
Mobil sport silver kak Mirza melaju dengan kecepatan sedang. Suaranya begitu gahar ditengah riuh rendah suara kendaraan lain di jalanan yang tampak basah. Suaranya mampu memberi warna tersendiri terutama saat aku berada di dalam keriuhan ya. Sebelumnya hujan yang mengguyur bumi sesaat ternyata mampu menghentikan sejenak aktifitas banyak orang di luaran. Namun kini segala aktifitas sudah kembali normal seiring mentari yang kembali menjajaki cakrawala dengan sinarnya yang begitu hangat menyapa bumi.
Pukul empat lewat lima puluh menit. Mobil terparkir apik pada halaman toko. Kami saling memandang sesaat sebelum meninggalkan mobil. Langkah pun menjadi pasti saat memasuki toko. "Ayah.... Tante Vira!" ucapku ketika sudah berada dalam toko yang terlihat sepi. Pandanganku beredar ke seluruh ruangan hingga sudut toko, namun nihil. Tak satu pun ku temui baik Ayah, Tante Vira maupun pegawai lainnya. Hei...kemanakah mereka. Rasanya mustahil meninggalkan toko dalam keadaan kosong begini. "Fara...." panggil kak Mirza sambil memberi isyarat dengan tangan untuk mengikutinya. Aku pun langsung mengekori langkah kak Mirza. Lamat-lamat aku mendengar suara percakapan. Semakin lama semakin jelas. Apalagi diselingi dengan suara isak tangis yang ku tahu pasti itu adalah Tante Vira. "Ayah....!" ucapku setengah teriak dari ambang pintu. Keterkejutan ku beralasan. Karena aku melihat ayah yang rebah pada sofa. Dan ada beberapa luka di wajahnya. "Fara....Darius datang. Ia kembali menemui kami!" ucap Tante Vira histeris di sela tangisnya. Aku tertegun menyimak penuturan Tante Vira. Ada debaran hebat yang merasuk jiwa dan berhasil mengobrak-abrik rasa percaya diri yang sudah susah payah ku bangun. Berputar rasanya dunia ku, hingga membuat aku terduduk. Tak dapat ku bayangkan hidupku esok hari saat bertemu kembali tuan Darius. "Apa yang diinginkan tuan Darius..." ucapku dengan suara sedikit bergetar. "Dirimu, Fara..."ucap Tante Vira.
Deg.
"Fara...?" ucapku lirih tak percaya. "Dia berujar, bahwa ia sangat mencintaimu. Dan ia ingin kau menjadi miliknya saja" ucap Tante Vira. "Tapi ayah tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sebaik apapun ia kini, ayah tidak akan membiarkannya" ucap ayah sambil menyeka darah yang masih mengalir dari sudut bibirnya. "Ayah..." ucapku sambil memberikan tisu. Kekhawatiran ku begitu besar hingga mata ku tak lepas dari menatap ayah.
Pukul lima lewat sepuluh menit. Aku tersadar saat melihat kak Mirza yang duduk tak jauh dariku. Tampak ia terdiam. Namun wajahnya mengisyaratkan apa yang ia rasakan. Begitu keras wajahnya, sedikit memerah namun bukan karena malu. Hal ini karena ia sedang menyimpan amarah. Tangannya pun mengepal hebat. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini. "Kak...." ucapku sambil mengusap lengannya. Sontak ia tersadar dan mengalihkan pandangannya padaku. "Ya, sayang..." ucapnya yang ku balas dengan senyuman dan wajah yang setenang mungkin. Karena aku tahu betul bagaimana tabiat lelaki yang ku cintai ini. "Menikahlah dengan ku..." ucapnya tiba-tiba. "Kak...." ucapku setengah manja namun berisyarat jangan lah berlaku demikian. "Aku mengajakmu menikah bukan karena kasihan. Tapi karena aku mencintaimu. Dan rasaku ini bukan dusta. Ini sebuah kebenaran. Dan lagi aku ingin melindungi dan memberi kenyamanan kepadamu" ucap kak Mirza sambil menatapku. "Yah, menurut ayah bagaimana? Mirza ini sungguh-sungguh. Mirza juga sudah berpenghasilan" ucap kak Mirza berusaha meyakinkan. "Kuliahmu bagaimana?" tanah ayah sambil tersenyum. "Pasti selesai, Yah..." ucap kak Mirza. "Kewajiban pada diri sendiri pun belum usai, kau sudah ingin mengambil kewajiban orang lain" ucap ayah sambil menepuk bahu kak Mirza.
