
Aku duduk pada kursi roda menghadap jendela. Mataku sudah pasti menerobos bingkainya hingga ku dapati bunga-bunga di taman. Bunga yang sudah lebih dari sepekan menjadi temanku. Aku tersenyum menatap setiap kuncup bunga yang berayun ditiup angin lalu. Silih berganti bunga berayun terombang-ambing di bawa angin sedikit kencang. Bahkan semilir dinginnya sampai menerpa wajahku dan sempat menerbangkan ujung kerudungku. Refleks tanganku membawa kembali ujung kerudung hingga kembali menjuntai menutupi dada.
"Dingin, sayang. Senang sekali berlama-lama di sini..." ucap kak Keanu yang langsung mendekapku. "Bajunya sudah Fara siapkan, Kak..." ucapku sambil memegang tangannya yang masih melingkari bahuku. "Ya. Terima kasih, sayang. Bantu aku donk..." ucap kak Keanu yang kini berjongkok di hadapanku. Rebah kepalanya sesaat pada pangkuanku yang langsung ku sambut dengan mengusap pipinya. Sesekali ia mengangkat wajahnya dan tersenyum menatapku. Mata yang selalu menatapku dengan penuh makna.
Pukul enam lewat lima belas menit. Ku bantu kak Keanu yang duduk di tepian kasur untuk mengancingkan baju dan memakaikan dasi. "Terima kasih, ya..." ucap kak Keanu sambil menghadiahiku dengan kecupan pada pucuk kepalaku. Aku pun tersenyum sambil merapikan kemeja yang ia kenakan
"Kak..." panggilku sendu sesaat setelah ia berlalu dan mematut diri di depan cermin. "Ya..." jawabnya singkat tanpa membalikkan tubuh. Ia hanya melihatku dari pantulan pada cermin. "Bagaimana jika kondisi ku tidak ada perubahan?" ucapku. Kali ini ucapanku berhasil membuatnya memutar tubuh dan menatapku. Bersandar tubuhnya pada tepian meja rias. Tampak ia menghela nafas panjang.
"Maksudnya bagaimana?" tanya kak Keanu kemudian. Aku jadi kelu. Dan sekali lagi kak Keanu bertanya dengan pertanyaan yang sama. Kini giliran ku yang menarik nafas panjang. "Maksud, Fara. Apa yang akan kak Keanu lakukan jika aku tidak ada kemajuan Sama sekali. Dengan kata lain, aku akan selalu berada di kursi roda ini?" ucapku panjang hampir menangis.
"Sejak kapan, Fara ku mudah putus asa? ucapnya sambil merapihkan berkas yang masih berserakan di atas meja kerjanya. "Bukan putus asa hanya berandai jika...maka
Begitu loh suamiku, sayang" ucapku sambil merapikan perlengkapan yang baru saja terpakai kak Keanu.
"Jangan suka berandai. Tidak baik. Yang jelas apa pun kondisimu, aku tidak akan pernah bergeming sedikitpun untuk selalu menjagamu dan juga membahagiakan mu" ucap kak Keanu sambil melangkah menghampiriku. Berjongkok sebentar untuk mencium keningku. "Bagaimana dengan kehadiran anak? Apa kakak tidak menginginkannya? Bagaimana dengan mama? Apa mama tidak menginginkan cucu?" ucapku sambil memeluk lengannya.
"Kak...Apa tidak sebaiknya kakak mulai mencari perempuan yang bisa sempurna mendampingi? Aku khawatir. Aku tak dapat melakukan semua kewajiban ku" ucapku pilu dan hampir menangis. "Sayang...usaha kita belumlah maksimal. Terapimu saja belum usai. Tidaklah benar berputus asa" ucap kak Keanu sambil mendekapku.
"Aku berangkat ya. Doakan semua pekerjaan ku lancar" ucap kak Keanu yang tersenyum sumringah menatapku. "Selalu ku doakan, Kak. Hati-hati ya. Aku sangat mencintai kakak" ucapku yang dibalasnya dengan sebuah kecupan yang di daratkan pada kening dan pipiku. "Apalagi aku. Aku amat sangat mencintaimu" ucapnya kemudian.
