
Berdiri aku di sudut halaman yang ditumbuhkan sayuran nan ranum. Kubiarkan ujung kerudungku diterbangkan angin yang juga menerpa lembut wajahku. Mataku terpejam sesaat merasai aroma pagi di pagi ini. Dan fikiranku menerawang, mengingat deretan jadwal terapi kak Keanu yang ku dapat dari Satria semalam. Dan berdasar jadwal tersebut aku bermaksud untuk menemaninya terapi hari ini. Dan pagi ini aku ingin mengejutkan kak Keanu.
Pukul lima lewat tiga puluh menit. Aku melajukan mobil menyusuri jalanan yang masih lengang. Hanya beberapa kendaraan saja yang hilir-mudik di kiri-kanan mobil merahku. Saat ini aku sedang menuju rumah besar yang baru semalam aku kunjungi. Dan melalui Satria aku berkabar akan kedatanganku ini. Kemudian takk membutuhkan waktu lama aku pun sudah memasuki pintu pagar yang tinggi dan sudaha terbuka. Mungkin Satria yang memberitahukan untuk membuka pintu sepagi ini. Aku pun melenggang ke halaman yang cukup luas itu dan memarkir mobil.
"Fara..." ucap mama Wina sesaat aku mematikan mesin mobil. Ku cium punggung tangannya dengan takzim sambil mengucap salam. Tak lupa aku menyodorkan buah tangan yang ku bawa tadi. "Untuk mama. Yang ini untuk kak Keanu" ucapku sambil tersenyum. "Terima kasih, sayang. Kak Keanu mu Sepertinya sedang tidur lagi. Tadi sesudah sholat ia meminta tidur kembali" ucap mama sambil beriringan menuju kamar kak Keanu. "Bangunkan saja, sayang..." ucap mama setengah berbisik saat langkah kami terhenti tepat di kamar kak Keanu. Mama tersenyum menatapku sambil membukakan pintu. "Jangan ditutup ya, Ma..." bisikku yang langsung disambut dengan anggukan kepala.
Pukul lima lewat lima puluh lima menit. Aku melangkah memasuki ruang tidur kak Keanu. Ku buka gorden dan membiarkan cahaya kemerahan itu membias. Kemudian aku menarik kursi hingga dekat tempat tidur, dimana kak Keanu terlelap. Ku tatap wajah tampan kak Keanu yang terlelap itu. Melihatnya begitu lelap timbul sifat jahil ku. Aku pun menuang air dalam gelas dan meneteskan pada wajahnya. Kak Keanu pun terkesiap. Ia mengusap matanya berulangkali dan jadi terpaku saat melihat kehadiran ku.
"Astaga...Fara!" ucapnya setengah teriak. Aku tersenyum melihat ekspresi di wajahnya. "Selamat pagi...!" ucapku setengah teriak. "sejak Kapan?" ucap kak Keanu. "Sejak kakak tidur tadi" jawabku sambil cengengesan. Ada apa sepagi ini menemui ku" tanyanya lagi. "Membangunkan suami" ucapku sekenanya. "Ah, suami, istri diajak menikah pasti menolak" ucapnya sambil tertawa. Tak lama ia pun ke kamar mandi menyelesaikan ritual paginya dibantu Satria.
Pukul enam lewat lima belas menit. Kak Keanu sudah selesai dengan ritual paginya. "Minta tolong, sayang..." ucapnya meminta bantuan sambil menunjuk pada sisir yang letakny agak jauh dari jangkauannya. "Ku bantu sekalian ya..." ucapku sambil mengambil sisir dan langsung merapikan rambut kak Keanu yang sudah hampir sebahu dan mengikatnya dengan rapi. "Istri idaman..." ucap kak Keanu sambil pengacak pucuk kepalaku. Aku hanya tersenyum tipis mendapat perlakuan tersebut. Namun yang membuat aku terdiam adalah kata-katanya, 'istri idaman'. Idaman siapa? Jelas-jelas aku saja terdepak dari pernikahan. Hehehe...
