
Pukul lima lewat lima puluh lima menit. Aku melajukan mobil merahku menyusuri jalanan yang masih tampak basah setelah semalaman di guyur hujan. Bahkan titik-titik air nya masih bergelayut manja pada dedaunan yang bergoyang ditiup angin lalu. Sesekali bulirnya pun jatuh diterbangkan hembusan angin yang masih terasa dingin sisa malam. Sementara itu matahari pun belum lagi mau menampakkan wujudnya. Sepertinya masih malu-malu. Hanya semburat merahnya saja yang sedikit terlihat di kaki langit.
Berdiri aku di depan bangunan yang sebagian masih berwarna hitam karena kobaran api sempat menyapanya dan melalap hampir separuh isinya. Hari ini adalah hari kedua puluh pembersihan sisa-sisa hasil kebakaran lalu. Dan hari ini juga perbaikan yang dilakukan secara keseluruhan hampir usai. Bukan hanya tampilan dalam, tapi tampilan luarpun ku ubah semuanya. Hah...Miris memang melihat kondisi toko dan cafe saat ini. Air mataku menggenang jika mengingat peristiwa waktu itu. "Betapa teganya orang yang melakukan ini semua. Apa ia tidak tahu jika toko dan cafe ini merupakan hajat hidup orang banyak, anak-anak jalanan" gumamku hampir menangis. "Nyonya..." ucap Roy yang sudah berdiri mensejajariku. Matanya pun menatap pilu bangunan di hadapannya. Mungkin ia merasakan apa yang aku dan pegawai ku rasakan. "Apakah tuan Keanu sudah menghubungi, Nyonya...?" tanyanya tiba-tiba. Aku melihatnya dengan ekor mataku. "Belum...Kenapa?" ucapku penasaran. "Tidak Nyonya. Hanya bertanya" ucapnya sambil tersenyum tipis saja. Dasar orang aneh. Bertanya seenaknya, menanggapi juga seenaknya.
"Em, sudah berapa lama tidak memotong rambut?" ucapku datar. "Kenapa Nyonya...?" tanyanya penasaran. "Tidak apa-apa. Hanya bertanya" ucapku datar. "Ho...ho, Nyonya membalas saya?" ucapnya sambil terkekeh. Ini kesekian kalinya aku melihatnya terkekeh begitu lepas. Jika aku amati wajahnya tidaklah jauh berbeda dengan kak Mirza atau bang David. Sama-sama memiliki ketampanan. Dengan tubuh tegap berkulit putih, sorot mata tajam, cool, dan...senyumnya pun cukup manis. Ditambah lagi jambang yang menghiasi wajahnya maka auto meningkatlah kemaskulinannya. Aku yakin ia pun pasti digilai banyak perempuan.
"Kak Olivia...!" seru Dara, Danu, Rio dan beberapa pegawai lainnya yang sumringah mendapati bangunan toko dan cafe saat ini. "Waaaah...jadi makin keren nieh, Kak" ucap Rio. "Semua ada hikmahnya..." ucapku tersenyum. "Bagaimana di sekolah kardus kita?" tanyaku sambil menatap pegawaiku yang sudah seperti adik-adik bagi ku. Sekolah kardus adalah sekolah khusus untuk anak-anak jalanan. Pengajarnya adalah sukarelawan yang terdiri dari segenap pegawaiku dan beberapa remaja lainnya yang peduli. Di dalamnya diajarkan bermacam keilmuan pada umumnya. Juga pelajaran bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima. Ini mengajarkan keyakinan pada diri sendiri dan Tuhan juga wujud kasih sayang sesama. Ini bukan selogan ini sebuah pendidikan yang di dalamnya juga mengandung semangat untuk berusaha dan berkarya. Terhitung sudah tiga puluh anak jalanan dan putus sekolah yang mengikuti kegiatan sekolah kardus ini. "Lancar, Kak..." jawab Danu sumringah. "Mungkin sesaat lagi, kita akan mencari program-program yang lebih tepat sasaran dan bermanfaat untuk mereka kelak" ucapku santai. Namun tidak halnya dengan Roy. Ia menatapku tak berkedip. Dan hal tersebut ditangkap oleh para pegawaiku yang saling berbisik.
