
Mataku menatap motor matic yang parkir di depan areal ruko yang kini sudah ku sulap menjadi tempat usahaku. Ruko dua lantai yang ku manfaatkan sebagai ladang usahaku. Lantai dasar ku jadikan toko pernak pernik, perlengkapan dan hiasan unik untuk rumah yang biasa orang-orang sebut sebagai homedecor. Sementara lantai dua ku jadikan mini cafe yang menawarkan aneka cake dan kudapan ringan lainnya juga minuman termasuk kopi dan aneka juice. Memang inilah yang sejak dahulu aku impikan. Dan dengan uang tabunganku, aku mampu mewujudkannya.
Sudah dari setahun enam bulan yang lalu kedua usahaku ini dilirik customer. Bukan tanpa usaha hingga bisa seperti saat ini. Semua berkat bantuan anak-anak jalanan yang dadakan menjadi jasa marketingku saat itu. Jadi di awal usahaku beberapa anak jalanan akan menjajakan sample cake dan minuman pada orang-orang yang berlalu lalang sambil membawa lembar kertas promo. Dan tanggapannya luar biasa. Setelah lebih dari dua bulan bertarung dengan bermacam promosi yang gila-gilaan, akhirnya usaha anak-anak jalanan berbuah manis. Usaha ku berjalan baik. Dan kini lima belas dari dua puluh karyawanku adalah anak jalanan. Mereka kurekrut menjadi karyawan dengan beberapa persyaratan, seperti harus rajin mandi, wangi, pakaian rapi, rambut yang panjang dirapikan jadi pendek atau diikat rapi, boleh diwarnai, yang terlanjur bertato pakai baju panjang. Bersyukurnya mereka menyanggupinya semua persyaratan ku. Bahkan saat aku menawarkan sekolah program Paket A, B, atau C mereka menyambut baik.
Aku tersenyum menatap hiruk pikuk pengunjung pada dua usahaku tersebut. "Kak Olivia...(nama alias ku kini)"Panggil seorang pegawai ku. "Saya izin. Hari ini ada ujian. Bolehkah?" tanyanya kemudian sambil menatapku penuh harap. "Baiklah..." ucapku sambil tersenyum pada salah satu pegawai ku yang mengambil sekolah Paket C. Ia pun sumringah. Yuph...beginilah kondisi pegawai ku. Hampir sebagian melanjutkan sekolah baik itu program paket B setaraf SMP ataupun program paket C setaraf SMA. Tapi bahagianya justru mereka senang melakukannya, selain memang biaya ujian aku yang menanggungnya.
Aku terenyuh ketika mendengar cerita mereka awal dahulu, saat aku bertemu mereka untuk pertama kalinya. Apalagi saat mereka tersangkut masalah hukum karena kasus kenakalan. Kasusnya tidak jauh-jauh dari perkelahian, pencurian hingga obat-obatan terlarang. Saat kutanya alasan melakukan pencurian dan atau perkelahian jawaban mereka membuatku tercengang. Ada yang alasan karena kebutuhan, ada juga yang beralasan solidaritas. Tapi tidak sedikit yang berkelit dengan semua aktifitas negatif tersebut. Seperti Danu dan Rio misalnya. Keduanya mengaku tidak pernah melakukan pencurian apalagi ngobat. "Lalu mengapa kalian lebih memilih kehidupan jalanan?" tanyaku. Lagi-lagi jawabannya simple namun membuatku terdiam. "Bersenang-senang. Di rumah kami kesepian. Kedua orangtua sibuk mengumbar masalah dan akhirnya berpisah. Bingung harus memilih siapa, akhirnya memilih jalan sendiri" jelas mereka. Lain halnya dengan Latif, remaja belum genap lima belas tahun itu mengaku hanya ikut-ikutan saja. "Ikut teman nongkring, eh asyik. Jadi keterusan dech.." ucapnya yang diakhiri dengan tawa. Ternyata selain sekedar bersenang-senang, dipengaruhi teman, juga bisa jadi karena situasi dan kondisi keluarga yang kurang kondusif mulai persoalan keharmonisan keluarga, komunikasi hingga pendidikan agama begitu mempengaruhi anak-anak itu. Namun apa pun alasan mereka kini semua pilihan ada pada mereka sendiri menyerah atau berjuang. Seperti yang sedang dilakukan beberapa anak jalanan yang bersamaku kini. Mereka sedang mencoba berjuang memperbaiki diri dan menghargai diri sehingga menjadi lebih berarti untuk diri sendiri.