Ku raih tangannya dan mengecup punggung juga telapak tangannya dengan takzim. "Siang nanti aku pulang..." ucapnya kemudian sesaat sebelum berlalu. Ku tatap punggung kekarnya yang berlalu hingga menghilang di balik dinding. "Terima kasih, Kak..." gumamku lirih.
__ADS_1
Derit kursi roda pertanda langkah ku mulai. Lajunya tak ku rasa hingga membawaku pada sebuah ruangan. Ruangan yang beberapa waktu terakhir ini rutin ku kunjungi. Sebuah ruangan yang juga dahulu kak Keanu gunakan untuk terapi. Ya, setelah difikir. Ternyata nasib kami sama. sama-sama bermasalah pada kekuatan otot yang menyebabkan lumpuh sementara. Ah, mungkin perasaan kak Keanu seperti yang kurasa saat ini.
"Nyonya..." ucap dua orang perawat dengan takzim. Tubuhnya sedikit menjura saat tahu kehadiranku. Aku pun tersenyum sambil terus mengayuh kursi roda. "Kita mulai sekarang?" tanyaku menatap keduanya. "Sesiapnya, Nyonya..." tanya Kalia satu dari dua perawat yang sudah sabar menghadapai polah ku. Kadang begitu semangat, kadang begitu tenang, kadang begitu penuh pilu dan diamuk amarah.
Ku dorong kursi roda sedikit mendekat pada salah satu alat treatment-ku. "Siap Nyonya? Pada hitungan ketiga. One, two, three...hup" ucap Shinta mengomandoi perpindahan ku. Setelah ini biasanya aku akan kembali merasakan kelelahan yang luar biasa. Bukan karena panjangnya waktu treatment, tapi pada perasaan ku. Terutama saat mengetahui belum ada perubahan yang berarti setelah mengikuti sessi terapi yang di jadwalkan rumah sakit. Sudah lebih dari sebulan aku mengikutinya dan aku menjadi gamang, saat tubuh ini tetap pada kursi roda.
Aku menatap pilu bunga-bunga yang masih saja setiap membersamai ketidakberdayaan ku. Ada bulir bening yang kembali memenuhi rongga mataku. Dan sepertinya sedang bersiap meluncur. Aku pun menghela nafas panjang. Dan bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajah akhirnya bulir bening itu pun meluncur begitu saja. Aku tak sanggup menahannya, karena sesak di dada ini begitu kuat mengobrak-abrik keyakinanku. Berjatuhan air mataku pada pangkuan. Sesekali tanganku mengusap kasar wajahku sekaligus air mataku. Berharap ini hanya sebuah mimpi saja.
"Jika kau begitu marah dengan keadaanmu, mengapa kau diam? Mengapa kau tidak menghukumnya?" ucap seorang laki-laki di belakangku. Laki-laki yang amat ku cintai. Aku pun sesegera mungkin memutar kursi roda dan langsung menatapnya. Seorang laki-laki bertubuh tegap dan tampan bersandar pada tepian pintu. Di tangannya seikat bunga tergenggam. Ia tersenyum menatapku. Sesaat kemudian, ia menghampiriku. Menghadiahi dengan pelukan erat dan sebuah kecupan lembut pada keningku. Dan padanya aku kembali mencurahkan segala gundah dan sesak yang ada. "Bagaimana jika kita membuat laporan untuk hukumnya?" ucap kak Keanu lagi penuh perasaan. "Tidak, Kak. Itu tidak perlu. Aku sudah memaafkannya..." ucapku sambil terus mendekapnya.
"Memaafkan adalah kemenangan terbaik. Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati"
Kak Keanu terkekeh sambil melonggarkan dekapannya dan memilih duduk di lantai di hadapanku. Tubuhnya bersandar pada dinding. Aku menatapnya dengan tanda tanya. "Aku bahagia, sayang. Akhirnya kau mengakui ketakutanmu itu" ucap kak Keanu di sela kekehnya. "Apa...?" tanyaku tersenyum tipis dengan sedikit rona merah di wajah. Maka cepat-cepat aku menyembunyikannya dengan mengalihkan wajah ku pada sisi lain. Sebab sesungguhnya aku tahu maksud dari bahagianya itu. Sudah gaharu Cendana pula. Begitu kurang lebih tanyaku itu. "Kau takut kehilanganku...? sungguh sayang?" ucapnya lagi. Namun kali ini lebih terasa sebuah penghakiman. Aku semakin menyembunyikan wajahku. Kali ini pada pangkuan tatapanku beralih. Dan sekali lagi kak Keanu terkekeh.
