Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 33. Pernikahan Ayah


__ADS_3

Matahari baru saja menampakan semburat merah nya di ufuk timur. Dan cahayanya pun belum lagi mampu menghangatkan bumi. Pun demikian, bagi sebagian orang saat ini adalah saat terbaik untuk memulai hari dengan segala harapan yang sudah tertuang dalam untaian doa-doa subuh tadi. Langkah pun begitu mantap dan pasti menyongsong hari dan berharap menjadi sebuah keberkahan untuk diri dan keluarga.


Pukul enam lewat tiga puluh lima menit. Ayah begitu gagah memakai setelan berwarna abu-abu gelap lengkap dengan kemeja yang juga berwarna abu-abu namun lebih muda. Dan kini ia sudah bersiap dan duduk santai menunggu ku yang masih bersiap. Oya, dimana Tante Vira? Hehehe...Tante Vira sudah berada di lokasi pernikahan yaitu sebuah villa milik keluarga kak Mirza. Dan di pernikahan kali ini, kelurga kak Mirza menjadi keluarga dari mempelai wanitanya. Aku sangat berterima kasih kepada mama Melissa yang sudah berkenan turut andil dalam acara bahagia keluargaku ini.


"Sayang....ayolah, nanti terlambat loh" ucap ayah. Mendengar itu aku pun langsung menyelesaikan riasan wajahku. "Mari yah, kita berangkat" ucapku sesaat setelah berdiri di dekat ayah. Tersenyum ayah melihatku. Matanya menatapku lekat dari ujung kaki hingga kepala. "Anak ayah cantik sekali..." puji ayah sambil memelukku. "Siapa dulu ayahnya..."ucapku sambil mensejajari langkah ayah menuju halaman. "Semua sudah siap, Tuan..." ucap bang Pandu sambil menatap dua bus yang sudah penuh terisi para tetangga dan pegawai toko.


Drrt...Drrt...Drrt...


"ya, Tuan..." ucap Bang Pandu. "Baik Tuan..." ucapnya lagi. "Cantik dan luar biasa, Tuan" ucap bang Pandu. Kali ini ia menatapku sambil tersenyum dan menghampiriku. "Em, maaf Nyonya. Kata tuan : Kamu adalah doaku yang telah menjadi nyata. Melihat senyummu adalah kebahagiaan bagiku. Sementara, memilikimu adalah hadiah yang paling indah dalam hidupku" begitu ucap bang Pandu menirukan kalimat kak Mirza. Aku tersenyum menyimaknya. "Ada-ada saja. Bukankah ia dapat menyampaikannya sendiri" gerutu ku sambil melangkah mengekori ayah ke dalam bus.


Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Bus pun melaju menyusuri jalanan yang masih belum ramai. "Bagaimana perasaan, Ayah" ucapku menggodanya sambil memeluk lengannya. "Ayah baik-baik saja..." ucap ayah sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku. "Semoga ayah bahagia selalu. Fara rasa sudah cukuplah duka ayah selama ini. Semoga Tante Vira dapat menemani ayah hingga selamanya. Amah, pasti juga bahagia melihat ayah bahagia" ucapku sambil mengeratkan pelukan ku. "Sayang...Fara tahu kan apa alasan utama ayah menikahi Tante Fara?" ucap ayah yang ku balas dengan anggukan kepala. "Hanya amah mu perempuan yang paling utama dalam hidup ayah. Di pertemuan terakhir kami, ayah berusaha menebus semua kesalahan ayah. Kami sempat bersama selama tiga bulan. Dan kami sangat bahagia. Seandainya penyakit itu tidak merenggut nyawanya, mungkin kita bertiga akan semakin bahagia" ucap ayah sendu dengan suara sedikit bergetar. "Aku yakin amah bahagia, Yah..." ucapku yang berusaha menahan tangis.


"Maaf, Tuan. Kita hampir sampai. Silahkan bersiap-siap" ucap bang Pandu setengah berjongkok. "Terima kasih, Nak..." ucap ayah sambil menepuk bahunya dan tersenyum. Diperlakukan demikian, bang Pandu tersenyum sambil menatap sendu. Sepintas kulihat ada duka yang menggantung di ujung tatapannya.


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Ku bantu ayah memakai jasnya dan merapikan kain setengah dan peci yang ia pakai. Mataku yang berkaca-kaca membuat ayah kembali memelukku erat. "Terimakasih sudah menjadi sumber kekuatan ayah. Ayah selalu berdoa semoga anak ayah ini selalu bahagia..." ucap ayah sambil mengecup pucuk kepalaku dengan lembut. Tak lupa ayah pun merapikan balutan kerudungku dan sekali lagi memelukku.

__ADS_1


Tak lama kemudian kami pun sudah melangkah beriringan menuju taman tempat diadakannya acara pernikahan. Tampak mama Melissa, bang David dan...hei ada sosok wanita di sisi bang David dan seorang anak mungil dalam buaiannya itu? Apakah itu istri dan anak bang David? "Assalamu'alaikum...Ma?" ucapku sambil mengecup punggung tangannya dengan takzim. "Wa'alaikumussalam...sayang" balas mama yang langsung memeluk ku. "Kenalkan ini...istri dan anak bang David" ucapnya sambil tersenyum dan menatapku lekat. "Fara..." ucapku tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Mikaela..." ucapnya dan membalas uluran tanganku sambil tersenyum.


Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Mataku mengitari seisi taman. Aku mencari sosok yang selalu membuat jantung ku berdegup hebat. Namun hingga acara separuh berjalan, tak ku jumpai juga sosoknya. "Hei...Kemana dia?" ucap ku dalam hati.


"Saya terima nikah dan kawinnya Zavira Natasya binti Hermawan dengan maskawin tersebut dibayar tunai..." ucap ayah begitu lancar yang disambut kata sah dari para saksi. Doa pun dimunajatkan penuh keharuan. "Alhamdulillah..."ucapku sambil tersenyum saat menatap ayah dan Tante Vira yang saling melempar senyuman. Terakhir dikecupnya punggung tangan ayah dengan takzim. Tiada terasa bulir bening pun mulai terjun bebas membasahi pipi. Tak lama berselang tisu pun diberikan kepada ku dari tangan seseorang yang amat ku kenal. Dari seorang lelaki yang selalu berhasil menghapus air mataku. "Kak Mirza..." ucapku lirih. "Semengenal itukah dirimu padaku, sayang...?Tanpa melihat ku pun kau mengerti bahwa ini adalah aku" bisiknya sambil mensejajari ku. Aku tersenyum sumringah. "Bahkan langkah kakak pun aku mengetahuinya..."ucapku sambil melihatnya dengan ekor mataku. "Aku bahagia mengetahuinya..." bisiknya lagi.


Tanpa sengaja pandanganku beralih pada suatu tempat di sudut taman. Di sana bang David tengah menatap ke arah kami. Tatapan yang ku rasa begitu tak biasa. Tapi entahlah, aku gagal memaknainya. "Sayang..." ucap kak Mirza membuyarkan lamunanku. "Em, ya..." ucapku terkejut dengan tatapan yang masih mengarah pada bang David di ujung sana. "Ayahmu datang..." ucap kak Mirza. "Ayah...!" ucapku yang langsung menghambur memeluknya. "Tante Vira....! ups...Em,apa panggilanku ya?" ucapku sambil tertawa sumringah. "Bagaimana jika mama" ucap Tante Vira. Aku pun tersenyum dan sekali lagi memeluknya.


Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Di meja. Saat semua tengah berbincang ataupun bersantap. Aku hanya diam. Makanan yang tersaji pun belum ku sentuh sedikit pun. Hanya tanganku saja yang asyik membuka gambar-gambar yang berhasil diabadikan hari ini. Entah apa yang ada dalam fikiranku saat aku beranjak meninggalkan meja dimana kami sedang berkumpul. "Hei...Mau Kemana?" tanya kak Mirza sambil menarik tanganku. Aku terkejut mendapat perlakuannya tersebut. Tubuhku hampir limbung. Beruntung kak Mirza berhasil menahan tubuhku sehingga tidak jatuh. "Maaf..." ucapnya Sambil menatapku dalam. "A... Aku mau ke toilet" ucapku untuk menutupi kegugupanku.. Bagaimana tidak, dekapan kak Mirza terjadi ditengah kerumunan. Dan ada banyak pasang mata yang menatap kami.


"Jangan menangis, Fara. Aku ada hanya untuk menghapus air matamu. Seperti janji ku pada nenek Merry. "Kau tidak perlu menjawab apa pun atas pengakuanku. Aku hanya ingin kau tahu saja bagaimana perasaan ku ini. Karena cinta ini sudah membelengguku dan aku hanya ingin membaginya agar aku bisa lebih ringan menjalani hari-hari ku. Cinta ku tak perlu jawaban, Fara. Jadi biarkan saja. Cukup kau tahu itu saja" ucap bang David. Aku terdiam. Aku gagu. Dan saat diamku itu sebuah kecupan cepat pun mendarat pada bibirku. Sadar dengan apa yang baru saja terjadi aku pun segera menolak tubuhnya agar menjauhiku. Sebuah tamparan pun berhasil kulayangkan dsn telak mengenai wajah tampannya. Lagi-lagi seakan baru tersadar dengan apa yang telah kulakukan, aku pun berlari ke dalam toilet kembali. Kutumpahkan segala sesak dalam dada ini. "Fara...Fara...!" panggil bang David sambil mengetuk pintu.


