menghentikan langkahmu" pesan dari tuan Darius lagi. Fara...tolong maafkan aku" pesan tuan Darius yang ku buka. Dan pada pesan yang terakhir ini aku membalasnya. "Jika ingin maaf dariku, maka penuhi permintaanku. Aku ingin kau tidak mengganggu hidupku lagi. Pergilah sejauh mungkin. Jika kau memenuhinya, maka maaf ku berikan. Namun jika tidak, maka hingga nyawa pergi meninggalkan raga sekali pun maaf ku tak kan pernah ku berikan" begitu balasanku.
Dan benar saja, tak lama mobil sport silver kak Mirza mendahului kami. Kak Mirza pun berhenti pada titik parkir di sebuah areal parkiran yang cukup luas dari sebuah pertokoan yang belum berpenghuni. "Mohon Nyonya tunggu disini dahulu. Sebentar saja" ucap Bang Pandu sambil keluar mobil dan menemui Kak Mirza yang berada sedikit jauh di mana aku berada. Kemudian tampak keduanya terlibat dalam perbincangan. Entah apa yang keduanya perbincangkan. Sekali pun aku menajamkan pendengaranku, namun tetap saja aku tak mampu menyimak perbincangan keduanya. Yang jelas kak Mirza mengisyaratkan ketidaksukaannya atas penuturan bang Pandu. Hal tersebut tergambar jelas pada raut wajahnya. Terakhir kulihat Kak Mirza begitu kalut. Amarahnya pun menjadi tak terkendali. Wajah tampannya mengeras dan tngannya mengepal. Tak ayal lagi, ia pun memukul pecah hingga berantakan kaca jendela mobi sport silvernya berulangkali. "Kak Mirza...!" teriakku begitu kalut. Segera saja aku keluar mobil dan berlari menghampirinya.
Tangisku pecah terutama saat melihat tangannya berdarah dengan beberapa pecahan kaca yang menempel pada kepalan tangannya. Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku langsung menghambur memeluknya. Kak Mirza pun membalas pelukanku tersebut. Dapat ku rasa nafasnya begitu memburu tanda amarahnya belum terkendali. Masih dalam dekapannya, lamat-lamat terdengar suara Isak tertahan. Aku pun mendongakkan kepala menatap wajah kak Mirza. Aku memastikan atas apa yang sedang ku dengar. Astaga...memanglah benar bahwa Kak Mirza lah yang sedang berurai air mata. Semakin terisak, maka semakin erat ia mendekapku. Seakan ia berisyarat enggan untuk melepaskanku. "Hei...ada apa sebenarnya ini?" batinku. Ada banyak tanya yang bergelayut di ujung hatiku. Pun demikian akhirnya aku memilih diam. Tanpa berkata apapun. Dan juga membiarkan diriku sebagai tempat sandarannya menangis. Sementara itu Bang Pandu berdiri membelakangi kami. Matanya menatap seluas parkiran yang tampak sepi. Sepertinya ia memberikan ruang dan waktu sejenak kepada kami untuk saling meluapkan kegundahan yang ada walau dalam diam ataupun hanya berupa tangis.
__ADS_1
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Aku hilang kata. Tak memiliki kekuatan untuk berkata sedikit pun. Saat ini kami terduduk dekat ceceran darah dan pecahan kaca mobil. Aku sudah menyusut tangisku, saat tanganku mulai membersihkan luka dan serpihan kaca pada kepalan tangan kak Mirza. Matanya manatapku begitu lekat. Ada duka dan amarah di sana, saat aku menatapnya sambil lalu tadi. Sementara itu sebelah tangannya yang lain mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Tiada reaksi apapun saat aku mencabut serpihan kaca terakhir yang cukup dalam pada kepalan tangannya. Mungkin rasa sakitnya telah dikalahkan oleh rasa suka dan nya. Terakhir aku membalut lukanya yang masih saja menitikkan darah. Dan lagi-lagi ia kembali merengkuhku dalam dekapannya. "Maafkan aku..." ucapnya sambil berdiri dan bersandar pada sisi mobilnya.
