
Matahari sepertinya kembali ragu beranjak dari peraduannya saat hujan turun menyapa bumi. Ini adalah hujan yang kesekian kalinya di minggu pertama bulan Juni. Setengah berlari aku melalui tepian jalan yang basah diantara guyuran hujan. Titik airnya pun mulai membasahi sebagian tubuh walau aku berteduh di bawah payung yang berukuran sedikit besar.
Pukul delapan lewat satu menit. Setengah gigil aku memasuki ruang aula yang sudah ramai dipenuhi siswa kelas dua belas. Dress yang ku pakai pun sedikit kuyup terkena hujan saat melewati teras depan kelas menuju aula tadi. Suasana pun sudah menjadi riuh dengan berbagai rangkaian acara kelulusan. Dan kini adalah acara pengesahan kelulusan. Satu satu siswa akan menuju podium untuk menerima medali kelulusan menurut urutan yang sudah ditentukan. Setengah gusar aku duduk menanti giliran dengan mata yang menatap lekat pada sosok di podium. "Mama Melissa dan kak Mirza. Ada desiran aneh saat melihat keduanya di sana. Betapa tidak dari sekian lama aku bersekolah barulah kali ini mengetahui bahwa pendiri sekaligus pemilik sekolah ku adalah Tuan William, ayah dari kak Mirza. Ya...Tuhan, bagaimana perasaan ku nanti saat tepat di hadapan keduanya pada situasi saat ini. Aku pasti canggung sekali. "Semoga tidak terjadi hal yang tak ku inginkan..." gumamku lirih sekali.
Aku duduk setenang mungkin sambil menunggu nama ku di sebut dan berusaha mendamaikan debaran jantung ku yang sejak tadi ku rasa sedang tak menentu. "Olivia Faradilla Permana....!" Terdengar Bu Ratna menyebut namaku melalui pengeras suara. Sadar nama ku di sebut, aku pun langsung melangkah mendekat dan menerima ucapan selamat. "Selamat ya...." ucap kak Mirza sambil tersenyum sumringah. "Terima kasih..." ucapku dengan senyuman yang menggantung di ujung bibir ku. Pun demikian aku tertunduk tak sanggup membalas tatapan matanya yang begitu lekat. "Kita bertemu di rumah" bisiknya yang membuatku mengangkat kepala sejenak menatap wajah tampannya. "Mirza..." bisik mama Melissa sambil tersenyum dan menyenggol lengan kak Mirza yang sedikit kikuk jadinya.
Ku turini anak tangga dengan degup jantung yang tak karuan. Entah irama apa yang dimainkannya. "Fara..." panggil Ferry saat aku melaluinya. Aku pun tersenyum menatapnya. "Gimana rasanya diberi ucapan selamat dengan kak Mirza...? ucapnya menggodaku. "Mantaaaff..." jawabku sambil mengacungkan ibu jari dan tertawa kecil. "Dasar semprul..."ucapnya lagi. Aku berlalu meninggalkan Ferry yang juga tengah tertawa kecil.
Fiuh....lega rasanya bisa duduk kembali dan menghilang sejenak dari tatapan tajam kak Mirza. Tatapan yang membuatku tak berdaya. Pun demikian tatapan itu telah berhasil selalu membuatku tersanjung dan bahagia. Tatapan yang tulus dan penuh kehangatan. Aku tersenyum mengingat tatapan dari seorang Mirza hingga tak menyadari jika namaku sudah disebut Bu Ratna kembali. "Olivia Faradilla Permana..." aku terkejut saat namaku kembali disebut. Karena lamunanku, maka aku tidak terlalu memperhatikan jalannya acara. Hingga seorang teman mengamit lenganku dan memberitahukan situasi saat itu. "Selamat ya...kau memang the best, Fara..." ucap Kania temanku. Aku tertegun tak memahami maksudnya. "Kau lulus dengan nilai terbaik..." ucapnya lagi. "Aku....?" ucapku seakanntak percaya. "Wow....di panggil ke depan tuh" ucap Ferry yang tiba-tiba saja menolak tubuhku ke samping. "Apa sih, Ferry..." ucapku sambil menyeimbangkan tubuhku. "Itu di panggil..." ucap Kania. "Sambutan...what!" ucapku terkejut. "Fara...Fara...!" ucap semua seakan memberiku semangat.
Seisi ruangan menjadi riuh rendah dengan sorak-sorai saat aku berdiri dan mulai melangkahkan kaki menuju podium. Langkah ku menjadi cepat sambil membalas setiap uluran tangan teman-teman yang ku lalui. Jantungku mulai berdegup tak karuan saat mendekati sisi podium, terutama saat tanpa sengaja pandanganku beradu dengan kak Mirza. Astaga...ia tengah menatapku sambil tersenyum. Aku menjadi rikuh. Langkah ku sempat meragu mendapat tatapan tersebut. Dan segera ku alihkan pandanganku pada mama Melissa yang tampak tersenyum. Ajaib...tatapan keteduhan mata mama Melissa mampu mendamaikan suasana hati dan kekikukan sikap ku. Setengah tak percaya aku pun akhirnya berdiri pada podium. Mata ku menatap seisi ruangan yang mulai hening. Aku senyum sambil menghela nafas panjang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi..." ucapku memulai sambutan di tengah kekikukan ku. Perlahan namun pasti ada banyak kata yang meluncur saat di podium. Entah dari mana, aku sendiri mengetahui pastinya. Yang pasti ada riuh tepuk tangan saat aku mengakhiri sambutanku itu. "Nice....selamat ya" ucap kak Mirza saat memberikan piagam, piala penghargaan dan voucher dengan jumlah nominal yang cukup fantastis untuk ku dan juga kedua temanku yang lainnya sebagai peringkat kedua dan ketiga.
