Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 66. Reuni Keluarga Mantan


__ADS_3

Aku melangkah menaiki anak tangga satu-satu. Ada nyeri pada beberapa bagian di tubuh ketika aku melangkah. Aku tahu ini adalah akibat pergulatan ku semalam dengan dua laki-laki bertubuh kekar di kedai Revans. Ah, tinggal beberapa anak tangga lagi. Dan rasanya kaki ini tak sanggup lagi melangkah. Akhirnya tanganku berpegangan pada dinding sisi kiri tangga. Aku mengeluh lirih. Ku atur nafasku satu-satu. Ayo...kamu bisa, Fara. Aku pun kembali melangkah menaiki anak tangga yang beberapa lagi itu. Sesampainya di anak tangga terakhir aku kembali berhenti. Mataku mengitari seisi ruangan cafe sejauh mata memandang. "Dara..." panggilku akhirnya saat tak ku temui siapa pun. Memanglah belum ada pengunjung di cafe karena hari masih pagi, namun mestinya pegawai sudah hadir karena cafe akan buka sekitar dua jam ke depan. Em, ya...mungkin sedang mempersiapkan acara di atas. Kemudian aku memutuskan menuju ruang office. Letaknya tak jauh dari tempatku berdiri. Mungkin enam atau sepuluh langkah ke kiri.


Sedikit menahan sakit akhirnya aku mencapai office. Setelahnya aku duduk pada sebuah kursi. Aku bersandar. Mataku terpejam. Nyeri tubuh ini masih terasa, bahkan kian menjadi-jadi. Semalam memang pergulatan pertamaku. Jurus-jurus ku pun kadang belum kokoh. Karena itu pertahanan ku sering jebol. Wal hasil beberapa pukulan tak ayal lagi mampir ke tubuhku. Beruntung kak Keanu datang membantu. Tak terbayangkan jika tiada yang datang membantu, mungkin aku akan menjadi bulan-bulanan kedua laki-laki bertubuh kekar itu. Alih-alih membantu Revans, aku yang celaka. Duuh...Robby. Ah, Revans, laki-laki teman SMA ku itu ternyata juga yang sudah turut andil dalam penculikan ku. Dan yang membuat aku kesal lagi adalah bahwa ia melakukan semua itu demi sosok kakak perempuannya, yaitu Amara. Ingin rasanya aku menghadiahi Revans beberapa pukulan untuk semua yang sudah ia lakukan. Atau pun mencakar habis Amara yang sudah memotong kompas cintaku. Namun sungguh tak elok rasanya jika aku melakukan hal seperti itu. Karena itu aku memilih pamit mundur dan menjauh-pergi.


Pintu office di ketuk. Seulas wajah menyembul dari balik pintu. "Kak...apa lagi yang perlu ditambahkan" ucap Laila, penanggungjawab acara. "Selain yang kakak tambahkan tadi sepertinya tidak ada, Laila. Semoga lancar ya..." ucapku sambil tersenyum dan berisyarat mengepalkan tangan ke depan dada. Faith. "Baik, Kak..." ucapnya dengan tangan yang berisyarat sama sesaat sebelum berlalu. Aku tersenyum menatap kepergiannya. Ada rasa bangga yang menelusup di ujung hati saat melihat kepiawaian Laila. Gadis yang begitu minder di awal pertemuannya denganku. Karena ia hanya lulusan SMP. Namun seiring waktu ia semakin percaya diri terlebih saat ia berhasil menamatkan SMA melalui program paket C. Laila...Laila, banggalah menjadi diri mu saat ini. Semoga cita-cita mu yang ingin mempunyai toko tercapai. "Aku ingin seperti kakak..." ucapnya saat itu saat ku tanya apa keinginan terbesar nya saat masih di sekolah KARDUS. Sejak saat itu aku mendukung nya. Bukan karena keinginannya ingin seperti ku, namun terlebih pada semangat yang ia tunjukan di binar matanya saat itu.


Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Toko dan cafe sudah di buka. Satu atau dua pengunjung sudah mulai bermunculan. Aku pun mulai menilik segala persiapan acara di lantai atas. "Perfect...." pujiku pada Laila dan team. Mereka sumringah mendapat pujian ku itu. Ku bantu sebisa ku finishing segala hal yang ada. Walau hanya sekedar menggeser vas bunga. Hehe....


"Fara...." seorang laki-laki memanggilku. Begitu familier terdengar. Dan sekali lagi ia memanggilku. Aku pun memutar tubuh mengikuti asal sumber suara. Astaga...Aku kelu. Membulat mataku mendapati si empunya suara. "Apa kabar, Fara..." ucap bang David sambil mengusap kedua lengan ku. Tentu saja aku mengaduh. Bang David menatapku. Kepalanya terangkat berisyarat menanyakan keluhan ku tersebut. Belum lagi menjawab aku di kejutkan dengan seorang bocah laki-laki yang berlari ke arahku. Suaranya begitu lantang. "Tante Fara...." teriaknya membuat pegawaiku menatap kami. Aku menatap bang David meminta kejelasan. Kembali bibirnya membuat isyarat menyebut sebuah nama. "Keanu..." begitu yang terbaca. Sontak aku langsung menatap bocah laki-laki yang setengah berlari kepada ku. "Keanu...." ucapku sumringah. Aku mengaduh sesaat saat tubuh gembulnya menghambur ke dalam pelukan ku.


"Hari ini Keanu ulang tahun, Tante" celoteh bocah gembul itu. "Dan Keanu tidak ingin dirayakan dimanapun, selain di cafe Tante Fara" ucap mbak Mikaela yang baru saja tiba. Dengan senyumnya ia menatapku. Namun sepintas ada ke kikukan di ujung matanya. Entah mengapa demikian. Kemudian aku pun memeluknya. Ada rasa kangen yang menyeruak saat dalam pelukannya.

__ADS_1


Belum usai rasa terkejut ku, kembali aku harus terpaku saat melihat kak Mirza yang melangkah beriringan dengan Amara. Perempuan yang sudah memotong kompas cintaku. Hatiku berdesir saat melihat keduanya berjalan beriringan. Terbersit keinginan untuk merobek-robek bibirnya yang sudah kerap menghinaku dan mengataiku pencuri ataupun pelacur. Dan laki-laki di sebelahnya itu tak luput dari niat jahatku. Aku ingin menghajar dan menusuknya habis-habisan karena sikap plin-plan nya itu. Namun alangkah brutalnya aku jika demikian. Sungguh bukan menjadi tabiatku hingga harus melukai orang lain demi melampiaskan amar ku. Kuat...kuat, Fara. "Maaf..." bisik bang David. "It's Okay..." ucapku sambil tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari sepasang suami-istri yang sudah membuatku menangis itu.


"Apa kabar, Fara...?" ucap Amara sedikit bernada sinis. "Baik..." ucapku singakat. "Ow...jadi ini cafe yang viral itu. Biasa saja..." ucap Amara ketus. "Ow...jadi ini nyonya Mirza yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya" ucapku ketus. "Fara...!" ucap kak Mirza sedikit membentak ku. Aku terdiam. Ku lihat senyum di wajah Amara. Menunjukkan kemenangan atas pembelaan kak Mirza. Aku menatap kesal. "Kakak tanya saja dengan perempuan di sebelah mu itu. Kakak tidak tahu bagaimana jahatnya ia" ucapku lagi. "Cukup...!" ucap kak Mirza. Aku terdiam. Perih rasanya hati ini mendapati pembelaan kak Mirza atas Amara.


"Fara...!" teriak Suara di ujung tangga. Sadar namaku di sebut, aku langsung melayangkan tatapanku pada sumber suara. Aku pun tersenyum menatapnya. Terlebih saat melihat seorang bocah dalam buaiannya. Kami pun melepas rindu dengan berpelukan. Sebaris air mata meluncur begitu saja. Entah karena bahagia atau perih di luka ku. Aku gamang. "Nak..." panggil sebuah suara lagi. Begitu lembut dan khas. "Mama..." ucapku sambil menatap wajah cantiknya dan baru saja sampai di ujung tangga. Ku kecup punggung tangannya dengan takzim sama seperti dahulu. Saat aku masih menjadi kekasih kak Mirza ataupun pengantin kak Mirza yang hanya berumur sepuluh hari.