__ADS_1
Kemudian kak Keanu melajukan kursi rodanya menuju balkon. Direntangkannya kedua lengannya menghadap matahari yang mulai menyembul malu. Matanya terpejam dengan nafas yang begitu teratur. Aku tersenyum menatapi wajah tampannya. "Sarapan dulu, kak" ucapku dengan membawa semangkuk bubur ayam. Bibirku pun berisyarat agar ia membuka mulutnya. "Aaaa..." ucapku sambil menyorongkan satu sendok penuh bubur ayam. Kak Keanu pun tersenyum dan langsung mengikuti instruksi isyaratku tersebut. Berulangkali aku menyuapinya hingga semangkuk bubur ayam tersebut ludes. Kak Keanu pun mengungkapkan betapa enaknya mempunyai pendamping hidup. Aku pun menganggapnya dengan berseloroh. "Menikah donk. Cari pasangan yang membuatmu bahagia" begitu ucapku yang membuatnya tersenyum menatapku. Tatapan yang selalu membuatku gagal faham.
"Ponsel mu. Sibuk sekali. Dari semalam berpendar terus hingga pagi ini. Ada seseorang yang begitu mengkhawatirkan mu. Balas lah dahulu agar ia tenang" ucapnya sambil menyodorkan ponsel kepadaku. Ponsel yang semalam tak sengaja tertinggal. Sejenak mataku asyik mengotak-atik ponsel. Sesekali aku menatap kak Keanu terutama saat membaca pesan-pesan kak Roy yang nyatanya sudah terbaca. Mungkinkah kak Keanu yang melakukannya? "Maaf aku membaca pesan-pesan mu. Aku penasaran siapa yang begitu sibuk mengkhawatirkan mu. Ternyata kak Roy. Dari tuan Darius menjadi kak Roy" ucapnya tanpa menatapku. Hei ada ketidaksukaan di kata-kata yang ia lontarkan juga pada ujung tatapannya. Apakah kak Keanu cemburu?
"Maaf tuan, terapisnya sudah datang" ucap Satria yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang kami. Kak Keanu pun langsung membersamai langkah Satria. Hingga di sebuah ruangan yang cukup besar kak Keanu bersiap terapi. Ruangan dengan dinding berwarna abu itu begitu elegan dengan ornamen dan furniture yang cukup kontras. Dengan bertelanjang dada kak Keanu memulai sessi terapinya. Aku menatapnya tiada henti. Menilik setiap ekpresi yang ia tampilkan pada wajahnya. Sesekali ia memejamkan matanya menahan rasa sakit dari perlakuan terapisnya. Dua puluh menit berlalu dan peluh mulai membasahi tubuhnya. Ia tampak begitu lelah. Nafasnya sudah tak beraturan. Melihat itu aku jadi terenyuh dan khawatir. "Bisakah berhenti sejenak?" ucapku kepada terapisnya yang langsung dibalas dengan anggukan kepala dan juga senyum tipisnya. "Tiga menit, Nyonya..." ucap terapis tersebut. Aku pun mengangguk tanda mengerti.
"Minumlah..." ucapku sambil menyodorkan juice jeruk dalam Tumbler. Ia pun meneguknya beberapa kali. Sementara itu aku menyeka peluh pada sebagian wajahnya. "Sabar dan kuatlah, Kak..." ucapku menyemangatinya. Kak Keanu pun tersenyum sumringah. Matanya menatapku penuh makna. Tak lama kemudian terapi pun dilanjutkan kembali. Kali ini melatih kekuatan dan kelentukan pada kakinya. Tampak kak Keanu sedikit khawatir. Berulangkali ia menghela nafas panjang. Matanya dipenuhi kekhawatiran. Dan kemudian, susah payah ia berusaha berdiri dengan berpegangan pada besi di sisi kanan-kiri nya. Satu-satu ia mulai melonggarkan pegangannya. Langkah pertamanya pun ia mulai. Aku tersenyum hingga hampir manangis melihat ia berhasil di langkah pertama dan keduanya. Namun tiba-tiba saja kak Keanu hampir terjatuh. Pun demikian tetaplah aku terpekik. Aku begitu khawatir. Entah mengapa langkahku menjadi terasa ringan sehingga langsung mendekatinya. Memegang lengannya erat. "Aku bersamamu, Kak" ucapku. Ia tersenyum menatapku. Kini sebelah tangannya tidak lagi menopang pada pegangan di sisi kirinya namun pada bahu ku. Selama lima belas menit ia melakukan terapi langkah. Basah tubuhnya dengan peluh yang membasahi sejak tadi. "Aku sudah lelah..." bisiknya. Mendengar itu aku berisyarat kepada terapis untuk menyudahinya.
