
Pukul empat dini hari. Aku memulai aktifitas di dapur. Walau rasa dingin menyergap tubuh hingga serasa menusuk tulang, aku tetap bersikeras untuk tetap berjuang melawannya. Tumpukan kue dan box menghiasi isi dapur menjadi penyemangat ku saat ini. Dan segera saja ku mulai dengan hati-hati aktifitas packing, khawatir membangunkan yang lainnya. "Semoga selesai tepat waktu..." gumamku sambil terus menggerakkan tanganku. "Hei..." ucap kak Mirza sambil duduk di hadapanku. Matanya mengamati tanganku yang bergerak cepat menata kue dan air mineral dalam box. Kemudian tangannya pun mulai turut serta membantu ku.
Pukul lima lewat lima menit. Aku sudah selesai menunaikan kewajiban ku atas Robb-ku. "Dua ratus lima...." hitungnya sambil tersenyum saat aku duduk kembali dihadapannya. Ku lihat Sherlly keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi saat mendapati kak Mirza tertawa melihatnya menguap.
__ADS_1
Pukul enam tepat. Packing sudah selesai. Bahkan siap diantarkan. "Tarik mang..." ucap Sherlly yang duduk di depan dekat sopir. Mobil pun melaju menyusuri jalanan yang sedikit becek karena baru saja di guyur hujan. Seratus kotak meluncur ke toko Cih Amih dengan selamat dan juga ke toko koh Ahong. "Done...."ucap Sherlly tersenyum puas. "Terus kita pulang bagaimana" ucap Sherlly lagi. "Angkot...." jawabku sambil tersenyum. "Kami bawa motor..." bisik kak Mirza tiba-tiba yang membuat aku dan Sherlly terkejut. "Yeeei...." sorak Sherlly sambil bertepuk tangan kegirangan seperti bocah yang menang undian berhadiah dari makanan ringan. Ku naiki motor sport milik kak Mirza dengan perasaan tak menentu. Perasaan yang pernah ku rasa sebelumnya saat bersama bang David. Perasaan apakah ini?
Yuph...begitulah aktivitasku selama hampir dua bulan ini. Amat terbantu sejak ada kakak-kakak mahasiswa yang selalu ringan tangan. Kadang membantu membuat kue. Kadang membantu mengerjakan tugas sekolah ku. Kadang yang lainnya. Aku merasa tidak sendirian di dunia ini. Semua berjalan baik-baik saja hingga suatu sore di sebuah tikungan jalan yang sepi, scooterku dihentikan oleh sebuah mobil mewah. Aku berusaha mengendalikan laju Scooter hingga men-cicit rem ku. Terengah nafas ku menahan ketakutan ku. Dua orang gadis keluar dari dalam mobil. Ku taksir usianya empat atau lima tahun di atas ku. Wajah keduanya tampak cantik sekali, namun tak bersahabat. Terlebih seorang diantaranya yang lebih cantik dan lebih tinggi. Ia mendorongku begitu keras hingga aku limbung dan terjatuh pada sebuah parit aliran limbah rumah tangga. Kepalaku terantuk tepian parit hingga darah mulai mengalir.. Gadis itu tertawa hebat. "Tempatmu memang di situ, tukang kue. Di comberan...!"teriaknya sambil tertawa dan bertepuk tangan. "Sekali lagi kau ganggu Mirza bukan air comberan yang melumuri mu, tapi darah dari tubuhmu" ucapnya penuh kebencian dan berlalu bersama mobil mewahnya. Mirza...Kak Mirza sekali lagi nama itu disebut dan dikaitkan dengan ku. "Apalagi rencana-Mu ya, Tuhan...!" teriak ku sambil menangis sejadinya. "Fara....!" teriak seorang lelaki yang amat ku kenal walau hanya berupa bayang-bayangnya saja. Karena saat itu aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan ku.