"Dengar..." ucap kak Keanu sambil mengangkat wajahku hingga begitu dekat dengan wajahnya sendiri. Begitu dekat hingga desah nafasnya saja bisa ku dengar. Jantung ku berdegup hebat. Degupnya begitu bertalu. Mataku terkunci pada tatapannya. Aku tak berkutik. Tiada tatapan lain selain pada wajahnya. "Kau hanya milikku. Tidak akan kubiarkan kau berlalu dari jangkauan ku lagi. Ataupun bersama laki-laki lain lagi. Sekali kau berada dalang jangkauanku, maka selamanya akan demikian" ucap kak Keanu sambil menatapi wajahku. Nafasnya sedikit memburu. Dan pada bibir tipis ku, ia melampiaskannya sesaat. Membiarkannya menikmati gairah yang terjadi. Yah, ini adalah sentuhan pertamanya terhadapku. Tak ku pungkiri. Aku menikmatinya...
Duduk termangu kak Keanu. Ia kembali bersandar pada dinding. Nafasnya menjadi tak beraturan. Ia tersenyum menatapku yang juga masih mendamaikan degup jantung ku dan menetralisir rona di wajah.
"Ayo kita latih kekuatan berdiri mu..." ajak kak Keanu yang berhasil menyadarkan lamunan liarku. "Aku ...aku" ucapku ragu. "Aku yakin Fara ku kuat. Ayo...aku bantu" ucapnya. Aku pun terdiam sebentar, namun kemudian aku aku tersenyum. Aku berusaha untuk melakukan apa yang kak Keanu inginkan. "Tunggu...Bukan seperti itu" ucapnya. Tangannya melingkar pada pinggangku. Dan memegangnya erat. Ia pun berisyarat agar aku mengalungkan kedua lenganku pada lehernya. "Cepatlah, sayang..."ucapnya.
Bismillah...Ya Allah. Aku berdiri dengan menopang pada tubuhnya. Tiada berjarak kami saat ini. Bahkan satu inci pun. "See...Fara ku bisa berdiri" ucap kak Keanu tersenyum. "Ya, karena menopang pada kakak" ucapku datar. "Bukankah hakikatnya suami istri seperti itu? Saling menopang, saling menjaga. Apa pun dan bagaimana pun situasi, kondisinya" ucap kak Keanu. Ah, jadi sentimentil nieh. Ces...rasanya mendengar penuturannya. Walah...ini tuan muda kok ya jadi semakin membuatku jatuh hati saja.
__ADS_1
"Kita melangkah ya..." ucap kak Keanu. "Tapi...Kak" ucapku ragu atau lebih pada takut. "Ada aku. Perlahan saja..." ucap kak Keanu. "Kemana...?" ucapku. "Ikut saja. Kau pasti menyukainya..." ucap kak Keanu.
Deg.
Aku tertegun. Fikiranku melayang penuh tanya. Apakah kak Keanu 'menginginkannya' siang ini? Ah, tidak mungkin. Tapi... Aku berspekulasi. Ada banyak. "Fokus padaku saja. Jangan melihat apapun..." ucap kak Keanu saat tubuhku sedikit limbung. Satu-satu aku melangkahkan kaki dalam dekapan erat kak Keanu. Tangannya pun masih erat mendekapku. "Perlahan...apa kau lihat, sayang..." ucap kak Keanu saat mendapati perubahan tatapanku yang tak lagi menatapnya. Aku menjadi rikuh. "Em, tidak ada..." ucapku gagu.
Dalam hati aku menertawai diriku sendiri. Sekaligus malu hati. Spekulasi ku, kak Keanu akan mebawaku ke peraduan. Namun saat melewati nya, aku menjadi tersadar. Jiiaaah...aku banyak berangan-angan ternyata. Haha....
