Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 111. Pilihan Sulit


__ADS_3

Brak...!


Tiba-tiba saja pintu ruangan di buka paksa. Pintunya terbuka lebar yang sebelumnya menghantam dinding ruangan berkali-kali. Berdiri seorang laki-laki di ambang pintu. Wajahnya samar karena tertutup topi dan syal yang melilit pada lehernya. "Siapa, kau...?" tanyaku sambil berdiri.


"Kau lupa, sayang...?" ucapnya sambil melangkah dan membuka topi dan syal. Setengah teriak aku saat menatap jelas wajahnya. "Kau...?!" ucapku. Rasa terkejut ku benar-benar tak dapat ku sembunyikan hingga Keenan pun tersenyum saat melihat reaksiku tersebut.


"Apa yang kau inginkan, Keenan...?" ucapku sambil berusaha mendamaikan irama jantungku yang baru masih bertalu. "Hanya dirimu, Fara... Aku menginginkan mu" ucapnya yang tersenyum sumringah sambil duduk pada sofa dekat dengan ku. "Lancang....!" ucapku dengan suara meninggi dan mata yang sedikit membulat. Namun reaksi Keenan sungguh diluar dugaan. Ia terkekeh sambil membetulkan posisi duduknya. Tak kulihat sedikitpun reaksi di wajahnya atas ucapanku itu.


"Kau tahu, Fara...aku tahu seperti apa cinta mu pada kakak laki-laki ku itu. Dan begitu pun sebaliknya, seperti apa cinta kakak ku itu padamu. Tapi aku tetap mencintaimu dengan semua rasa cintamu pada kak Keanu. Aku yakin lambat lain kau pun akan mencintai ku" ucapnya santai. Memerah wajahku mendengar penuturannya. Tanganku terkepal erat menahan amarah yang mulai menyelimuti hati.


"Fara...dengarkan aku. Aku tak memintamu mengusir kak Keanu dari hatimu. Atau melupakannya. Aku hanya ingin kau menerimaku sebagai orang yang mencintaimu dan akan membahagiakan mu" ucapnya sambil berusaha memegang tanganku. Aku pun menepis kasar tangannya sebagai penolakan ku. Dan kali ini baru ku lihat reaksi terkejut di wajahnya. Aku tersenyum dalam hati saat melihat reaksi tersebut.


"Aku menghargaimu Karena kau adik suamiku. Dan benar aku sangat mencintai kak Keanu. Karena itu, aku tidak mungkin berpaling pada mu atau kepada yang lain..." ucapku dengan suara bergetar menahan pilu. Fikiranku saat ini tengah menyasar pada seulas wajah tampan yang tak lain adalah kak Keanu, suami ku sendiri.

__ADS_1


"Sudah ku katakan, aku tidak memintamu mencintaiku saat ini. Cukup menerimaku saja. Menerima segala cinta dan bahagia yang kuberikan..." ucapnya menatapku lekat. "Mengapa kau menginginkan hal seperti itu. Untuk apa kau mencintaiku, jika aku tidak dapat membalasnya. Untuk apa kau bersusah payah berupaya membahagiakanku, jika aku menolaknya. Apa yang kau inginkan sebenarnya?" ucapku.


"Aku hanya ingin membahagiakanmu karena aku mencintaimu. Aku ingin cinta mu, tapi tidak hari ini. Di suatu hari nanti..." ucapnya sendu. Aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan dan menjadi alasan mengapa ia begitu ngotot ingin bersama ku. Tapi apakah itu, aku sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti.


"Fara tidak inginkah kau memeluk Rafan setiap saat?" ucap Keenan.


Deg.


Rafan...? Ah, bocah gembul itu. Mendengar namanya di sebut, sesaat aku terdiam. Fikiranku kembali mengembara, menyasar pada tepian pantai bagaimana tawanya mengisi ingatanku. Rafan adalah satu-satunya alasan ku hidup saat ini. Walau kini aku tak bersamanya, namun aku yakin suatu hari Allah akan memberikan kesempatan itu. Aku yakin itu. "Rafan...bersama mu adalah satu keinginan terbesar ku. Semoga Allah segera memberikan kesempatan itu" ucapku dalam hati.


Melihat kegamanganku itu, Keenan tampak tersenyum. Mungkin hatinya mulai bersorak atas apa yang kurasa saat ini.


