
Langit belum lagi cerah Awan kelabu masih menggantung dan tampak berarak seluas mata memandang. mentari pun sepertinya masih bertahan pada peraduannya dan enggan menampakan wujudnya. bahkan bias kemerahan nya tak sedikit pun menghiasi kaki langit. pun demikian burung-burung tetap berseliweran di antara dahan pohon yang sesekali tampak bergoyang ditiup dan menjatuhkan bulir bening sisa hujan semalam. cicit gitar suaranya dan kepakan sayap sayapnya pun Saya akan menyampaikan sapaan semangat selamat pagi.
Pukul delapan lewat dua puluh menit. Mobil sport silver kak Mirza melaju menembus kepadatan lalu lintas pagi itu. Suara deru mesin pun begitu gahar mengisi udara pagi di sela deru mesin kendaraan lain. Ku tatap wajah tampan kak Mirza yang tampak sumringah. Sesekali matanya melirik kepadaku sambil mengumbar senyum. Senyum yang selalu membuat teduh jiwadan melambungkan alam Fikirku serta membawanya ke alam mimpi. Senyum yang juga berhasil membuat ku yakin akan kesungguhannya atas diriku.Pukul lewat empat puluh menit. Mobil sport silver kak Mirza menyusuri jalanan kamus yang tampak ramai oleh lalu lalang mahasiswa ataupun mahasiswi dengan aktifitas dan kepentingan berbeda tentunya. Mataku menatap takjub bangunan gedung tinggi yang ada di kompleks kampus ternama di kotaku. Sungguh aku pernah mengidam-idamkannya untuk dapat mengenyam pendidikan di pada kampus tersebut. Dan sayangnya, untuk saat ini keinginan tersebut masih harus disumpan rapat di relung hatiku yang terdalam.Pun demikian, harapanku itu tidaklah menjadi pupus justru semakin menguat. Apalagi setelah mejejakkan kaki pada kampus megah ini. Semoga di suatu masa nanti aku dapat mewujudkan keinginanku tersebut.
Tak lama kemudian, mobilpun terparkir apik pada sebuah pelataran gedung. Dan suasana berubah menjadi riuh saat kedatangan kak Mirza. Wajah tampan dan kedudukannya sebagai pengusaha muda telah menjadi pemikat yang ampuh terutama bagi para mahasiswi. Berbagai sapaan pun menghampiri kak Mirza. Dan semuanya ditanggapi kak Mirza dengan senyum dan segala keramahannya. Terlebih pada beberapa mahasiswi yang sejak tadi begitu gencar berusaha menarik perhatian kak Mirza. Dan barisan mahasiswi itu pun menjadi gagu saat melihat aku yang begitu kalem melenggang mengiringi langkah kak Mirza meyusuri anak tangga menuju ruang ujiannya. Ada banyak pasang mata yang memperhatikanku. Dari ujung kaki hingga ujung kepala.Sedikit rikuh ditatap demikian. Namun ini adalah risikoyang harus kudapati saat berdampingan dengan sosok idola seperti kak Mirza. Sosok tampan dan muda yang tajir melintir sejak masih di bangku kuliah.
Tertegun aku melihat ruang ujian yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Berdiri aku di ambang pintu sebelum mengekori kak Mirza. Mataku manatapi seisi ruangan yang berdinding putih dan bergorden abu itu. Selain itu deretan kursi pun sudah tertata apik yang ku taksir tidak melebihi lima puluh buah. Di tengah ruangan juga terdapat tiga buah meja tertutup kain berwarna putih berpita biru. Meja yang ku perkirakan akan ditempati team penguji yang pastinya terdiri dari para dosen sesuai keilmuan yang diujikan. Kemudian ku letakkan bunga pada ketiga meja tersebut. Bunga yang di dominasi warna putih dan biru itu tampak begitu serasi dengan ornamen yang ada. Bunga yang sudah ku siapkan sejak di rumah dengan penuh kasih. Harapanku semoga menambah energi positif saat menatapnya. Tak lupa ku letakkan kudapan dan souvernir sesuai arahan kak Mirza. Selain pada meja penguji juga pada deretan kursi mahasiswa yang mendukung kak Mirza.