"Satu tahap lagi..." ucapnya saat kami berdiri di ujung anak tangga yang cukup mengular. "Tak perlu lihat ke bawah. Cukup aku saja...Okay?" ucap kak Keanu mengalihkan perhatianku. Berdesir hatiku saat mengingat anak tangga yang mengular itu. Sanggupkah aku...?
"Kita mulai..." ucap kak Keanu mantap. Matanya berbinar dengan senyum khasnya yang selalu mengembang. "Ada aku..." ucap kak Keanu lagi saat melihat ku dengan keraguanku. Bismillah....akhirnya aku memulai langkahku. Sebuah langkah kecil berhasil aku lakukan. Dan itu membuat ku mulai percaya diri. Dua, tiga, empat, hingga dua puluh anak tangga berhasil ku lewati. Tubuhku bergetar. Peluh pun sudah membanjiri sekujur tubuh. "Aku tidak sanggup lagi, Kak..." ucapku dengan suara bergetar. Di kedua mataku pun sudah digenangi bulir bening siap meluncur.
Kak Keanu tersenyum. Ia pun langsung mengangkat tubuhku. Setengah Terpekik aku mendapat perlakuan tersebut. Duduk aku pada sofa. Meluruskan kaki sambil mengusapnya sebentar. Duuh...rasanya ada semut yang mengerubuti sekujur tubuhku dan menggigitnya. Aku pun memejamkan mata sambil merasai dan mendamaikan degup jantungku yang sejak tadi kian bertalu.
"Maaf, aku sudah memaksa mu..." ucap kak Keanu yang turut mengusap atau pun memijat sebentar kaki ku. "Jika tidak begitu, aku tidak tahu kondisi tubuhku kini" ucapku tanpa membuka mata. "Fara..." panggil sebuah suara. Sedikit asing. Siapa? Daripada penasaran aku pun akhirnya membuka mata dan langsung melayangkan tatapanku pada si empunya suara. "Astaga...kak Noah!" teriakku saat melihatnya berjongkok di dekatku. Aku pun langsung menghambur memeluknya. Kak Noah pun tertawa sambil memelukku erat. "Kemana saja? Hampir dua bulan menghilang loh...?" ucapku sambil menyun, mengerucutkan bibirku. "Aku ada tugas penyelidikan. Tersangkanya antar kota bahkan antar negara" ucap kak Noah. Aku pun meng-o singkat.
Mataku menatap sumringah wajah tampan laki-laki di hadapanku. Laki-laki yang belum lama aku temui. Laki-laki yang ternyata memiliki hubungan darah denganku. Dialah kak Noah. Kakak laki-laki ku satu-satunya. "Berbahagialah selalu, sayang. Karena kak Keanu akan selalu memberi mu semua rasa yang kau butuhkan sepanjang hidupmu. Rasa bahagia. Jagalah selalu cinta kalian" ucap kak Noah. Aku termangu, mengapa kata-katanya begitu terasa seperti perpisahan?
Lagi-lagi aku tersenyum menatapnya. Manik mata ku seakan tak ingin berpaling sedikit pun. Dan kak Noah pun memeluk ku erat kembali. Ada apa, Kak...? Ada gundah yang menelusup dan mendiami relung hati ku. Ah, semoga kak Noah baik-baik saja. Dan apa yang ku rasa hanya kekhawatiran sesaat saja.
"Bisa bicara sebentar?" ucap kak Noah kepada kak Keanu. Dengan gontai kak Keanu mengikuti langkah kak Noah yang sesaat sebelumnya mengacak lalu pucuk kepalaku. Sedikit menjauh keduanya terlibat pembicaraan yang serius. Berulangkali kali baik kak Keanu ataupun kak Noah terlihat menghela nafas panjang. Wajah keduanya pun begitu serius, tiada candaan sedikitpun. Mendapati keduanya sedemikian rupa, tanya pun terus menghantuiku. Ada apakah ini? Mengapa keduanya berbincang begitu jauh dariku? Apa yang keduanya rahasiakan dariku? Apa...?
__ADS_1