Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 77. Identitas Laki-laki Misterius


__ADS_3

Keluar dari sebuah gedung tua yang kosong membuatkan merasa lega. Berdiri aku dengan menopang pada kak Keanu. Sama seperti dahulu ada kak Mirza, ada kak Keanu yang dahulu ku panggil dengan sebutan bang Pandu, ada Satria, kak Roy. Bahkan...."Bang David...!" ucapku setengah teriak. "Mana mungkin membiarkan adik ku berjuang sendirian..." ucapnya sambil mengacak pucuk kepalaku. "Terima kasih, Bang David..." ucapku sambil berwajah lucu. Dan hal itu membuatnya tertawa.


Sementara itu, raungan suara sirine mobil patroli begitu nyaring. Suaranya berpadu dengan mobil ambulance yang dimana kak Noah berada. Berurai air mataku menatap kondisinya. Bak tak percaya, laki-laki yang tiga hari lalu ku tangis karena kabar kematiannya ternyata masih hidup dan kini terbaring dengan luka yang cukup menarik perhatian medis dan siapa saja yang melihatnya. Ya, Robby... aku bersyukur pada-Mu, ternyata kabar kematian kak Noah hanya sebuah strategi untuk mencari tahu keberadaannya.


Memanglah semula semua berasumsi bahwa mayat yang ditemukan adalah benar kak Noah. Namun setelah melalui penyelidikan lebih lanjut diketahui bahwa itu bukanlah kak Noah. Ada banyak spekulasi yang beredar di kalangan penyelidik, namun yang paling kuat berdasar bukti adalah bahwa kak Noah masih hidup. Kak Noah di culik sindikat yang sedang mengincar berkas berisi nama-nama petinggi sindikat yang paling dicari saat ini.


"Aku tidak apa-apa, Fara..." ucap kak Noah dengan terbata sesaat sebelum berlalu. Rupanya ia masih saja tidak ingin membuatku khawatir. Mana mungkin aku tidak khawatir? Melihat keadaannya saat ini saja sudah cukup meyakinkanku untuk mengkhawatirkannya. Aku tersenyum menatapnya. "Pulang dan beristirahatlah. Esok kita bertemu" ucapnya sambil berisyarat dengan tangannya. Aku pun mengangguk dan mengiringi keberangkatannya dengan tatapan pilu dan derai air mata yang belum usai. Ah, moga saja kakak laki-laki ku satu-satunya itu akan baik-baik saja. Selalu...


Kemudian aku duduk pada sebuah kursi usang di sudut halaman gedung tua tersebut. Sekedar mengistirahatkan kaki yang sejak tadi ku rasa sudah bekerja cukup keras. Kak Keanu baik-baik saja?" tanyaku sambil menatap lebam di sudut bibirnya. Ia pun mengangguk pasti sebagai jawaban bahwa ia baik-baik saja. Fiuh...syukurlah. Aku membatin. Ada sebuah kelegaan yang membuncah saat mengetahui keadaannya.


Fikiranku mengembara sesaat. Tepatnya saat-saat kak Keanu berolah jurus di waktu lalu. Di setiap menjagaku. Rasanya masih melekat dalam ingatanku, bagaimana gerakannya ataupun tatapannya yang begitu mengkhawatirkan ku. Dan aku yakin saat tadi pun, di saat ini pastilah kak Keanu se-piawai seperti biasanya dalam mengolah jurus-jurusnya.


"Tuan Keanu, terima kasih atas bantuannya. Rencana kita berjalan lancar" ucap seorang laki-laki berseragam sambil menjabat tangan kak Keanu. "Rencana...? Rencana apa?" tanya ku sambil menatap kak Keanu sesaat setelah laki-laki berseragam itu berlalu.


Mendadak dengan serentak semua jadi berlalu menjauh beberapa langkah sambil mengulum senyum. Semua berisyarat mengangkat tangan. "Tidak ikutan..." ucap mereka hampir bersamaan. "Rencana... Em, rencana untuk menemukan Noah" ucap kak Keanu kikuk. "Jangan katakan jika aku yang menjadi umpannya" ucapku sambil mengibaskan tangan berusaha melepaskan tangan kak Keanu. "Bukan...Bukan begitu, sayang" ucap kak Keanu makin kikuk. Aku pun langsung berdiri, lupa bahwa aku benar-benar belum sempurna mampu melakukannya. Dan akhirnya tubuhku limbung, bahkan hampir terjatuh. Jika saja kak Keanu tidak menyelamatkanku, maka mungkin sakit di tubuhku akan bertambah. Belum lagi rasa malu yang harus kutanggung. Hadeuuh...