Kak Mirza terdiam. Matanya menatapku lekat. "Jadi ayah menolak ku...?" ucap kak Mirza. "Sama sekali tidak. Ayah menyetujui seperti halnya Fara. Namun alangkah baiknya nak Mirza menyelesaikan hal yang belum usai dan menjadi urusan nak Mirza. Setelah selesai maka Nak Mirza bisa mengambil kewajiban ayah, yaitu memberi perlindungan, penjagaan dan kenyamanan kepada Fara" ucap ayah sambil tersenyum. "Dan untuk sementara ini segala bentuk perlindungan, penjagaan dan memberi kenyamanan Fara menjadi tanggungjawab dan kewajiban ayah. Hingga waktunya tepat nanti ayah akan memberikannya kepadamu. Toh tidak lama lagi kuliahmu usai" ucap ayah lagi. "Hanya hitungan bulan..." ucap kak Mirza tersenyum. "Mirza mengerti maksud, ayah..." ucap kak Mirza lagi yang langsung di sambut ayah dengan pelukan.
"Kau hebat, Mirza. Ayah turut bangga seperti halnya orangtuamu" ucap ayah lagi sambil menyeruput teh hangat yang baru saja disajikan Tante Vira. "Oya, dua Minggu lagi ayah dan Tante Vira akan menikah. Semua surat-surat sudah siap dan sudah diserahkan ke KUA" ucap ayah sambil menatap Tante Vira. "What...! ayah mencegahku menikah waktu dekat karena ayah yang ingin menikah dahulu? curang nieh, ayah..." ucap kak Mirza tertawa. Ayah pun tergelak hebat mendengar ucapan kak Mirza.
__ADS_1
Pukul lima lewat lima puluh menit. Saat semua pegawai sudah meninggalkan toko dan menyisakan kami berempat yang masih duduk termangu menatap luar menerobos dinding kaca yang tampak berkilau diterpa lampu jalanan yang mulai menyala satu-satu. "Ayah hampir tidak percaya jika yang datang tadi adalah tuan Darius. Karena ia berbeda dari yang ayah kenal selama ini" ucap ayah tiba-tiba membuka pembicaraan dan berhasil memecah keheningan yang ada. "Maksud ayah..." ucapku terhenti. "Tuan Darius yang ayah kenal sangat arogan dan angkuh. Tapi tadi ia datang dengan senyuman. Ia berbicara begitu tenang. Dan tatapan matanya...apa ya? yang pasti jauh berbeda. Katanya ia sudah berubah. Dan Fara yang sudah merubahnya. Ia begitu mencintai Fara" ucap ayah mengingat peristiwa siang tadi.
Deg.
"Fara..." ucapku terkejut. Seperti ada sebongkah es yanh menimpa, aku diam membeku. Fikiranku melayang kembali pada satu tahun lalu. Saat aku masih dalam cengkraman tuan Darius. Bagaimana dengan arogannya tuan Darius memperlakukan ku. Jika mengingat itu semua, aku yakin itu bukan cinta. Tuan Darius tidak mencintaiku. Itu sebuah egoisme yang berbalut keserakahan akan kekuasaan. "Cih, tak sudi. Jangankan hidup bersamanya, mengingatnya saja sudah jijik. Itu bukan cinta..." ucap ku sambil meremas kesal ujung baju ku. "Semua orang bisa berubah. Mungkin tuan Darius memang benar-benar sudah berubah. Wah, Fara ternyata ada yang mencintaimu lagi. Sepertinya ia juga sungguh-sungguh terhadap mu. Punya pekerjaan mapan dan lulus kuliah" ucap kak Mirza terkekeh sambil menolak tubuhku dengan sisi sebelah tubuhnya. "Jangan mulai dech..."ucapku sambil mencubit lengannya. Kak Mirza pun mengaduh, namun kemudian ia tertawa. "Emang kakak rela aku menikah dengan lelaki lain..." ucap ku dengan nada setengah menggoda. "Apa dayaku, Fara. Aku hanya seorang mahasiswa yang harus menunggu gelar beberapa bulan lagi. Itu pun jika skripsi ku lolos..." ucap kak Mirza tertawa. "O...begitu ya. Ayah...pinjam tangan ayah donk" ucapku. "Tangan ayah..?" ucap ayah. "Ya...tangan ayah. Fara ingin memberi kak Mirza pukulan telak biar kapok. Ngomong kok sembarangan..." ucapku manyun. Melihat itu Ayah pun tertawa. Tak terkecuali tante Vira dan Kak mirza.