Syukurku tiada henti terucap hari ini. Hingga di akhir acara ucapan selamat pun terus ku terima. "Fara...." teriak Sherlly sambil menghambur memelukku. Aku pun membalasnya dengan suka cita semua perlakuannya tersebut. "Kita langsung ke office, mencairkan voucher mu setelah itu kita makan-makan..." selorohnya sambil tertawa. "Dasar kutu kupret...makan saja yang di otakmu" ucap Ferry yang baru datang sambil mengacak kepala Sherlly. Yang empunya kepala tentu saja manyun karena tatanan rambutnya menjadi berantakan. "Jahat...!" ucapnya singkat. Aku dan Ferry pun tertawa sambil memeluk masing-masing lengannya.
"Fara...selamat ya" ucap Bu Ratna yang mengusap kepalaku. "Terima kasih, Bu..." ucapku sendu sambil mengecup punggung tangannya. "Belum dicarlirkan...?" tanya Bu Ratna yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala. "Ibu bantu..." ucap lagi Bu Ratna sambil menarik lenganku. Aku pun manut dan mengikuti langkah Bu Ratna menuju office. "Ini dia juaranya...." ucap pak Reno guru bahasa inggrisku saat melihat kedatanganku. Selamat ya, nak. Bapak bangga. Terlebih nilai mapel bahasa inggriskmu hampir sempurna" ucapnya lagi sambil menyalamiku. "Terima kasih juga atas bimbingan bapak selama ini" ucapku tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Uangnya untuk apa, Fara..?" ucap Bu Andini sambil tersenyum. "Biaya kuliah, Bu..." ucapku sambil menandatangani berkas dan menerima uang dari pak Wijayanto, kepala bidang keuangan sekolahku. "Untuk apa pun itu, gunakan sebaik-baiknya..." ucap Bu Andini lagi. Kali ini ia memeluk ku erat. "Ibu...." ucapku sambil membalas pelukannya. "Jika ada kesulitan apapun, jangan sungkan untuk menghubungi ibu ya..." ucap Bu Ratna sendu. Di sudut matanya mengambang bulir bening yang siap meluncur. "Ya, Bu. Fara akan memberitahukannya kepada ibu. Terima kasih..." ucapku. Dan kali ini akulah yang menghambur dalam pelukannya. Sesaat kami bertangisan tertahan bak ibu dan anak yang akan berpisah jauh.
Ku cium punggung tangan Bu Ratna, Bu Andini dan beberapa guru dan staff yang ada dengan takzim. "Assalamu'alaikum..." ucapku sesaat sebelum berlalu. Ada titik bulir bening yang masih tersimpan di ujung mataku ketika Sherlly dan Ferry menghampiri ku. "Bagaimana...?" tanya Sherlly sambil menolak tubuhku dengan sisi tubuhnya. Aku tersenyum sambil berusaha menyeimbangkan tubuhku.
Drrt...Drrt... Drrt...
Ponselku berpendar. Sebuah pesan menghiasi kotak pesanku. "Selamat ya.... Tapi maaf aku harus ke kantor. Ada pekerjaan yang harus keselesaikan. Sore nanti kita bertemu. Oya...setelah mengantarku pak Parno, sopirku akan menjemputmu kembali" pesan kak Mirza. "Em, tidak perlu kak. Fara bersama Sherlly dan Ferry..." balasku. "Kamu yakin, sayang...?" pesannya lagi yang mengisyaratkan kekhawatiran. "Ya, kak. Dan lagi kami tidak kemana-mana kok. Kami hanya ke kantin setelah itu langsung pulang" balasku lagi. "Baiklah..." begitu pesan terakhir kak Mirza.
Matahari semakin tinggi, ketika kaki melangkah menuju kantin mengikuti Sherll dan Ferry. Hawa dari pancaran sinarnya pun mampu membuatku sedikit gerah. Pada situasi seperti ini sudah tentulah hayalku langsung tertuju pada es cendol bu Rasmi di kantin. Dan setengah berlari aku berusaha mengikuti langkah kedua sahabatku sambil sesekali melontarkan candaan maksimal yang mampu membuatku tertawa lebar. Tengah asyik bersenda gurau tiba-tiba tubuhku harus terpelanting karena sebuah dorongan.