Sementara itu kak Mirza tengah disibukkan dengan berbagai persiapan baik bahan atau materi ujian maupun perangkat pendukungnya, seperti laptop dan LCD proyektor. Ia begitu piawai menyiapkan segala sesuatunya. Ku tilik ada semangat di sana. Semangat yang. begitu membara. Sungguh aku bahagia saat mendapatinya demikian.
Pukul sembilan lewat lima puluh menit. Deretan kursi sudah dipenuhi mahasiswa yang ingin menyaksikan dan atau memberikan dukungan kepada kak Mirza Mereka tampak antusias saat menghadiri ujian kak Mirza. Entah mengapa demikian. Kemudian aku pun bersegera duduk. Aku memilik duduk pada kursi di deret kedua, agak sedikit jauh dengan kak Mirza. Namun demikian kupastikan kami masih bisa saling lempar pandangan ataupun sekedar saling mengulas senyuman. Dsn benar saja belum lagi ujian dimulai mata kami sudah saling menatap. Mata kak Mirza menatapku sambil melempar senyuman khasnya. Tak lupa dua lubang yang begitu dalam pada kedua pipinya. Dan ku balas perlakuannya tersebut dengan senyuman dan sebuah anggukan yang takzim. Ada desiran aneh yang selalu menelusup saat mata nya menatap ku lekat ataupun saat taatapan kami bertemu. Perasaan yang ahnya aku atau kak Mirza saja yang dapat mengert dan memaknainya.
kemudian suasana kembali Rio saat dosen penguji menempati tempat yang sudah disiapkan. berdasar kabar bisik-bisik yang kudengar bahwa tim penguji kali ini benar-benar istimewa karena mahasiswa yang diuji pun begitu istimewa. mungkin hal tersebut berkaitan dengan kedudukan kak Mirza saat ini sebagai pengusaha muda yang bisa dibilang sukses. Dan berdasar bisik-bisik yang ku simak lagi, bahwa satu diantara team penguji adalah rektor dari kampus ternama ini. "Apa...?!" gumamku. Aku pun kembali tertegun beberapa saat mendengar informasi tersebut. "Kak Mirza..." gumamku lirih. Kekagumanku semakin bertambah. Tak terbayangkan jika aku yang berada pada posisi kak Mirza saat ini. Mungkin saja aku sudah berlari menjauh sambil berurai air mata. Hehehe....
__ADS_1
Pukul sembilan lewat lima belas menit. aku tertegun melihat Kak Mirza yang begitu lugas dalam pemaparannya. Ia pun begitu piawai menanggapi segala bentuk pertanyaan dan atau sanggahan baik dari dosen penguji maupun dari mahasiswa. gestur tubuhnya pun begitu luwes dan sopan. Dan akhirnya standing applause pun ia dapatkan. Suaranya begitu riuh mengisi seluruh ruangan. Tersenyum kak Mirza sambil mengangguk takzim saat mendapatkan penghormatan tersebut.
