Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 93. Kak Keanu?


__ADS_3

Senja. Warna lembayungnya menghiasi kaki langit. Warnanya begitu menggoda sehingga mata ku ogah lepas menatapnya walau sedetik saja. Aku pun melihat sekawanan burung melintasi langit bersiap pulang ke sarang. Kepaknya begitu berirama mengikuti burung terdepan. Aku yakin itu adalah zaim kawanan itu.


Ah, burung saja memiliki zaim. Mengapa aku sendiri? Aku membatin. Bibirku mengurai senyum. Sementara Fikiranku mengembara jauh. Entah kemana...


Kemudian sekonyong-konyong fikiranku mengembara. Menyapa sang Bayu sambil menitipkan senyum dan salam rindu untuk seorang laki-laki yang nun jauh di sana. Di suatu tempat yang aku sendiri tak mampu menembusnya. Bahkan bayang-nya pun aku tak sanggup menangkapnya.


"Laki-laki ku, apa kabarmu?


***Kau tahu...Memikirkanmu setiap detik, menit, jam, hari, adalah obat penyakitku. Penyakit ku karena merindukanmu.


Kau tahu...?


Aku melakukan tiga hal hari ini, yaitu merindukanmu, merindukanmu, dan merindukanmu.


Ya...aku merindukanmu. Sedikit terlalu banyak, sedikit terlalu sering, dan sedikit lebih banyak di setiap hari.


Laki-laki ku...


Kuharap kau merindukanku seperti aku merindukanmu***."


Lagi-lagi melalui sang bayu aku mengayun fikiranku mencoba mencari cara menemukan mu. Walau hanya bayang mu aku pastikan itu akan membuatku tersenyum dan bahagia.

__ADS_1


Sudah menjadi terbiasa saat kak Keanu berada jauh. Namun kali ini terasa amat berbeda. Ya...ada was-was yang menggelitik ujung hati ku. Terlebih kini aku mengetahui profesi lain dari kak Keanu. Ah, hati ku benar-benar diterjang rasa was-was.


Satu Minggu sudah sejak kepergian kak Keanu memenuhi tugasnya. Sejak saat itu rindu dan was-was silih berganti menggelitik ujung hati ku. Alih-alih ingin mengetahui kabarnya, aku pun menghubungi ponselnya. Namun semua itu nihil. Tak satu panggilanku berbuah manis, semua hanya sebuah kehampaan. Ku coba membagi rasaku bersama kak Noah, namun sama saja. Setali tiga uang. Mendapati situasi tersebut tak ayal lagi jiwaku merana. Fikiranku kian mengembara. Dan perahu di hati ku tak lagi bergoyang hebat seperti biasa karena ketidakhadirannya.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponselku berpendar. Sederet angka tertera di layar. Aku mengernyitkan dahi menatap layar ponsel yang masih berpendar. Sungguh aku enggan menerima panggilan tersebut, terlebih dari nomor yang tak kuketahui. Namun entah mengapa ada sebuah desakan dalam hati, agar aku segera menerimanya. "Ah, perasaan semu. Sebuah gambaran atas kerinduanku" gumamku. Kulempar sembarang ponselku ke atas sofa. Dan membiarkannya bak tanpa tuan. Namun sekali lagi mataku menatap pendaran layar ponselku itu. Dan sekali lagi desakan itu kembali menggelitik ujung hati ku. Kemudian akhirnya, aku pun meraihnya dan membuka percakapan.


"Halo... Assalamu'alaikum?" ucapku sedikit ragu. "Wa'alaikumussalam..."sebuah suara di ujung telepon.


Deg.


"Kangenku tiada banding, sayang. Sudah ku ikat kangen ku pada sang Bayu. Berharap tersampaikan pada kekasih yang kini jauh tak terjangkau" ucapnya yang justru membuatku terisak. Aku sendiri gamang mengapa aku berperilaku demikian. "Jangan menangis, sayang. Tangismu akan memberatkan langkah ku. Doakan saja aku, agar dapat menyelesaikan tugas ini secepatnya" ucapnya setengah berbisik. Dan belum lagi aku menimpali ucapnya. Kak Keanu sudah mengakhiri perbincangan kami.


