
Aku duduk terdiam di dekat jendela kamar. Mataku kembali menerobos bingkai jendela entah kemana. Lamunanku kian liar seirama hembusan angin pagi ini. Seminggu sudah berlalu sejak ujian akhir semester genap ku berakhir. Aku enggan ke sekolah walau hari ini ada kegiatan classmeeting. Sepertinya aku akan memilih mengistirahatkan kaki ku yang mulai berangsur membaik.
"Bang David..." ucapku lirih. Sudah tiga hari aku tak menjumpainya. Jangankan bertemu, berkirim kabar pun tidak. Kemana, dia. "Neng Fara..." panggil Bu Jiah yang segera ku hampiri. "Neng, ibu mau ngomong" ucapnya sambil menarik ku dan duduk di kursi. Mulai minggu depan ada mahasiswa KKN. Mereka perlu tempat tinggal. Tiga orang lagi. Bisa kah rumah neng Fara di sewakan kepada mereka?" ucapnya sambil memandangku. "Kalau rumah ini disewakan, Fara tinggal dimana" ucapku polos. "Walaah...Neng. Maksud ibu kamar nya saja. Fara kan punya kamar tiga, nah yang dua kamar yang disewakan" ucap Bu Jiah membuatku meng-o panjang. "Em, kalau begitu tidak apa-apa, Bu. Fara setuju" ucapku yang membuat Bu Jiah bersorak gembira. "Senin depan, Neng" ucap Bu Jiah lagi. Aku mengangguk dan tersenyum.
Pukul delapan. Di hari Senin yang berbeda. Hari dimana mahasiswa KKN datang. "Assalamu'alaikum....ucap Bu Jiah di depan pintu. "Wa'alaikumussalam..." jawabku sambil membuka pintu. "Neng Fara, ibu mengantarkan mahasiswa yang akan tinggal bersama mu" ucap Bu Jiah. "Kok ibu tidak bilang kalau ada laki lakinya?" bisik ku kepada Bu Jiah. "Tidak apa-apa. Dia baik kok..." bisik Bu Jiah. "Hei, kakak-kakak. Saya Fara..." ucapku membuka pembicaraan. "Hai...Fara. Saya Amara, Arum dan Mirza" ucap kak Amara sambil mengulurkan tangan. Aku pun menyambut uluran tangan ketiganya. "Em, saya antarkan ke kamar kakak-kakak" ajakku. "Yang paling depan ini untuk kak Mirza. Yang di tengah untuk kak Amara dan kak Arum. Em, yang di belakang kamar Fara,kak" ucapku sambil tersenyum. "Fara tinggal sendiri?" tanya kak Arum. "Iya,kak..." ucapku. "Oya, silahkan diminum tehnya, kak. Nanti keburu dingin. Beres-beres bajunya nanti saja. Nanti Fara bantuin dech.." ucapku sambil tersenyum. "Kalian saja, aku mau istirahat" ucap kak Mirza tanpa basa-basi. "Oya, silahkan kak" ucapku tersenyum.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Ada banyak tawa di rumah ini. Ternyata kak Arum dan kak Amara sosok gadis yang baik dan seru. Aku serasa memiliki saudara perempuan walau baru beberapa jam saja bertemu. Ku bantu keduanya merapikan barang-barang bawaannya sambil sesekali bercerita dan tertawa.
Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Ketiga mahasiswa tersebut di panggil ke rumah Bu RT untuk santap siang bersama. Saat inilah, aku merasa sendiri kembali. Aku menarik nafas dalam dan pergi ke dapur. Ku ambil sedikit nasi dan lauk yang tadi pagi ku masak. Ku santap menu makan siang ku itu sendiri, seperti biasa di tiga bulan terakhir ini sejak kepergian nenek. Setelah selesai segera ku rapikan sisa makanan dan mencuci peralatan makan yang tadi sudah ku gunakan.
"Astaghfirullah...." ucapku setengah teriak saat ku dapati kak Mirza tengah berdiri menyandar di ambang pintu. Tangannya tampak bersedekap dan matanya mengamati ku dalam. Walaupun ia tampan bahkan teramat tampan, namun tatapannya itu telah membuat aku cukup bergidik bak singa mengintai mangsa. "Ada yang bisa Fara bantu, Kak?" tanyaku ditengah rasa terkejut ku. " Tidak..." jawabnya dengan suara beratnya. Aku pun meng-o panjang dan berlalu untuk berwudhu. Setelah berwudhu aku pun dengan cepat langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Fiuh... jantungku berdegup kencang ketika mengingat bagaimana ia menatapku. Sejurus kemudian aku pun memakai mukena dan memanjangkan sajadah untuk menyegerakan ibadah sholat dzuhur. Saat ini doaku begitu panjang dan khusyuk hingga tak ku sadari jika sudah berulangkali pintu kamar ku diketuk.
