Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 99. My Baby Boy...


__ADS_3

Aku mengaduh saat merasakan sakit pada perutku. Menirut medis disebut kontraksi. Persiapan proses kelahiran. Merasa waktu kian dekat, aku panik. Namun bukan hanya aku yang demikian. Seisi rumah pun merasakannya. Mbok Jum, Bu An dan terutama Aiman. Bak seorang suami ia begitu panik. Langkahnya menjadi tidak sabar dan terkesan tak hati-hati. Beberapa kali tubuhnya harus bertabrakan dengan Bu An atau mbok Jum saat hendak membantuku. "Rumah sakit, Kak..." ucapku setengah teriak dengan nafas tersengal. Tanganku tak sengaja meraih lengan Aiman dan itu menjadi sasaran amuk ku. Pukulan dan cubitan aku sarangkan pada lengannya itu. Entah mengapa aku berlaku demikian. Yang pasti aku merasa sakit ku sedikit berkurang. "Astaghfirullah...ya" ucap Aiman sambil membopong tubuhku. "Aku jalan saja, Kak" ucap ku. "Lebih cepat begini" ucap Aiman yang terus memacu langkah. "Ya, Allah..." teriakku menahan sakit. Lagi-lagi aku menyarangkan pukulan. Kali ini ke dadanya. Anehnya tak sedikitpun Aiman mengaduh atau pun tersulut amarah atas perlakuan tersebut.


Tak lama kemudian, mobil pun sudah melaju. Lajunya cukuplah cepat. Selama perjalanan aku mengaduh lirih sambil mengusap perutku. Sesekali aku juga mengusap wajahku sekedar merilekskan diri yang gusar. Ku sebut nama-Nya disetiap keluhan dalam doaku. Hingga dalam ruang bersalin segala keluhanku masih terucap walau dalam hati. Selain doa yang menguntai panjang, seulas wajah pun terlukis jelas dalam hati dan fikiranku. "Kak Keanu...." begitu sebutku. Ada sebuah kelaraan yang mendalam saat nama dan sosoknya hadir. Air mata pun tak sadar menitik begitu saja. "Anak kita akan segera lahir, Kak" bisikku nyaris tak terdengar.


"Fara..." bisik Aiman. "Semangat ya..." ucap Aiman lagi yang langsung ku tanggapi dengan senyum. Senyum yang menghiasi wajah namun, aku sendiri tidak mengetahui bagaimana yang terlihat pada situasi saat ini. "Tuan, boleh di sini...Mendampingi nyonya" ucap seorang perawat. "Em, saya di luar saja" ucap Aiman gagu dan langsung melangkah keluar. "Mendampingi? Andai kak Keanu ada, pastilah ia akan mendampingiku saat ini..." batinku. Dan lagi-lagi air mataku mengalir.


"Nyonya...yang semangat ya. Bukaannya sudah lengkap" ucap seorang dokter. Ah, entah bagaimana aku menggambarkan sakit yang ku rasa saat ini. Tapi ini perjuangan seorang ibu, aku harus semangat. Demi anak yang sudah dinanti kehadirannya.


"Nafas, nafas, Push..." ucap dokter mengarahkan. "Akh..." desahku mengikuti arahan dokter. Luar biasa rasa ku saat ini. Lagi-lagi sukar dilukiskan dengan kata-kata. "Ya, Allah...!" teriakku. Bersamaan dengan itu terdengar tangis yang begitu nyaring. Tangis seorang bayi laki-laki yang sudah sekian lama dinantikan. Terjun bebas air mataku atas kelahiran bayi laki-laki ku. Bayi laki-laki yang nanti akan diberi nama Rafan Ghifari Abdullah. Walau aku tidak dapat melihat raut wajahnya, namun aku yakin ia setampan ayahnya.

__ADS_1


"Fara...selamat ya. Anakmu tampan sekali" ucap Aiman. Aku tersenyum mendengarnya. "Em, terima kasih Kak sudah meng-adzani-nya" ucapku sambil berusaha menggapainya sekedar bentuk takzimku. Aiman pun meraih uluran tanganku.


Deg.


