Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 90. Amarah...


__ADS_3

"Astaga...Fara. Darimana saja?" ucap mama Wina yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. "Em...." belum sempat aku menjawab pertanyaan mama, aku mendengar suara terbatuk dari kamar Dania. Tapi ini suara laki-laki. Aku jadi penasaran. Langkahku langsung menyasar pada kamar yang ditempati Dania.


"Kak Keanu mu tadi jatuh di depan pintu" ucap mama yang mengekori langkah ku.


Deg.


Tak ku hiraukan lagi apa yang diucapkan mama. Fikiranku hanya tertuju pada kak Keanu saja. Kulihat kak Keanu terbaring dengan luka pada dahinya. "Kak...." ucapku lirih sambil mengusap lengannya. "Kamu kemana saja Fara? Mama datang pun kau tidak ada. Untung tadi ada Dania. Jadi Keanu bisa cepat tertolong..." ucap mama.


Berapa kali mama harus menyebut namanya? Lalu mengapa harus di kamar yang di tempati Dania. Tak bisakah di kamar kami sendiri. "Maafkan aku, kak..." ucapku lirih. Ada rasa bersalah menelusup mengisi relung hati ini. Ah, mengapa hal ini terjadi disaat aku tidak bersamanya? "Aku baik-baik saja, Fara..." ucap kak Keanu dengan terbata. "Apa yang kakak rasakan?" ucapku hampir menangis. Kak Keanu tersenyum menatapku. Tangannya berisyarat menunjuk kepala. Aku pun langsung memijat ringan kepalanya


"Jangan khawatir begitu. Aku tidak apa-apa. Hanya lelah saja" ucap kak Keanu. Sebelah tangannya mengusap pipiku yang tak kusadari sudah dibanjiri air mata. "Ah, cengeng..." ucap kak Keanu. Kali ini tangannya mencubit gemas hidung ku. "Kita pindah kamar? Atau...kakak ingin di sini saja?" ucapku sedikit manyun. "Kita pindah..." jawab kak Keanu cepat.


Mendengar jawaban itu, aku langsung melangkah mencari bantuan. Sampai di ambang pintu, langkah ku dihadang Dania. Ia tersenyum menatapku. "Kau akan tersingkir, Fara..." bisik Dania.


Deg.


Seberani dan se-yakin ini kah Dania? Ternyata masih ada perempuan yang menyerang langsung istri sah dari laki-laki yang katanya ia cintai. Hei...aku masih bernyawa belum lagi mati, Dania. Dasar tidak tahu malu. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Dania tersebut dan kemudian melanjutkan memanggil mang Dudung dan pak Sobirin, satpam rumah kami.


"Iya, Nya..." jawab mang Dudung diikuti pak Sobirin dengan langkah cepat sesaat setelah aku memanggilnya. "Kita pindahkan, Tuan ke kamar atas" ucapku yang langsung diamini keduanya.


"Tapi, Fara... Aku rasa akan memudahkan dokter memeriksa jika mas Keanu di kamar ini" cegah Dania. "Tenang saja, Dania. Dokter dibayar untuk mencapai pasiennya walaupun di puncak gunung berapi sekali pun" ucap ku sambil menyiapkan kak Keanu. Sepintas kulihat kak Keanu tersenyum walau tipis. Matanya bergantian menatap ku dan Dania. Mungkin kak Keanu mencari reaksi di wajah ku ataupun Dania. Ku lihat Dania dengan ekor mataku, ia tampak diam. Hanya tatapannya saja yang menunjukkan sedikit kekesalan.


"Minta bantuannya ya, Pak, Mang..." ucap ku. Mang Dudung dan pak Sobirin pun membantu menopang langkah kak Keanu. Perlahan namun pasti, satu-satu anak tangga berhasil dilalui. Dan sesekali kak Keanu menatapku. Di akhir tatapannya, ku rasa ada tanya yang begitu membuncah. Tanya yang sepertinya ingin segera ia sampaikan. Sabarlah kak, aku akan jawab semua tanya mu itu.


"Terima kasih Mang, Pak..." ucapku saat kak Keanu berhasil rebah pada tempat tidur. "Kemarilah..." ucap kak Keanu. Matanya menatapku lekat. Aku pun langsung duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum. "Darimana...?" tanya kak Keanu singkat. Matanya menatapku tak lekat. "Em, dari cafe" jawabku sambil merapikan selimut yang menutupi tubuhnya, tanpa menatapnya. "Darimana...?" tanya kak Keanu lagi. Kali ini suaranya sedikit meninggi.


