Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 58. Keanu


__ADS_3

Pukul empat lewat lima belas menit. Cafe dan toko 'homedecor' masih ramai dikunjungi. Hari ini adalah tepat bulan ketiga setelah peristiwa pembakaran. Semua sudah berjalan sebagaimana biasanya. Bersyukurnya aku adalah bahwa pelakunya sudah dapat ditangkap. Walau si pemain utama hingga kini belum dapat diketahui. Rupanya si dalang adalah orang berpengaruh atau setidaknya orang yang memiliki banyak uang dan koneksi. Semoga kali ini tiada aral yang menghalangi lajunya toko dan cafe karena keduanya milik hajat orang banyak yang didalamnya terdapat keringat dan doa anak-anak jalanan..


Pukul empat lewat dua puluh menit. Aku berada di office toko di lantai dasar. Menerima laporan keuangan dan *st*ock barang dari bagian toko. Selain itu juga menerim tamu dari beberapa UMKM sektor usaha mikro yang merupakan pemasok barang di toko ku. Tak jarang aku memesan barang tertentu berdasar desain ku. Dan tak jarang juga banyak disukai pelanggan.


Pukul lima tepat. Tiktok jarum jam pada dinding menyadarkan dari lamunan sesaat ku. Aku mengusap wajahku dan menyandarkan kepala ku pada sandaran kursi. Fikiranku kembali mengembara jauh. Berhenti sesaat pada peristiwa sebulan lalu saat aku menimang sebuah surat dari pengadilan agama. Akta cerai. Akhirnya resmi sudah diriku menyandang status baru, yaitu janda. Ternyata hidup itu begitu cepat berubah. Sesaat lalu aku gadis, kemudian menjadi nyonya Mirza dan kini menjadi janda. Luka apa yang belum aku rasa di kehidupan ini? Rasanya semua sudah ku rasakan.


Mataku masih saja menatap keluar menerobos jendela kaca office. Tak lama kulihat Roy melangkah menuju office. Sesekali ia menyapa pegawai atau pun pelanggan yang ia temui. Dan senyumnya pun selalu menghiasi wajahnya. Tak terbayangkan sebelumnya akan bertemu kembali dengannya pada situasi yang berbeda. Sungguh di waktu ini hatiku sudah mulai sembuh dari ketakutan atas dirinya. Terlebih karena perubahan yang ia tampilkan kini. Ia lebih humble dan humanis. Dan ia juga tampan. (eng...ing...eng...). "Nyonya..." ucapnya saat membuka pintu dan berdiri sambil tersenyum menatapku. "Masuklah, kak..." ucapku yang membuatnya sumringah karena embel-embel panggilan yang ku sematkan padanya, yaitu kak. "Potong rambut lah, Kak. Tuh rambut sudah hampir sama dengan Laila" ucapku saat ia duduk di hadapanku. Ia pun tertawa. "Senang diperhatikan begini" ucapnya sambil memainkan rambutnya. "N-o-r-a-k" ucapku sambil membersamai tawanya. "Ya, okay. Nanti aku potong. Tapi ada kabar yang pasti membuat Nyonya bahagia" ucapnya sambil tersenyum dan menatapku. "Stop memanggilku nyonya, Kak. Aku tidak suka..." ucapku yang membuatnya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. "Baiklah, lain kali ya..." ucapnya lagi yang terus tersenyum. "Em, tuan Keanu sudah kembali" ucapnya.


Deg.


Aku tertegun. Entah apa yang ada dalam fikiranku saat itu. Seingatku aku hanya diam dan memandang kak Roy. Merasai jantungku yang berdegup hebat dan jiwa ku yang berdesir saat namanya disebut kak Roy. Seakan tak percaya. Dan lamunanku pun menjadi samar saat ponselku berpendar. Kak Roy pun berisyarat sambil tersenyum. Tangannya menyodorkan ponselku yang sejak tadi belum ku sentuh. Sederet angka menghiasi layar ponselku. Lagi-lagi bibirnya berisyarat menyebut sebuah nama. Keanu. Benarkah kak Keanu,fikirku. "Assalamu'alaikum..." ucapku membuka pembicaraan sedikit ragu. "Maaf, mbak saya dari ekspedisi. Saya ingin mengantarkan paket. Ingin konfirmasi alamat" ucap seorang laki-laki di ujung telepon. Dan hal itu membuatku menunjukkan ekspresi yang membuat kak Roy tertawa. "Kakak mengerjaiku...!" ucap ku kemudian sambil menghadiahinya beberapa cubitan pada lengannya. Ia pun mengaduh dan berucap ampun atas perlakuan tersebut. Namun yang membuatku tak kalah kesal adalah ia tetap menertawaiku. Dan beberapa pukulanku pun sempat bersarang di lengannya. Aku semakin kesal saat ia tetap saja tertawa hingga sebuah suara menghentikan prilaku kami tersebut. Suara itu berdehem tepat saat ia berdiri di ambang pintu. Sontak aku tatapanku beralih pada sosoknya di ambang pintu.