"Apa yang bisa saya bantu di sekolah kardus?" ucap Roy sambil tersenyum. Ku lihat ada keseriusan dari tatapan matanya. "Ayo, Kak...Datang saja. Kegiatannya seminggu tiga kali" ajak Dara antusias. Roy pun tersenyum sumringah mendapat ajakan tersebut. Matanya menatap ku sekali lagi. Aku tersenyum sambil mengangguk kecil.
Drrt...Drrt...Drrt...
__ADS_1
Ponselku berpendar. "Nak, bolehkah ayah menjengukmu" pesan ayah menghiasi layar ponselku. "Boleh ayah. Tentu saja boleh. Kapan dan jam berapa?" balasku. "Saat ini ayah dan mami Vira di perjalanan menuju toko mu. Sepuluh menit lagi sampai" pesan ayah lagi. Aku tersenyum. "Meminta izin, tapi sudah hampir tempat" gumamku lirih sambil memasukkan ponsel di kantong baju ku.
Pukul delapan lewat lima menit. Aku membagikan salary, hak pegawaiku. Walau tak beroperasi, namun sudah menjadi tanggung jawabku atas sebagian penghidupan mereka. Sumringah mereka menerimanya. "Kapan kita mulai lagi, Kak?" tanya Laila antusias. "Paling lama bulan depan. Namun satu Minggu sebelumnya, seperti biasa kita akan ada persiapan-persiapan tertentu" ucapku yang diaminkan semua. "Wah, sudah mulai lagi nieh" ucap ayah yang tersenyum menatapku. Ku kecup punggung tangannya dengan takzim setelah itu menghambur dalam pelukan ayah dan mami Vira. Setelah bercerita sebentar melepas rindu kami pun duduk beralas tikar di bawah rindangnya pepohonan bersama lainnya.
"Tuan Da..." ucap ayah dan mami Vira terkejut hampir bersamaan saat melihat Roy bersamaku. Memanglah selama ini aku belum pernah sekalipun menyinggung tentang keberadaan Roy baik di surat atau telepon kepada ayah. "Roy..." ucap Roy cepat memotong ucapan ayah dan mami Vira. Khawatir nama aliasnya tersebut kembali. Dan sesekali matanya menatap mami Vira yang sebenarnya adalah mantan istrinya. Sementara itu ayah menatapku meminta penjelasan. Aku hanya tersenyum sambil mengangkat bahuku. Namun kemudian, Roy pun menjelaskan prihal keberadaannya. "Saya bekerja untuk menjaga Nyonya Fara kepada seseorang. Dunia mungkin sudah terbalik. Namun inilah kenyataannya. Semua usaha ku hancur tak bersisa. Tapi aku tidak menyesal, karena setelahnya aku mendapat ketenangan. Sebuah rasa yang selama ini tak ku dapatkan" ucap Roy yang sesekali menatapku dalam. Ayah pun menyimak dengan teliti setiap ucapan Roy, laki-laki yang pernah menjadi atasannya itu. Sebenarnya pun demikian dengan ayah yang juga seorang anak dari konglomerat ternama dan juga pernah merasakan keterpurukan hingga ia harus ngalih kota dan meninggalkan semuanya.
Pukul delapan lewat dua puluh menit. Aku bahagia. Selain karena kedatangan ayah dan mami Vira juga karena toko dan cafe yang hampir selesai diperbaiki. Kurang lebih tiga hari lagi. Setidaknya begitu menurut seorang mandor perbaikan. Jika demikian, maka untuk selanjutnya tinggal penataan ulang barang-barang toko dan cafe. Bersorak Dara bersama pegawai lainnya mendengar kabar tersebut. Mereka pun mulai berceloteh tentang rencana-rencana saat penataan toko dan cafe nanti. Aku tersenyum dan menjadi begitu bahagia melihat semangat Dara dan lainnya.
Drrt...Drrt...Drrt..