Mendengar tanyanya, aku pun menghentikan aktifitas ringanku itu dan duduk di bibir tempat tidur. Bibirku menyunggingkan senyuman sambil menatapnya. Ada sesak yang merangsek saat tanyanya meninggi. Tak seperti biasanya kak Keanu berlaku demikian.


"Sebentar tadi Fara ke cafe. Setelah itu ke pantai. Merenung..." jawabku sambil menyimpan tatapan pada jemari yang sejak tadi memainkan ujung kerudungku. "Curhat...?" tanya kak Keanu. "Bukan curhat. Aku hanya mencoba menenangkan hati. Sejak kedatangan Dania, perasaanku tak menentu" ucapku berusaha setenang mungkin.

__ADS_1


Kulihat dengan ekor mataku, kak Keanu menatapku lekat. Diujung tatapannya ada sedikit amarah. Terlebih tangannya mengepal. "Kau anggap aku apa, Fara? Kau pergi tanpa izin dari ku. Ceritamu pun tak sempurna. Kau pergi kemana, Fara...?!" ucap kak Keanu dengan amarahnya. Tangannya meraih vas kaca di atas nakas dan melemparny sembarang pada dinding hingga hancur berantakan. Mendapati perilakunya itu aku terperanjat hingga langkah ku surut beberapa langkah.


"Katakan...! Katakan kemana kau pergi?!" teriak kak Keanu. Matanya menatapku penuh amarah. Ini adalah kemarahan pertama kak Keanu sejak hampir tiga tahun pernikahan kami. Aku tahu ia pun sesungguhnya tertekan dengan situasi yang ad beberapa waktu ini. Tapi sungguh aku tidak menduganya sedikit pun jika dia akan melampiaskannya saat ini.


"Aku...Aku..." ucapku gagu hampir menangis. "Katakan, Fara... Katakan...!" ucap kak Keanu berulang. Kali ini barang-barang di dekatnya menjadi sasaran amuknya. Tangisku pun pecah melihat polahnya. "Ada apa dengan mu, Kak" ucapku lirih sambil menyusut air mataku.


Aku mendekati kak Keanu yang terduduk bersandar pada dinding. Kedua tangannya memeluk lututnya. Sementara tatapannya tersimpan pada ujung kakinya. Kemudian aku berhasil mengumpulkan keberanian dan mendekapnya. "Maafkan aku, Kak..." ucapku. Dan tangisku pun pecah kembali.


"Di situasi saat ini, aku hanya ingin menatapmu. Walau godaan menyata di mata, namun mataku hanya menatapmu. Dan hatiku selalu memanggil mu, Fara. Apa kau tidak faham akan tekanan yang ku terima beberapa waktu ini? Apa kau kira hanya kau saja yang menderita?! Apa kau kira kau saja yang terluka?! Katakan Fara apa kau mengetahuinya?" ucap kak Keanu dengan menahan amarah. "Maafkan aku, kak..." ucapku lirih.


Astaga...ternyata aku salah. Salah menempatkan penilaian ku atas kak Keanu. Ku kira semua tawa dan bahasa kak Keanu adalah bentuk penerimaannya atas kehadiran Dania. Namun ternyata tidak lah demikian. Hatinya tetap menatapku. Fikirannya tetap berencana untukku. Dan kepergianku saat ini, sangat membuatnya kecewa. Ia merasa tak dihargai sebagai seorang suami.


Maafkan aku kak. Mestinya hanya kau tempat ku bercerita. Hanya kau tempatku berkeluh kesah. Dan hanya kau tempatku berizin. Karena sesungguhnya keridhoanmu adalah pembuka jalanku menuju surga-Nya. Maafkan aku kak...


Pukul delapan lewat lima menit. Malam mulai merangkak jauh. Aku yang masih duduk dekat kak Keanu yang masih duduk bersandar hanya bisa menatapnya lekat sambil sesekali melontarkan kata maaf. "Aku cemburu, Fara.. Walaupun kau pergi bersama Noah kakakmu. Karena kau lebih memilihnya untuk berkeluh kesah ketimbang aku" ucap kak Keanu lirih.


"Aku salah. Tapi tak bisakah dengarkan aku?" ucapku yang langsung ia tanggapi dengan mengedarkan tatapannya padaku. "Apa kakak kira, cemburu itu hanya milik kakak? Apa kakak kira aku tidak berhak marah seperti kakak saat ini?" ucapku sedikit menyimpan kesal. "Sungguh aku pun cemburu. Saat tawa itu berlanjut bersama Dania. Dan perlahan semua perilaku Dania berbuah penerima mu, kak. Aku pun kecewa dan terluka saat tahu kau menemaninya berbelanja. Aku juga sedih saat kau bersusun rencana bersama Dania untuk menjemput mama. Aku pun marah menyaksikan semua kebersamaan kalian. Apa kakak tidak menyadari itu?" ucapku sendu.