"Kak Satria..." ucapku saat melihatnya. "Kau menjaga nya, ku rasa bukan seperti ini menjaga" ucap kak Satria ketus sambil menatap kak Roy. Ditegur demikian, kak Roy langsung terdiam dan membetulkan sikap berdirinya. Tampak kak Roy menghela nafas. "Tidak apa-apa, Kak. Kami hanya bercanda sedikit menghilangkan ketegangan" ucapku sambil tersenyum dan menatap sekilas Satria. "Apa kabar, Nyonya...?" ucap Satria takzim. "Kabarku sudah membaik. Jauh lebih baik" ucap ku sambil duduk pada kursi ku. "Syukurlah...Em, saya hanya ingin menyampaikan ini. Dari tuan Keanu" ucap Satria. Tangannya menyodorkan sebuah kotak biru berukuran sedang dengan pita berwarna merah muda di atasnya. Sesaat aku menatap kotak biru itu. Kemudian aku menatap kedua laki-laki itu bergantian. Keduanya seakan mengerti akan isyarat dari tatapanku itu. Dan keduanya pun langsung meninggalkan ku sendiri dengan kotak biru berpita merah muda yang tergeletak pada meja. Berdesir jiwaku saat tanganku menyentuhnya. Hei...ada apa ini? aku membatin.


"Gaun...?" ucapku saat melihat isi kotak biru itu. Sebuah gaun berwarna biru terlipat rapi dalam kotak. Lengkap beserta kerudung berwarna serupa. Kemudian aku meraih gaun itu dan menatapnya lekat. "Untuk apa.." ucapku lirih. Ku lihat sebuah amplop yang juga berwarna biru tergeletak di dasar kotak. Aku menimangnya sesaat sambil menatapnya sendu. Ku buka amplop tersebut dengan sangat hati-hati. Ku baca setiap baris kalimat yang tertera.

__ADS_1


"Hai...istri masa kecilku yang cantik. Apa kabar mu? Maaf aku tidak membersamai saat kau menangis. Oya, terima kasih sudah menjadi alasan ku untuk tetap hidup hingga aku bisa kembali.


Datanglah pukul tujuh nanti. Satria akan menjemputmu. Dan mohon pakailah gaun yang sudah kupilihkan untukmu. Pun dengan kerudungnya. Pasti kau cantik sekali.


Dari Keanu, suami masa kecilmu"


Aku tertegun membaca setiap deret kalimat pada lembar kertas biru itu. Entah mengapa, tak terasa bulir bening mengalir begitu saja. "Nyonya..." ucap Satria yang sudah berdiri di ambang pintu kembali. Aku pun buru-buru menyusut tangisku dan menghapus bulir bening yang terlanjur terjun bebas. Aku tersenyum menatap Satria yang masih saja berdiri di ambang pintu. "Sebelum pukul tujuh saya akan sudah berada di rumah Nyonya untuk menjemput. Harap Nyonya sudah bersiap sebelumnya" ucap Satria sambil mengangguk takzim. Ia pun berlalu meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Ada gundah yang menyelinap di ujung hatiku.


Pukul lima lewat dua puluh menit. Aku merapikan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja dan memasukkannya pada tas yang selalu ku bawa. Langkahku begitu ringan saat meninggalkan toko. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang saja. Kak Roy lah yang ada di belakang kemudi saat ini. "Ada masalah..." ucap kak Roy yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala yang begitu lemah. "Yakin...?" ucap kak Roy lagi. Matanya sekilas menatapku dengan senyum tipis di sudut bibirnya. "Em, kak Keanu memintaku menemuinya dengan memakai gaun yang sudah ia kirimkan. Aku bimbang. Haruskah aku datang?" ucapku. "Dia sahabatmu kan? Karena itu datanglah..." ucap kak Roy. "Sahabat? Kemana ia saat aku membutuhkannya?" ucapku kacau. "Pasti tuan Keanu punya alasan tersendiri. Aku yakin itu..." ucap kak Roy lagi. Ia begitu yakin saat berucap tadi. "Entahlah..." ucapku sambil menyandarkan kepalaku.