__ADS_1
"Fara..." Berulangkali nama ku di sebut sehingga membuat ku membuka mata. Berulangkali mataku mengitari ruangan yang tampak asing bagiku. "Fara..." sekali lagi suara itu memanggil ku. "Kak Mirza...!" ucapku setengah teriak saat melihatnya duduk tak jauh dariku. Dan sekali lagi aku berteriak saat menyadari baju ku sudah berganti. Aku menarik selimut yang sejak tadi menyelimuti tubuh ku dan beringsut menjauh darinya. "Hei...tidak seperti yang kau kira. Bukan aku yang mengganti baju mu, tapi asisten rumah tanggaku. Maaf jika baju ku terlalu besar di tubuh mu" ucapnya. "Dimana ini...?" tanyaku sambil terus menutupi tubuhku dengan selimut. "Di apartemen ku. Aku tidak bisa membawamu ke rumahmu. Aku khawatir" jawabnya. Mendengar itu aku menangis sejadinya. Tak tahan melihat kondisiku, ia pun mendekatiku dan meraih tubuhku. Ia mendekap ku erat. Bahkan teramat erat. Bibirnya mendesis menenangkan ku. Aku pun pasrah dalam dekapannya. Tumpah sudah keluh kesah yang ada. "Kekasih kakak yang telah melakukan ini semua. Apa salahku, kak?ucapku sambil memukuli dadanya yang sedang ku sandari. "Pertama : dia bukan kekasihku. Dia hanya perempuan gila yang selalu mencoba menjadi kekasihku. Kedua : dia tahu bahwa aku mencintaimu. Karena itu, ia berusaha menyakitimu. Maafkan aku jika aku menjadi penyebab semua yang terjadi padamu" ucapnya sambil tetap mendekap ku erat. Aku terkejut. Sesaat aku meronta dari pelukannya. Mataku menatapnya tak berkedip. Tangisku pun mendadak hilang. Hanya sesenggukan ku saja yang terdengar. "Cinta...?" kataku lirih nyaris tak terdengar. "Sejak pertama kita bertemu aku sudah merasakannya. Namun aku belum yakin. Sampai kemarin, aku barulah benar-benar yakin. Perasaanku menolak saat melihatmu tersakiti. Aku cemas. Aku khawatir melebihi kekhawatiran seorang teman atau kakak. Aku yakin, aku mencintaimu dengan segenap jiwaku" ucapnya sambil menatapku yang diam membisu. "Maaf aku sudah kelewat batas..." ucapnya tiba-tiba sambil melangkah cepat menuju pintu. "Kak Mirza..."panggilku sedikit ragu, namun tetap saja berhasil menghentikan langkahnya. Aku berlari memeluknya. Merasai kehangatan punggungnya dan aroma maskulin yang selalu menggelitik penciumanku selama ini. Ia pun menarik tangan ku dan membuat tubuhku berdiri di hadapannya. Ia menatapku lekat. Bibirnya menyunggingkan senyuman. "Aku..." kataku terhenti ketika jari tangannya menutup bibirku. "Aku tahu..." katanya sambil tersenyum dan kembali mendekap tubuh ku. "Mulai sekarang kau adalah milikku. Yakin saja aku tidak akan melakukan hal yang buruk terhadap mu. Aku akan menjaga mu" katanya setengah berbisik sambil mengusap punggungku. Sesekali ia mengecup ujung kepalaku. Ajaib...tangisku kini menghilang seiring berubahnya hatiku yang jadi merah jambu.
"Untuk satu atau dua Minggu ini tinggallah di sini dahulu. Agar kau tenang dahulu" katanya sambil menyuap menu sarapannya."Tapi aku sudah baik-baik saja,Kak. Jangan berlebihan. Fara juga harus sekolah,kak" kataku sambil meneguk segelas air minum. "Ini sudah keputusanku, sayang. Aku tidak pernah menerima penolakkan" katanya sambil menatapku. Kilatan matanya membuatku terdiam tak sanggup berkata-kata lagi. "Nah, aku ke kantor dahulu. Ada sedikit pekerjaan" katanya sambil berdiri dan merapikan baju dan berkas yang menumpuk di meja. "Kantor...?" kataku heran. "Ya, sayang...aku sedang merintis sebuah usaha di samping aku kuliah. Sekitar dua tahun aku sudah menggelutinya. Bersyukurnya usahaku berkembang" tuturnya membuatku kagum. "Kenapa, kagum? Aku lebih kagum padamu, sayang. Kau pun bisa meneruskan usaha kue mu yang enak itu" katanya sambil mengacak pucuk kepalaku. Aku tersenyum menatap wajahnya. "Jika butuh apapun, beritahu Bu Anna atau padaku" katanya sambil memakai blazer warna hitam. "Aku berangkat dulu ya..." ucapnya sambil mendekatiku yang tengah duduk di sofa. Ia berjongkok meraih kepalaku. Namun urung ia lakukan apa yang semula ingin ia lakukan. "Astaga...aku lupa. Kau belum jadi istriku" katanya sambil tertawa lepas dan berlalu meninggalkanku.