Hingga ujian usai, pujian pun terus mengalir. Pujian baik dari dosen maupun dari mahasiswa yang hadir. Jabat tangan dan peluk bangga pun tak terelakkan. Rupanya semua pun merasa takjub atas kepiawaian kak Mirza sama seperti halnya aku. Sebuah isyarat kak Mirza berikan kepadaku. Isyarat agar aku segera menghampiri nya. Sedikit ragu aku pun akhirnya segera meluluskan maksudnya tersebut. "Dia Fara. Dia penyemangat saya setelah sekian lama" ucap kak Mirza sesaat setelah aku berada dekat dengannya. Aku pun mengumbar senyum khas ku saat kak Mirza menyebut namaku. Dalam hati aku begitu tersanjung dan menyimpan bahagia di ujung hati. "Fara adalah istri saya..." ucap kak Mirza lagi. Pernyataan tersebut ternyata membuat rektor dan dosen penguji begitu terkejut. Pun dengan beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang berhasil mencuri dengar. Bahkan juga membuat langkah seorang perempuan cantik yang tengah menuju tempat dimana kami berada pun terhenti. Lama ia menatap ku. Seakan tak percaya. Ia tak bergeming sedikit pun. Hanya ujung kerudungnya saja yang melayang tertiup angin dari pintu yang terbuka. Dari paras cantikku, aku sepertinya mengenalnya. Ku tilik begitu hati-hati setiap gurat di wajah cantiknya itu. Fikiranku kembali mengembara pada masa-masa dulu saat ada beberapa mahasiswa yang mondok di rumahku. Dan benar saja, tajamnya fikiranku berhasil memastikan siapa perempuan cantik tersebut. "Kak Amara..." ucapku setengah teriak sambil menatapnya lekat. Lamunannya menguap dan mengembalikan kesadarannya. Ia kembali menatapku, namun kali ini disertai sebuah senyuman. Langkah kami begitu cepat saling menyongsong dan merentangkan tangan untuk selanjutnya kami berpelukan. "Fara...Apa kabar?" ucapnya sambil mengguncang bahuku. "Baik, Kak..." ucapku. "Aku mendengar kabar tentangmu beberapa waktu lalu. Aku turut bersedih...' ucapnya sambil mengeratkan pelukannya. Ku tatap wajahnya yang masih menyunggingkan senyuman. Pun demikian, aku tahu jika tatapannya kini tak terlepas dari sosok lelaki di belakang ku yang masih berbincang. Lelaki yang sudah menjadi suamiku kini, kak Mirza.
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Aku melangkah beriringan dengan kak Amara. Mataku masih saja menatap wajah cantik kak Amara yang dengan mata indahnya tiada henti menatap kak Mirza. Tatapan yang membuatku penasaran dan berhasil melambungkan fikiranku. Ada sesuatu hal yang menurutku tak lazim di ujung tatapannya. Apa itu...? Aku tidak tahu. "Kak..." panggilku sesaat ketika ketiga dosen penguji meninggalkannya. Matanya begitu sumringah menatapku. Namun saat mata itu berpaut dengan kak Amara, sekejap berubah. Entah apa yang terjadi. Bergantian aku menatap keduanya yang tampak gagu. Terlebih kak Mirza. Dia begitu rikuh. Mungkin dia sama sekali tidak menduga pertemuannya dengan kak Amara saat itu. Matanya kemudian menatapku dan merengkuh tubuhku dalam dekapannya. "Maafkan aku..." ucapnya. Aku makin penasaran. Hatiku dipenuhi tanda tanya. "Ikut aku..." ucapnya sambil menggandeng tanganku. sementara matanya berisyarat agar kak Amara juga menyertai kami.
Pukul satu lewat lima belas menit. Hei...ada apakah ini. Hatiku sedikit kalut, walau masih ku simpan di ujung hatiku. Pun demikian, kekalutan itu begitu mempengaruhi perasaan ku saat ini, sehingganya wajahku murung. Tiada senyum menghiasinya. Sementara mataku tak henti-hentinya menatap wajah keduanya bergantian.
Aku duduk di kursi belakang. Sementara kak Amara duduk dekat kemudi bersama kak Mirza. Ternyata aku kalah cepat. Kak Amara langsung memilih duduk seperti dimana ia berada kini. Anehnya kak Mirza tidak berkomentar apapun atas polah kak Amara tersebut. Bahkan saat kak Amara bergelayut pada lengannya. Hanya matanya saja menatap wajahku yang saat itu langsung ku respon dengan memalingkan wajahku. Pun demikian tiada kata yang terucap. Aku masih menunggu penjelasan kak Mirza.