Ku rebahkan tubuhku sesaat pada kasur yang sejak tadi seakan memanggil-manggil ku. Mataku terpejam, namun tidak tidur. Kemudian aku teringat pada kotak berwarna biru, berpita merah muda. Aku pun kembali membukanya dan meraih gaun berwana biru itu. Ku lekatkan gaun biru itu pada muka tubuhku yang sudah berdiri di depan sebuah cermin. Aku tersenyum saat melihat pantulan bayangan ku pada cermin. "Gaun yang cantik..." gumamku.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponselku berpendar. Sebuah pesan menghiasi layarnya. "Maaf, Nyonya. Bolehkah saya menyertai, Nyonya. Saya sedikit khawatir" pesan kak Roy. "Tidak perlu. Toh yang aku temui Keanu. Bukan tuan Darius yang dahulu...🤭" balasku lengkap dengan sebuah emoji. "Nyonya...!" pesannya lagi. Dan aku pun kembali membalasnya dengan sebuah emoji tertawa.

__ADS_1


Pukul enam lewat sepuluh menit. Aku sudah bersiap dengan mukena ku dan sajadah panjang ku. Ku hadapkan segenap jiwa dan ragaku kepada sang Khalik Robbul'izati. Kekhusyukan ku bukan mainan. Ini adalah wujud penghambaanku kepada Tuhanku. Bersyukur atas semua limpahan karunia kepada ku dan juga kepada orang-orang yang ku sayangi. Bermunajat kembali atas penghidupanku selannutannya dan memohon keberkahan atas rizki dan hidupku. "Aamiin..." ucapku mengakhiri doa panjang ku.


Ku seka bulir bening yang mengalir dan sudahembasahi sebagian wajahku sambil merapikan mukena dan sajadah yang baru saja ku pakai. Duduk aku pada tepian tempat tidur. Mataku kembali menatapi gaun biru yang tergantung di lemari. Lama aku berdiam diri sambil memandangi gaun biru tersebut. Kemudian dengan langkah sedikit berat akhirnya aku pun mengarahkan tubuhku mendekati gaun berwarna biru itu. Meraihnya dan beberapa saat kemudian gaun pun telah terpakai lengkap dengan keeudung dengan warna senada. Ku sapu wajahku dengan bedak beberapa kali. Ku ronakan pipi ku dengan perona berwarna soft. Kemudian aku pun memoles bibirku tipis-tipis saja. Dan sekali lagi aku tersenyum mendapati diriku pada pantulan cermin di depanku.


"Nyonya...Satria sudah datang" terdengar suara kak Roy dari balik pintu kamarku. "Ya. Sebentar lagi..." jawabku sambil merapikan kerudungku dan gaun biru yang ku pakai. Ku sambar tas kecil yang berisi perlengkapan make up dan ponselku. Langkahku sedikit cepat hingga di depan pintu. Ku putar gagang pintu dan membukanya. "Kak Roy..." ucapku terkejut saat mendapatinya tengah berdiri di depan pintu kamarku. Ia tersenyum menatapku. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Ditatap demikian tentulah aku menjadi rikuh. "Bagaimana..." ucapku sambil memutar tubuhku menutupi kerikuhanku. "perfect..." ucap kak Roy sambil mengangkat tangan dengan menautkan dua jarinya, yaitu ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf O serta membiarkan ketiga jarinya tetap tegak lurus. Aku pun tersenyum mendapat pujian tersebut. Kembali ku langkahkan kaki mengekori Satria yang sejak tadi berdiri dekat pintu.


Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Mobil sport hitam yang selalu digunakan kak Keanu memasuki sebuah halaman rumah yang besar dan megah. Rumah yang pernah aku tinggali selama satu minggu. Berdiri mama Wina di teras menyambut kedatanganku dengan senyum khasnya. "Fara, sayang..." ucap mam Wina yang langsung memeluk ku. Aku pun membalas pelukan mama Wina yang terasa hangat itu. "Oya, ini untuk mama" ucapku sambil menyodorkan sekotak cupcake yang tadi sengaja kusiapkan dan baru saja dibawakan Satria.