Pukul enam lewat lima menit. Kumandang adzan terdenagr syahdu. Seakan memanggil-manggil jiwa setiap insan untuk bersegera mengadu kepada sang pencipta. Kurang lebih lima belas menit kami bertafakur, bermunajat atas segala doa dan pengharapan. Ya...doa dan pengharapan adalah kata-kata dahsyat yang bisa merubah perjalanan hidup, memberikan motivasi, dorongan, serta inspirasi untuk pantang menyerah.
Doa memberikan kekuatan, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian. Seyogyanya manusia, jangan pernah meremehkan kekuatan doa, karena itu adalah anugerah istimewa dari Allah. Dan yakin saja, kekuatan doa akan mengubah yang mustahil menjadi mustajab.
Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Masih berkelanjutan dalam peribadatan penghambaan. Kali ini sholat isya. Kembali kami bersujud dan bermunajat dalam kekhusyuan yang mengalun syahdu. Mata ku sudah kembali basah dalam munajatku, memohon pengampunan atas segala khilaf. Dan walau telah usai, sisa sedu sedanku masihlah nampak jelas di wajah ku. Hal tersebut membuat ayah merengkuhku dalam pelukannya. "Sabar dan ikhlas lah, sayang. Karena sabar itu menenangkan jiwa, ikhlas itu mendamaikan hati. Sabar dan ikhlas mengajarkan tentang arti memahami" ucap ayah sambil mengurai senyum khasnya. "Kita hadapi bersama" ucap ayah lagi sambil mengecup lembut pucuk kepalaku yang masih terbenam dalam dekapannya.
"Ya, ayah. Sejak kita menginginkan keindahan dan kebahagiaan hidup, maka kita sudah menjadikan sabar sebagai sahabat, dan ikhlas sebagai penguat langkah. Dan lagi keterpurukan mengajari kita untuk belajar bangkit dalam hal apapun dan setiap keterpurukan mengajari kita untuk selalu belajar bertahan dan sabar dalam memeranginya, tetap semangat untuk esok...!" ucapku sambil menyusut air mataku dan berusaha tersenyum sebaik mungkin.
__ADS_1
Berdiri kami di areal parkir toko yang tidak luas. Mata kami menatap toko dengan senyuman. Ada banyak harapan di sana setelah kedukaan dan lara yang kami rasa. Namun atas duka dan lara yang telah terjadi kami sudah belajar untuk tidak terlalu mengeluh atau pun menangisinya karena kami tahu tidak ada apapun di dunia ini yang abadi. Dan lagi mengeluh hanya akan membuat hidup semakin tertekan, sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa pada jalan kemudahan. Terutama untuk hari ini, esok dan yang akan datang lagi. Dan lagi sungguh siapapun yang sabar dan tekun akan mekar seperti bunga, akan menjadi kuat seperti mentari, akan seindah dan selembut purnama, dan menakjubkan seperti kupu-kupu. Semoga segala doa terkabul dan menjadi sebuah keberkahan hidup.
"Em, kita makan dahulu yah. Bagaimana...?" ucap kak Mirza. "Bagaimana jika di cafe B di jalan Xyz..?" usul ayah yang langsung kami aminkan. Mobil kami pun melaju menuju tempat yang dimaksud. Tak lama, hanya berkisar lima belas menit perjalanan kami pun sudah berada tepat di depan cafe B. Langkah kami pun perlahan ketika memasuki cafe sambil mengedarkan pandangan mencari tempat yang nyaman dan tidak menarik perhatian. Dan seorang pegawai pun mengarahkan kami pada sebuah meja yang terletak di sudut ruangan dekat jendela. "Mantap...." kata ayah dengan senyum khasnya sambil menatap Tante Vira dan aku bergantian. Kemudian beberapa menu pun di pesan. "Fara khilaf sepertinya. Hampir semua menu andalan di pesan..." ucap Tante Vira sambil terkekeh di sambut ayah dan kak Mirza. "Ah, biarkan saja. Terima kasih, Mbak...." ucap ku pada pegawai cafe.