__ADS_1
Pukul sebelas lewat lima menit. Pintu kamar kembali diketuk. "Non... Ada teman non Fara. Menurutnya tuan Mirza yang memintanya menemani non Fara" kata Bu Anna di balik pintu. Mendengar itu aku terlonjak dan segera membuka pintu. Aku yakin itu Sherlly yang sudah diminta kak Mirza untuk menemaniku. Baru saja beberapa langkah dari kamar rambutku sudah di tarik ke belakang hingga terhuyung. Aku berteriak karena perlakuan tersebut. "Sudah ku katakan jangan dekati Mirza. Tapi kau justru tinggal di apartemen nya" katanya dengan geram. "Cih, perempuan tidak tahu diri" kata seorang gadis lagi sambil menyerang ku dengan beberapa pukulan di tubuhku. Aku berusaha melawan, namun apa dayaku. Ku lihat Bu Anna tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan. Aku terduduk dengan luka di beberapa tubuh dan wajahku. Kemudian rambutku pun ditariknya sekali lagi. Aku mengaduh. "Ini peringatan terakhir untukmu. Jika kau masih terlihat bersama Mirza, taman riwayatmu" ancamnya penuh kebencian. Aku terdiam sambil menahan tarikan tangannya. Hanya air mataku saja yang masih mengalir. Dan sekali lagi ia mendaratkan sebuah tamparan ke wajahku sebelum kemudian ia berlalu.
Aku hanya duduk diam. Ku rasa kan nyeri pada beberapa bagian tubuhku. Dan ku yakin jika darah mengalir dari sudut bibirku. "Fara....!" teriak kak Mirza saat mendapatiku. "Apa yang terjadi?" katanya cemas. Tangannya menyibak rambutku yang tampak semrawut dan menutupi sebagian wajah ku."Maafkan aku..?" ucapnya sambil memelukku. Kemudian dengan segera kak Mirza mengangkat tubuhku dan menyandarkannya pada kasur beralas warna navy itu. "Maafkan saya,Tuan. Saya tidak dapat menjaga non Fara" kata Bu Anna yang datang membawa kotak P3K. Tiada jawaban dari bibir kak Mirza atas ucapan Bu Anna. Ia lebih fokus pada luka-luka yang ada padaku. Hati-hati sekali ia mengobati setiap luka bekas kuku tangan atau memar pada beberapa bagian tubuh ku lainnya. "Maafkan aku?"kata kak Mirza sekali lagi sambil mengusap air mataku yang terus saja mengalir. "Mencintai mu itu ternyata berat sekali,kak" ucapku sambil memejamkan mata. "Ya. Aku tahu. Apakah kau menyerah" ucapnya sambil menatapku. "Tidak..." jawabku. "Good... Itu baru gadisku" ucapnya sambil mengusap pipiku kemudian mengecup lembut tanganku. "Mirza....." ucap seorang perempuan cantik setengah baya di ambang pintu kamar. Matanya membulat menatap kami sambil melangkah mendekat. "Anak nakal...!" teriak perempuan itu sambil menarik telinga kak Mirza. "Mama...." teriak kak Mirza sambil memegang tangan perempuan yang ia sebut mama. "Ma..." kata kak Mirza lagi dengan penekanan sambil memandangku. "Oya, lupa. Maaf..." ucapnya dan mendekatiku. Ku raih tangannya dan ku kecup punggung tangannya dengan takzim. "Eee....Mirza kenapa masih di sini. Ke-lu-ar..." ucap mama Melissa. Begitu ia minta disebut. "Mama..." ucap kak Mirza sambil lalu.
__ADS_1