
Pukul tujuh lewat lima belas menit. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang pada jalanan tol yang terbilang masih cukup ramai. Dan tujuan kami pun belumlah berumah. Masih menuju kota B. Sebuah kota yang menyimpan banyak kenangan dan harapan, kota kelahiran ku. Mata ku terus menatap pepohonan yang tampak seakan berkejaran dari jendela mobil. "Yah, sepertinya mobil hitam itu mengikuti kita" kata ku saat melihat kaca spion. Sedikit mengeras wajah ayah saat menyadari kami sedang dibuntuti. Kemudian ayah pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan berusaha menghilangkan jejak. Sementara itu aku memperhatikan terus mobil hitam tersebut melalui spion. Sudah payah ayah berusaha menghindari kejaran mobil hitam tersebut.
Pukul delapan lewat dua menit. Lega rasanya ketika mobil hitam itu tak tampak membuntuti kami lagi. "Syukurlah...." kataku lega. Aku pun tampak tersenyum tipis mendengar ucapanku tersebut. "Ayah hebat..." pujiku. "Em, ayah mu ini dulu pembalap. Hal seperti ini masih mudah bagi ayah" katanya sambil mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya. "Iya... percaya dech" kataku sambil memeluk lengannya sebentar. Kulihat seulas senyum menghiasi wajahnya. Baru saja mengutarakan rasa kelegaan ku, mendadak sebuah mobil menyalip dan melaju menghalangi laju mobil kami. Memekik aku dan ayah atas kejadian tersebut. "Sialan..." umpat ayah sambil berusaha mengendalikan laju mobil yang sempat oleng karena menghindari mobil tersebut. Hingga pada sebuah daerah yang sepi mereka berusaha menghentikan laju mobil kami. Bukan hanya satu tapi tiga mobil mendesak kami agar berhenti.
__ADS_1
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. "Jangan keluar mobil, apa pun yang terjadi. Dan seandainya terjadi sesuatu pada ayah, Fara harus cepat melarikan diri" kata ayah sesaat sebelum ia keluar mobil. Ada beberapa lelaki tegap berpakaian hitam-hitam yang menanti ayah. Terjadi baku hantam yang cukup sengit antara ayah dan beberapa lelaki bertubuh tegap itu. Aku begitu gusar melhat ayah seperti itu, apalagi saat beberapa pukulan mengenai tubuhnya. Baku hantam pun terus berlanjut hingga pada akhirnya ayah harus menyerah. Ada banyak pukulan yang ia terima saat ia tergeletak hingga seorang lelaki menghentikannya. "Tuan Darius....!" kataku begitu terkejut saat mengenali sosok lelaki tersebut. Sebuah pukulan kembali mendarat pada tubuh ayah. Kali ini berasal dari tangan kekar tuan Darius. Aku memekik histeris. Dan seketika itu pula aku langsung menghambur memeluk ayah. "Kau mengkhianati ku Wibowo...!" kata Tuan Darius geram. "Maaf, Tuan. Fara anak perempuan saya" kata ayah sambil berusaha bangkit dengan bantuan ku. "Berdalih kau Wibowo..." kata tuan Darius sambil melihatku. "Benar, Tuan. Beliau ayah kandungku" kataku sambil berurai air mata dan memeluk ayah. "Sial....!" umpat tuan Darius dalam kemarahan. Matanya kemudian menatapku. Kilatannya kurasakan berbeda saat menatapku. "Aku mencintaimu, Fara..." katanya sesaat setelah ia berada di dekat ku. Aku tertegun. "Tuan..." kata ayah yang menatap heran tuan Darius. "Aku bersungguh-sungguh, Wibowo...Jangan tanya kenapa" kata tuan Darius. "Tapi Fara masih belum siap, tuan. Masih banyak yang ingin ia lakukan" ucap ayah. "Benar. Fara belum siap. "Baik. Jika kau siap, maka kau harus memberitahuku. Jika tidak...Kau akan tahu akibatnya" katanya sambil memberi isyarat kepada bodyguard nya agar pergi.
Pukul sembilan lewat dua menit. Duduk kami pada sebuah kedai sambil menikmati teh hangat. Kesempatan ini pun tak ku sia-siakan untuk mengobati luka ayah. Sambil berurai air mata aku membersihkan dan memberi obat luka. "Jangan menangis, sayang. Luka nya belumlah seberapa dibanding kebahagiaan ayah menemukan mu" kata ayah sambil tersenyum dan mengusap kepalaku. "Aku takut, Yah. Tuan Darius benar-benar memaksakan keinginannya pada suatu saat nanti" kataku sambil mengusap air mataku yang masih saja mengalir. "Tuan Darius memang terkesan jahat dan kasar, tapi ia orang yang tepat janji. Ayah faham betul itu. Dan selama itu belum terwujud ia akan berusaha menjagamu kini" kata ayah. "Fara memilih opsi tidak percaya. Karena perlakuannya pada Fara waktu lalu" kataku. "Itu sebuah kekeliruan menurutnya" kata ayah lagi. Aku terdiam dan tetap pada pendirian ku untuk tidak percaya pada tuan Darius. "Cih, aku masih jijik atas semua perbuatannya" kataku geram.