"Semoga tidak lama. Sudah laper banget sebabnya" ucapku sambil tersenyum. "Dasar..." ucap kak Mirza sambil mengacak perlahan pucuk kepala ku. "Oya, baju pengantin sudah siap kah?' ucapku lagi. "Baru esok, akan kami cari di boutique" ucap Tante Vira sambil tertawa. "Kalian ikut juga, kan?" tanya Tante Vira lagi sambil menatapku. Aku dan kak Mirza pun beradu pandang dan tersenyum. "Em, bagaimana jika di boutique mama saja?" ucap kak Mirza. "Ya, yah. Bagus-bagus loh koleksinya..." ucapku. "Oya... Em, baiklah jika begitu. Jam berapa kita ke sana?" ucap Tante Vira. "Bagaimana jika jam 10? Em, Nanti Mirza info mama..." ucap kak Mirza. "Baiklah...." ucap ayah tersenyum.
"Menunduk....!" ucap ayah tiba-tiba. Wajahnya sedikit khawatir. Mendengar ucapan ayah, kami pun langsung menundukkan wajah. Menenggelamkan pandangan pada buku menu yang jelas tidak diperlukan lagi. Namun sekedar berpura-pura hal tersebut tentulah menjadi lumrah. Pun demikian, tingkat penasaranku mendadak meningkat. Sedikit mengangkat kepala, aku bertanya pada ayah. "Kenapa...?" ucapku. "Darius...." bisik ayah. Aku pasi. Lidahku mendadak kelu. Kembali terbayang perbuatan yang telah ia lakukan terhadapku setahun yang lalu. Bagaimana tangan jahatnya sudah meracuni kemolekan tubuhku. Memberikan goresan hitam pada tiap inci tubuhku. Dan jika ayah tidak datang saat itu, mungkin kesucian dan kegadisanku pun akan ia lahap juga. Beruntungnya Allah memberi pertolongan melalui pak Robert yang tidak lain adalah ayah kandung ku. Sungguh bukanlah aku takut, namun terlebih karena belum siap menatap wajahnya. Walau menurut ayah ia sudah berubah, namun bagi ku ia tetaplah seorang monster. Monster yang amat sangat jahat. Pun semua pengungkapan perasaannya terhadapku tidaklah mampu merubah pandanganku terhadapnya. Monster tetaplah monster. Dan selamanya akan demikian.
Deg.
Deg.
Deg.
__ADS_1
Irama jantungku amkin hebat saat ku lihat bayangan tubuh tuan Darius di kejauhan. "Ya...Robb, jangan sekarang. Mohon dengan sangat" ucapku lirih seiring peluh yang mulai mengaliri tubuhku. "Bawa Fara ke mobil. Nanti kami menyusul. Perlahan saja ya..." ucap ayah yang langsung diaminkan kak Mirza dan aku. Dengan hati-hati kami melangkah ke luar cafe. Dan saat tinggal beberapa langkah lagi kak Mirza pun memintaku untuk tidak melihat ke arah belakang. "Tetap melihat aku dan jangan melihat ke belakang" ucapnya sambil mengeratkan pelukan pada pinggang ku. "Fiuh...Kenapa orang jahat berkumpul semua di dalam. Seakan mereka mengikuti dimana pun kita berada" ucap kak Mirza sesampainya di dalam mobil. "Maksud kakak siapa?" tanyaku sambil melihat ke arah cafe tanpa berkedip. "Selain lelaki yang kalian sebut sebagai tuan Darius, ternyata di dalam tadi juga ada kakak lelakiku yang lain. Kak Roy. Yang tabaitnya sama ku rasa. Hidup dalam lingkar kehidupan abu-abu hingga gelap. "Aku tidak ingin mata jahat nya melihat mu, sayang..." ucap kak Mirza lagi sambil mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Tiada kata yang terucap dari ku, hanya perlakuan manja ku sajalah yang nyata.
Ya...aku bergelayut manja pada lengan kak Mirza. Entah mengapa demikian. Aku hanya merasa begitu tenang berada dekat dengannya. Kak Mirza...lelaki yang selalu berhasil membuat ku tersenyum dan bahagia. Lelaki yang juga berhasil memberiku harapan dengan cinta yang akan mekar seperti bunga, akan kuat seperti mentari, akan seindah dan selembut purnama, dan menakjubkan seperti kupu-kupu. Semoga....