Beruntunglah kak Keanu berhasil menopang kembali tubuhku. "Kau tidak bisa jauh-jauh dari ku, sayang" ucap kak Keanu sambil mendekap tubuhku. "Boooo..." seru hampir semua laki-laki yang ada saat mendengar ucapan kak Keanu tersebut. Mataku beredar menatap mereka, namun mereka menjadi sama saja dengan berpura-pura tidak melihat. Hanya kak Mirza saja yang masih menatap ku lekat. Hei...mungkinkah ia cemburu. Tapi jika ditilik dari caranya menatapku, maka jelas sekali jika kak Mirza cemburu. Ya...kak Mirza cemburu. Ingin rasanya aku bersorak atas rasa yang dialami kak Mirza itu. Bagaimana tuan Mirza, enak merasakannya? Rasakan itu tuan Mirza...Aku terkekeh dalam hati. Jiwaku bersorak kegirangan. Haha...


Lamunan liarku membuatku terdiam. Wajahku memerah. Segera saja aku menyimpan wajahku dalam-dalam dengan menundukkan pandangan pada rerumputan hijau di bawah kaki ku. Pada situasi ini aku akan berusaha mendamaikan degup jantung yang sejak tadi sedang berlarian. Sementara itu kak Keanu mengumbar senyum saat mendapatiku yang demikian.


"Kamu tahu kadang aku iri pada angin yang mampu memelukmu sewaktu-waktu. Karena itu biarkan aku memelukmu sebentar lagi saja. Hanya memelukmu, kekasih hatiku" ucap kak Keanu sambil mendekapku.

__ADS_1


Deg.


Kata-kata ini adalah yang pernah ku dengar. Masih jelas terngiang dalam ingatanku. Perkataan yang beberapa waktu lalu sempat menghantui ku. Dan hari ini aku kembali mendengarnya. Aku benar-benar terdiam. Fikiranku kembali mengembara dan berhenti sejenak pada sebuah peristiwa di lembah. Ah, astaga artinya waktu lalu itu tak lain dan tak bukan adalah kak Keanu sendiri lah yang sudah mengutarakannya. Pada keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Keadaan yang hampir sama dengan ku saat ini. Lumpuh sementara. Tapi dia masih tetap menjagaku, sama seperti saat membersamaiku di malam sepulang dari acara di rumah megahnya. Fix...tidak salah lagi. Hadeuuh...tuan muda labil. Ternyata dia selalu membersamaiku walau keadaannya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Dan dari semua itu, lagi-lagi selalu berhasil membuatku jatuh hati kepadanya.


"Terima kasih ya sudah menjaga ku..." ucapku sambil mengeratkan lingkar lenganku pada bahunya. "Hei, ada apa?" tanyanya sambil menopang ku melangkah menuju mobil sport silver miliknya. "Bagiku kakak bukanlah cinta pertamaku, tapi bagiku kakak adalah cinta sejati ku" ucapku sedikit tertunduk. "Oya...Wah, ini pernyataan cinta yang harus dirayakan" ucapnya terkekeh. "Kakak...ih" ucapku manja.


Kak Keanu tersenyum menatapku. Ia menghela nafas panjang. "Dengar...bagiku Fara adalah segalanya. Fara itu hidupku. Tiada perempuan lain selain Fara. Di dunia ini cuma ada dua perempuan yang aku sayangi. Pertama mama dan yang kedua Fara. Fara adalah cinta pertamaku, cinta terakhirku, dan cinta sejatiku" ucap kak Keanu yang langsung ku sambut dengan rebahan kepala pada bahunya. "Terima kasih ya, Kak..." ucapku lagi.