Pintu digedor dari luar. Dan kak Keanu berisyarat agar aku tidak mempedulikannya. "Ini urusan kita. Cukup kita saja yang menyelesaikannya" ucap kak Keanu sambil berusaha berdiri. Aku pun bermaksud membantunya saat tubuhnya limbung, namun lagi-lagi tangannya berisyarat agar aku mengurungkan maksud ku itu. "Aku bertemu kak Noah, hanya suatu kebetulan. Tiada berjanji sebelumnya. Kemudian kak Noah mengajakku menemui seorang temannya. Dia berprofesi sebagai dokter. Dan dokter itu menyanggupi untuk memberikan terapi kepadaku. Ia berkeyakinan bahwa aku bisa sembuh kembali. Kakak tahu, saat ia mengutarakan itu harapanku kembali bangkit. Aku juga ingin kembali seperti dahulu, Kak..." ucapku dengan air mata yang kembali terjun bebas.


"Lalu kenapa kau tidak pernah mengutarakan bahwa kayu marah, kecewa, terluka atas semua perilaku ku itu" ucap kak Keanu yang duduk di tepi tempat tidur. "Aku gamang, Kak. Separuh jiwaku berharap yang terbaik untuk mu, walau harus berpisah darimu karena kondisiku yang tak kunjung sembuh ini. Namun sebagian lagi jiwaku berontak. Karena aku tidak bisa ditinggalkan atau meninggalkan kakak" ucap ku penuh perasaan.


Brak...!


Pintu kamar di dobrak. Berdiri mama dan Dania. Melihat situasi kamar yang berantakan, mama menjadi panik. Matanya tajam menyasar diriku yang masih duduk di lantai dan bersandar pada sisi tempat tidur. "Kau sudah tidak waras, Fara. Suami mu sedang sakit, kau justru seperti ini..!" ucap mama lantang. Ah, mama fikir kak Keanu korbannya. Mama tidak sadar bahwa akulah sebenarnya korbannya. Korban dari segala perbuatan mama beberapa waktu ini.


"Kita pindah ke kamar mama saja..." ucap mama sambil merapikan baju dan rambut panjang kak Keanu yang tampak berantakan. "Tidak, Ma..Ini kamarku" ucap kak Keanu yang masih saja menatapku lekat. "Ya, sayang. Tapi biarkan mbak Min membersihkannya dahulu. Setelah itu kau akan menempatinya kembali" ucap mama yang sesekali menatapku. "Pergilah, Kak..." ucapku sambil berdiri. Ada pilu yang menelusup ke ujung hati saat aku memintanya pergi. "Mungkin ini menjadi hal yang terbaik untuk mu" ucapku sambil mengalihkan tatapan ku dari nya.


"Mari mas..." ajak Dania manis. Mendengar itu pilu semakin ku rasa. Mungkin inilah ujung pernikahan ku. Setelah hampir tiga tahun bersama. Aku terisak tertahan. Aku tak ingin kak Keanu menyaksikan duka ku.

__ADS_1


Pukul sepuluh malam. Ku dengar langkah ketiganya menjauh. Pergi meninggalkan ku sendiri dalam isak pilu ku. Hinggu pintu di tutup barulah aku sadar jika aku benar-benar sudah sendirian. Dan semakin pecahlah tangisku.


Kemudian, entah darimana datangnya sebuah dekapan erat menghangatkan tubuhku. Dari aroma tubuhnya aku faham betul jika dekapan ini milik suamiku sendiri. "Kak Keanu..." ucapku lirih. "Ya, sayang..." ucap kak Keanu. Tangisku justru semakin pecah saat mendengar suaranya itu. Ada sebuah kelegaan yang menyelimuti jiwa saat ia mendekapku. Separuh jiwa ku yang semula berontak atas keikhlasanku membiarkan kak Keanu pergi kini bersorak hebat. Sebuah sorakan atas kehadiran kak Keanu yang dengan erat mendekapku.


"Aku tidak akan meninggalkan mu. Sekarang ataupun nanti" ucap kak Keanu yang langsung menghadiahiku dengan kecupan pada keningku. "Maafkan aku yang sudah berlaku kasar kepadamu. Maafkan juga sudah menyakiti perasaan mu. Kini aku semakin faham akan perasaanmu terhadapku. Artinya apa yang diutarakan Mirza tak terbukti" ucap kak Keanu yang masih mendekapku.