Pukul delapan lewat lima puluh lima menit. Aku sudah berada kembali di rumah. Menatapi sudut halaman yang ditanami sayuran oleh nenek Fat. Sementara hatiku mulai berdesir. Ada perasaan tak menentu bergelayut di ujung hatiku.Pim demikian aku tetap berusaha tidak menampakkan ya pada ayah dan mami Vira juga turut menyertaiku saat ini. Tampak keduanya duduk berdampingan pada sofa di hadapanku. Mata keduanya pun tak lepas menatapku yang sejak tadi diam tak bersuara. Hanya mataku saja yang menatap jauh entah kemana. Karena memang fikiranku sedang mengembara. Sebentar berhenti pada sebuah peristiwa sebentar lalu kembali mengembara tak bertujuan. Aku kembali tersadar saat melihat sebuah mobil sport silver yang kuyakin milik kak Mirza parkir di halaman rumah. Dan benar saja, sosok kak Mirza terlihat di belakang kemudi. Sejenak ia mematut diri pada kaca spion mobilnya, barulah setelah itu ia melangkah gontai hingga teras rumah. Berdegup hebat jantungku saat melihatnya melangkah. Terutama dengan kacamata hitam yang bertengger, auto meningkatlah ketampanannya itu.
__ADS_1
Seperti tidak terjadi apa pun, kak Mirza tersenyum memamerkan ketampanannya saat berdiri di ambang pintu seakan menunggu sambutanku. Melihat itu ayah memintaku untuk menghampirinya. Dan aku pun meluluskannya. Ku langkahkan kaki menghampirinya. Mencium takjim punggung tangannya dan mempersilahkan ia masuk. Ia pun tampak tersenyum melihat ayah. Seperti apa yang aku lakukan tadi padanya, ia pun meraih tangan ayah dan mengecup punggung Tangannya dengan takzim. "Apa kabar, Yah? Lama tidak bertemu? begitu sapanya. Pun juga ia lekukan kepada mami Vira.
Pukul tiga lewat lima menit. Aku melihat wajah serius kak Mirza setelah berbincang sejenak, bernada basi. Ia berkata bahwa apa yang akan ia lakukan bukan sepenuhnya keinginannya. Aku dan keadaanlah yang memaksanya demikian. Wajahnya semakin menampakkan keseriusan, walau aku tahu ada kebimbangan yang ku lihat di ujung tatapannya. Sesaat ia menghentikan bicaranya, menarik nafas dan menyeruput teh hangat yang ku sajikan tadi. Kemudian matanya menatapku lekat. Dan bibirnya mulai berujar. Dimulai dengan sebuah pujian bahwa aku adalah sosok yang kuat, mandiri dan pemberani. Aku adalah perempuan idaman bagi setiap laki-laki. Dan ia begitu mencintaiku. Kak Mirza meyakini aku akan terus menjadi demikian apa pun yang akan terjadi. Dan ia pun berkata bahwa sampai kapanpun ia akan selalu mencintaiku dan berandai jika reingkarnasi itu ada, maka ia akan selalu memilih untuk selalu mencintaiku dan ada hanya untukku di kehidupan-kehidupan selanjutnya. Begitu seterusnya hingg akhir zaman. Mendengar itu aku tertohok. Aku diam. Tak sanggup berkata apa pun. Hatiku yang semula sendu mulai kacau dan meracau bimbang.
"Aku sudah memikirkannya betul-betul. Setelah melihatmu terluka dan tersakiti, aku semakin yakin bahwa aku tidak dapat membiarkanmu terus demikian. Karena aku mencintaimu. Cinta yang tidak biasa ini juga membuatku terluka. Entah setelah ini, apakah aku akan sanggup menjalani kehidupan normalku lagi atau tidak, aku tidak sanggup memprediksinya" ucapnya penuh perasaan. Sepintas aku menangkap kedukaan di ujung tatapannya. Aku tertunduk sambil menunggu akhir ucapannya. Sementara tanganku masih memainkan ujung kerudung. Ini adalah kebiasaan ku sejak dahulu. Dan melalui ujung ekor mataku, kembali aku melihatnya yang terus saja berkata bla-bla-bla, begitu panjang. "Nak Mirza, apa sebenarnya yang ingin nak Mirza sampaikan" potong kompas ayah di tengah ucapan kak Mirza yang sudah begitu panjang. Dan hal tersebut membuat kak Mirza menatapku dan menghela nafas panjang dengan berat. Ditanya demikian, justru membuat kak Mirza terdiam. Tanpa kata.