"Dan Fara masih ingat kata-kata kakak yang lain saat di lembah saat itu?" tanya kak Keanu. "Em, Fara-ku tidak boleh menjadi pohon kaku yang mudah patah. Jadilah bambu yang mampu bertahan melengkung melawan terpaan angin" ucapku meniru ulang ucapan kak Keanu saat di lembah. Ia tersenyum sumringah.


"Kenapa Fara masih mengingatnya? Apa Fara jatuh cinta pada orang yang sudah mengatakannya?" ucapnya menilik wajahku. "Bagaimana Fara akan jatuh cinta padanya sedangkan hati Fara sudah dipenuhi dengan seseorang saat itu" ucapku tanpa menatapnya. "Kak Satria kita belum berangkat juga...?" ucapku mengalihkan pembicaraan saat Satria berdiri tak jauh dari mobil dimana aku bersandar kini. "Sebentar lagi, Nyonya..." ucapnya sambil tersenyum.


Pukul sebelas malam. Aku masih berdiri bersandar pada mobil dekat pintu. Hitung-hitung melatih kekuatan kaki ku. Hehe...


"Kenapa? Pusing?" tanya kak Keanu khawatir saat melihatku mengaduh lirih. "Bagaimana tidak, beberapa pukulan sempat mampir di tubuhku tanpa bisa ku hindari. Oya , Anita... Kemana dia?" ucapku. "Siapa dia?" tanya kak Keanu. "Dia perempuan yang sudah memberikan pukulan ditubuhku. Dia juga berkaitan dengan peristiwa ini, Kak. Dia perempuan yang memiliki dendam pribadi kepada Kak...Mirza dan juga kepada...ku" ucapku gamang. "Aku tahu...sayang. Semuanya..." ucap kak Keanu tersenyum menatapku. Aku pun kembali bergelayut manja pada lengannya.


Ini adalah kebodohan ku. Mendeskripsikan Anita kepada kak Keanu. Aku lupa jika kak Keanu pernah sebagai bodyguard kak Mirza, walau hanya untuk sebuah penyamaran. "Tunggu di sini..." ucap kak Keanu tiba-tiba saat melihat keributan di sudut halaman. Tangannya membukakan pintu mobil sebelum ia berlalu. Namun aku menolak untuk masuk dan masih berdiri bersandar.


Aku pun menajamkan mata dan telingaku atas keributan itu. Tak lepas mataku menatap sudut halaman dimana laki-laki itu membuat keributan. Dia meronta hebat di dalam cengkraman seorang polisi dan Kevin. Dalam rontaan dia meminta untuk dilepaskan karena menurutnya ia tidak bersalah. Dia hanya mengantarkan seorang nyonya besar ke gedung ini. Dan ia mengikuti nyonya itu hanya ingin meminta pembayaran yang belum di selesaikannya. Ow...Kurasa yang dimaksud adalah Anita. jika si sopir taksi online tidak dapat menemui si nyonya besar atau Anita lalu kemana Anita sekarang? Apakah ia berhasil melarikan diri? Lagi...? Atau kini masih bersembunyi di suatu tempat di gedung ini yang cukup sulit untuk ditemukan oleh aparat yang sejak tadi melakukan penyisiran.


"Kak Satria..." panggilku saat Satria berdiri tak jauh dari mobil dimana aku berada. Tanganku berisyarat agar ia membantuku menahan pintu mobil sport silver karena kaki ku sudah merasa lelah. Namun belum lagi Satria sampai membantu, seorang perempuan menghentikan langkahnya. "Berhenti, jangan bergerak. Tetap di tempatmu" ucap Anita. Sontak Satria langsung menghentikan langkah dan urung menghampiriku. Aku kecut. Dua pucuk senjata tergenggam di tangannya. Satu mengarah pada Satria, satu lagi mengarah padaku. Ingin apalagi sih nenenk sihir ini? batinku.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu beberapa senjata pun mengarah pada Anita. Senjata milik aparat kepolisian yang masih melakukan penjagaan karena penyisiran belum usai. Pun dengan semua mata Yanga ada, terutama kak Keanu yang begitu mengkhawatirkan. "Mirza...! aku akan membunuh perempuan yang kau cintai ini...! Haha...Aku tak peduli dengan nyawaku, yang terpenting aku puas membalasmu, Mirza...!" ucap Anita kacau.