Pukul delapan lewat sepuluh menit. Aku pamit. Ada kekecewaan di kata yang terlontar saat kak Keanu mengiyakan kepergian ku. "Em, In syaa Allah...lusa aku akan membangunkan kakak lagi" ucapku sambil tersenyum. "Terima kasih untuk hari ini..." ucapnya sesaat aku berlalu meninggalkannya. Kembali aku menuruni anak tangga yang cukup panjang. Dan pada anak tangga terakhir tampak mama Wina tersenyum menatapku. Ia langsung memelukku erat. "Terima kasih sudah membantu Kak Keanu mu" bisik mama yang kemudian melonggarkan pelukannya sekaligus menyusut tangisnya. Mama pun berharap agar aku selalu membersamai kak Keanu saat terapi. Karena menurut mama, aku adalah sumber kekuatannya kini. "What..." ucapku terkejut dalam hati. Pun demikian aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mama tersebut.
Pukul delapan lewat lima belas menit. Di hari yang berbeda. Karena hari ini adalah hari kedua belas Sejak aku membersamai terapi kak Keanu. Aku sudah tidak menepati janjiku pada kak Keanu. Dan melalui Satria aku selalu mendapatkan informasi tentang perkembangan terapi kak Keanu. Namun yang membuat terkejut adalah saat ku ketahui bahwa kak Keanu sudah melewatkan tiga sessi terapinya. Dan hari ini kak Keanu pun begitu kacau. Ia tidak ingin ditemui siapa pun. Bahkan dari kamarnya terdengar barang-barang yang terhantam dan atau pecah. Mama Wina begitu khawatir hingga ia meminta bantuanku untuk menemui kak Keanu. Dan aku menyanggupinya setelah pekerjaan di toko dan cafe ku selesaikan.
__ADS_1
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Mobil merah ku kembali meluncur cepat menuju rumah kak Keanu. Mama Wina langsung menghampiriku saat aku berhasil parkir di halaman rumah. Wajahnya begitu menampakkan kekhawatiran. Dan akhirnya mama pun menangis sambil memelukku. "Bantu mama, sayang" ucap mama Wina pilu. Bukannya langsung masuk rumah aku justru mengitari rumah. Hingga tepat di bawah kamar kak Keanu barulah aku menghentikan langkahku. Mataku menatap balkon. Berbekal batu kecil aku mulai melempari balkon kamarnya. Satu kali, dua kali, tiga kali tiad jawaban hingga aku pun meneriakinya. Tentu saja dengan caraku. "Hei...Tuan muda labil. Tuan muda labil...!" begitu teriakku sambil terus melempari balkon kamarnya. Dan sekali lagi aku meneriakinya sambil melempari balkon kamarnya dengan batu-batu kecil. Tak lama seulas wajah pun menyembul di sisi balkon. Wajahnya tampak kacau dengan rambut yang sedikit berantakan dan menutupi sebagian wajahnya. "Tuan muda labil...Ada apa denganmu. Mulai jadi pengecut..!" teriakku. "Dasar tuan muda labil...!" caciku. "Buka pintu, sekarang...!" teriakku lagi.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Aku kembali menaiki anak tangga dengan cepat. Hingga di depan kamar kak Keanu aku kembali memanggilnya. "Tuan muda labil...!" teriakku. Tak lama pintu pun terbuka. Seulas wajah tampak menyembul dari balik pintu. Aku pun sedikit memaksa masuk kamarnya. "Apa ini, Kak...?" ucapku saat melihat kondisi kamar yang berantakan. Barang-barang tidak pada tempatnya. Bahkan ada beberapa barang yang hancur berantakan. Kak Keanu diam. Derit kursi rodanya hingga di sudut ruangan. "Tiga sessi kakak melewatkannya. Dan kakak melampiaskan amarah pada barang-barang di ruangan ini. Ada apa, Kak?" ucapku berpura-pura tidak tahu duduk persoalannya. Yah, sebenarnya aku sudah mengetahui penyebab kak Keanu berlaku demikian. Satria lah sumber segala informasi ku saat ini. Kak Keanu diam. Hanya matanya saja yang menatapku sesekali. "Kenapa kakak jadi sepengecut ini? Ayo...katakan" ucapku dengan nada sedikit tegas.