Deg.


Mirza? Kenapa nama itu tersebut diantara perbincangan tentang kami. Apa ini semua berkaitan dengannya. "Apa hubungannya dengan kak Mirza, Kak?" tanyaku sambil mendongakkan wajah menatapnya. Ia hanya tersenyum dan mengeratkan dekapannya. "Kak..." ucapku menyimpan rasa penasaran. "Kemarilah..." ucap kak Keanu sambil mengarahkanku pada sofa.


"Sejak tahun pertama pernikahan kita, saat ia mengetahui hubungan kita Mirza mendatangiku. Ia mengatakan banyak hal tentang mu dsn tentangnya. Terakhir beberapa bulan lalu sebelum kita ngalih ke rumah ini" ucap kak Keanu.


Keanu Flashback On


Pukul dua lewat lima menit. Di sebuah sudut cafe. Aku duduk santai. Mataku menatap keluar jendela. Sebuah pesan ku terima beberapa saat lalu, sehingga berhasil mengurungkan niatku meninggalkan cafe seusai santap siang. Sudah hampir tiga puluh menit sejak pesan di kirim, aku masih setia menunggu si pengirim pesan.


"Maaf menunggu lama" ucap seorang laki-laki yang langsung duduk di hadapanku. "Apa yang ingin kau bicarakan, tuan Mirza" ucapku datar. "Fara..." ucapnya singkat. Matanya menatapku lekat. Aku mengernyitkan dahi sebagai reaksi atas ucapannya. Dalam hati mulai bergejolak saat nama istriku itu di sebut oleh Mirza yang sesungguhnya sudah me jadi 'mantan' baginya. "Ada apa dengan Fara?" ucapku berusaha tenang. "Tinggalkan dia. Dia tidak mencintaimu. Dia hanya mencintaiku. Keputusannya memilih dan menikah denganmu hanya ingin melampiaskan kemarahannya kepadaku. Dia ingin membalas dendam kepadaku" ucap Mirza yang membuatku geram. "Darimana kau tahu jika ia tidak mencintaiku dan hanya mencintaimu?" tanyaku sambil menahan gejolak yang kian bergemuruh.


Mirza tersenyum menatapku. Dia menghela nafas. "kau lihat saja saat ia menatapku. Matanya tak akan berbohong bukan?" ucap Mirza. "Ah, itu tidak membuktikan apapun Mirza. Kadang tatapan mata itu bisa membohongi" ucapku. "Nah, tepat sekali. Sekarang sebaliknya. Apakah kau merasa ia mencintaimu ketika di lihat di mata indahnya itu" ucap Mirza. Aku terdiam.


"Satu lagi, berapa kali kau berhubungan intim dengan nya? Aku ia akan selalu menolak jika kau memintanya" ucapnya lagi.


Deg.


Ucapannya mulai masuk akal. Separuh hatiku mengiyakan apa yang baru saja Mirza katakan. Wait...apa untungnya ia membahas ini? Oo...aku yakin, Mirza tengah mempengaruhi fikiranku. Mencoba mengikis keyakinanku akan cinta Fara terhadapku. Tapi...mengapa aku gamang. Karena apa yang diucapkan Mirza pun ada benarnya. Ah, sial kau Mirza.


"Apa kau pernah menanyakan mengapa ia lebih sering menolakmu ketimbang menerimamu untuk melakukan hubungan intim?" ucap Mirza lagi kali ini dibarengi dengan kekeh. "Kau tahu apa tentang Fara kini. Kalian sudah lama berpisah. Aku yakin cinta Fara hanya untuk ku kini" ucapku sambil berdiri. Mirza masih terkekeh dan menatapku lekat.


"Kau yakin Keanu...? Jangan-jangan tanda khusus pada tubuh Fara pun kau tidak mengetahuinya" ucapnya lagi. Aku geram dengan semua ucapan dan reaksi di wajahnya setiap ia berucap membicarakan Fara. Ingin rasanya aku melayangkan bogem mentah di wajahnya, tapi alangkah tidak elegannya aku jika melakukannya. Akhirnya aku memilih meninggalkannya. "Ah, persetan dengan semua ucapan mu.." ucapku sambil berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Pernahkah kau mengecup bibir tipisnya yang ranum itu, Keanu...!" teriak Mirza bak laki-laki tak beradab. Bibir...? Ah, sialan mengapa kau mengatakan semua itu Mirza. Apakah ini benar adanya atau hanya taktiknya saja untuk memisahkanku dari Fara? "Ah, sial...!" gerutuku dengan gamang yang mulai menghantui.


Keanu Flashback Off


__ADS_2