Aku terjatuh. Ya...seorang lelaki tegap berwajah cukup tampan (Karena ketampanan utama bagiku hanya milik kak Mirza. Hehehe...) telah menabrak ku dan berhasil membuatku terjatuh. Pada situasi ku saat ini, ada dua hal yang kurasa. Yang pertama, rasa sakit yang ku alami dan membuatku meringis menahan sakit. Dan yang kedua, rasa sakit. Bagaimana tidak ada banyak pasang mata yang melihatku saat itu. Aku tertunduk sambil berusaha membetulkan posisi berdiri ku. "Maaf..." ucap lelaki itu sambil membantuku berdiri. "Ya. Tidak apa-apa. Maaf juga saya kurang hati-hati" ucapku. Sesaat mataku menatap wajahnya yang tampan. Jika di telisik mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan kak Mirza. "Evans..." ucapnya membuyarkan lamunanku. "Saya Evans. Panggil saja kak Evans" ucapnya lagi "Fa..Fara..." ucapku kikuk. "Aku Sherlly, kak..." ucap Sherlly penuh semangat menyalami lelaki yang baru saja menabrakku itu.
"Oya...saya mencari Office. Dimana, ya?" tanya kak Evans. "Mari saya antar, kak..." tawar Ferry. "Tidak apa-apa nieh..." ucap kak Evans lagi. "Tidak apa-apa.. Daripada kakak bolak-balik tanya, lebih baik saya antar langsung" ucap Ferry yang membuat aku dan Sherlly berpandangan sejenak karena hal ini di luar kebiasaannya. "Tunggu di kantin ya..." ucap Ferry sesaat sebelum berlalu. Tersenyum kak Evans menatapku sesaat sebelum berlalu. "Maaf..." katanya lagi. Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Wah, kak Mirza ada saingan nieh..." ucap Sherlly sambil menolak tubuhku. Dan untuk kedua kalinya aku terjatuh karena perlakuan Sherlly tersebut. "Sherlly....." panggilku setengah teriak saat ku lihat ia sudah melangkah cepat meninggalkanku.
"Astaga, Sherlly..." ucapku sambil mengacak tatanan sesaat setelah aku berhasil mensejajari langkahnya. Kami pun tertawa lepas sepanjang lorong sekolah.
__ADS_1
Drrt...Drrt...Drrt...
"Bagaimana acaranya, cah ayu...?" pesan ayah. "Lancar, yah. Oya, nilai Fara peringkat pertama, Yah..." pesanku lagi. "Alhamdulillah....syukurlah. Ayah bahagia mendengarnya. Kamu dimana, sayang?" pesan ayah lagi. "Hm, Fara masih di sekolah. Masih di kantin bersama Sherlly. Kangen makanan kantin. Setelah selesai makan, Fara pulang" balasku lagi. "Baik sayang... Hati-hati ya" pesan terakhir ayah.
"Mantaaaff..." ucap Sherlly sesaat setelah pesanan kami tersaji. "Wuih...enak nih" ucap Ferry yang tiba-tiba saja langsung menyuap mie ayam pesanan Sherlly. Tentu saja yang empunya membulatkan matanya sambil melancarkan serangan. "Ferry...!" teriak Sherlly kesal. "Ampun, Sherlly..." ucap Ferry berulangkali sambil menahan serangan Sherlly. Setelah puas, Sherlly pun terdiam dan duduk di sebelahku. Matanya mengisyaratkan kekesalan. "Maaf, sih sayang..." ucap Ferry menatap Sherlly berusaha menenangkannya. "Aku tidsk ikutan, ach...itu urusan rumah tangga kalian" ucapku saat ditatap Ferry seakan meminta pertolongan ku.
Tak lama kemudian, Sherlly pun menjadi sumringah saat mie ayam pengganti yang ku pesan tersaji. "Tiada maaf..." ucapnya pada Ferry yang langsung berbalas tepokan pada keningnya.
"Kak Evans...." teriak Ferry saat melihat kak Evans yang sedang berjalan menuju parkiran tak jauh dari kantin dimana aku dan kedua sahabatku berada. Merasa namanya dipanggil, kak Evans pun menghampiri kami. "Belum pulang...?" tanyanya saat berdiri di dekat meja kami. "Baru menikmati pesanan, kak. Masa mau pulang" ucap Sherlly sambil tertawa kecil. "Wah... sepertinya enak" ucap kak Evans sambil duduk tepat di hadapanku. "Hm..enak banget, Kak.." ucapku dengan mulut setengah penuh mie ayam. "Wow...ga gitu juga kali..." ucapnya tertawa melihat ku.
"Aku pesankan ya, Kak...?" ucap Sherlly. "Boleh. Tapi temani ya..." ucap kak Evans sambil menatapku. "Oke...kakak" ucap Ferry dengan mulut penuh suapan mie. Ia pun tersenyum sambil mengangkat ibu jarinya. "Fara ini pendiam, banget ya..." ucap kak Evans tiba-tiba yang menatapku. "Wow...kak Evans bum tahu saja" ucap Ferry tertawa. "Whatever..." ucapku begitu saja tanpa ekspresi apa pun. Sementara tangan ku masih asyik memilin mie membuat suapan. "Pun begitu, Fara cantik ya..." ucap kak Evans.
Deg.
Deg.
Deg.
__ADS_1