"Kau mendustaiku, Fara..." ucapnya hampir lirih. Kemudian ia terdiam lagi. "Hanya karena itu kakak berlaku seperti ini? Naif sekali. Kakak lupa kalau kakak masih memiliki mama? Mama yang selalu bersedih saat melihat kakak bersedih. Ia begitu mengkhawatirkan kakak. Kau bukan hanya naif tapi picik. Pikiranmu sudah sulit membedakan yang nyata dan fiktif. Cinta seorang mama lebih utama dari apapun" ucap ku lagi begitu panjang dan meluncur begitu saja. "Ada apa antara kau dan Roy...?" ucapnya tanpa menatapku. "Kakak dan adik" jawabku datar. Dengan mengusap kepala dan memberikan bunga?" ucapnya lagi dengan tetap tak menatapku. "Kakak cemburu..." tanyaku hampir tertawa. "Tertawalah...Aku patut ditertawakan. Mungkin kau menganggap ku seperti anak kecil, karena sikap kekanakanku ini. Tapi aku harus apa. Semua terjadi begitu saja" ucapnya sambil menundukkan pandangan. "Dahulu aku mencarimu hingga menjadi sebuah kegilaan. Hingga aku menemukanmu, namun cintamu sudah milik orang lain. Milik Mirza. Dan aku ikhlas menerimanya, asal kau bahagia. Beberapa waktu membersamai mu saat mencintai orang lain sesungguhnya telah membuat ku terluka. Tapi aku tetap kuat menjaga dan memahami mu. Dan kini setelah kau terbebas dari perasaan mu terhadap Mirza, aku dalam kondisi seperti ini. Kondisi yang mengharuskan ku duduk pada kursi roda ini. Dan saat melihatmu bersama Roy aku kembali terluka. Aku marah pada diriku sendiri, pada keadaanku" ucapnya yang makin lama makin membuat ku pilu. "Aku yang salah. Berlaku berdasar perjodohan dimasa kecil aku terlalu mengharapkan cintamu. Tapi aku lupa bahwa waktu bisa merubah segalanya. Maafkan aku.." ucapnya penuh perasaan. "Kak Keanu..." ucapku lirih. Selain menyebut namanya, sungguh aku tak sanggup lagi berkata lainnya.
Pukul sebelas lewat lima menit. Derit roda dari kursi yang diduduki kak Keanu terdengar seakan berbeda. Sempat ku lihat sekilas wajahnya yang sedikit berubah terutama saat aku menerima sebuah panggilan pada ponselku. "Ya, Kak..." ucapku sambil menjauh. "Rumah kak Keanu. Astaga...Sebentar lagi aku menyusul kakak" ucapku saat menerima kabar bahwa anak-anak sekolah kardus mendapat gangguan dari preman sekitar. Dan kini sedang berada di kantor polisi.
Setelah mengakhiri sambungan telepon, aku bermaksud langsung kembali pada perbincangan dengan kak Keanu. Namun langkahku kembali terhenti saat lamat-lamat ku dengar percakapan antara kak Keanu dengan mama Wina. "Ma, aku menyetujui perjodohan yang mama tawarkan beberapa waktu dahulu. Aku sudah menyerah, Ma. Mungkin ia memang bukan jodohku" ucap kak Keanu. "Ya, Kak. Segera..." ucapku untuk memotong percakapan keduanya. Padahal ponsel ku sudah tak terhubung sejak tadi. Dan benar saja keduanya langsung menghentikan percakapannya dan mengalihkan pandangan kepadaku. Aku tersenyum menatap keduanya bergantian. "Ma, Fara...pamit ya. Anak-anak ada di kantor polisi. Ada sedikit masalah" ucapku sambil mencium punggung tangannya. "Kak kita sambung esok hari obrolannya ya. Tunggu Fara okay..." ucapku sambil menatapnya sekilas.
Tanpa menunggu jawaban kak Keanu, aku langsung berlalu. Langkahku begitu cepat menuruni anak tangga dan kemudian melajukan mobil merahku menuju kantor polisi.
__ADS_1