"Baiklah... Silahkan difikirkan" ucap Keenan sambil mengusap pucuk kepalaku sambil berdiri dari duduknya. Dan hal itu membuat wajahku memerah. Ada amarah yang menggelitik jiwa ku. "Kau..." ucapku sambil mengepalkan tangan. Namun Keenan tak bergeming. Ia justru tersenyum dan seakan membiarkan wajahnya menjadi sasaran amuk ku seandainya itu terjadi.

__ADS_1


"Lakukanlah..." ucapnya sambil meraih kepalan tanganku dan meletakkannya pada sisi kanan wajahnya. "Dasar bocah tengil" gerutuku tetap memasang wajah kesal ku.


"Semakin kesal kau semakin cantik Fara. Semakin di amuk amarah, semakin aku mencintaimu..." ucapnya sambil melepaskan tangannya. Pun demikian, di luar dugaan bersamaan dengan ia melepaskan tangannya ia pun mengamit daguku. Dan refleks tanganku melayang pada wajahnya.


"Jaga sikap mu...!" ucap Azam sesaat setelah menolak tubuh Keenan hingga bersandar pada dinding. Wajahnya menampakkan kekesalan atas perlakuan Keenan tersebut. Sebelah tangannya menarik erat pakaian yang dikenakan Keenan. Sementara sebelahnya lagi mengepal hebat bersiap menyarangkan pukulan. "Cukup, Azam...!" ucapku. Wal hasil Azam pun melepaskan tangannya.


"Ow...Nyonya dan jongos sama saja. Suka dengan kekerasan!" ucap Keenan sambil merapikan pakaian dan melangkah berlalu. "Ku nanti jawaban mu, Fara..." ucapnya sesaat sebelum berlalu. Dan hingga tubuhnya menghilang di balik dinding, kekehnya masihlah terus terdengar.


"Fiuh..." dengusku. Ada kelegaan yang menyelimuti hati saat Keenan berlalu. Aku pun langsung menghempaskan tubuh pada sofa berwarna maroon. Aku terdiam. Hanya tatapan ku saja yang menerobos bingkai jendela. Seiring dengan itu, fikiranku pun kembali mengembara. Aku mencoba menautkan kembali keping demi keping kenangan hingga membentuk sebuah cerita yang tak pernah dapat ku lupakan. Kepingan kenangan yang selalu menyasar pada sosok laki-laki yang sudah menjadi sandaran hidup ku beberapa waktu lalu. Juga pada sosok bocah gembul, Rafan.


"Non Fara baik-baik saja...?" tanya Azam dengan tatapan penuh selidik. Aku yakin ia pun mengkhawatirkanku saat ini. "Mau bagaimana lagi, Zam. Hidup tetap harus dijalani hingga batasnya nanti" ucapku sambil mengusap wajah ku.


"Perlukah saya memberitahukan hal ini pada tuan Mirza?" ucap Azam setelah terdiam beberapa saat. Aku tersenyum tipis menatapnya. "Silahkan. Kau pun tahu kehidupan pribadiku sudah bukan menjadi hal yang perlu dirahasiakan. Aku saja sudah tidak tahu lagi mana yang menjadi privasi ku, mana yang bukan..." ucapku. Ada setitik kesal mendiami ujung hatiku. "Non Fara..." ucap Azam.

__ADS_1


"Tinggalkan aku, Zam. Aku ingin sendiri..." ucapku kemudian sambil menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. "Baik, Non..." ucap Azam sesaat sebelum berlalu. Langkahnya sempat sedikit ragu, namun kemudian kembali mantap sesaat aku menyebut namanya. "Azaaam..." ucap ku. Ia pun tersenyum dan menutup rapat pintu ruangan.


Sekali lagi aku menghela nafas panjang. "Ah, kak Keanu seandainya kita masih bersama tentulah persoalan saat ini tak akan pernah aku hadapi" ucapku berandai. Bulir bening pun kembali terjun bebas tak terbendung lagi. "Astaghfirullah...." ucapku berusaha mengakhiri tangisku. "Kuatlah, Fara. Jangan menjadi sesalan. Semua sudah suratan takdir" gumamku lirih. Dan lagi-lagi tanganku mengusap wajah ku sambil menghela nafas panjang. Ampuni aku ya, Robby...


__ADS_2