__ADS_1
Pukul satu siang. Aku mendengar ketukan di pintu kamarku. Aku pun membukanya sesaat setelah merapikan sajadah dan mukena yang baru saja ku pakai. Ku lihat kak Arum berdiri sambil tersenyum menatapku. "Ya,Kak..." ucapku sambil membalas senyumnya. "Em, bedak kak Arum ketinggalan di rumah. Bisa temani beli tidak?" ucapnya. "Ooo...bisa,kak. Kebetulan Fara juga akan ke pasar. Sebentar ya kak, Fara siap-siap dulu" ucapku sebelum berlalu kembali ke kamar nenek yang kini menjadi kamarku.
Pukul dua siang. Aku sudah siap. Seperti biasa di setiap hari pada siang atau sore aku akan berbelanja keperluan bahan kue yang akan ku buat malam nanti. Kali ini aku ditemani kak Arum yang kebetulan juga ingin mencari beberapa perlengkapan pribadinya yang tidak terbawa. Ku lajukan scooter ku dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang selalu ramai. "Fara buat kue untuk di jual juga?" tanya kak Arum. "Ya, kak. Lumayan untuk menyambung hidup dan membiayai kebutuhan sekolah. "Hebat kamu, Fara" puji kak Arum. "Ah, biasa saja kak. Fara sama seperti banyak orang lain pada umumnya yang nasibnya tak seberuntung kak Arum. ucapku sambil tetap fokus pada jalan. "Tapi hanya sedikit yang survive" ucapnya lagi. Perbincangan pun berlanjut hingga pasar yang dimaksud.
Pukul dua lewat dua puluh menit. Ku iringi langkah kak Arum menyusuri pasar mencari keperluan pribadinya. Setelah lengkap barulah aku menuju toko bahan kue langganan aku dan nenek. "Cih Amih minta tepungnya..." ucapku memulai belanja. "Eh, Fara. Lo orang ada pesanan kue. Cicih lupa nyampein. seratus kotak untuk lusa. Jam tujuh diambil. Lo bisa on time kan" ucap Cih Amih. "iya, Cih. In sya Allah" ucapku dengan sumringah.
Pukul tiga tepat. "Assalamu'alaikum..." ucapku saat memasuki rumah. Ku lihat kak Amara duduk manyun menatap kedatangan kami. "Kok ga ngajak-ngajak sih?" ucapnya. "Tadi kau sibuk ngobrol. Jadi ku tinggal saja" ucap kak Arum tertawa kecil sambil membantuku membawa beberapa belanjaan ku. "Apa tuh? Banyak sekali belanjaannya...?" ucap kak Amara. "Ini bahan kue. Ternyata Fara menerima pesanan kue loh. Seru ya..." ucap kak Arum sambil meneguk segelas air yang ku ambilkan. "Bisa sambil belajar nieh kalau begitu. Kursus kilat ya..." ucap kak Amara. "Satu jam satu juta..." ucap kak Arum yang disambut lemparan bantal sofa. "Semprul..." ucap kak Amara.
"Iya koh Ahong" ucapku menyapa. "Fara pesanan kue seratus kotak, cupcake sama puding buah. Untuk lusa. Lo orang sanggup kan, Fara?" ucap koh Ahong di ujung telepon. "Iya koh bisa" jawabku. "Tapi Lo tetep isi toko ya. Terutama cupcakes. Banyak orang nyari Lo punya kue" ucapnya lagi. "Ya, koh..." ucapku menutup telepon. "Alhamdulillah...." ucapku setengah teriak. Kak Amara dan kak Arum pun turut senang.
Daftar pesanan kue
__ADS_1
Rabu Toko Koh Ahong
- Cupcakes 100 pcs.
- kue dalam kotak 100 kotak ( cupcakes, puding buah.
Rabu Toko Cih Amih
- puding buah 100 pcs.
- kue dalam kotak 100 kotak ( cupcakes, puding buah.
__ADS_1
"Jadi yang harus ku buat lusa adalah tiga ratus puding buah dan tiga ratus cupcakes" ucapku mengulang pesanan. "Berapa Fara? Tiga ratus?" tanya Sherlly yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu tengah."Bukan tiga ratus tapi enam ratus" ucap kak Arum. "Itu kue semua? Tenang ada Sherlly?" ucapnya dengan gaya khasnya. Kami tertawa melihat polah Sherlly yang sambil menjabat tangan kak Arum dan kak Amara. "Kami juga siap membantu. Jadi sudah tiga yang siap membantu" ucap kak Arum. "Tambah satu lagi" ucap kak Mirza yang tiba-tiba berdiri di belakangku. "Uuu...Memang bisa?" ucap kak Arum dan kak Amara hampir bersamaan. "Ketimbang ngaduk-ngaduk mah, apa sih susahnya?" ucap kak Mirza lagi sambil tersenyum tipis. Hilang sudah kesan garangnya dengan senyum tipis yang mengembang itu. Kini berganti dengan meningkatnya persentase ketampanannya. Ulalaa...