"Apa tidak ada kursi yang bisa di duduki, Fara..." coloteh bang David sambil tertawa. Aku pun turut menertawai situasi saat ini. Kemudian aku pun mempersilahkan keluarga mantan suami ku itu pada tempat yang telah disiapkan. "Apakah dimulai sekarang, Nyonya" tanya Laila kepada mbak Mikaela. "Belum. Kami masih menunggu satu orang lagi" ucap mbak Mikaela sambil tersenyum.


Aku berdiri tak jauh dari meja mereka. Mataku menatap satu-satu setiap yang hadir. Ada perih yang kurasa saat melihat canda dan tawa meliputi. Huh...ingin rasanya aku mengobrak-abrik segala hiasan dan pernak-pernik yang sudah terpasang. Namun urung saat melihat bocah gembul Keanu yang sedang bergembira. Bocah yang bersikeras harus diadakan di cafe milikku. Oh, cute sekali nieh bocah...


"Hah...Fara, Fara setelah dikejar-kejar, sekarang di buang begitu saja. Sudah tahu keburukan Fara ya, Kak Roy?" ucap Amara pedas. Duh, tuh mulut perempuan ingin rasanya ku sobek-sobek. Sabar...sabar, Fara. Hadapi dengan elegan. Tetap senyum, Fara.

__ADS_1


"Aku memang tidak mengejar Fara lagi. karena aku tahu ada yang lebih cocok dan lebih mencintai Fara ketimbang aku" ucap kak Roy sambil tersenyum. "Oya... Laki-laki mana yang berhasil ia bodohi. Dan perempuan mana yang ia sakiti" ucap Amara menatapku sinis. Panas hati ku dibakar amarah. Mulut pedas Amara benar-benar menghancurkan keeleganan ku. Tangan ku mengepal. "Aku..." ucap seseorang di ujung tangga. "Pandu..." ucap semua hampir bersamaan. Rasa terkejut yang paling nyata adalah kak Mirza. Sepintas ku lihat tangannya mengepal saat melihat kak Keanu yang melangkah gagah mendekati ku. "Hah...cuma pesuruh" ucap Amara ketus bernada sinis. "Nama saya Keanu. Sama seperti Mirza, saya juga seorang pengusaha. Pandu itu hanya nama alias belaka, sama seperti Darius alias Roy" ucap kak Keanu sambil tersenyum. Terdiam semuanya. Hanya mata mereka saja yang bertatapan gamang. Pun demikian dengan Amara. Wajah nya pasi saat mengetahui identitas sebenarnya kak Keanu. Tak ada lagi kata pedas yang meluncur. Kini bibirnya bak terkunci. Hanya mama saja yang tampak tersenyum sumringah. Matanya metap aku dan kak Keanu bergantian.


"Well...dimanakah yang berulang tahun?" tanya kak Keanu memecah suasana. Tampak Keanu kecil sumringah saat ditanya demikian. Ia langsung melonjak kegirangan. Apalagi ia juga sudah mengenal kak Keanu sudah lama walau dalam nama yang lain, yaitu Pandu. "Hei...jagoan. Nama kita sama. Hari lahir kita juga sama" ucap kak Keanu saat bocah kecil itu berada dalam dekapannya. "Selamat ya...Ini dari om dan Tante Fara" ucap kak Keanu sambil menyerahkan sebuah bingkisan.


Kemudian acara pun berlanjut atas inisiatif Laila. Walau rasa yang ada sudah jauh berbeda karena perdebatan yang baru saja dipaksa usai.