Hari semakin senja. Mentari pun sudah sempurna kembali ke peraduannya dan hanya menyisakan sedikit saja warna kemerahan di kaki langit. Temaram lampu pun satu-satu sudah mulai menghiasi jalanan. Temaram cahayanya sedikit memberi warna pada jalanan di sekitarnya. Aku yang sedang berdiri pada sebuah jendela di sebuah ruangan yang di jadikan mushola, menatap sendu langit yang mulai merangkak gelap. Sudah hampir satu tahun enam bulan aku tidak berkabar dengan kak Mirza, suami tampanku itu. Aku kangen sekali. Apakah ia masih menantiku hingga saat ini? Entahlah.. Aku gamang. Ku bolak-balik debit card yang pernah diberikan kak Mirza. Kartu yang tidak pernah kugunakan sekali pun. "Sedang apakah kau, suami tampanku? Apakah kau pun merasa kangen akan diriku seperti halnya aku yang begitu kangen akan dirimu?" Aku membatin. Kangen ini begitu menyiksaku, tapi apa daya ku. Rasa kecewa lebih menguasai ku hingga keberanianku untuk menemuimu surut. Seandainya kita tak bertemu lagi, ku harap kau bahagia bersama Amara dan mungkin kini sudah bertambah bersama anakmu. Seingatku saat aku pergi Amara sedang mengandung anakmu.
__ADS_1
Pukul enam lewat tiga puluh menit. Masih pada ruangan yang sama. Ku masukkan selembar kertas berwarna biru ke dalam amplop yang juga berwarna biru. Surat untuk ayah dan mami. Surat yang ku kirim sebulan sekali. Untuk sementara, media inilah yang menjadi penyambung rasa kangenku untuk keduanya. Pun demikian, kerahasiaan identitas dan keberadaan ku tetap terjaga, karena aku menggunakan alamat salah satu karyawanku. Namaku pun ku ubah menjadi Olivia. Semoga semua baik-baik saja.
Aku kembali terdiam. Mataku pun menerawang seiring dengan fikiranku yang sedang mengembara. Ku akui malam ini aku semakin kangen. Entah mengapa, aku tidak tahu pasti. Yang jelas ada sebuah kerinduan yang begitu membuncah. "Apakah aku harus menghubunginya atau mungkin menemuinya? terutama kak Mirza. Ah, entahlah" gumamku sambil membolak-balik ponsel di tanganku.
Kak..." sapa seorang pegawai saat mendapati ku. "Cupcake di etalase habis kak. Tadi lagi-lagi seorang nyonya berpenampilan glamor memborongnya" ucap Dara, cucu nenek Fat, pengawas cafe ku. "Oya...?" ucapku sambil memutar tubuh dan menatapnya. "Sudah lebih dari tiga kali nyonya itu memborong semuanya, Kak" ucap Dara sumringah. Sementara itu aku termangu. Hati ku penasaran. "Siapa nyonya itu?"ucapku lirih. "Apakah ada kaitannya dengan ku?" aku membatin. Jika sekali atau dua kali itu biasa, tapi ini lebih dari tiga kali. Karena penasaran ku, tak ku sadari jika kaki ku melangkah menuju cafe. Mata ku mengitari seisi ruangan. "Apakah Nyonya itu masih di sini?" tanyaku pada Dara. "Iya kak. Beliau duduk di sudut kanan kakak arah pukul satu" ucap Dara. Aku pun langsung mengalihkan pandangan pada tempat yang dimaksud Dara. Jiwaku berdesir saat menatap punggung seorang perempuan yang membelakangi ku. Jantungku tak kalah hebatnya berdegup tak menentu. Langkahku menjadi cepat karena penasaranku. Dan kini jarak kami hanya beberapa langkah saja. Kemudian aku menghentikan langkah. Mendadak aku menjadi ragu. "Bagaimana jika ia adalah mama dari kak Mirza? Aku..." Perlahan namun pasti langkahku menjadi surut. Satu-satu berangsur meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa harus ragu, kak Olivia?" ucap sebuah suara di belakangku. Suara yang amat ku kenal. Suara dari seorang laki-laki yang menjadi