__ADS_1
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Mobil pun kembali melaju. Kali ini kecepatannya biasa saja. "empat puluh menit lagi kita sampai di rumah, Fara. Apa hal pertama yang ingin Fara lakukan?" kata ayah sambil tersenyum. Sementara matanya tetap fokus pada jalanan. "Mandi..." jawabku singkat dan membalas senyum ayah tersebut. "Jauh-jauh hanya ingin mandi doang" kata ayah tertawa lepas. "Ah, ayah..."kataku manja. Sebuah kata kembali ia ucapkan berulangkali. Sebuah kata pengungkapan penyesalan atas semua hal yang terjadi padaku. "Maafkan ayah, Fara. Maafkan.." kata ayah lagi. Matanya menyendu. "Fara sudah memaafkan ayah" kataku. Dan sekali lagi aku memeluk lengannya dengan manja. Ayah pun menawarkan untuk berhenti sejenak dan membeli beberapa perlengkapan pribadi yang mungkin di butuhkan saat di rumah. Aku mengamininya dan langsung menghambur ke sebuah toko swalayan. Membeli beberapa barang untuk ku dan juga ayah. Langkahku terhenti sejenak saat ku lihat sosok yang amat ku kenal. "Kak Mirza..." gumamku lirih.
Sesaat serasa berhenti jantungku ketika mataku melihat sosok tampannya. Kemudian berubah menjadi berlarian. Entah irama apa yang ia mainkan. Dan sekali lagi aku memperhatikannya untuk memastikan kebenaran penglihatan ku. Dan benar saja, penglihatan ku menjadi bukti sebuah keyakinan. Segera aku sembunyikan tubuhku di balik tumpukan barang sambil menurunkan topi hingga hampir menutupi wajahku. Aku berusaha dan berharap tidak ada pertemuan dengannya untuk saat ini. Aku belum siap. Terlebih noda pada tubuhku ini, yang merupakan hasil perbuatan tuan Darius. walau kegadisanku masih suci namun tetap saja aku merasa jijik terutama saat mengingat bagaimana tangan kekar tuan Darius menggerayangi tubuhku beberapa waktu lalu. Tiga bulan aku hidup di bawah tekanan. Mungkin jika aku tidak berusaha untuk kuat, aku bisa saja mengakhiri hidupku atau paling tidak menjadi gila. "Fara..." bisik ayah sambil mengusap bahuku. "Ayah..."bisik ku sambil meletakkan jari telunjuk ku di depan bibirku. Berharap tidak ada suara yang dapat menarik perhatiannya . Beriringan kami berjalan meninggalkan toko swalayan tersebut setelah beberapa waktu seolah bermain petak umpet menuju mobil kami berada. Namun lagi-lagi sial, ternyata mobil kak Mirza parkir tepat disebelah mobil kami. Langkah ku surut dan kembali menarik ayah beberapa langkah ke belakang saat kak Mirza muncul di pintu swalayan. Jantungku berdegup hebat ketika ia melaluiku. Ada sebuah rasa yang mendorongku untuk memeluknya. Namun pula rasa yang mencegahku melakukannya. "Kak Mirza..." gumamku lirih saat ku lihat ia melangkah dan telah memunggungi ku. Mobil sport silver yang selalu ia bawa pun kemudian melaju dengan cepat. Ah, Fiuh.... lega rasanya. "Ayok, Yah..." kataku sambil memeluk lengannya. Dan pada kesempatan itu pun aku masih berusaha mendamaikan degup jantungku yang sejak tadi serasa berlarian dengan irama tak menentu. Tersenyum ayah melihat kegugupanku saat melihat kak Mirza tadi. "Siapa, dia?" tanya ayah. "Em, teman..." kataku sambil memandang keluar jendela. "Teman special? Ayah tahu dari caramu mencuri pandang padanya" kata ayah. "Dia cinta Fara, Yah sebelum peristiwa penculikan itu" kenang ku. "Sepertinya ia lelaki yang baik dan sopan" kata ayah yang ku balas dengan anggukan. "Bersabarlah...Tuhan pasti sudah menyiapkan cerita yang indah untukmu" kata ayah lagi.
__ADS_1
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Kami mulai memasuki jalanan desa yang sedikit basah diguyur rintik hujan barusan. Ada getar yang menelusup saat melihat jalanan yang biasa ku lalui dahulu. Ataupun melihat orang-orang yang ku kenal berseliweran pada jalanan tersebut. Terisak aku mendapat lagi pemandangan tersebut. "Nenek, cucu mu pulang...." ucapku sambil mengusap air mata yang sudah membasahi pipiku.
to be continued...
__ADS_1