Lagi-lagi desiran aneh itu kurasa saat kami saling berjabat tangan. Tangan yang begitu hangat. Tangan yang seakan mampu membasuh kegelisahan ku selama ini. Tangan yang sudah lama tak pernah tergenggam karena ego dan kekecewaan. Bahkan pada deru nafasnya pun aku sudah menandainya. Tapi semua itu menjadi samar saat terpaut dengan informasi yang ku dapat tentang Aiman beberapa waktu lalu. Berbanding terbalik dengan sosok yang ada dalam fikiran ku selama ini. Entahlah...Aku menjadi gamang menautkan segala keping kenangan dengan masa kini.


"Tuan, Nyonya...ini putranya. Tampan sekali seperti ayahnya" ucap seorang perawat sambil menyodorkan bayi laki-laki ku. Aku tersenyum dan mendekap anak laki-laki ku itu. Dan tanganku mulai meraba wajahnya. Merasai setiap lekuk yang ada. Fix...ia begitu tampan. Hidung bangirnya sangatlah mengikuti ayahnya. Aku tersenyum bahagia dan tak ku rasa lagi, air mataku lagi-lagi terjun bebas. Mengurai begitu saja.


"Cup sayang..."ucapku sambil membuainya dalam dekapanku. "Mungkin anak laki-laki mu tak ingin kau menangis. Karena itu tertawalah hingga ia pun turut larut dalam bahagiamu itu dan tak perlu menangis lagi sepertimu saat ini..." ucap Aiman yang kemudian mengambil anak laki-laki ku dari buaian ku. Kemudian ku dengar Aiman berdendang. Suaranya begitu syahdu. Dan hal itu berhasil membuat anak laki-laki ku tenang kembali dalam buaian irama nan syahdu itu.

__ADS_1


"Selamat, Non..." ucap mbok Jum yang tergopoh mendekati tepi tempat tidur dimana aku berada. "Putranya tampan sekali, Non. Mbok juga gemes melihat pipi nya tadi..." ucap mbok Jum. Dari caranya berucap aku yakin ia begitu sumringah. "Mirip siapa, mbok...?" selorohku sambil tertawa kecil dan menyusut tangisku. "Matanya mirip sekali non Fara. Hidungnya....mungkin mirip ayahnya, karena beda dengan non Fara" ucap mbok Jum. "Selain itu ada tanda lahir di bawah telinga kanannya, Non" ucap mbok Jum lagi. "Tanda lahir? Seperti apa?" tanya ku penasaran sambil membetulkan posisi dudukku. "Seperti tahi lalat tapi tidak menonjol. Non, mungkin tidak dapat merasakannya. Warnanya kecoklatan hampir gelap" ucap mbok Jum mendeskripsikan tanda lahir anak laki-laki ku itu.


"Mengapa tidak jadi penyelidik kepolisian saja, Mbok..." ucap Aiman terkekeh. "Den Aiman ada-ada saja. "Sebab rinci sekali, mbok menjelaskannya" ucap Aiman masih dalam kekehnya.


Tiktok jam mulai menyuarakan waktu. Dan saat ini pukul empat sore. Aku duduk sambil bersenandung kecil. Tanganku tak henti mengusap anak laki-laki ku yang tengah pulas teridur sesaat setelah aku membuatnya kenyang.


"Siapa...?" tanyaku sesaat mendengar langkah kaki menghampiriku. "Siapa...?" tanyaku lagi. Namun tiada jawaban. Aku kecut. Pada situasiku saat ini, tentulah sangat sulit memperhatikan keadaaan sekitar.


"Kau tidak pantas merawat bayi ini..." ucap seorang laki-laki. Suaranya begitu berat. Entah siapa. Aku tak mampu mengenalinya. "Siapa kau...?" ucap ku lagi sambil mendekap erat anak laki-laki ku itu dalam buaian ku.

__ADS_1


"Berikan bayi itu...!" ucap laki-laki itu sedikit teriak. Aku semakin kecut. Terlebih saat ia mulai memaksa. Tangannya mulai berusaha meraih anak laki-laki ku. "Jangan...! Ini anak ku...! Tolong...!" teriakku.


__ADS_2