Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 107. Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Pukul delapan lewat sepuluh menit. Aku menatap langit tampak cerah dengan bulan separuh yang menggantung. Cahayanya begitu lembut membasuh wajahku yang terus menengadah. Sementara itu tampak di sekelilingnya ditaburi bintang dengan kerling manjanya. Sungguh serasi kedua benda ciptaan Tuhan menghiasi langit.


Tak bergeming sedikit pun, aku terus menatapi langit. Sesekali tanganku menghapus air mata yang satu-satu mulai terasa menyata di pipi ku. Memulai kembali kebiasaan lama bersama kak Keanu membuatku tak mampu membendung gerimis di hati ku. Satu-satu keping kenangan bersama kak Keanu berseliweran silih berganti menggelitik ujung ingatan ku.


Drrt...Drrt...Drrt.


Sebuah pesan menghiasi layar ponselku. Entah siapa pengirimnya aku tidak tahu.


*Menatap langit itu hal yang membahagiakan, karena kita bisa menyapa bintang ataupun mencium manja bulan yang menggantung di kaki langit. Tapi mengapa justru sebaliknya terjadi padamu. Kau begitu kalut. Kau begitu gamang. Juga begitu duka.


Janganlah demikian, aku takut tangis dan semua rasamu menjadi sia-sia. Aku takut semua tangis mu mencubit rasa syukurmu atas penciptaan-Nya*.


Begitu pesan yang tertera pada layar ponselku. Aku mengerutkan dahi. Tahu apa dia tentang semua tangis dan yang ku rasa. Siapa dia yang berani-beraninya menilai semua tangis dan rasaku. Darimana hak ia peroleh untuk semua itu. Dan lagi siapa dia...?


"Siapa anda? Mengapa anda mengusuli semua tangis dan rasa yang ku?" begitu balasku. Mungkin ku utarakan langsung, maka rasa kesalku akan tampak jelas. "Hanya seorang yang pengecut yang berpendapat namun menyembunyikan identitasnya" ucapku lagi" pesanku lagi. Namun kali ini terasa sedikit ketus.


"Hehe...Maaf, jika tidak mengenalkan diri. Aku sangka kau sudah menyimpan kontak ku. Aku Aiman. Apa kabar Fara?" pesannya.


Deg.


Aiman...? Mendadak aku merasa ada desiran aneh yang menelusup di hati. Tiada kata yang berhasil ku tulis pada layar ponsel yang masih berpendar. Aku hanya menatapnya. Dan berulang membaca deretan kata yang ia kirimkan.

__ADS_1


"Mengapa diam, Fara...? Adakah sesuatu yang terjadi?" pesannya lagi. "Mengapa kakak menjadi pengecut untuk berdiri di hadapanku? Aku tahu kakak pasti berada di dekat dari tempatku berada. Aku tahu kakak tengah memperhatikan ku" pesanku lagi. "Aku sangat ingin menemuimu, Namun belum saatnya. Aku khawatir kau akan kecewa saat menjumpai ku" pesannya lagi. "Kau berubah menjadi pengecut kak Mirza" pesanku. Kali ini aku menyebutnya dengan nama lain bukan sebagaimana seperti pengakuannya. Lama ponselku tak berpendar. Aku yakin ia tengah menikmati keterkejutannya atas pesan ku.


Aku menjadi tidak sabar. Aku penasaran akan reaksi yang akan ia berikan. Apakah ia akan langsung menghilang karena aku sudah mengetahui kedok nya? Atau justru ia akan menantang dan menatapku seakan tak terjadi apa-apa? Berulangkali aku menilik ponsel yang belum lagi berpendar. Kemudian akhirnya aku memilih meninggalkan teras samping rumah saat hawa dingin mulai menyapa tubuh.


"Aku bukan pengecut seperti yang kau sematkan, Fara..." ucap seorang laki-laki. Dia berdiri bersandar pada dinding tak jauh dari tempatku berada. Wajahnya samar karena hanya terbasuh pendar cahaya lampu taman yang sekedarnya saja. Namun dari suaranya aku faham betul siapa laki-laki yang kini tengah berdiri tegak itu.


"Aku bukan pengecut, Fara..." ucapnya lagi seiring langkahnya yang mendekatiku. Aku diam. Lidahku mendadak kelu. Hanya mata ku saja yang menatapnya gamang sambil berusaha mendamaikan degup jantung yang sejak tadi menjadi bertalu.


Plak.