penjagaku beberapa waktu lalu. Namun aku takut berspekulasi, sehingg baru ujung sepatunya sajalah yang sanggup ku tatap. "Jangan ragu, Nyonya..." ucapnya lagi. Mendengar kata panggilan itu hati ku menguat dan menjadi yakin bahwa benarlah laki-laki dihadapan ku ini adalah kak Keanu. "Kak...?" ucapku terhenti saat menatap wajahnya yang tengah tersenyum sumringah. "Iya, aku kak Keanu. Suami masa kecilmu" bisiknya dekat telingaku. "Kak Keanu..." ucapku lirih. "Iya, istriku..." bisiknya lagi. "Ah, Kak Keanu ada-ada saja" ucapku sambil tersenyum dan hampir memukul lengannya, namun ku urungakn saat melihat beberapa pasang mata menatapku. "Dan..." ucapku sambil menunjuk pada perempuan yang masih memunggungi ku. "Lihat saja sendiri..." ucap kak Keanu. Hatiku menjadi semakin penasaran. Jika dugaan ku benar ia pastilah mama Wina. Aku pun segera memutari meja tempat perempuan yang disebut Nyonya oleh Dara itu berada Tepat dihadapannya. Aku setengah terpekik melihatnya dan itu tentu saja membuat kak Keanu tertawa. "Mama Wina...!" teriakku. Walau aku sudah dapat menduganya, namun tetap saja aku terkejut dibuatnya. Aku pun bermaksud memeluknya. Tapi isyarat tangannya membuatku mengurungkan niatku. "Tunggu. Biarkan mama menghabiskan cupcake lezat ini..." ucapnya sambil menyuap sepotong cup cake terakhir ke dalam mulutnya. "Mama..." ucapku lirih sedikit menampakkan kekesalan. "Done...!" ucap mama Wina sambil berdiri dan langsung memeluk ku. "Anak nakal. Pergi tidak bilang-bilang. Mama jadi khawatir" ucap mama sambil menarik telingaku yang tertutup kerudung. "Ampun, Ma...Ya, maaf" ucapku sambil menatap sekeliling. Hadeuuh....hilang wibawa ku di depan pegawai ku jika begini. Aku membatin.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Mama Wina memilih meninggalkan kami berdua di cafe dengan beberapa pengunjung saja yang masih bertahan menikmati kudapan sambil berbincang santai. Ingin berbelanja di bawah, begitu alasan mama . "Em, tak terasa sudah hampir setahun enam bulan kau menghilang. Ponsel tidak aktif, sosmed juga ikutan tidak aktif, surat pun tiada dikirimkan. Apa tidak kangen..." ucap kak Keanu sambil melirik ku. Aku tersenyum. "Kangen. Kangeeeen banget. Tapi aku belum sanggup menerima semua kejadian waktu lalu" ucapku dengan tatapan menerawang jauh. "Maksudku kangen denganku" tanyanya tanpa ekspresi. "Em, kangen juga. Kangen selalu dijagain dan diperhatikan" ucapku kikuk. "Oya, bagaimana kabar kak Mirza?" tanyaku yang membuat kak Keanu tersenyum tipis. "Pertanyaan ini yang sejak tadi aku tunggu" ucapnya terkekeh. Aku manyun. "Ketahuilah, Nyonya Mirza... Aku sudah bukan bodyguard nya lagi. Aku sudah mengundurkan diri. Jadi aku sudah tidak mengetahui kabarnya lagi" ucap kak Keanu sambil menatapku. "Kenapa?" tanyaku singkat penasaran. "Karena aku sudah tidak punya alasan lagi berada di dekatnya" ucapnya. Dan lagi-lagi ia mengacak pucuk kepalaku dengan perlahan. Aku tersenyum saja mendapat jawaban dan perlakuannya tersebut.
__ADS_1
"Kau belum memafkannya?" tanya kak Keanu saat kami menuruni anak tangga. "Aku sudah memaafkan. Tapi untuk kembali bersama nya aku belum terfikir" ucapku. "Syukurlah..." ucapnya yang membuat ku menghentikan langkah dan menatapnya. "Paling tidak kau sudah memaafkannya. Semoga kau segera mendapat keputusan terbaik" ucap kak Keanu sambil menghela nafas panjang. "O...ya" jawabku singkat tanpa mengaminkan harapannya.