"Olivia Faradilla binti Permana, sesuai permintaanmu dan berdasar perenunganku maka dengan ini aku Mirza Adhiatma mentalak-cerai mu. Setelah ucapan ku ini kau bukan lagi istriku" ucap kak Mirza dengan suara bergetar penuh perasaan. Aku yakin ini pun bukan perkara mudah baginya. Karena baik aku atau kak Mirza, kami sama-sama tahu bagaimana perasaan dan cinta kami sebenarnya. Aku makin terdiam. Perasaan ku serasa hampa mendengar ucapan kak Mirza. Walau aku sudah bersiap dengan perceraian ini, namun tetap saja aku merasakan kekecewaan. Kecewa ketika ia lebih memilih Amara ketimbang diriku. Dan sebagian jiwa ku berontak atas keputusan besar kak Mirza tersebut karena di sebagian jiwa ku, aku tidaklah menginginkan perceraian ini. Tak kalah terkejutnya lagi adalah ayah dan mami Vira saat mendengar ucapan kak Mirza tersebut. Berdiri ayah menatap tajam kak Mirza. Ada amarah di sana yang tak terbendung lagi. Sebelah tangannya menarik kerah kemeja kak Mirza. Sementara sebelah tangan lainny mengepal hebat dan hampir saja mendarat di wajah tampan kak Mirza jika saja aku tidak mencegahny. "Apa maksud semua ini, Mirza...!" ucap ayah penuh amarah. Kepalan tangan itu berhasil ditahan olehku dengan segenap tenagaku. "Nanti aku yang menjelaskan, Yah...!" ucapku setengah teriak yang langsung memeluk ayah. Cukup lama aku memeluknya. Aku berusaha menenangkan amarah ayah yang hampir tak terbendung lagi itu. Aku tahu kemarahan ayah adalah sebagai ungkapan dari kekecewaannya atas perlakuan kak Mirza kepadaku. Dan ini adalah wujud kasih sayangnya terhadapku. Ayah pun kembali duduk pada sofa tanpa menatap kak Mirza sekalipun.
"Setelah ini, Fara boleh mengajukan perceraian ini ke pengadilan. Apa pun alasan Fara saat dipengadilan nanti, aku tidak mempermasalahkannya. Semua akan aku terima dengan ikhlas. Dan satu lagi mintalah atas hartaku, karena itu adalah hak mu, sayang..." ucap kak Mirza sambil mengusap pucuk kepalaku yang masih saja tertunduk dalam menatap ujung kaki ku. Tangisku tak lagi dapat ku bendung. Jatuh air mata pada pangkuanku satu-satu. Kembali kak Mirza mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan penuh perasaan. "Kau menyesal?" ucapnya setengah berbisik sesaat setelah ia berjongkok di hadapanku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya. Tiada kata yang terucap, hanya air mataku saja yang mengalir. Dan kurasa sudah cukup mewakili bagaimana perasanku saat ini.
Pukul tiga lewat lima puluh lima menit. Kak Mirza berlalu pamit. Langkahnya begitu gontai saat meninggalkan rumah. Kutatap punggung kekarnya yang kian lama kian menjauh dan akhirnya menghilang. Aku terdiam. Aku mulai merasa hampa, sparuh jiwaku seakan tak ku miliki lagi saat kepergian kak Mirza. Kemudian ayah memeluk ku dengan erat. Ada bulir bening yang mengalir sejak kepergian kak Mirza tadi. Ini kesekian kalinya aku melihat ayah berurai air mata karena ulah ku. "Anak ayah sudah jadi anak hebat. Dan ayah yakin anak ayah akan selalu kuat dan berani menghadapi segala tantangan hidup" ucap ayah sambil mengecup lembut pucuk kepalaku.
__ADS_1