"Kau keterlaluan, Bang..." ucap sebuah suara lainnya yang amat ku kenal. "Kak Mirza..." gumamku lirih. Aku terdiam mematung bersandar pada sisi dinding. "Fara...Fara, sayang...keluarlah. Ini aku, kak Mirza mu. Ayolah, Sayang..." ucap kak Mirza. Mendapati tiada respon dari ku, suara kak Mirza terdengar begitu mengkhawatirkan ku. Tak lama ku dengar saura dobrakan di pintu. Kak Mirza pelakunya. Nafasnya memburu saat berhasil mendobrak pintu. Dan tatapannya langsung mendapatiku yang tengah berdiri bersandar, tanpa daya. "Fara...!" ucap kak Mirza yang langsung merengkuh tubuhku yang lunglai. Ia pun langsung membopong tubuh ku. "Siapkan kamar, Bu Anna..." ucap kak Mirza yang masih dapat ku dengar. Di rebahkannya tubuhku pada kasur dengan hati-hati. "Biarkan aku memeriksanya..." ucap bang David. "Jangan sentuh, Fara..." ucap kak Mirza. Ada sedikit amarah di nada bicaranya. "Aku dokter, Mirza...!" ucap bang David. "Hah...tidak peduli kau siapa. Aku bisa mengurusnya...!" ucap kak Mirza. "Mirza...!" teriak bang David. "Kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan tadi, dokter David? Kau salah. Aku mendengar dan melihat semuanya. Semuanya...! Aku memberimu izin hanya untuk mengungkapkan perasaanmu agar hidup lebih ringan, tapi yang telah kau lakukan tadi itu keterlaluan...!"ucap kak Mirza dengan lantang. "Kak Mirza...."ucapku lirih. "Ya, sayang...aku di sini" ucap kak Mirza sambil menggenggam jemariku.


"Ada apa ini?" ucap mama Melissa lantang saat melihat keadaanku. "Mama tanyakan saja pada dokter David..." ucap kak Mirza tanpa melihatnya. Hanya jarinya saja yang menunjuk bang David. "Aku pusing, Kak..." ucapku. "Sayang..." ucap ayah yang langsung duduk di sisi kiri ku. "Ayah...." ucapku yang langsung memeluknya. Dan isak ku kembali menghiasi ruang tersebut untuk beberapa saat.

__ADS_1


Pukul sebelas lewat sepuluh menit. Suasana sudah tenang. Aku pun sudah berhasil menyusut tangisku. Di balkon kamar hanya ada aku dan Kak Mirza. Itu pun karena permintaan kak Mirza. "Bagaimana jika aku menikahi mu hari ini juga?" ucap kak Mirza sambil tersenyum dan tiada henti menatapku. "Kenapa..?" tanyaku gugup. "Karena aku selalu jatuh cinta padamu berulangkali kali. Untuk itu aku ingin menghalalkan mu. Aku ingin mengajak mu menyempurnakan agama kita seperti kata nabi kita dalam sebuah hadist :


Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian sisanya." (HR. Thabrani dan Hakim).


Selain itu aku ingin kita bahagia, saling menjaga dan menikmati hari tua bersama" ucap kak Mirza lagi" ucap kak Mirza penuh keyakinan. "Sungguh Fara tidak menolaknya. Fara pun ingin demikian. Tapi Fara rasa tidak hari ini" ucapku sambil menatap kuncup bunga yang bergoyang tertiup angin lalu. "Aku tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Jika kau sudah menjadi milikku, maka aku akan bebas menghukum orang yang mengganggumu karena aku berhak atas itu" ucap kak Mirza berapi-api. Matanya menatap tajam dan mendekatiku cepat. Tubuhnya begitu dekat denganku. Aku pun langsung bereaksi dengan menolak tubuhnya agar menjauhiku. "Kenapa?" tanya kak Mirza. "Aku tidak suka..." ucapku terbata. "Waktu bang David yang melakukannya, kau diam. Kenapa?" tanyanya membuatku makin gugup. "Apa karena kau mencintainya" ucap kak Mirza lagi.


Deg.


Aku terpaku sesaat. "Tidak...Tidak demikian" ucapku kemudian. Kak Mirza tersenyum mendapati ke gugupanku. "Okey. Karena itu, menikahlah denganku..." ucap kak Mirza lagi. "Kak Mirza..." ucapku lirih. "Ya atau tidak sama sekali..." ucap kak Mirza sedikit bernada ancaman. Aku terdiam.


"Apa kakak yakin?" ucapku. "Astaga, sayang... jangan kau ragukan semua perasanku ini" ucap kak Mirza bernada kesal. Tangannya mengepal tanda ia menahan amarah. "Aku harus bagaimana untuk meyakinkanmu? Apa aku harus melompat dari balkon ini?" ucap kak Mirza yang menatapku lekat sejak tadi. Aku menghela nafas dalam dan membalas tatapan kak Mirza. "Jika kakak begitu yakin, maka baiklah aku bersedia..." ucapku perlahan yang membuat kak Mirza tersenyum lebar. "Bisa ulangi sekali lagi..." pintanya seakan ia tak percaya atas apa yang ia dengar. Aku pun meluluskan permintaannya tersebut. Dan sekali lagi aku mengulangi pernyataan kesediaan ku tersebut. "Fara bersedia menikah dengan kakak..." ucapku lagi.


"Fiuh....akhirnya" ucap kak Mirza dengan rona bahagia. Dua lubang pada pipinya pun tampak jelas terlihat karena senyum lebarnya menghiasi wajah tampannya. "Terima kasih..." ucapnya sesaat sebelum berlalu.


Aku tersenyum saat terdengar riuh atas kak Mirza menyampaikan kabar kesediaan ku. "Segera persiapkan..." ucap kak Mirza.

__ADS_1


To Be continued...


__ADS_2