"Satria...antarkan Fara ke atas. Keanu sepertinya sudah menunggunya sejak tadi" ucap mama Wina. Kemudian aku pun Kembali mengekori langkah Satria. Menaiki anak tangga hingga sampai di roof tempat dahulu aku dan kak Keanu menatapi langit. Sesampainya ditempat yang dimaksud, aku langsung mendapati kak Keanu yang tengah duduk menatapku dengan senyum khasnya. Mataku tak lepas menatapnya. Sedikit menyimpan keanehan di ujung hatiku. Mengapa kak Keanu tidak menghampiriku saat aku datang. Ini bukan menjadi kebiasaannya. Kak Keanu hanya memberi isyarat dengan tangannya agar aku mendekatinya dan duduk dihadapannya. Lagi-lagi bukan menjadi kebiasaannya saat ia duduk saja ketika aku ingin duduk. Ah, sudahlah. Toh, Satria yang sudah berlaku manis kepadaku dengan menarikkan kursi untukku. "Terima kasih..." ucapku yang dibalas anggukan takzim Satria sesaat sebelum berlalu. "Hei...cantik. Apa kabar?" ucap kak Keanu sambil mengulurkan tangannya. Aku pun menyambut uluran tersebut sambil mengumbar senyum. "Jauh lebih baik..." ucapku. "Maafkan aku. Aku tidak membersamai mu saat kau luka atau pun menangis" ucapnya sambil menggenggam jemariku dengan sebelah tangannya. Aku hanya tersenyum sambil sesekali menatap wajahnya yang terlihat sedikit tirus. "Aku tahu kau kesal kepadaku. Karena itu aku meminta maaf" ucapnya. "Kakak kemana saja hampir empat bulan ini? Bukankah kakak berjanji akan selalu ada untukku? Terutama saat aku menangis...?" ucapku yang sesekali menatapnya. Kak Keanu terdiam. Matanya kini menatap langit yang tampak cerah dan ramai dengan Kerling bintang yang tampak indah. Tepat diantaranya tampak bulan menggantung sempurna.


"Saat kau terluka aku tahu. Dan sepenuh jiwa ku berontak ingin segera menemui mu. Segera ku selesaikan pekerjaan ku yang baru dua hari ku kerjakan. Saat mendengar kau terluka aku langsung memutar setir mobil menuju kepadamu. Aku begitu khawatir hingga tak tahu lagi berapa kecepatan ku saat itu" ucap kak Keanu yang langsung ku potong. "Tapi kakak bohong. Ternyata kakak tidak datang. Dan membiarkan Roy menggantikan kakak menjagaku. Hingga aku harus menghadapi beberapa teror, toko dibakar kakak pun tidak datang" ucapku tanpa menatapnya. Entah mengapa aku begitu marah pada kak Keanu. "Aku yakin kakak tidak memiliki jawaban pasti atas semua pertanyaan ku itu?" ucapku yang kini tengah menumpahkan segala kekesalanku selama ini. Aku sendiri menjadi tidak faham akan diriku sendiri mengapa aku berlaku demikian. Dan bulir bening yang sejak tadi menggenang pun tumpah sudah, membasahi sebagian wajahku. "Jangan menangis, Fara...Aku tak sanggup melihat duka mu itu" ucap kak Keanu. "Jangan menangis Fara...!" ucapnya lagi sambil mengejentak meja di hadapannya. "Jangan menangis, aku mohon..." ucap kak Keanu yang berusaha berdiri. Aku terpaku melihatnya. Ia begitu kesusahan hingga tubuhnya bergetar. Walau kedua tangannya menopang pada tepian meja, namun tetap saja kak Keanu kesulitan untuk berdiri. Aku makin terpaku menatapnya. Hingga ia terjatuh, barulah aku tersadar bahwa ada sesuatu yang telah terjadi padanya. Bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


Aku berlari menghampiri kak Keanu yang sudah hampir rebah pada lantai. Setengah teriak saat melihat kondisinya kini. Apalagi saat melihat sebuah kursi roda di dekatnya. "Kak Keanu..." ucapku sambil berusaha merengkuh tubuhnya. Kak Keanu, kau...." ucapku terhenti. Namun mataku terus menatap kursi roda di dekatnya.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2