Pukul delapan lewat lima puluh lima menit. Setelah menemani mama berkeliling dan membeli beberapa barang keduanya berkalu. Ku lambaikan tangan mengiringi kepergian kak Keanu dan mama Wina. Ada sebuah kelegaan saat bertemu dengan keduanya, namun sekaligus juga sebuah kekhawatiran. Jika kak Keanu saja bisa menemukan ku dengan mudah, bagaimana dengan kak Mirza yang banyak memiliki koneksi. "Ya, Robb...tolong hamba-Mu ini" ucap ku lirih.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Toko sudah ditutup rapat. Dan semua pegawai telah kembali ke rumah masing-masing. Kecuali aku, Dara, Rio dan Danu karena kami akan lembur mempersiapkan beberapa kudapan yang telah habis. Persiapan pun di mulai sesuai dengan arahan ku. Sebelum memulainya aku sempat berdiri kembali menatap keluar jendela. Mata ku menatap langit yang kali ini berhias bintang dengam bulan yang menggantung sempurna. Aku takjub melihat pancaran sinar bulan yang begitu menenangkan jiwa siapa pun yang menatapnya. Kemudian tanpa sengaja mataku menatap sebuah mobil yang parkir di seberang jalan depan toko. Berdesir jiwaku saat memperhatikan mobil tersebut.
Drrt...Drrt...Drrt...
Ponsel toko berpendar beberapa kali membuat kami semua terkejut dan saling bertatapan. Hampir Terpekik aku karena rasa terkejutku itu. Dara pun berinisiatif mengangkat sambungan telepon tersebut. Berulangkali Dara menjawab dengan kata yang sama membuat aku penasaran. Kemudian Dara menatapku dan memberikan ponsel padaku. "Siapa...?" bisikku yang langsung dijawab Dara dengan sebuah isyarat pada bahunya. Mungkin jika ku artikan bahwa ia tidak mengetahui siapa orang yang berada diujung telepon itu. "Hallo..." ucapku membuka pembicaraan. "Fara..." ucap sebuah suara yang tentu saja aku kenal. "Kak Keanu...?" ucapku sedikit membualatkan mata untuk mengatasi rasa keterkejutan ku. "Aku menempatkan Satria di depan toko. Aku khawatir dengan keselamatanmu. Roy atau tuan Darius begitu gencar mencarimu. Ia masih terobsesi dengan mu" ucap kak Keanu. "Mobil berwarna hitam itukah?"tanyaku sambil menatap keluar jendela memperhatikan mobil yang tengah parkir. "Ya. Setelah ku tutup telepon ini, jika ia memainkan senter pada ponselnya maka benar itu adalah Satria" ucap kak Keanu. "Ya, kak. Terima kasih..." ucapku menutup telepon. Sementara mataku tak berpaling sedikitpun dari mobil yang terparkir di seberang jalan toko ku itu. Dan benar saja tak lebih dari dua menit, sebuah ponsel berpendar dari dalam mobil. Pendarnya seakan mengikuti irama.
__ADS_1
"Siapa, Kak..." tanya Rio, Danu dan Dara hampir bersamaan. "Ingat teman kakak sore tadi?" ucapku yang langsung dijawab ketiganya dengan anggukan kepala. "Dia mengirimkan seseorang untuk menjaga kita" ucap ku lagi. "Wow...kita punya bodyguard" ucap Danu dan Rio girang sambil terkekeh. Sementara aku dan Dara saling menatap dan tersenyum atas polah keduanya.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Pembuatan cupcake di mulai. Terbayang kembali saat saat dahulu. Saat membuat cupcake bersama kak Mirza. Dan ia begitu suka dengan cupcake yang dibuat. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan bagiku. "Kak..." ucap Dara sambil berisyarat menunjuk wajahnya sendiri. Aku tersadar dan dengan cepat menghapus lelehan air mata yang baru saja mengalir begitu saja. Ya, Robb...kangen ini tak dapat terbendung lagi. Tapi apa yang harus aku lakukan. Aku membatin. Aku terdiam. Fikirku kembali mengembara pada sosok lelaki tampan yang berada nun jauh di sana...