Terhenyak mama dari duduknya saat melihat kak Amara yang bergelayut pada lengan kak Mirza. "Apa ini, Mirza...?" tanya mama sambil membualatkan sedikit matanya. Pun demikian dengan bang David yang langsung membetulkan posisi duduknya ketika melihat kedatangan kami bertiga. "Ma, Bang...maafkan Mirza. Terutama kepada Fara
Ini Amara. Dia..." ucap kak Mirza terhenti. Ia menarik ku agar lebih mensejajarinya. Kemudian ia merengkuh tubuhku dan mendekapnya dengan sebelah tangannya. "Cintaku hanya untuk Fara. Jangan pernah ragukan itu. Sampai kapan pun, tak akan pernah berubah" begitu kak Mirza berucap kembali. "Lalu...?" ucap bang David. Wajahnya memerah menahan amarah. "Amara adalah istri ku" ucap kak Mirza.
__ADS_1
Deg.
Deg.
Deg.
Aku kalut. Fikiranku kembali diterbangkan hingga kosong ragaku. Aku diam seribu bahasa. Ada banyak kata bergejolak dalam hatiku, namun tidak satu pun terucap melewati bibirku. Tanpa Isak bulir bening yang sejak tadi menggantung di mataku, kini mengalir begitu saja. Duniaku serasa berputar dan hancur tanpa wujud.
Sebuah tamparan telak menghantam wajah kak Mirza. Bang David lah pelakunya. Mama pun tak kalah terkejutnya. Mama hilang kata, dan mengangkat tangan hendak melampiaskan amarahnya dengan menghantam kak Mirza, namun di dahului bang David. Tangan bang David begitu cepat menarik tubuhku yang lesu seakan tak berjiwa dari dekapan kak Mirza. "Kau...!" ucap bang David sambil menuding kak Mirza. Amarahnya begitu hebat. Sementara sebelah tangannya mendekapku dan membenamkan kepalaku pada dadanya seperti waktu lalu, beberapa tahun lalu. Dada yang selalu menjadi sandaran kepalaku.
"Tunggu, Bang. Dengarkan penjelasanku..." ucap kak Mirza sambil menatapku yang hanya diam dengan tatapan yang begitu kosong. Hanya air mata ku saja yang semakin terjun bebas tak terbendung. Sementara itu diujung kursi, mama tampak lesu. Matanya telah basah. "Mengapa jalan papa mu, kau ulangi Mirza..?!" ucap mama tiba-tiba dengan histeris. "Ma, dengrkan Mirza. Berikan kesempatan pada Mirza untuk menjelaskan..." ucap kak Mirza sambil mendekati mama dan segera bersimpuh. Dia memeluk keduan kaki mama dan merebahkan kepalanya pada pangkuan perempuan cantik setengah baya itu. "Sebaiknya segera kau jelaskan, Mirza. Sebelum bogem mentah ku ini menghantam mu" ucap bang David penuh amarah sambil terus memelukku yang hanya diam tak mampu berkata ataupun bertindak.
Pukul dua lewat dua puluh menit. Mataku semakin sembab karena tangisku yang tak berujung. Berusaha sekuat tenaga tegar dan tak meradang. Bukan perkara mudah hingga aku sampai pada diamku yang tak bermakna. Yang kutahu bahwa aku sedang kecewa dan tak mungkin bahagia. Dan kemudian sebentar saja mataku melihat kak Amara yang tampak terpaku. Rupanya ia pun tak menduga jika akan mendapat tanggapan tak seperti apa yang ia kira. Tak bergeming, ia berdiri. Matanya pun mulai basah dan terus menatap kak Mirza yang terus bersimpuh di hadapan mama dan memulai kisahnya. Kisah tentang dia dan Amara. Separuh jiwaku berontak menyimak semua penuturannya. Aku tak mampu mempercayainya, namun sebagian lagi memintaku untuk bertahan dan menjadi kuat menerima segala yang sudah terjadi. Perang batinku tak kunjung usai, sama seperti air mata yang masih terjun bebas. Guncang tubuhku menahan isakku dalam dekapan bang David.
__ADS_1
To Be Continued...