Aku menyarangkan tamparan di wajah tampannya. Entah mengapa aku melakukannya. Sesaat ia tampak terkejut atas perlakuan ku tersebut. Namun kemudian ia justru tersenyum. "Ku anggap itu sebagai ucapan selamat datang" ucapnya sambil terus menatapku. Tatapan yang sejak dahulu amat ku benci. Tatapan bak singa mengincar mangsa. Langkah ku surut saat bibirnya menyunggingkan senyuman. "Sekarang siapa yang menjadi pengecut? Aku atau kau Fara...?" ucapnya.


"Jangan berdalih. Jawab saja pertanyaanku..." ucapku lagi sambil membetulkan kerudung ku dan duduk pada sebuah kursi. Sepintas ku lihat kak Mirza mengusap wajah yang ternyata telah basah dengan air matanya. Aku tertegun menatapnya.


"Saat itu, Pandu atau Keanu - suami mu menghubungiku..." ucap kak Mirza sambil menyandarkan tubuh pada dinding.


Mirza Flashback On


"Entah aku harus memanggilmu apa, tapi bagaimana jika kita saling memanggil nama saja" ucap Keanu yang langsung ku setujui. "Aku tahu kau begitu mencintai Fara. Karena itu aku memintamu untuk menjaganya" ucap Keanu. "Apa maksud mu? Aku tidak faham, bagaimana mungkin seorang suami menyerahkan penjagaan istrinya kepada laki-laki lain" ucapku heran.


"Semua menjadi mungkin jika situasiku tidak memungkinkan lagi untuk menjaga dan memberinya kebahagiaan" ucap Keanu. Aku semakin penasaran. "Mirza, aku tidak ingin menjadi beban Fara. Karenanya aku menyetujui usulan mama untuk mengabarkan kematianku kepadanya setelah peristiwa kecelakaan maut itu" ucap Keanu yang membuatku semakin penasaran. "Aku kehilangan kedua kaki juga rusaknya beberapa organ vital ku. Hidupku kini hanya mengandalkan topangan berbagai alat dan obat. Sementara Fara sendiri kehilangan penglihatannya..." ucap Keanu dengan suara bergetar.

__ADS_1


Deg.


Ingin rasanya aku tak percaya atas semua yang telah ku dengar. Namun tak mungkin rasanya demikian karena Keanu sendirilah yang mengatakannya. "Lalu bantuan apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku. "Dampingi dan jaga dia hingga matanya pulih" ucap Keanu. Dari suaranya aku yakin ada isak tertahan yang membuatku terenyuh.


"Aku tahu kau pun sudah sendiri, Mirza. Istrimu sudah mendahuluimu. Dan aku tahu, kau pun masih selalu mencintai Fara. Dan kau masih berharap akan cinta Fara kembali padamu. Karena sesungguhnya kau tidak pernah bermaksud melepaskan Fara" ucap Keanu lagi.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, Keanu. Sungguh...?" ucapku gamang. "Gantilah nama mu dan berbincanglah dengan dokter Faaz. Faaz sudah tahu segalanya. Aku memintamu karena aku percaya kau akan menjaga Fara sebaik aku menjaganya" ucap Keanu.


Mirza Flashback Off


Aku terdiam. Hanya air mataku saja yang terus mengalir. Bulirnya jatuh satu-satu pada pangkuanku.


"Aku tidak memiliki maksud lain, Fara. Aku hanya ingin menjaga dan membuatmu bahagia seperti yang Keanu inginkan. Aku tidak melibatkan perasaan yang selama ini selalu mendiami hatiku. Perasaan yang tidak pernah meninggalkan hati bahkan jiwa ku. Sungguh...Aku hanya ingin memenuhi keinginan Keanu. Dia memang reval ku, tapi dia juga teman terbaikku" ucap kak Mirza panjang. Matanya tanpa menatapku. Ia hanya tertunduk lesu.


"Ada lagi yang kakak sembunyikan...?" ucapku yang berhasil membuatnya mengangkat wajah dan menatapku lekat. "Jadi kau berfikir aku mendustaimu...?" ucap kak Mirza. "Lalu apa yang bisa dilakukan kakak selain berdusta? Apakah kakak lupa, bukankah kakak sebelumnya pun menjadi pendusta?" ucapku sambil berlalu meninggalkannya.


"Fara...tunggu" ucapnya sambil melangkah cepat menghampiriku. "Aku butuh waktu untuk mempercayai semua ucapan mu, kak. Maaf..." ucapku sambil berisyarat menggunakan tangan. Dan ia pun menghentikan langkahnya saat melihat isyaratku itu.


Setengah berlari aku memasuki rumah yang sejatinya milik kak Mirza. Entah mengapa ada sebagian hatiku yang berontak atas perlakuanku itu terhadapnya.


Tidak...! Jangan percaya Fara. Laki-laki itu pernah meluakimu. Bukan sekali tapi berulangkali. Ingat itu...!

__ADS_1


__ADS_2