"Jaga dirimu, sayang. I love you..." begitu ucapnya sesaat sebelum menutup perbincangan.


Tut...Tut...Tut...


Ponsel pun meredup. Pendarnya tak lagi dapat ku saksikan. "Ah, kak Keanu. Kangenku belum lagi terobati, kakak sudah berlalu.." begitu gerutuku.


Aku masih menatap langit yang mulai ditinggal mentari. Sebuah kebiasaan aku dan kak Keanu yang terus berlanjut. Warna langitnya semakin pekat. Hanya pendar lampu jalanan yang memberi warna tersendiri.

__ADS_1


Kemudian mataku beralih pada hamparan bunga yang tertata apik. Tak bosan aku mengitari seisi taman seiring fikiranku yang kembali mengembara bersama hembusan sang bayu. Dan hingga di suatu waktu aku menghentikan pengembaraan. Lamunan ku jadi hambar saat mataku menangkap kelebatan bayang di sudut taman.


Mataku langsung mengitari seisi taman. Dan sekali lagi aku menangkap bayang yang berkelebat cepat. Ada bisikan curiga menghampiri. Kemudian langkahku menjadi cepat menuruni anak tangga. Aku mencoba menangkap bayang tersebut. Bersyukurnya langkah semakin dalam kendaliku selama beberapa waktu menjalani terapi bersama kak Faaz. Tangan dinginnya ternyata mampu membuatku berdamai dengan derita pada kedua kakiku.


"Terima kasih, kak Faaz..." ucapku di sela syukur ku beriringan dengan langkah ku yang semakin cepat.


Hingga di taman tempat dimana bayangan terlihat, aku menatap seorang laki-laki. Aku yakin itu. Dalam temaram lampu taman ia berdiri membelakangi ku. Sesaat lalu aroma wewangian dari tubuhnya menggelitik ujung indraku. Aroma yang begitu khas. Hampir bersorak aku saat menyebut namanya.


"Kak Keanu..." ucapku dengan yakin. "Jangan menangis, Fara. Kau tak akan pernah sendiri. Aku selalu bersama mu. Dari kejauhan aku tetap menjaga mu hingga selesai tugasku. I love you.." ucap kak Keanu sesaat sebelum berlalu. Tubuhnya begitu ringan melompati pagar tinggi rumah. Dan menghilang ditelan pekatnya malam yang terus merangkak tanpa ragu.


Aku masih berdiri tertegun. Tiada kata yang manpu ku ungkap. Kehadirannya yang begitu singkat justru makin membuat rasa kangenku kian membuncah. Aku menghela nafas, kemudian menutup mata. Aku mencoba menyatakan seulas wajah tampan kak Keanu kembali dalam fikiranku. Bermain sebentar dengan menciumi aroma maskulin yang selalu membuat perahu dalam hatiku goyang diombang-ambing gairah.


"Nyonya..." ucap seorang laki-laki yang langsung membuyarkan lamunanku. "Nyonya baik-baik saja?" tanyanya lagi. Dia adalah kak Satria. "Bagaimana aku akan baik-baik saja, saat ku ketahui kondisi suamiku kini" ucapku sambil melangkah. "Maksud nyonya...? Apa tuan muda sudah pulang?" tanyanya lagi. "Hanya sebentar. Baru saja..." ucap ku dengan langkah yang diekori kak Satria.


"Ah, jangan bergurau Nyonya. Tuan muda tengah bertugas jauh. Dan baru saja saya mendapat telepon dari tuan muda" ucap kak Satru.


Deg.


Kembali waktu serasa terhenti. Begitupun dengan langkahku yang seketika terhenti. "Kak Satria, jangan bercanda. Aku yakin kak Keanu baru saja menemuiku. Bahkan ia berpesan padaku" ucapku mulai gelisah dan kacau. Sementara kulihat kak Satria pun tampak terlihat kecut saat memperoleh informasi dari ku. Langkahnya hingga terhenti. Dan kak Satria menatapku. Diujung tatapannya tampak kekhawatiran yang mendalam.


"Kak Keanu..." ucapku lirih sambil melanjutkan langkah.

__ADS_1


__ADS_2