"Bang, kita ke rumah sakit atau ke klinik ya. Aku khawatir lukanya bertambah parah jika tidak ditangani dengan baik" pintaku yang langsung ditolak mentah-mentah kak Mirza. "Kita pulang saja ke apartemen ku. Biarkan Bang David yang akan mengurusnya" ucap Kak Mirza sambil duduk di belakang kemudi. Melihat itu aku dan Bang Pandu berpandangan. Namun apa daya kami menyikapi sifat dan tabiat kak Mirza yang keras kepala selain menurutinya. "Fara yang mengemudi?" saranku. "Yakin...?" ucapnya tak percaya. Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Akhirnya Kak Mirza pun menggeser posisi duduknya dan membiarkan aku memegang kendali atas mobil sport silver nya. "Ayah yang mengajariku jadi kakak tidak perlu khawatir begitu" ucapku sambil tersenyum tanpa menatap wajahnya tak berapa lama mobil pun melaju dengan kecepatan sedang dan menyusuri jalanan yang masih tampak basah karena baru saja bumi selesai diguyur hujan.
Kak Mirza menatapku yang sedang berfokus pada jalanan. Kali ini dengan senyuman walau tipis saja. Kemudian ia pun merebahkan kepalanya pada sandaran kursi. Matanya pun terpejam. Apakah ia tertidur? Aku tidak tahu.
Drrt...Drrt...Drrt...
Ponselku berpendar. Sebuah panggilan dari ayah. "Ya, ayah..." sapa ku diawal percakapan. "Dimana...?" tanya ayah. "Dalam perjalanan pulang. Namun sebelumnya Fara antar kak Mirza dahulu. Tadi bertemu saat di perjalanan pulang. Em, ada insiden kecil. Karena itu Fara mengantarkan kak Mirza" ucapku. "Baiklah. Hati-hati sayang..." ucap ayah. "Ya, Ayah..." ucapku menutup sambungan telepon.
Pukul satu lewat lima menit. Mobil ku parkir dengan cepat seakan sudah terbiasa dengan situasi dan kondisi basement apartemen kak Mirza. Langkah kami pun berpacu menuju apartemen kak Mirza setelah beberapa menit dalam lift. Beberapa langkah dari pintu apartemen, bang David pun menyambut kedatangan kami. Wajahnya dihiasi senyuman. "Jagoan...Memar di wajah saja belum sembuh benar, sudah ditambah luka lain lagi. Adikku ini benar-benar jagoan rupanya" ucap bang David setengah menggoda. "Baru tahu kalau adiknya jagoan?" ucap kak Mirza sambil menyenggol tubuh bang David hingga sedikit bergeser jauh. "Dasar semprul..." ucap bang David sambil tertawa.
"Wah...hebat nieh penolongnya. Seorang ahli Sepertinya" puji bang David yang menatapku sesaat. "Fokus..." ucap kak Mirza saat mendapati bang David yang mencuri pandang ku. "Bagaimana persiapan pernikahan ayah dan Tante Vira" tanya bang David sambil tersenyum menatapku. Sementara tangannya terampil memeriksa dan membalut kembali luka tangan Kak Mirza. "Semoga dilancarkan. Bang David hadirkan?" tanyaku. "In sya Allah. Bang David juga menyertakan istri dan anak. boleh kan?" tanya bang David. "Tentu saja boleh siapa yang melarang?" ucapku sambil terkekeh dan menatap keduanya bergantian.
__ADS_1
Pukul satu lewat empat puluh lima menit. Aku berpamitan. Dan kembali aku menatap Kak Mirza begitu dalam. Seakan mencari jawaban untuk banyak pertanyaan yang bergelayut diujung hatiku atas kejadian di areal parkir tadi. Pun demikian aku tetap diam. Lagi-lagi hanya mataku saja yang sanggup menyelami kedalaman tatapan mata kak Mirza demi mencari jawaban. Tak lupa senyum khas ku pun terurai mengiringi langkahku menuju areal parkir pada basement apartemen kak Mirza. "Semoga kau baik-baik saja, kak Mirza..." ucapku lirih sambil berusaha mensejajari langkahnya.