"Dia bukan siapa-siapa ku, Anita. Kau sudah tahu jika aku sudah menceraikannya, bukan. Jadi aku tidak peduli lagi" ucap kak Mirza yang semakin membuatku kecut. "Benarkah? Kau dusta Mirza...! Aku tahu kau masih sangat mencintainya" ucap Anita. Kak Mirza terdiam. Hanya matanya saja yang bergantian menatapku dan Anita.


"Apa yang kau inginkan, Anita...?" ucap kak Mirza. "Hah...aku ingin nyawa mu!" ucap Anita penuh amarah. Dan perbincangan keduanya pun terus berlanjut.


Sementara itu, taatapan ku beralih pada kak Keanu yang ternyata juga sedang menatapku lekat. Ia berisyarat agar aku segera masuk mobil. Ku rasa itu hal mudah karena memang pintunya terbuka sejak tadi. Ia pun berisyarat kembali saat hitungan ke tiga. Isyarat itu pun ditangkap Satria yang langsung mengangguk perlahan. Pun juga dengan ku yang mengangguk tanda mengerti.


"Aku mencintaimu, Mirza..." ucap Anita berubah penuh perasaan. "Tapi kau tidak pernah melirikku sedikit pun. Apa aku ini begitu buruk rupa? Begitu hina...?" ucap Anita kacau berurai air mata. Saat itu kak Keanu berisyarat satu, dua, tiga... Aku langsung menjatuhkan tubuhku kedalam mobil. Dan pada saat itu Satria menepis pistol yang mengarah padanya dengan sebelah tangannya. Kemudian berhasil merebutnya.


Anita terkesiap. Kemudian Ia tertawa. Kini baik Satria maupun Anita sama-sama saling menodongkan pistol. Aku terdiam dalam mobil. Membetulkan posisi dudukku. "Cukup sudah, Anita. Jangan dilanjutkan lagi" ucap Satria datar. Matanya menatap tajam Anita. "Satria...Jongos Keanu. Bagaimana jika kita mati bersama saja?" ucap Anita. "Cih...aku tidak Sudi mati bersama dengan mu. Jika kau ingin mati, mati saja sendiri..." ucap Satria sedikit geram. Sorot matanya tajam menatap Anita. Aku yakin Satria tengah mencari celah agar bisa meloloskan diri.


"Anita....!" teriak kak Mirza. Sontak pandangan Anitapun tertuju pada kak Mirza. Hanya hitungan seperdetik saja, saat itulah Satria bergerak cepat. Tangannya menepis pistol di tangan Anita dan merebutnya. Sebuah tolakan pun berhasil membuat tubuh Anita tersungkur.


"Sayang...Kau tidak apa-apa?" ucap kak Keanu yang baru saja sampai. Matanya menatapku begitu khawatir. Aku pun mengangguk dan langsung memeluk kak Keanu. "Maaf ya, sudah melibatkan mu" ucap kak Keanu penuh sesal. "Tidak apa-apa, kak. Toh itu juga untuk kakak laki-laki ku" ucapku. Pun demikian aku tetap terisak. Kematian itu ternyata sangatlah dekat. Tak kenal waktu, tempat, usia bahkan status sekali pun.


"Kita pulang sekarang, Tuan?" ucap Satria yang langsung duduk di belakang kemudi. Nafasnya sedikit memburu. "Yakin kamu tidak apa-apa, Satria..." ucap kak Keanu yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum khas Satria. "Syukurlah..." ucap kak Keanu sambil menepuk bahunya. "Good job. Terima kasih ya sudah menyelamatkan istriku" ucap kak Keanu kemudian. "Iya, Tuan..." ucap Satria sambil mengangguk takzim dan sepintas melihat ke arahku. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Pukul dua belas lewat lima menit. Mobil kembali melaju menyusuri jalanan yang tampak sepi. Hanya raungan mesin mobil sport silver kak Keanu saja yang menghiasi udara malam itu. Ya...Robby, satu lagi pelajaran hidup aku peroleh malam ini. Terlebih saat melihat Anita dengan segala amarah yang tidak pada tempatnya.


"Bahwa dari perang yang dipicu oleh balas dendam, tidak ada yang akan bisa lahir, kecuali kesedihan"

__ADS_1


__ADS_2