Perlahan namun pasti, aku beringsut menjauhi tempat acara. Kata pedas yang dapati hari ini semakin membuatku terluka. Panas mataku mulai terasa, karena itu aku mempercepat langkahku. Dan satu-satunya tempat yang ingin ku tuju adalah office. Setengah berlari aku menghambur dalam office. Tak ku hiraukan lagi nyeri pada tubuhku. Aku hanya ingin segera menjauh dari orang-orang naif itu. Orang-orang sok suci itu. Setelah itu segera ku tutup rapat pintu office. Bersandar sejenak pada pintu yang tertutup rapat sambil memejamkan mata.


Langkah ku terhuyung hingga dekat meja. Menopang kedua tangan ku pada tepian meja. Wajahku lesu. Ada segudang sesak yang mengisi hati. Kemudian aku menangis hebat. Menumpahkan segala keluh dan sesak. Berharap berkurang atau hilang sama sekali.


"Sayang..." ucap kak Keanu yang sudah berada di belakang ku dan langsung memeluk ku. Bersandar kepalaku pada dada bidangnya. Menumpahkan semua tangisku yang pilu. Luka ku kembali terbuka dengan kata dan sindiran yang Amara lontarkan. Dan yang lebih menyakitkan adalah tak ada pembelaan dari laki-laki yang pernah aku cintai itu.

__ADS_1


Lama aku dalam dekapan kak Keanu. Merasakan degup jantungnya yang kadang bertalu, kadang setenang lautan tak bergelombang. Dan masih dalam dekapannya aku menyusut air mata dan menyekanya dengan sebelah tanganku. Sementara itu kak Keanu merapikan kerudungku yang tampak sedikit berantakan. Kemudian berakhir dengan sebuah usapan pada pucuk kepalaku. Matanya menatapku sendu. "Istri ku yang cantik, berhentilah bersedih. Kuatkan hatimu. Kita jalani bersama semua liku hidup ini" uvapnya. Aku tersenyum. Dan sekalo lagi aku merebahkan kepala ku sesaat ketika sebuah suara menyadarkan kami. "Fara..." ucap laki-laki itu yang tak lain adalah kak Mirza. Ia menatapku sendu. "Maafkan aku, Fara. Aku terikat janji dan sumpah" ucapnya yang berdiri tegak. "Ku fikir janji dan sumpah mu itu tidak akan membutakan hati dan akalmu. Tapi nyatanya kau benar-benar hilang hati dan akal. kau tidak bisa membedakan mana benar mana salah" ucapku tegas. Mataku menyiratkan amarah.


"Seandainya kau bisa sedikit bersabar saat itu. Mngkin kita tidak akan seperti ini. Kau cintaku, Fara" ucap kak Mirza. Hal tersebut membuat kak Keanu mengepalkan tangannya. Pun demikian ia berusaha mengumbar senyum. Terutama saat menatapku. Aku tahu ada gemuruh di dada mu, kak Keanu. Akupun sama. "Lalu jika aku bisa sedikit bersabar, apa akan mengubah keadaan saat ini" ucapku ketus. "Aku rasa begitu. Aku pasti sudah mendapatkan solusi terbaik untuk kita" ucap kak Mirza. "Untuk mu atau untuk Fara?" ucap kak Keanu. "Kupastikan kita akan bersama, Fara. Selamanya" ucap kak Mirza dengan yakin. "Dan Amara..?" tanya kak Keanu. "Aku akan pergi dari nya secara perlahan-lahan" ucap kak Mirza. Hah...picik sekali kau Jika kau berencana demikian mengapa tidak kau lakukan lebih dua tahun yang lalu. "Tak ku duga selain plin-plan kau pun picik, Kak..." ucapku tegas. "Mas...kau ingin menceraika. ku?" ucap Amara yang tiba-tiba saja sudah. berdiri di ambang pintu. "Bukan seperti itu, Amara.." ucap kak Mirza panik. Sekali lagi ia menatapku. "Pergilah Kak. Dan lagi dalam hati ku sudah tidak menyimpan apa pun tentang dirimu" ucapku lagi sambil mengibaskan tanganku. Dan itu membuat kak Mirza berlalu. Matanya sendu menatapku.


__ADS_2